Sang Musafir

Sang Musafir
Kerjasama


__ADS_3

MANTINGAN DENGAN tenang melepas capingnya—dirasa tidak sopan mengenakan caping ketika di dalam ruangan sekaligus di hadapan orang yang sedang berbicara. Mengungkap rupa wajahnya. Mantingan lalu menggelengkan kepalanya pelan.


“Paman, saya rasa harga yang ditawarkan Paman terlalu sulit dijangkau para pendekar muda. Mereka membutuhkan Lontar Sihir Cahaya ini, tetapi dengan harga murah. Harga yang mahal malah membuat mereka melakukan yang tidak-tidak untuk mendapatkan uang. Bukankah itu juga membuat lontar ini jadi lebih bermanfaat? Jadi kupikir, bagaimana jika ini dihargai delapan keping emas perlembar?"


Penjual lontar itu terdiam beberapa saat. Dalam benaknya ia berpikir, bahwa apa yang orang-orang katakan tentang Mantingan ternyata bukanlah omong kosong belaka. Kenyataan disuguhkan tepat di depan matanya, Mantingan lebih memikirkan manfaat bagi orang banyak ketimbang keuntungan bagi dirinya sendiri.


Maka di situlah pikiran penjual lontar tergerak untuk berbuat kebaikan, seperti apa yang telah Mantingan lakukan. Tidak akan ia ambil keuntungan dari penjualan Lontar Sihir Cahaya buatan Mantingan. Agar tetesan air kebaikan Mantingan dapat tersalur dengan murni, tanpa ia memanfaatkannya sebagai alat untuk cari uang.


“Baiklah, Pahlawan Man. Satu dus ini akan aku jual pada orang-orang yang paling membutuhkan, dan harganya sesuai dengan perkataan engkau; delapan keping emas untuk setiap lembarnya.”


Mantingan mengangguk dan tersenyum hangat.


Betapa penjual lontar terkagum-kagum bisa melihat senyum dan wajah Mantingan dengan begitu jelas. Selayaknya mentari. Secara tidak sadar, dirinya turut melebarkan senyum.


“Paman, untuk saat ini saya hanya bisa memberikanmu satu dus saja. Tetapi di kemudian hari, mungkin saya bisa memberikan Paman lebih banyak dus lagi.”


Ekspresi wajah penjual lontar berubah. Apakah yang tadi didengar olehnya? Tidak salah dengar, bukan? Mantingan akan memberikannya lebih banyak lontar di kemudian hari? Bukankah itu sama saja mengartikan bahwa Mantingan ingin membuat suatu hubungan kerjasama jangka panjang?


Seolah memahami perubahan di wajah si penjual lontar, Mantingan melanjutkan perkataannya, “Apakah Paman kenal Nyai Dara?”

__ADS_1


Terlepas dari keterkejutannya, penjual lontar menjawab, “Ya, aku tahu dirinya. Tetapi hanya sekadar tahu, aku dan dirinya tidak pernah bertemu sebelumnya dan tidak memiliki hubungan dagang.”


Mantingan mengangguk sekali. “Izinkan aku menulis lontar di sini, Paman.”


“Oh, silakan-silakan.” Paman penjual lontar menyeret mundur dirinya sedikit ke belakang, memberi Mantingan lebih banyak tempat di meja untuk menulis lontar.


Mantingan mengeluarkan selembar lontar kosong dari dalam salah satu kantung pundinya serta alat pengukir. Ia meletakkan lontar di atas meja lalu tangannya bergerak seperti menari indah mengukir aksara-aksara Pallawa di atas daun lontar.


Tidak perlu waktu lama bagi Mantingan untuk menyelesaikan tulisannya. Dua sisi lontar penuh dengan guratan aksara. Dibaluri sedikit bubuk tinta di dalam goresan aksara agar semakin jelas tulisannya. Mantingan kemudian menyimpan kembali alat pengukirnya ke dalam pundi-pundi.


“Paman, tolong simpan ini baik-baik.” Mantingan mendorong pelan lontar itu ke sisi meja paman penjual lontar. “Dalam waktu sebulan lagi, tolong berikan ini pada Nyai Dara.”


Penjual lontar maju dan memandangi lontar itu tanpa merasa perlu membaca isinya.


Penjual lontar terdiam beberapa saat sebelum menggeleng pelan. “Itu pasti akan merepotkan Anak Man, lebih baik Anak Man menjual lontar pada Nyai Dara saja.”


Mantingan membalasnya dengan gelengan pula. Paman penjual lontar ini harus mendapat keuntungan dari Mantingan, atau jika tidak, risiko tertahuannya keberadaan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara menjadi sangat nyata. Manusia selalu mudah terhasut oleh kekayaan.


Selain alasan itu, Mantingan juga mempunyai alasan lain. Paman penjual ini lebih berpengalaman menjual Lontar Sihir ketimbang Dara. Pengalamannya sangat memumpuni, tiga puluh tahun pria paruh baya itu berjualan lontar. Pengetahuannya tentang dunia perlontaran tidak perlu diragukan lagi, nyatanya ia bisa menebak pencipta lontar hanya dari aroma kotoran kukunya saja.

__ADS_1


Bisa-bisa, penjualan Lontar Sihir Cahaya buatannya meningkat sangat pesat di tangan sang penjual lontar. Pemikiran jahatnya tertawa lebar, tetapi pemikiran baik Mantingan segera menepisnya. Ia menguatkan niatan berjualan Lontar Sihir agar bermanfaat bagi sesama, bukannya untuk mencari keuntungan pribadi.


“Paman memiliki lebih banyak pengalaman berjualan Lontar Sihir, saya menyerahkan semuanya pada Paman.” Mantingan mengetukkan jarinya ke permukaan meja, bicara lebih serius lagi. “Akan tetapi, mohon Paman tidak memberitahu siapa pun bahwa lontar-lontar ini berasal dariku, katakan hal yang sama pada Dara. Paman pasti mengerti aku sedang membawa siapa dalam perjalananku.”


Paman penjual lontar mengangguk. Mengerti.


“Saat ini, dialah orang yang paling kujaga keselamatannya. Jika terjadi sesuatu terhadapnya disebabkan oleh perkara ini ....”


Penjual lontar kemudian berkata, “Aku mengerti. Kabar tentang Bidadari Sungai Utara bersama Pahlawan Man sudah kuketahui. Saat mengetahui kabar itu, diriku cukup prihatin. Pendekar baik sepertimu telah menolong banyak orang, tetapi diperlakukan dunia persilatan secara tidak adil. Sampai aku berniat mengirim pendekar bayaran untuk mencari dan menjagamu. Akan tetapi aku tak melakukan itu, karena kutahu hal itu malah akan membahayakan keselamatanmu. Aku takut bayaranku tidak cukup memuaskan mereka."


Mantingan kemudian tersenyum puas. “Terima kasih atas perhatian Paman pada saya. Namun, saya rasa pertemuan kita harus sampai di sini, masih banyak barang yang ingin saya beli di Pasar Layar Malaya.”


“Mana bisa Pahlawan Man pergi tanpa jamuan dari keluargaku.” Penjual lontar menahan Mantingan saat pemuda itu hendak berdiri. “Percayakan saja barang belanjaan Pahlawan Man pada anakku, engkau hanya perlu menuliskan apa saja yang dibutuhkan dan berapa jumlahnya.”


Mantingan mengatakan bahwa dirinya merasa tidak enak merepotkan paman penjual lontar, namun si penjual lontar bersikeras untuk menjamu Mantingan bahkan mengancam tidak akan menerima kehadiran Mantingan lagi jika pemuda itu menolak jamuan. Sehingga Mantingan hanya bisa menerimanya saja.


“Barang dagangan Pahlawan Man harus dituliskan di atas lontar. Lontar manakah yang sesuai selera Pahlawan Man?”


“Apakah maksud Paman? Lontar mana saja boleh, dan aku memiliki lontar kosong.” Mantingan mengerutkan dahi sekaligus tersenyum bingung, tidak mengerti maksud paman penjual lontar.

__ADS_1


“Ah, mungkin Pahlawan Man belum tahu. Baru-baru ini, ada sebuah rumah pembuatan lontar yang menciptakan kemajuan besar dalam dunia perlontaran. Mereka menjual lontar berbagai cap, yang setiap cap-nya memiliki sifat-sifatnya tersendiri.


“Semisal Cap Macan, lontar ini lebih empuk ketimbang lontar lain. Sangat cocok untuk orang yang menyukai sensasi menulis lembut. Lalu lontar yang memiliki sifat keras adalah Cap Cadas, cocok sekali untuk penulis kitab-kitab persilatan yang menginginkan tulisan lebih tegas, dengan Cap Cadas ini seseorang bisa merasakan permukaan lontar dari pengukirnya.”


__ADS_2