
"Saudari ini telah banyak disebut namanya. Kalau tidak salah, Saudari ini berasal dari negeri Champa?”
BIDADARI SUNGAI UTARA, melirik Mantingan, saat Mantingan mengangguk, ia pula mengangguk dengan gugup. “Itu benar, Bapak.”
Saudagar terdiam beberapa saat sebelum bergumam, “Hmm, kalau kau benar-benar dicari di tanah Taruma ini. Sangat berbahaya berlama-lama di Javadvipa, Saudari.”
Mantingan yang sedari tadi menahan napasnya mulai angkat suara. “Bapak, jika sahaya boleh tahu, sebesar apakah bahaya yang mengancam Saudari Sungai Utara sekarang?”
Saudagar mengusap kembali dagunya, sebelum berkata pelan. “Tidak bisa dikatakan bahaya kecil, Mantingan. Harga Bidadari Sungai Utara jika ditangkap hidup-hidup adalah 1.000 keping emas, atau bagi pendekar yang berhasil menangkapnya tanpa lecet sedikitpun akan dihargai lima Batu.”
Mantingan kembali menahan napasnya. Bidadari Sungai Utara pucat pasi, terdengar sangat menakutkan di telinganya.
Kini Giliran istri dari saudagar yang angkat suara. “Kaka, bisakah kita menolong Saudari kita ini?”
“Sangat berbahaya, Kaka bukanlah pendekar dan Kaka tidak bisa percaya ada pendekar baik lain selain Mantingan.” Saudagar menggeleng. “Saudari Sungai Utara di tangan Mantingan sudah tepat.”
Istri yang lain membantah, “Tetapi Kaka, Saudara Mantingan ini hanya sendirian saja, sedangkan pendekar yang memburu Saudari Sungai Utara sangatlah banyak.”
“Tenang saja, Dinda. Kaka sudah melihat sendiri kemampuan Kaka Man ini ketika melatih Saudari Sungai Utara.”
Mantingan berdeham beberapa kali. Pelatihan terakhirnya tidaklah terlalu baik jika dilihat orang lain. Saudagar sadar akan suara deham Mantingan, menghentikan pembicaraan soal latihan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.
__ADS_1
“Bapak, maafkanlah sahaya yang sepertinya sudah merusak suasana makan malam.” Mantingan tersenyum tipis.
“Tidak, sungguh tidak. Kau dan Saudari Sungai Utara harus tahu pasal ini.” Saudagar mengibaskan lengannya dan tersenyum. “Jika aku boleh kasihkan saran, cepat-cepatlah pergi dari Javadvipa. Daku yakin kalian tahu angin muson timur masih butuh waktu untuk sampai ke Dwipantara. Tetapi kalian harus tetap meninggalkan Javadvipa ini, setidaknya sampai angin muson timur tiba.”
Mantingan terdiam, Bidadari Sungai Utara juga bersikap demikian. Ingin pergi ke mana selain di Javadvipa? Suvarnadvipa tentu tidak bisa dicapai, untuk ke sana harus menunggu angin muson timur.
Melihat keterdiaman Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, Saudagar kemudian menambahkan, “Kalian bisa pergi ke pulau terpencil yang mana jarang orang ketahui dan jarang orang mau ke sana. Tingkat keselamatan Saudari Sungai Utara jauh lebih tinggi di sana. Setelah angin muson timur tiba, Saudari Sungai Utara bisa berlayar kembali ke Champa.”
Mantingan mengangguk pelan. “Apakah Bapak tahu di mana pulau yang bisa kami singgahi?”
“Jangan tanyakan aku dan jangan sampai aku mengetahuinya. Jadi sewaktu-waktu, ketika aku diancam sekalipun, tempat kalian tidak akan diketahui. Jangan beritahu orang lain pula bahwa kalian pernah bertemu diriku, biarlah kita saling melindungi.”
Mantingan menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Terima kasih, Bapak. Kami tidak akan berbuat hal sedemikian yang membahayakan kita sendiri. Sungguh saran dari Bapak sangat berharga bagi kami.”
Saudagar kemudian bercerita banyak tentang perjalanannya sebagai pedagang. Ia berasal dari Suvarnadvipa dan tinggal di Javadvipa. Ia pernah menyambangi negeri-negeri jauh seperti Champa, Fu-nan, dan Kekaisaran Jin.
Di saat terjadi pergejolakan adalah masa paling berat bagi usahanya. Banyak gerainya yang terpaksa ditutup demi keamanan. Penutupan gerai itu sungguh membuatnya rugi, karena ia tidak hanya berjualan barang mati saja melainkan juga bahan makanan.
Tidak mau bahan makanan membusuk dengan sia-sia, saudagar putuskan untuk membagikannya saja pada kota-kota terdampak perang. Ia sendiri yang memimpin perjalanan, pergi ke salah satu kota yang ingin ia sumbangkan bahan makanan. Di kota itu, ia bertemu dengan dua perempuan kakak-beradik yang sama sekali kehilangan keluarga dan rumahnya. Tak ada yang tersisa selain mereka. Keluarga besar tinggal di kota yang sama, dan hanya mereka yang selamat.
Saudagar belum menikah saat itu. Ia berpikir untuk menikah salah satunya saja, lagi pula mereka sudah berusia matang. Namun ada kendala lain, yaitu salah satu dari mereka tidak mau terlepas. Jika ingin menikahi salah satu dari kakak-beradik itu, maka yang lainnya harus dibawa serta. Setelah beberapa pertimbangan, Saudagar memilih untuk menikahi keduanya.
__ADS_1
“Memang saat itu aku belum cinta, tetapi lambat laun cintaku bertambah besar, sebesar rembulan yang terpancang di langit.” Saudagar terkekeh merangkul pundak dua istrinya.
Mantingan hampir tersedak napasnya sendiri, sedangkan Bidadari Sungai Utara menelan ludah.
Hidangan mulai berdatangan tak lama setelah itu. Sampai semua hidangan terkumpul di meja, Saudagar membuka acara makan malam. Beberapa kalimat penyambutan kembali diucap. Disambung dengan penyantapan. Penuh suka-cita, canda tawa. Sungguh sederhana, tetapi membahagiakan. Suasana yang akan selalu diingat.
***
Perpisahan yang sungguh mengharukan. Pagi itu sebelum matahari naik, bahkan sebelum hari menjadi terang tanah. Terlalu terlambat disebut tengah malam, terlalu dini disebut pagi. Mantingan turun ke lantai bawah untuk melepas rombongan saudagar. Bidadari Sungai Utara diharapkan kehadirannya, tetapi tidak ada yang tega membangunkan gadis itu sepagi ini. Maka cukuplah Mantingan sebagai perwakilan.
“Bapak Saudagar, sahaya mendoakan Bapak selamat sampai tujuan.”
Saudagar tertawa lebar. “Tujuanku saat ini tiada menentu, Mantingan, tapi terima kasih atas doamu itu.”
Mantingan mengangguk dan tersenyum. Mereka berjabat tangan. Saudagar dan dua istrinya naik ke dalam kereta kuda. Mereka saling melambaikan tangan sebelum akhirnya rombongan bergerak menjauh.
Mantingan diam beberapa saat, memandangi titik-titik cahaya obor dari rombongan dagang yang kian menjauh. Saudagar adalah orang yang baik, ia mengambil dua istri bukan berdasarkan ***** pribadi, sungguh dermawan perbuatan yang ia lakukan. Dan soal perut buncit, saudagar menjelaskan bahwa perut buncit adalah warisan turun-temurun, tidak bisa diubah. Bukan karena dia sering makan berlebihan.
Mantingan kembali masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, ada kisah yang harus ia tulis. Kisahnya berlatih bersama Bidadari Sungai Utara. Kisah tentang apa yang ia dengar dari Bidadari Sungai Utara di sebelah kamarnya. Dan kisah tentang makan malam yang begitu menyenangkan.
Terang tanah itu Mantingan habiskan untuk menulis, hingga hari menjadi terang pagi Mantingan turun untuk mandi. Lalu kembali lagi ke dalam kamarnya, menulis dan menulis.
__ADS_1
Pagi berganti siang. Semua pengalaman telah selesai ditulis. Sudah lima belas keropak lontar yang Mantingan buat, berisi kisah perjalanannya. Siapakah yang akan membaca kisahnya? Tak seorangpun tahu. Apakah kisahnya akan aman sampai akhir perjalanannya menemukan Kembangmas? Tidak seorangpun yang tahu pula. Biarlah itu menjadi kisah yang tak terungkap dan tak tertulis.