
Benar. Yang Mantingan dengar itu adalah suara Rara. Benar bahwa ialah kekasih hatinya. Benar sekali itu adalah Rara.
"Rara, kau datang lagi." Mantingan berkata lembut, selembut senyumannya.
"Kali ini aku akan menetap di dalam kepalamu, Mantingan. Sekarang, jiwaku adalah jiwamu maka janganlah dikau menolak perintahku karena sebenarnya itu adalah perintahmu sendiri."
"Rara, sungguh aku telah lama merindukan kehadirat dikau." Mantingan tidak mempedulikan apa yang Rara katakan, suara berhasil membuat dirinya lupa hampir pada segala hal.
"Mantingan!" kata suara itu lagi. "Dengarkan aku! kau harus tidur sekarang. Biarpun itu terasa menyakitkan, dikau harus melakukannya."
"Bagaimana bisa aku tidur dan meninggalkanmu, Rara?"
"Jika kau tidur maka aku akan tidur juga. Aku sangat lelah pikiran sekarang ini." Suara itu terdengar melembut. "Tidurlah, jika engkau tidak mau melakukan itu untukmu sendiri maka lakukanlah untuk aku."
Mantingan terdiam sejenak sebelum menjawab di dalam pikirannya, "Banyak orang yang membutuhkan diriku Rara. Aku tidak bisa tidur begitu saja."
"Jika engkau jatuh sakit nantinya maka engkau tidak akan bisa menolong siapapun."
Mantingan menghela nafas panjang. "Lalu bagaimana dengan lontar-lontar ini?"
"Kau sudah melakukan yang terbaik. Ingat tidak? Semalaman engkau tak tidur sama sekali. jika kau tidak tidur sekarang maka akan lebih banyak lontar-lontar yang kau sia-siakan engkau."
Sekali lagi Mantingan menghela nafas selalu tersenyum. "Baiklah, baiklah. Aku akan tidur, tapi itu akan jadi waktu tidur yang singkat. Kulakukan ini demi dirimu, walau itu berarti demi diriku sendiri."
Suara itu tidak terdengar lagi, pancingan beranjak ke dalam ruangannya lalu merebahkan diri di atas tikar anyaman yang telah disediakan untuknya. Ia berusaha memejamkan mata, tetapi tidak kunjung pula merasakan kantuk.
Rasa sakit kepala yang tadi menyerang Mantingan mulai terasa lagi. Pening yang teramat sangat dan ingin sekali Mantingan bangun. Akan tetapi ya ingat bahwa ia melakukan ini bukan untuk dirinya sendiri, untuk Rara seorang. Maka kembali ia memaksakan diri untuk memejamkan mata walaupun pening dan sakit kepala bagaikan gondam yang menghancurkan kepalanya.
***
Mantingan tidak tahu bagaimana caranya ia tertidur. Tetapi lihatlah sekarang dia telah terbangun sebuah tidur panjangnya. Sungguh hampir Mantingan tidak percaya. Benar sesuai ucapan Rara yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
Mantingan merasa lebih baik daripada sebelumnya. Pikirannya kembali jernih. Kepalanya tidak terasa berat lagi. Tidak ada rasa menusuk-nusuk pada bagian tertentu di kepala.
Ia yakin, bahwa ia tidak hanya tidur sebentar. Mantingan bisa merasakan bahwa tubuhnya telah terlelap cukup lama.
Segera saja Mantingan membangkitkan dirinya. Ia tidak ingin bermalas-malasan sangat lama. Masih banyak Lontar Sihir yang perlu dia beri mantra.
Mantingan lekas-lekas mau buka pintu dan dari cahaya yang ia lihat, Mantingan mengetahui bahwa hari sudah menjadi malam. Bagaimana ya bisa tertidur sepanjang hari?
Mantingan berjalan cepat menuju halaman untuk melihat apakah yang terjadi pada tungku pembuatan Lontar Sihir-nya. Karena saat terakhir ia tinggal, seharusnya tunggu sedang menyala di bawah kendali para prajurit.
Sesampainya di sana, Mantingan membeliakan matanya tidak percaya. Ia melihat tungku besar sedang menyala oleh api. Yang lebih mengejutkan lagi, Mantingan melihat keberadaan prajurit-prajurit di sekitar tungku.
Mereka terlihat sedang melakukan sesuatu, yang jika ditelisik ternyata adalah kegiatan penyulingan Lontar Sihir.
Sebagai prajurit terlihat memotong kayu menjadi bagian yang kecil-kecil, sebagian lainnya terlihat mengangkat Lontar Sihir dari dalam panci yang mendidih.
Prajurit yang paling akrab dengan Mantingan, seperti Putu dan Darma lihat menghaluskan rempah-rempah di ulekan, mereka memang telah diajari bagaimana cara memadukan rempah-rempah untuk penyulingan Lontar Sihir dengan tepat.
Melihat hal itu bukannya kesal Mantingan malah terharu. Jikapun nantinya lontar-lontar yang mereka buat gagal, tetapi sikap mereka telah membuktikan kesetiaan dan semangat mereka sangatlah besar. .
"Saudara man, maafkan kami telah mendahului engkau merebus lontar-lontar ini. Kami lihat engkau sepertinya sangat kelelahan dan kamu tidak bisa diam saja selama dikau tidur." Salah satu dari mereka berkata agak cemas.
Mantingan menyunggingkan senyum hangat. "Kalian melakukan hal yang tidak aku duga-duga sebelumnya. Dan betapa hal itu adalah hal yang sangat baik. Terima kasih, kawan-kawanku."
Sambil menyilangkan tangannya ke belakang berjalan ke sana untuk melihat kualitas lontar yang mereka buat. Mantingan mengambil selembar Lontar dan merabanya, lalu ia mengangguk dan tersenyum puas.
Walau kualitas lontar yang dibuat mereka tidaklah sebagus yang ia buat, tetapi Mantingan sama sekali tidak kecewa. Lontar-lontar sihir ini masih layak digunakan.
"Ini sangat bagus, sangat bagus." Mantingan sungguh senang. "Dengan begini kalian meringankan tugasku, tentu aku akan merasa tidak tenang jika tidak membalas kalian. Apakah yang pantas aku berikan untuk kalian?"
Mereka saling melirik satu sama lain sebelum mengangguk pelan. Darma berkata, "Bagaimana jika makan malam bersama tetapi Saudara Man yang membelanjakan kami? Kami rasa itu lebih dari cukup."
__ADS_1
Mantingan tersenyum dan mengangguk. "Itu bukan masalah besar, malam ini kalian akan makan enak!"
Tiga belas prajurit itu bersorak gembira.
***
Sebelum mulai memanterai lontar-lontar, Mantingan lebih dahulu memborong makanan dari kedai yang dulu ia kunjungi. tetapi tidak cukup satu kedai saja, Mantingan memborong makanan dari satu kedai lainnya.
Itu adalah sesuai janjinya bahwa ia akan membelanjakan prajurit-prajurit di kediamannya makan malam. Sungguh keping emas bukanlah masalah besar sekarang ini.
Mantingan kembali ke kediaman dan disambut dengan hangat.
Mereka melangsungkan acara makan malam itu di dalam kediaman dengan makanan yang pantas untuk mereka. Tidak terlalu banyak dan tidak kurang.
Walau makanan itu adalah makanan yang biasa mereka makan, tetapi berkat pemberian bumbu, cita rasa pada makanan itu lebih terasa dan lezat.
Makan malam itu diselingi oleh berbagai obrolan ringan yang tidak membahas perang sedikitpun. Jika saja salah satu prajurit menyinggung tentang peperangan, maka suasana makan dapat dipastikan akan rusak. Biar untuk sejenak peperangan dilupakan, toh dus esok hari mereka akan kembali mengingat dan menghadapinya.
Setelah acara makan malam selesai, Mantingan kembali ke dalam ruangannya dan mulai memanterai Lontar Sihir.
Di dalam benaknya Mantingan memanggil-manggil nama Rara agar setidaknya ia mendapat teman bicara.
"Mengapa kau memanggilku, Mantingan?" Suara Rara yang lembut terdengar di dalam kepala Mantingan.
Mantingan tersenyum dan menjawab dalam benaknya, "Sampai kapankah dirimu ada di dalam kepalaku?"
"Kalau kamu merasa terganggu bisa pergi sekarang."
Dengan panik Mantingan berkata, "Jangan seperti itu, tetaplah di sini dan jangan pernah pergi lagi."
Rara mendengus. "Lalu kenapa kau mengusirku?"
__ADS_1
"Aku tidak mengusirmu. Aku hanya bertanya ...."
"Tapi sepertinya kau tidak suka dengan keberadaanku, kalau begitu aku pergi saja."