
Maka Mantingan telah memutuskan, dirinya akan menuliskan kisah perjalanannya di atas lembar lontar. Agar kisahnya tidak pudar, dan agar kisahnya bisa terkenal luas. Bukan tidak mungkin, dirinya akan menjadi panutan para pengembara pada masa yang akan datang.
Mantingan tidak berniat tidur malam ini. Ia menuliskan ceritanya dari mulai kepergiannya dari desa kelahiran dan pengembaraannya yang membuatnya jadi miskin. Nanti Mantingan akan tuliskan bagaimana dirinya bertemu dengan Kenanga, dan ia akan tuliskan juga bagaimana kecantikan Kenanga baik dari luar maupun dalam.
Menulis di atas lontar benar-benar menghabiskan banyak waktu dan tenaga, tetapi dengan menulis seperti ini, Mantingan merasa lebih bahagia. Selama Mantingan menulis, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, meskipun yang ia tulis adalah bagian tersedih dari pengembaraannya.
Mantingan hampir menyelesaikan bagian dirinya dan Kenanga, tetapi gerakan terhenti saat telinganya menangkap suara benda jatuh berdentangan dari luar ruangannya, atau malah luar rumah. Letak pasti asal suara itu tidak Mantingan ketahui, tetapi kini ia akan mencari tahu asal suara itu.
Ia beranjak dari kasurnya dan membuka pintu kamar dengan pelan.
“Rara? Arka?” panggilnya menggema hampir ke seluruh rumah.
Tidak terdengar balasan, Mantingan semakin penasaran. Apakah benar ada tikus di rumah ini yang tidak mempan dengan sirep penyamar? Maka berjalanlah ia pelan-pelan menelusuri ruangan demi ruangan. Mulai dari dapur, Mantingan tidak menemukan ada benda yang terjatuh dari tempatnya semula. Di ruang tengah juga tidak ada. Gudang penyimpanan pula tidak ada yang aneh.
Mantingan menghela napas panjang, mungkin dirinya hanya terlalu takut, bukankah memang sudah biasa ada suara-suara aneh di pinggir pantai?
Tetapi terdengar lagi suara serupa dengan yang tadi. Tidak alasan bagi Mantingan untuk tidak berwaspada. Kabar buruknya, ia tidak membawa senjata apa pun, ditambah tidak memiliki ilmu tangan kosong sama sekali.
Ada dua perempuan yang musti Mantingan lindungi di sini, tidak ada cukup alasan untuk takut. Mantingan kembali menyusuri ruangan, namun kali ini langkahnya lebih cepat.
Lagi-lagi, Mantingan tidak menemukan apa pun setelah menyusuri seluruh ruangan. Tidak ada barang yang terjatuh, padahal suara yang ia dengar adalah suara benda jatuh berdentangan, seperti suara logam atau mungkin dentingan pedang?
Mantingan hampir menyerah dan hendak menghampiri kamar Arkawidya untuk mengabarkan hal ini, tetapi sebuah suara yang ia kenal memanggil namanya.
“Anak Mantingan, tidak perlu risau. Ini aku Birawa.”
__ADS_1
Mantingan menoleh ke asal suara dan menemukan Birawa berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Kondisinya tidak terlalu baik, rambutnya acak-acakan dan pakaiannya robek di mana-mana. Tapi tidak terlihat ada luka di badannya.
“Bapak Birawa, ternyata itu dirimu.” Mantingan balas tersenyum. “Apakah yang telah terjadi pada Bapak?”
Birawa tetap mempertahankan senyumnya saat ia berkata, “Tidaklah masalah besar, Anak. Kualitas bajuku tidak terlalu bagus sehingga beginilah saat kupakai bertarung dengan kecepatan secepat petir. Tetapi aku tidaklah mengalami luka-luka, Anak.” Birawa menepuk-nepuk bajunya sendiri yang memang terlihat sedikit berpasir itu. “Di manakah Arka dan kawanmu itu? Apa mereka aman?”
“Mereka semua aman, Bapak. Keduanya masih tidur.”
“Baguslah, engkau telah berhasil melakukan tugas yang cukup berat dan penuh risiko ini.” Birawa maju dan menepuk pundak Mantingan sebagai tanda terima kasih. “Kau telah menyelamatkan cucuku. O ... betapa diriku kesulitan mencari Arkawidya itu, Anak. Satu tahun aku mencarinya, tidak juga aku temukan keberadaannya setelah terjadi sebuah kejadian yang membunuh dua orang tuanya. Malang sekali nasib dia, Anak. Apakah engkau ingin mendengar cerita tentangku dan Arkawidya? Aku mengetahui bahwa dirimu dipenuhi oleh banyak pertanyaan.”
“Tentu, Bapak.” Mantingan tersenyum hangat.
“Kalau begitu, marilah duduk di bangku itu, biar semakin lancar aku bercerita, Anak!”
Mantingan mengikuti Birawa dan duduk berhadapan di kursi ruang tengah. Mulailah Birawa bercerita. Tentang mengapa dirinya tidak ada di saat Arkawidya dan keluarganya membutuhkan pertolongan darinya.
Desa Arkawidya rata dengan tanah, begitu juga dengan rumah Widya. Saat ia menelisik puing-puing rumah Widya, dapat ia temukan tulisan-tulisan yang diguratkan pada dinding.
Tulisan itu berbunyi: “Kakek di mana?”
Jelas itu Arkawidya yang menulisnya. Entah dengan apa ia telah menuliskan aksara-aksara itu, tetapi Birawa melihat bahwa besar kemungkinan Arkawidya menggurat itu dengan kukunya sendiri.
“Aku benar-benar menyesal, Anak. Kucari mereka ke mana-mana. Sampai aku dapatkan kabar dari orang desa yang selamat dari kejadian itu, bahwa ibu dan bapak Widya tewas. Anakku, o ....”
Birawa menghela napas panjang. Senyumnya menghilang akibat sedih yang teramat dalam. Dapat tergambar jelas dari sorot matanya yang memandang ke bawah, penyesalan yang teramat dalam.
__ADS_1
“Tidak kutemukan jejak atau kabar tentang Widya. Kucari dia dan kuhiraukan tantangan-tantangan bertarung dari banyak pendekar, hingga namaku dalam dunia persilatan telah tercoreng dan dianggap bukan pendekar. Tidak kunjung juga aku temukan dirinya. Aku lalu tinggal di Sundapura, yang secara tidak langsung melindungi kota itu dari serangan-serangan golongan hitam.
“Kupikir, Arkawidya telah membenciku. Dan memanglah pantas aku dibenci olehnya. Telah gagal tugasku sebagai kakek untuknya, telah gagal tugasku menjadi pelindung baginya!”
Mantingan menghela napas panjang saat kisah itu diakhiri. Semakin tergambar jelas di kepalanya bahwa jalan kependekaran adalah jalan yang sunyi dan sepi. Seorang pendekar akan berbahaya jika mengurusi urusan keluarga walau sedikit saja, maka dari itu banyak pendekar yang memilih tidak menikah atau berkeluarga.
Tetapi untuk sekarang ini Arkawidya berada dalam kondisi yang terjamin berkat keberadaan Birawa. Tidak banyak yang harus Mantingan risaukan.
Birawa kembali tersenyum dan membawakan pembicaraan lain. “Anak, matahari belumlah naik tetapi engkau sudah terbangun, ada apakah?”
Mantingan menggeleng pelan dan tertawa kecil. “Sebenarnya aku tidak tidur, Bapak.”
“Loh, mengapa?”
“Semalaman tadi aku menulis di lembar lontar kosong kamar tamu. Aku pakai itu tidak mengapa, Bapak?”
“Tidak mengapa, tidak mengapa! Aku malah senang.” Birawa tersenyum lebar. “Kalau aku boleh tahu, apakah yang engkau tulis, Anak?”
“Aku menulis kisah perjalananku, Bapak. Bukanlah kisah yang bagus, aku tidak pandai menyusun kata-kata.”
“Jikalau itu merupakan sebuah kisah, tentu untuk dibaca khayalak, bukan?”
Mantingan mengangguk. “Benar, diriku menulis itu agar dibaca banyak orang.”
“Kalau begitu, dapatkah aku membacanya sedikit?”
__ADS_1
“Tentu saja, Bapak, akan daku ambilkan di dalam kamar.” Mantingan bangkit dan bergegas jalan menuju kamarnya.