Sang Musafir

Sang Musafir
Turunnya Harga Diri


__ADS_3

SELURUHNYA luruh malam itu. Tiada tersisa pendekar-pendekar yang telah memilih untuk tetap menetap dan melawan Mantingwn: seluruhnya mati.


Entah arwah makhluk halus apa yang masuk ke tubuh Mantingan hingga pemuda yang biasanya bersikap lemah dan lembut itu menjadi seganas harimau kelaparan. Namun, makhluk halus seperti apa pun itu agaknya telah meninggalkan tubuh Mantingan sesaat setelah pertarungan selesai, nyatanya pemuda itu kembali pada sikapnya yang lemah dan lembut.


Malam itu, belasan pancaka terbakar pada sebuah tanah lapang yang cukup bersih dari pepohonan dan semak belukar kering yang dapat menyulut api ke mana-mana. Di dalam pancaka-pancaka itu, terdapat ratusan pendekar tak berbusana yang ikut terbakar bersamanya.


Bidadari Sungai Utara berdiri tepat di samping Mantingan. Takut-takut Mantingan kembali meradang oleh rasa penyesalan setelah membunuh ratusan musuh. Namun nyatanya, Mantingan justru tersenyum lebar.


“Adakah sesuatu yang engkau butuhkan, Saudari?” Mantingan bertanya setelah merasa ada yang tidak beres dengan Bidadari Sungai Utara. Sedari tadi gadis itu membisu, padahal dia berdiri tepat di sebelahnya.


Bidadari Sungai Utara membuyarkan lamunannya sendiri. “Tidak ada. Daku hanya sedikit takut berada di tempat ini.”


Mantingan mengangkat alisnya. “Bukankah daku sudah katakan sebelumnya untuk tidak mengikutiku, Saudari?”


“Daku hanya berniat membantumu, Saudara.”


“Mereka tewas karenaku, maka barang tentu menyempurnakan tubuh mereka menjadi tugasku.”


Mendengar Mantingan menyinggung soal kematian lawan-lawannya, Bidadari Sungai Utara merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk bertanya.


“Apakah dirimu tidak mengapa setelah menyempurnakan jalan kependekaran mereka, Saudara?” Bidadari Sungai Utara sengaja bertanya dengan penuh kehati-hatian dan dengan bahasa yang halus.


Mantingan menggelengkan kepalanya dengan terus mempertahankan senyum. “Daku sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi berkat pertarungan tadi, daku mendapatkan beberapa terobosan besar dalam ilmu persilatan.”


Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya meskipun tidak terlalu puas dan mengerti dengan jawaban Mantingan.


“Lagi pula, bukankah itu jalan hidup mereka?” Mantingan melanjutkan perkataannya sedang matanya beralih menatap belasan pancaka yang terbakar dari kejauhan. “Bukankah itu jalan hidup para pendekar?”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa dan merenung. Pertarungan dan pertarungan dan pertarungan dan lagi-lagi pertarungan, bukankah memang begitu jalan hidup mereka hingga suatu saat mati terbunuh di tangan pendekar yang lebih kuat? Kemudian Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya, ia memahami maksud dari dua-tiga patah kata yang Mantingan ucapkan itu.


“Marilah kita kembali ke rombongan, Saudari.” Mantingan melirik gadis itu. “Mereka pasti menunggu kita sejak lama.”


“Kana akan lebih suka jika kita tidak kembali, Saudara. Dia bisa tidur sepuasnya selagi dikau tidak ada di sana.”


“Kana ... anak itu benar-benar merepotkan.” Mantingan tertawa sejenak. “Sesampai di Champa, Saudari harus mulai mendidiknya.”


“Daku tidak terlalu yakin dapat mengendalikan Kana. Dia hanya takut kepadamu, Saudara.” Bidadari Sungai Utara berkata sambil tertawa kecil.


“Meskipun perangainya buruk, dia selalu berlaku lembut pada perempuan. Jika Saudari bisa membalasnya dengan kelembutan pula, kuyakin Kana dapat terdidik.”


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mulai berjalan meninggalkan belasan pancaka di tengah lapangan itu ketika apinya mulai meredup. Mereka berdua tidak berkelebat, sebab memang memberikan waktu kepada Kana dan Kina serta beberapa pendekar Pasukan Topeng Putih lainnya untuk beristirahat.


“Kuharap Saudara berkunjung ke Champa satu-dua kali.” Berkatalah Bidadari Sungai Utara bukan hanya untuk mengisi kesunyian malam, melainkan juga untuk mengutarakan isi benaknya.


“Sepertinya akan sulit bagiku untuk menemukan keberadaanmu di negeri yang begitu asing bagiku, Saudari.” Mantingan menolak dengan halus, sebenarnya sama sekali bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan keberadaan Bidadari Sungai Utara dengan beragam macam cara.


Mantingan tersenyum canggung sebelum membalas, “Daku tidak mengerti bahasa Champa, akan sangat menyusahkan bukan?”


“Engkau bisa menggunakan bahasa Sanskerta. Orang-orang Champa menguasai bahasa Sanskerta. Bahkan tidak sedikit yang menguasai bahasa melayu.”


Mantingan memilih untuk diam. Memang tiada lagi yang dapat dibantah olehnya. Di luar dugaan, Bidadari Sungai Utara ternyata begitu cermat. Menipu Bidadari Sungai Utara bukanlah hal yang mudah bagi Mantingan.


“Jika takut kekasihku marah karena dikau menemuiku, maka kita bisa bertemu sebagai teman saja.”


Hampir-hampir Mantingan tersedak ludahnya sendiri, namun ia berhasil menahannya. Pemuda itu tersenyum pahit meski cukup kagum dengan keterusterangan Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


“Bukankah kita memang berteman, Saudari? Apakah saat ini engkau menganggapku sebagai musuh?”


Di bawah siraman sinar Lontar Sihir Cahaya, Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan dengan tatapan tajam. Meskipun bibirnya tertutup cadar, Mantingan tahu bahwa gadis itu cemberut.


“Baiklah, Saudara. Seperti apa pun engkau menganggapku, itu adalah kehendakmu yang tidak dapat kubantah. Tetapi datanglah ke Champa, tak peduli engkau menganggapku seperti apa.”


“Daku tidak dapat memberimu harapan yang tak nyata, Saudari. Maka harus kukatakan, diriku tidak bisa memenuhi itu.”


Tak terasa jarak yang telah ditempuh semenjak Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mulai bercakap, kini keduanya telah sampai di jalanan. Rombongan terlihat tak jauh dari tempat mereka, menggelar sebuah tikar kain untuk beristirahat di tepi jalan dengan bersinarkan sebuah Lontar Sihir Cahaya sama seperti mereka.


Mantingan tidak memberi ruang kepada Bidadari Sungai Utara untuk menjawab. Dirinya melesat pergi ke arah rombongan.


Kesepuluh pendekar yang ternyata tidak tidur melainkan sedang bersamadhi di tepi jalan itu hanya melirik Mantingan barang sekejap.


Dari lirikan itu, Mantingan segera mengetahui bahwa mereka semuanya marah kepadanya untuk alasan yang masih remang-remang diketahuinya.


“Saudara Man telah kembali,” kata salah satu dari mereka pada akhirnya dengan mata yang masih terpejam. “Apakah kita harus melanjutkan perjalanan sekarang?”


Mantingan menggeleng dan menjawab, “Tidak perlu sekarang juga, jika kalian masih ingin bersamadhi untuk mengisi tenaga dalam.”


Yang lainnya menimpali, “Kita sebenarnya sama sekali tidak membutuhkan tenaga dalam, Saudara Man; dan tujuan kami bersamadhi saat ini bukanlah untuk mengisi tenaga dalam. Untuk apakah kiranya tenaga dalam kami butuhkan jikalau tidak pernah dibutuhkan selama mengawal Saudara yang kehebatannya bukan main.”


Baru saja Mantingan ingin membantah, akan tetapi pendekar lain kembali memberi timpalan bernada setuju.


“Benar. Entah mengapa, kehadiran kami di sini bukanlah melindungi Saudara Man tetapi justru dilindungi Saudara Man.”


Dalam samadhi dan keterpejaman mata, pendekar-pendekar itu menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Jika saja kami tidak diembankan tugas langsung dari Ketua Rama untuk terus mengawal Saudara apa pun yang terjadi, kami sudah memilih untuk pergi meninggalkan Saudara,” ujar yang lainnya, “melindungi orang seperti Saudara sama saja benar-benar menurunkan harga diri kami sebagai pasukan khusus yang terlatih.”



__ADS_2