
DI kaki gunung yang kemarin Mantingan lihat itu ternyata terdapat pemukiman dan bahkan tempat wisata. Akan tetapi, tempat wisata itu tertutup akibat kekacauan yang terjadi.
Di kaki gunung ini, mereka dapat dengan jelas memandangi Gusti Yang Mahaindah yang tercermin dari dua gunung besar itu. Sungguhan luar biasa. Dipadukan dengan udara dingin dan langit cerah, sungguh menyamankan mata yang melihatnya.
Puncak salah satu gunung itu terlihat lebih mulus ketimbang puncak gunung yang satu lagi. Terlihat seperti gunung muda.
Sedangkan gunung yang puncaknya penuh kawah tampak seperti gunung dewasa yang memberi pengajaran pada gunung muda di sebelahnya. Mereka tampak indah bersanding.
Jika dilihat dari bawah sini, puncak gunung terlihat seolah-olah dekat dan mudah dicapai. Tetapi nyatanya tidak begitu. Membutuhkan waktu setidaknya setengah hari jika berjalan santai menuju puncak gunung.
Menurut salah satu penduduk desa yang Mantingan temui, diketahui bahwa terdapat sekawanan badak yang mendiami gunung tersebut. Badak-badak itu menciptakan jalur alami bagi manusia untuk mencapai puncak gunung. Akan tetapi dua gunung itu dianggap suci, tidak boleh sembarang didaki.
“Anggap sajalah penjelmaan sosok Gusti, Anak Muda,” kata orang itu. “Kami bukannya memuja-muja gunung sebagai tuhan kami, tetapi kami menganggap gunung itu adalah wajah Gusti. Karena Gusti sulit sekali dibayangkan rupanya, maka kami ambilah gunung sebagai bentuknya.
“Dua gunung ini tinggi,” lanjutnya, “puncaknya itu bagai mata sepasang mata yang selalu mengawasi kami, sehingga kami akan merasa malu berbuat dosa.”
Mantingan mengangguk dan tersenyum tipis. Tetapi ia menyadari bahwa hal ini akan disalahpahamkan suatu saat nanti.
“Nah, dua Anak Muda ini hendak kemanakah?”
“Kami hendak pergi ke Tanjung Kalapa, Bapak. Jalur yang kami lewati bersinggungan dengan gunung ini, sehingga kami menyempatkan diri mampir dan memandangi keelokan gunung.”
__ADS_1
“Oh, silakan-silakan saja. Asal tidak membawa masalah bagi warga-warga di sekitar. Di sini ada penginapan dan warung makan setempat. Sudah barang tentu kalian tidak akan kecewa mampir di sini.”
Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara di sebelahnya untuk meminta pendapat, gadis itu balik melirik seolah tidak akan memberi jawaban. Mantingan berdeham sekali sebelum berkata, “Kami akan mampir satu-dua hari di sini jika masyarakat sekitar tidak keberatan.”
“Oh, tentu, kalian dianggap keberkahan. Mari daku antarakan kalian berdua.”
Mantingan mengangguk. Tidak ada salahnya mereka sedikit menunda waktu. Dua-duanya tidak sedang dikejar waktu, bahkan semakin menunda waktu akan semakin baik. Angin muson timur masih sedikit lama datangnya.
Mereka diantar memasuki pedesaan yang asri lagi nyaman ditinggali. Rata-rata bangunan pedesaan berbahan dasar dari buluh. Temboknya anyaman buluh sedangkan tiangnya adalah batang buluh.
Hingga sampailah di sebuah bangunan berlantai dua yang sarat akan buluh-buluh. Kedai itu berada di tepi jurang yang meskipun curam tetapi cukup kokoh. Pemandangan gunung tidak terhalang oleh pepohonan atau rumah warga jika seperti itu. Bagaikan wajah kedai itu menghadap dua gunung yang mahaindah dan mahabesar.
Mantingan mengangguk, ia merogoh pundi-pundinya dan mengulurkan beberapa keping perak pada orang itu. “Bapak, ini ada sedikit ....”
“Ah, apa-apaan Anak ini. Bapak ini tulus, tidak menuntut bayaran.”
Mantingan lekas-lekas menarik keping-keping peraknya itu, ia tahu betapa orang-orang tulus akan tersinggung jika diberi bayaran atas bantuan yang diberikan.
“Maaf sekali telah membuat Bapak tersinggung. Sungguh Bapak ini orang yang jarang-jarang saya temui, jadi agaknya saya belum terbiasa.”
Orang itu tidak menganggapnya terlalu serius. “Ah, tiadalah mengapa. Di sini daku hidup penuh kedamaian dan keberlimpahan. Pernah dengar bahwa manusia dibentuk lingkungannya? Nah, daku dibentuk oleh lingkungan yang damai sedari dulu. Berbeda dengan orang-orang di luar yang mungkin kurang beruntung, dibentuk oleh lingkungan yang tidak baik, janganlah engkau terlalu menyalahkan mereka sebelum kau memberi mereka pengajaran dan peringatan.”
__ADS_1
Mantingan sungguh tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan orang desa di depannya itu. Sedangkan Bidadari Sungai Utara hanya termenung, ilmu ini terlalu tinggi untuk ia terima.
“Jadi, Bapak, saya harus buat apa? Saya tidak mau banyak membunuh orang-orang aliran hitam, Bapak, tetapi mereka akan sangat berbahaya jika dibiarkan hidup.”
Walau pertanyaan Mantingan melenceng cukup jauh, tetapi orang itu tetap tersenyum dan menjawab, “Ya, daku setuju jika mereka itu sangat membahayakan jika dibiarkan merajalela. Anak, dikau tahu mengapa manusia sejatinya selalu membunuh dan memangsa makhluk lain?”
Mantingan diam beberapa saat. Inilah pula pertanyaan yang sejak lama belum terjawab. “Agar manusia bisa tetap hidup, Bapak. Apakah itu dibenarkan?”
“Boleh dibenarkan. Karena kalau tidak makan, manusia tidak bisa hidup. Tetapi tidak boleh berlebihan, Anak. Manusia sudah cukup makan yang mengenyangkan dan sehat, tetapi ada manusia-manusia yang makan demi kesenangan dan kepuasan lidah semata, mereka tidak segan membunuh binatang yang tidak perlu dibunuh hanya untuk dimakan. Seolah-olah mereka hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup.
“Jawaban yang sama soal pembunuhan, Anak. Manusia membunuh untuk mempertahankan hidupnya, mempertahankan hidup keluarganya, mempertahankan hidup orang di kelompoknya. Jangan sampai dikau salah membela orang yang ingin kau pertahankan hidupnya, Anak. Membunuhlah demi kelangsungan hidup, bukan hidup untuk membunuh.”
Mantingan diam beberapa saat untuk mencerna semua ilmu yang didapatkannya dengan baik. Setelah itulah ia menghadapkan wajah pada pria tua di depannya, lalu entah hasrat dari mana tubuhnya bergerak membungkuk, terus membungkuk sampai ia mencium kaki pria tua itu. Sama seperti yang ia lakukan pada gurunya dan pada orang tuanya. Entah mengapa ia merasa orang di depannya dapat diartikan sebagai gurunya sendiri. Yang telah memberikan pemahaman hidup besar.
“Tetaplah berada di Jalan Kebenaran, Anakku, Dwipantara membutuhkan orang sepertimu.” Setelah mengatakan hal itu, pria tua di depannya tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak sedikitpun. Bahkan di tanah yang tadi ia pijak pun tak tampak jejaknya.
Bidadari Sungai Utara benar-benar tidak bisa mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Ilmu yang terlalu berat sampai Mantingan yang bergerak mencium kaki pria tua itu membuatnya bingung, terlebih saat orang itu tiba-tiba menghilang tanpa menghilangkan debu sedikitpun.
Mantingan bangkit dengan perasaan haru. Bidadari Sungai Utara bertanya ke manakah gerangan pria tua itu pergi, tetapi Mantingan menggeleng pelan.
“Tidak perlu dicari lagi.”
__ADS_1