Sang Musafir

Sang Musafir
Kematian Mantingan — Jilid 2 Selesai


__ADS_3

Mantingan semakin merasa bersalah setelah membaca semua lontar-lontar yang ditulis oleh Dara seorang sendiri itu. Di beberapa lembar lontar, Mantingan bisa menemukan noda bekas tetesan air mata—biarpun tidak terlalu kentara di atas lontar.


Di sana Dara menulis banyak permintaan maafnya pada Mantingan karena tidak sempat berpamitan. Ia juga meminta permohonan maaf tentang terlalu banyak merepotkan Mantingan. Terlalu sombong pada Mantingan. Tidak tahu malu. Terlalu banyak membeli camilan waktu di kota. Bahkan sampai sebab di mana dirinya tidak banyak menyuguhkan makanan enak kepada Mantingan.


Selain itu, Dara juga membuatkan beberapa puisi tentang kesedihannya ataupun tentang Mantingan.


Dalam puisi-puisinya, ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa di suatu saat dan suatu tempat nantinya akan kembali berjumpa dengan Mantingan. Di sana ia berjanji akan memasakkan makanan enak untuk Mantingan sebanyak yang ia bisa.


Ia juga membuatkan beberapa puisi yang menceritakan kehebatan Mantingan, puisi-puisi inilah yang membuat Mantingan hanya bisa menggaruk kepalanya.


Katakan padaku, di manakah seorang pengembara hebat selain Mantingan?


di manakah dirinya berada, katakan saja


apa yang engkau katakan bisa benar dan bisa bohong


tetapi dalam hatiku ini, Mantingan adalah pengembara terhebat seluruh jahat bumi


Semak belukar dipapasnya


yang tidak gentar ancaman musuh


yang tiada takutnya sinar mentari kemarau


hujan badai diterabasnya.


Sampai di sana Mantingan cukup kebingungan pada bait-bait puisi Dara. Ia bukanlah pengembara terhebat, karena ia sendiri telah melihat pengembara hebat yang berkeliling ke seluruh penjuru dunia, sehingga dulunya Mantingan bertekad memulai petualangannya.


Dan siapa kata ia tidak gentar pada ancaman musuh? Mantingan selalu menghindari permusuhan, sebisa mungkin menolak tantangan bertarung.


Tiada takutnya pada sinar mentari kemarau? Lalu untuk apakah Mantingan membeli caping lebar?


Hujan badai diterabasnya? Mantingan selalu mencari kedai di pinggir jalan jika melihat tanda-tanda akan turun hujan. Bundelan bajunya dan bundelannya bisa saja basah. Lagi pula, Mantingan sangat malas jika tubuhnya sudah basah terkena air hujan.


Walau semua pernyataan pada puisi Dara itu dapat dipatahkan, Mantingan tetap sangat menghargainya. Dan sepertinya, Dara-lah penggemar pertamanya.


Dalam lontar-lontar itu, Dara juga mengatakan bahwa hidupnya tidak akan tenang jika tidak bertemu dengan Mantingan sekali lagi. Maka dari itu, ia memberikan Mantingan 20.000 keping emas agar Mantingan suatu waktu dapat menggunakan uang itu untuk bertemu dengannya.


Dara menekankan, bahwa apa pun yang terjadi, Mantingan harus mengunjungi dirinya. Dara juga menambahkan untuk satu tahun ke depan akan terus berada di Suvarnadvipa.


Sesuai dengan kesepakatan awal, Seta akan tetap mengantarkan bunga hasil panen Mantingan ke tempat Dara berada. Dari sana mereka masih bisa surat-menyurat.


Seta lalu mengeluarkan dua puluh bongkahan batu berukuran setelapak tangan pada Mantingan. Dua puluh bongkahan batu itu bernilai 20.000 keping emas. Tentunya bongkahan batu itu bukanlah batu biasa.

__ADS_1


Baru-baru ini dunia persilatan mengeluarkan alat penukaran baru, yang berupa batu berisi tenaga dalam. Dalam perhitungannya, kerajaan tidak ikut campur, maka batu-batu ini hanya dapat digunakan di dunia persilatan.


Nama alat pertukaran itu adalah Batu. Tetaplah sama namanya, tapi setiap pendekar pastinya mengetahui bahwa saat sesamanya menyebut “Batu”, yang disebut itu bukanlah batu biasa.


Mantingan mengembuskan napasnya. Sumber daya sebanyak itu tidak tahu harus diapakan. Mantingan juga merasa tidak bisa menemui Dara dalam waktu dekat, itulah yang menyebabkan rasa bersalahnya semakin besar.


Kemudian Seta tetiba berkata, “Dengan begitu, Kawan, aku akan jarang-jarang menemuimu. Bolak-balik antarpulau adalah hal yang cukup melelahkan, tidak mungkin aku sering-sering menemuimu.”


Mantingan mengangguk paham. “Seta kawanku, marilah ikut aku memanen bunga-bunga.”


***


Di malam harinya, Mantingan merenungi kehidupannya. Bersama bintang-bintang di langit malam, serta bulan sabit yang teramat tipis di sebelah baratnya.


Mantingan telah menyelesaikan tulisannya. Sebenarnya kisah perjalanannya belum selesai, tapi ia tidak punya apa pun untuk dituliskan. Apa yang Mantingan bisa tulis selama dirinya masih terus berada di perkemahan? Tidak ada hal menarik lagi untuk ia tulis.


Pada akhirnya, Mantingan merasa terjebak di perkemahan nyamannya itu. Saking nyamannya, ia enggan meninggalkan perkemahannya itu. Dirinya enggan berpetualang lagi. Justru ingin terus berada di perkemahannya, damai walau itu jauh dari orang-orang.


Kiai Guru Kedai maupun Rama telah menekankan, bahwa kedamaian bukanlah milik sendiri saja. Orang-orang lain juga harus merasakan kedamaian. Tapi lihatlah yang telah Mantingan lakukan sekarang, itu meleset cukup jauh dari harapan gurunya.


Kini terdapat dua pilihan bagi Mantingan. Melanjutkan perjalanannya dan melanjutkan tulisannya, atau berhenti dan mengakhiri tulisannya pula.


***


Setelah lama Mantingan berpikir, ia mengambil keputusan yang sebenarnya belum terlalu bulat. Ia akan mengakhiri kisahnya.


Tetapi keputusan itu bukan diambil tanpa banyak berpikir. Mantingan telah mengerahkan daya pikirnya sampai keputusan ini tercipta.


Mantingan tidak mau lagi membunuh lebih banyak manusia. Ia bukan pembunuh, dan ia tidak mau jadi pembunuh. Dengan terus mengembara sebagai pendekar, Mantingan akan bersinggungan dengan musuh-musuhnya, sampai pada akhirnya ia membunuh atau terbunuh.


Itu bukan hal yang menyenangkan. Mungkin bagi orang lain, membunuh orang golongan hitam pantas dicap sebagai pahlawan. Tetapi pada kenyataannya, Mantingan—yang telah banyak membunuh orang golongan hitam itu—merasa tidak nyaman dalam hidupnya terus-menerus.


Ia tidak nyaman dengan tangannya sendiri yang telah membunuh banyak orang. Tidak nyaman dengan badannya yang telah terciprat darah lawannya. Tidak nyaman pada dirinya sendiri membuat Mantingan hampir gila.


Lalu Mantingan berpikir bahwa menjadi orang biasa sebenarnya tidak buruk. Sedaripada menjadi pendekar yang jalannya selalu basah oleh darah, warga biasa lebih menikmati hidupnya di perkampungan atau di perkotaan. Mereka memiliki pekerjaan yang baik, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati. Memang terdengar agak membosankan hidup seperti itu, tetapi jauh lebih damai dan tenang ketimbang hidup sebagai pendekar.


Warga biasa tidak diwajibkan membunuh—nyawa mereka tidak terus-terusan terancam. Sedangkan pendekar harus melindungi diri sendiri dengan membunuh, demi mempertahankan nyawa dalam raga yang terus-terusan terancam.


Jika menjadi warga biasa saja sudah membahagiakan, untuk apakah harus menjadi pendekar?


Lupakan impian dan harapan Kenanga. Jika dirinya sendiri tidak bahagia, untuk apa bertaruh nyawa demi kebahagiaan orang lain?


Begitulah yang Mantingan pikirkan begitu dalam dan matang. Ia memutuskan berhenti menjadi musafir, tinggal di perkotaan, menanam bunga, dan biarlah menjadi bujang lapuk.

__ADS_1


Mantingan berdiri untuk menyiapkan keperluan untuk kepindahannya esok hari.


Tetapi saat Mantingan baru saja berdiri, ia mendengar desir angin kuat dari belakang kepalanya.


Serangan!


Celakanya, Mantingan tidak siap sama sekali menghadapi serangan. Pikirannya tengah kacau, tubuhnya ikut melemah, dan ia tak pernah menduga akan datang di saat-saat seperti ini.


Tanpa ampun sebuah benda tumpul menghantam kepala Mantingan, seperti palu gondam yang menghantam kelapa. Kepala Mantingan tidak pecah, namun telah terjadi keretakan luar biasa di tengkoraknya.


Mantingan menggunakan segenap tenaga dalamnya untuk tetap dapat berdiri. Tengkoraknya yang retak untuk sementara ditambal oleh tenaga dalam, tetapi itu tidak akan bertahan cukup lama.


Penglihatan Mantingan buram dan buyar, ia langsung menggunakan Ilmu Mata Elang untuk tetap mempertahankan penglihatannya.


Dalam langkah yang terhuyung-huyung dan kepalanya yang sungguh bergejolak itu, Mantingan kecil kemungkinan bisa menang pertempuran. Ia seperti orang mabuk yang menghadapi pendekar tingkat tinggi bersenjata.


Mantingan melihat sesosok pria berpakaian serba hitam perlahan mendatanginya. Dalam pikiran yang tengah diguncangkan itu, Mantingan masih dapat mengingat dan mengenali pakaian tersebut. Pendekar dari Penginapan Tanah. Untuk apakah dirinya ke tempat ini?


Mantingan ingin menuju tendanya untuk mengambil Pedang Kiai Guru Kedai. Dia tidak boleh mati di sini. Atau perjalanannya, SUNGGUHAN BERAKHIR!


Sayang seribu sayang, sebilah pedang panjang melesat, menembus dada Mantingan.


Pedang itu dicabut dengan gerakan memutar, menciptakan rasa sakit luar biasa di dadanya. Darah mengucur keluar, pertahanan Mantingan runtuh. Ia bersimpuh, sebelum tumbang ke tanah.


Perlahan berkurang tenaga dalam yang digunakan untuk menunjang hidupnya. Darah terus merembes membasahi tanah. Dengan posisi tubuh telentang, samar-samar Mantingan melihat kobaran api dari seluruh bangunan perkemahan.


Sampai di titik ini, harapan Mantingan untuk tetap bertahan musnah tiada bersisa.


Penyesalan merayapi dirinya saat ia teringat Rara. Gadis itu ingin selalu mengikuti Mantingan berpetualang. Mungkin ia tak akan menyangka, Mantingan akan berhenti begitu dini di sini.


Mungkin alam semesta kecewa terhadapnya. Alam semesta mendukung tekad Mantingan yang besar, alam semesta menghadiahinya keberuntungan yang berlipat ganda. Kenanga, Rara, Ki Dagar, Paman Kedai, itu adalah anugerah terbesar yang diberikan semesta untuk Mantingan.


Tetapi Mantingan telah mengkhianatinya, dengan ia memutuskan mengakhiri kisahnya. Semua keberuntungan semesta ia sia-siakan begitu saja, semua pemberian dari Dia ia sia-siakan begitu saja.


Cara bersyukur yang benar adalah dengan memanfaatkan apa yang telah diberikan oleh Dia sebaik mungkin. Bukan saja dengan ucapan terima kasih pada Dia.


Keputusan Mantingan berhenti menjadi musafir dan berhenti menyebarkan kebaikan itu sama saja tidak mensyukuri apa yang telah Gusti berikan.


Jika saja Mantingan mati nantinya, itu bukan karena kelengahan di pertarungan. Namun, itu karena Mantingan tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Gusti. Sehingga apa yang telah Dia berikan melalui semesta, ditarik lagi melalui semesta.


Jika saja Mantingan mati nantinya, itu bukanlah salah pendekar yang telah membunuhnya. Bukan juga salah siapa-siapa, melainkan salah dirinya sendiri.


Tubuh Mantingan memberitahukan, bahwa sekarang ini waktunya untuk mati. Napas Mantingan terhenti, tapi pikirannya masih dapat bekerja untuk beberapa saat lagi.

__ADS_1


Dalam saat-saat terakhirnya itu, Mantingan berucap dalam benaknya, Maafkan aku Rara.


Saat itulah kesadaran Mantingan hilang sepenuhnya. Tidak dapat ditangkis lagi kematiannya.


__ADS_2