Sang Musafir

Sang Musafir
Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

“Ah, itu bukan masalah sama sekali. Jika tidak keberatan, bolehkah aku membawa pedangmu ke cabang Perguruan Purnama Merah terdekat? Selain memiliki usaha penginapan dan perguruan, kami juga memiliki usaha penempaan. Aku sangat yakin dengan keyakinan yang penuh, pedangmu akan mendapatkan sarung yang bagus.”


MANTINGAN mengangguk dan tersenyum ramah sebelum menyerahkan pedangnya. “Kira-kira, berapa hari sarung pedang selesai dibuat?”


“Untuk sarung pedang dengan kualitas paling bagus, paling tidak membutuhkan waktu lima hari untuk membuatnya.”


Mantingan berpikir sejenak sebelum kembali mengangguk. Ia merasa memang perlu meluangkan waktu untuk mendapatkan sarung pedang yang berkualitas. Dengan adanya sarung pedang, ia tidak perlu banyak membunuh. Bukankah itu artinya sarung pedang termasuk barang yang amat sangat penting?


“Jikalau begitu, saya menambah sewa kamar selama lima hari.” Mantingan bersiap merogoh pundi-pundinya, tetapi penanggungjawab kedai menahannya melakukan itu.


“Bagaimana mungkin aku akan menerima uang dari penyelamat kedai kami? Saudara tidak perlu bersikap seperti itu, anggaplah tempat ini sebagai rumahmu sendiri.”


"Tidak boleh seperti itu, Paman ...."


"Ah sudahlah, bersikap santai saja." Penanggungjawab kedai tertawa.


Mantingan tersenyum lebar. “Terima kasih, Paman.”


Setelah berbasa-basi sejenak, Mantingan kembali ke kamarnya di lantai tiga itu. Ia kembali menaruh barang-barangnya yang tadi sempat dibawa.


Awalnya Mantingan hendak kembali menulis, tetapi sebuah suara yang menahannya.


“Kemampuanmu hebat juga, wahai pendekar yang bernama Mantingan.”


Itu suara perempuan. Yang membuat Mantingan terkejut adalah suara itu berasal dari kamar di sebelahnya. Mantingan hampir lupa bahwa kamar itu sebenarnya tidak kosong. Mantingan mengernyitkan dahinya, ini adalah suara pertama yang ia dengar dari kamar di sebelahnya.


Awalnya Mantingan mengira penghuni kamar sebelah adalah pendekar berkemampuan tinggi yang telah lama meninggalkan kedai secara diam-diam. Biasanya memang seperti itulah cara pendekar bersembunyi. Tetapi kini ia mendengar suaranya, itu berarti orang di kamar sebelah tinggal begitu lama di dalamnya.


“Siapa?” Hanya satu kata yang keluar dari Mantingan.

__ADS_1


“Nama sejatiku tidak perlu engkau ketahui, tetapi orang-orang biasa memanggilku Bidadari Sungai Utara.”


Mantingan tersenyum canggung mendengar nama itu lalu berkata, “Ya, lalu ada perlu apakah?”


“Seharusnya engkau sudah sangat senang mendapat pujian dariku. Banyak orang-orang yang berhasrat untuk dapat berbicara padaku walau hanya sekejap mata saja. Kau telah aku puji, tapi malah menanggapinya begitu. Namun biarlah, sepertinya memang itu bagian yang menarik dari dirimu.”


Mantingan mengerutkan dahi dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bidadari Sungai Utara? Ia tidak pernah mendengarnya. Sepertinya memang benar, banyak pendekar muda berbakat yang bermunculan baru-baru ini.


Karena tidak mengetahui harus membalas apa lagi, Mantingan akhirnya tidak membalas. Ia duduk di kursi yang di depannya adalah meja, lalu mulai menulis lanjutan kisah perjalanannya.


Beberapa lama kemudian perempuan di sebelah kamarnya kembali mengeluarkan suara.


“Jika boleh aku tahu, wahai pendekar yang bernama Mantingan, suatu hal apakah yang membuat kau mau menolong tanpa imbalan?”


Mantingan terdiam beberapa saat sebelum memberi jawaban sederhana. “Aku ditugaskan untuk menyebarkan kebaikan.”


“Lalu dari tugasmu itu, kau dapat apa?”


“Hanya kedamaian? Bukankah kedamaian itu bisa diraih dengan uang-uangmu yang sepertinya banyak itu? Mengapa perlu susah-susah berbuat kebaikan agar kedamaian tercipta.”


Mantingan menghela napas panjang. “Kalau pakai uang sendiri untuk kedamaian sendiri, bukan untuk beramai-ramai. Sedangkan kedamaian diciptakan juga untuk manusia, sedangkan manusia bukan hanya diriku saja.”


Bidadari Angin Utara diam beberapa saat sebelum kembali berkata dengan suara halusnya, “Kau cukup menarik. Aku belum pernah tertarik pada seorang pria sebelumnya, tetapi engkau cukup menarik bagiku. Mungkin hanya kekasihku saja yang pernah menarik bagiku."


“Ya, terima kasih.” Mantingan kembali pada lontarnya.


Sepeminuman teh lewat, saat itulah perempuan yang mengaku sebagai Bidadari Angin Utara lagi-lagi membuka suaranya.


“Apakah kau memiliki pengalaman bertarung dengan pendekar-pendekar berbakat lainnya?”

__ADS_1


Mantingan menghela napas panjang sekali lagi. “Saudari, jika memiliki suatu keinginan pada saya, jangan malu-malu untuk mengatakannya.”


Terdengar suara batuk-batuk dari perempuan itu. “Kau bisa dengan tepak menebaknya. Aku memang memiliki suatu keinginan sejak pertama kali engkau datang, dan keinginanku ini berhubungan dengan mengapa aku tidak ikut campur saat kedai mengalami masalah. Bolehkah aku mengatakannya jika kau tidak keberatan?”


“Katakan saja.”


Perempuan itu menghela napas panjang sebelum menjelaskan. Gejolak yang terjadi di tanah Javadvipa membuatnya tidak bisa pulang ke tempat asalnya, Negeri Atap Langit. Sedangkan dirinya bukanlah pendekar yang hebat-hebat sekali, dan pengawal-pengawalnya mati terbunuh akibat melindunginya.


Alasan ia pergi ke pulau Jawa adalah untuk menghadiri acara tertentu yang berhubungan dengan ilmu persilatan, ia tidak menyangka negeri Taruma yang damai tiba-tiba dibuat kacau oleh pendekar-pendekar aliran hitam


Saat ini ia hanya mengandalkan Lontar Sihir untuk bertahan hidup, ia juga menggunakan Lontar Sihir untuk menutup-nutupi suara yang dihasilkannya, sehingga orang-orang akan menyangka bahwa penghuni kamar itu adalah pendekar ahli.


“Setidaknya aku harus tiba di Tanjung Kalapa agar bisa kembali ke Champa sebelum angin muson berakhir.” Perempuan itu berkata cemas.


Mantingan mengerutkan dahi. “Bukankah angin muson timur telah lama berakhir?"


Suara hilang beberapa saat.


“Apa?! Angin itu satu-satunya yang membawa harapan hidup bagiku.” Tanpa sengaja perempuan dari dataran Champa itu berteriak menggunakan bahasa Sanskerta, untungnya Mantingan menguasai bahasa itu.


Mantingan berdeham sekali. “Biar begitu, angin muson timur akan kembali sebentar lagi. Musim penghujan sebentar lagi berakhir. Dengan begitu, engkau bisa pulang kembali. Lalu bantuan apakah yang kau kehendaki dariku?”


Masih dengan nada cemas, Bidadari Sungai Utara berkata, “Aku adalah buronan di tanah Javadvipa ini. Bayaran diberikan cukup besar jika orang bisa menangkapku hidup-hidup. Maka dari itu aku berada di sini dan enggan keluar, atau mereka bisa menangkapku dan menyerahkan pada yang memburuku.”


“Saudari, kekhawatiranmu sepertinya berlebihan. Jika engkau benar-benar dicari orang setanah Javadvipa, maka seharusnya aku juga mengetahuinya.”


“Orang yang memburuku tentu hanya memberi pekerjaan itu pada kelompok-kelompok jaringan tertentu, yang kebanyakan adalah kelompok aliran hitam. Sedangkan engkau adalah pendekar aliran putih. Aku minta bantuan padamu untuk melindungiku setidaknya sampai angin muson barat pergi dan angin muson timur kembali.”


Mantingan terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Saudari, kebetulan aku memang bertujuan atau setidaknya melintasi Tanjung Kalapa. Tetapi untuk melindungi dirimu, aku takut tidak bisa.”

__ADS_1


“Aku sudah melihat kemampuanmu. Pendekar yang tadi engkau kalahkan bukanlah pendekar lemah.”


“Aku berhasil mengalahkannya sebab ia melakukan kesalahan berbahaya, bukan karena aku yang bisa mengimbanginya.”


__ADS_2