Sang Musafir

Sang Musafir
Pelarian Pendekar Tongkat Badai; Pengepungan Beratus-Ratus Pendekar


__ADS_3

MEREKA MEMBENTUK barisan pertahanan berpola segitiga, dengan Pendekar Tongkat Badai berdiri di barisan terdepan, sedangkan dua pendekar lainnya berada di belakangnya.


Tidak gentar barang sedikitpun, Mantingan memacu kakinya maju. Direntangkan Pedang Kiai Kedai ke sampingnya. Saat itulah lawan-lawannya turut menyerang maju.


Terjadi bentrokan tidak seimbang antara Mantingan dengan pihak Perkumpulan Pengemis Laut. Mantingan sungguh tidak bisa mengalahkan lawan-lawannya dengan mudah, sekalipun ia memanfaatkan banyak Lontar Sihir.


Beberapa kali tubuhnya hampir terbesit bilah beracun kelewang lawannya. Beberapa kali pula ia terpaksa keluar-masuk bangunan demi mempertahankan nyawa. Tetapi, tidak satupun serangannya dapat mengancam jiwa ketiga pendekar itu.


Mantingan menggunakan beragam Lontar Sihir Penyerang dan Lontar Sihir Penjebak untuk mengecoh lawannya, tetapi mereka tidak mau lengah untuk yang kedua kalinya. Maka dari itulah, sedaripada membuang sia-sia Lontar Sihir, Mantingan mulai menyerang lawannya hanya dengan seni berpedang.


Sebenarnya, Mantingan hanyalah menguasai ilmu berpedang tanpa menguasai satupun jurus berpedang. Sebelumnya ia berpikir untuk lebih menguasai ilmu tangan kosong ketimbang ilmu bersenjata. Tetapi melawan tiga pendekar ahli sekaligus seperti ini, Mantingan menjadi sadar bahwa ia tetap membutuhkan keterampilan bersenjata.


Namun tidak mungkin baginya untuk mempelajari sebuah kitab sedang ia tengah terlibat suatu pertarungan mengancam jiwa. Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan sekarang hanyalah berusaha sebaik mungkin.


Mantingan mengeluarkan beberapa Lontar Sihir Penyerang kosong, lalu ia menuliskan pantun-pantun sulit di semua daun lontar. Sembari menulis, Mantingan hanya bisa menghindar, tanpa bisa menangkis apalagi menyerang.


Setelah mundur beberapa langkah, Mantingan langsung melemparkan lontar-lontar berisi pantun rumit ke udara. Bagaikan yang dilempar bukanlah lembar lontar, melainkan aksara-aksara Pallawa bercahaya!


Tiga pendekar lawannya itu tidak siap menghadapi serangan semacam itu. Mereka hanya dapat melompat mundur seraya membabat aksara-aksara yang terbang ke arah mereka itu. Namun percuma saja yang mereka lakukan itu, pantun bersusun aksara-aksara tetap menghunjam tubuh mereka tanpa ampun. Tercipta ledakan cahaya tiga kali. Membuyarkan pandangan.


Tiga lawannya terhuyung. Serangan Mantingan tadi tidaklah menyebabkan luka pada kulit mereka, tetapi sungguh merusak organ dalam. Tak ayal rasa sakit yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat.


Memanfaatkan keadaan lawan-lawannya yang lengah, Mantingan berkelebat untuk menyerang. Merobek angin dengan Pedang Kiai Kedai terhunus. Apa pun yang terjadi, ia harus mampu mengalahkan ketiga lawannya. Jika dirinya mati di sini, maka entah bagaimana nasib Bidadari Sungai Utara.


Sebagai sosok yang berpengalaman, tiga pendekar itu telah menduga serangan Mantingan. Seringlah mereka menghadapi pendekar-pendekar yang baru akan menyerang setelah berhasil membuyarkan lawannya.


Maka membabat pedangnya ke segala arah. Tiadalah kepedulian jika pedangnya akan mengenai kawannya. Bagi mereka, tidak ada yang lebih penting selain keselamatan diri sendiri.


Sekalipun gerakan mereka akan mengancam keselamatan kawan-kawannya, tetapi jika itu dapat melindungi diri, maka orang-orang itu bersedia melakukannya. Begitulah aturan main yang dipahami semua pendekar bergolongan hitam.


Begitulah Mantingan tetap maju meskipun ketiga lawannya berputar-putar bagai gasing berpedang.


Tatkala Mantingan menambah kecepatan lajunya satu kali lipat, maka di sanalah seluruh gerakan lawan tampak melambat seolah dapat ditikam kapan saja.


Mantingan mendorong tubuhnya ke arah salah satu pendekar yang tampaknya paling kesakitan setelah terserang aksara-aksara sihir.


Orang itu lengah. Mantingan menikam jantungnya. Dengan sangat mudah. Begitu cepat kematian terjadi, bagaikan nyawa adalah suatu barang yang sama sekali tidak berarti.


Mantingan tiba-tiba berpikir. Jika pendekar yang dibunuhnya telah berusia dewasa, maka sudah berapa banyak pengalaman orang itu selama hidup di dunia? Berapa ratus karung padi yang telah ia habiskan? Berapa banyak langkah kaki yang telah ia buat? Berapa lama dirinya belajar berjalan? Dan yang paling terpenting, berapa banyak orang yang menyayanginya? Bukankah setiap orang memiliki kisah berharga yang patut dipertahankan?


Dan kini, Mantingan membunuhnya dengan sangat mudah dan cepat. Tidak semudah ibunya saat melahirkan orang itu. Tidak semudah ibunya saat mengandung orang itu. Dan tidak semudah orang itu dalam menjalani kehidupan kelam.


Meskipun begitu, Mantingan tetap merasa lebih baik membunuh pendekar di depannya ini. Ketimbang dia menamatkan kisah-kisah indah lainnya—yang sangat tidak layak untuk ditamatkan.


Mantingan melaju menuju pendekar lainnya. Dan sekali lagi, ia dapat mencabut nyawa lawannya dengan cepat dan mudah. Menghunjam tepat di jantung lawan. Mantingan meninggalkan lawannya yang masih berdiri termenung seolah tiada terjadi apa pun, menuju pendekar terakhir yang tersisa. Pendekar Tongkat Badai.


Mantingan melaju memecah angin. Menatap tajam pemimpin Perkumpulan Pengemis Laut itu. Betapa yang sebenarnya ia lihat bukanlah manusia, melainkan iblis, maka Mantingan bertekad kuat untuk menumpasnya.

__ADS_1


Namun agaknya, Pendekar Tongkat Badai berhasil memulihkan luka dalamnya menggunakan tenaga Prana, sehingga pendekar itu telah melesat menuju jendela, menjauhi Mantingan.


Tidak dapat terbayangkan apa yang akan terjadi jika pendekar keji itu berhasil meloloskan diri. Mudah ditebak orang tua itu akan melampiaskan api dendamnya atas kematian Tiga Pendekar dari Utara menuju Perguruan Angin Putih.


Membayangkan malapetaka yang akan terjadi jikalau pendekar itu menyerang perguruannya, dada Mantingan dipenuhi gemuruh. Bagaikan telah terjadi badai hebat di dalamnya.


Mantingan menginjak lantai satu kali lagi sebelum melaju selipat lebih cepat. Jangan sampai Pendekar Tongkat Badai melarikan diri. Jangan sampai!


***


KEDUANYA BAGAI orang kalap. Yang satu kalap menyerang, yang lainnya kalap melarikan diri. Tubuh dua pendekar itu telah berubah menjadi bayang-bayang hitam semata. Sebab keduanya berpakaian hitam-hitam, bagai dua pendekar golongan hitam yang saling bunuh-bunuhan.


Pendekar Tongkat Badai berhasil meloloskan diri melalui jendela. Mantingan tidak hilang harapan, sebab kecepatan lajunya sedikit di atas pendekar tua itu.


Namun hal terduga telah terjadi, Pendekar Tongkat Badai tiba-tiba saja menutup daun jendela. Gerakan tangannya begitu cepat sehingga tidak dapat ditangkap mata Mantingan.


Tanpa bisa ditahan lagi, ia menabrak daun jendela hingga menjadi seribu kepingan kayu.


Tabrakan itu, betapapun telah mengurangi lajunya cukup banyak. Pendekar Tongkat Badai telah berada jauh darinya. Melesat di dalam kegelapan hutan. Mantingan tidak ingin kehilangan jejak pendekar itu, namun ketika sedang berada di atas udara, dan tiada sesuatupun dapat digunakan sebagai pijakan, maka kecepatannya tidak akan bisa bertambah dan malah melambat.


Mantingan menunggu sampai dirinya menginjak bumi.


Tetapi kembali terjadi suatu peristiwa di luar dugaan, muncul beratus-ratus bayangan dari dalam semak belukar. Jantung Mantingan memelas, seolah merajuk takdir. Bayangan-bayangan itu melesat mengitari Mantingan, mengepungnya.


Mantingan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beratus-ratus bayangan berarti beratus-ratus pendekar. Walau Mantingan melihat mereka sebagai pendekar berkeahlian rendah. Dan selayaknya pengemis jalanan, tubuh mereka kurus kering, pakaian mereka compang-camping—bahkan ada beberapa yang tidak mengenakan pakaian. Tampang mereka adalah tampang-tampang para Astacandala.


Mantingan menarik niatnya mengejar Pendekar Tongkat Badai. Berhadapan langsung dengan ratusan pendekar tidaklah bisa dianggap enteng. Walaupun yang ia hadapi pendekar-pendekar lemah, bukan berarti mereka tidak berbahaya jika jumlahnya banyak!


***


Para pendekar bertampang pengemis itu memandang Mantingan sambil menjilat bibirnya. Seakan sedang memandangi ayam hutan panggang setelah berminggu-minggu tidak makan. Beberapa dari mereka langsung mengeluarkan senjata—yang meski sudah berkarat tetapi tetap saja dipakai, dan beberapa lainnya mengandalkan ilmu tangan kosong.


Dengan keahliannya membaca pertanda, telah jelas bagi Mantingan bahwa beratus-ratus pendekar di depannya itu adalah pendekar paksaan. Pendekar paksaan adalah orang-orang awam yang dipaksa jalan kependekarannya. Pendekar paksaan diibaratkan kasta terendah di antara segala kasta kependekaran.


Mereka, para pendekar paksaan, tidak menjalani jalan kependekaran secara wajar. Mereka tidak bersamadhi dalam waktu yang sangat lama, tidak pula susah payah berlatih di bawah tekanan seorang guru. Mereka meminum ramuan untuk mendapatkan tenaga dalam secara praktis. Memang, dengan meminum ramuan tidaklah dibutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk menjadi pendekar. Akan tetapi, meminum ramuan tersebut bukanlah tanpa ganjaran yang tinggi. Mereka yang meminum ramuan untuk menjadi pendekar paksaan tidak akan bisa berkembang lagi. Kemampuan mereka hanya sampai di sana saja—setelah mereka meminum ramuan.


Namun kali ini, Mantingan tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan pendekar paksaan. Walau sebenarnya masih banyak hal-hal yang menyangkut jati diri pendekar paksaan. Kini pendekar-pendekar itu telah nampak di depan matanya. Dan tentu saja, dengan maksud yang tidak baik.


Betapapun mereka adalah pendekar paksaan yang kemampuannya jauh-jauh-jauh lebih rendah dibandingkan Mantingan, membunuh mereka merupakan suatu pembantaian paling terhina, oleh karenanya pemuda itu menawarkan perdamaian. Tetapi memikirkan keselamatan Bidadari Sungai Utara, Mantingan sadar bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama.


“Jikalau diriku ini tidak salah, sekalian semua adalah anggota Perkumpulan Pengemis Laut?”


Salah satu dari mereka berkata keras dengan nada tidak sopan, “Benar! Betul itu! Kau sudah tahu? Berarti kami terkenal! Majulah kau, makhluk gorong-gorong, biar kami *****!”


Ucapannya itu ditanggapi dengan gelak tawa dari ratusan pendekar di sekelilingnya. Mantingan menarik napasnya, tetap berniat menawarkan perdamaian. Dan jikapun tidak diterima, maka Mantingan tidak akan sungkan-sungkan untuk memusnahkan mereka.


“Jikalau kalian mengetahui, maka kedudukan kalian di sini sama sekali tidak menguntungkan. Kalian bukanlah lawan tanding bagiku. Menyingkirkan jika tidak mau darahnya menyirami tanah malam ini."

__ADS_1


“Kau berkata macam orang hebat saja. Lagak sombong dari orang-orang berharta tidaklah kami sukai. Dan lagipula, kepalamu dihargai mahal oleh Tuan Pendekar Tongkat Badai. Kami menolak permohonan damaimu.”


Mantingan menarik napas panjang, tetapi bukan untuk menghela napas, melainkan untuk berteriak kuat-kuat. “MAJULAH KALIAN!”


Mereka berteriak keras. Teriakan tempur. Seluruh pendengaran Mantingan diisi oleh suara teriakan itu. Tetapi sekali lagi ditekankan, dia tidak gentar. Mereka maju bersamaan.


Mantingan maju pula. Pedang Kiai Kedai disampirkan ke samping kanan. Mantingan melesat ke arah pergi Pendekar Tongkat Badai.


Segera saja, Pedang Kiai Kedai dibasuh oleh darah.


Bukannya Mantingan terlalu bernafs* untuk membunuh pengemis-pengemis di depannya, tetapi memanglah bukan perkara mudah menghindari ratusan pendekar yang menyerangnya dari segala arah. Saat Mantingan ingin melesat ke atas langit untuk menghindari pertarungan tidak perlu, maka akan datang beberapa pendekar untuk membabat kepalanya dari atas, dan ada pula yang menarik kakinya ke bawah.


Pemuda itu hanya dapat terus berlari maju, ke arah Pendekar Tongkat Badai kabur. Dan mustahil menghindari pembunuhan. Di saat-saat yang terdesak seperti ini, Mantingan tidak cukup cepat melumpuhkan lawan-lawannya, sedangkan mereka harus tetap dihentikan. Dan jalan satu-satunya ialah membunuh.


Penglihatan Mantingan memang tertutupi tubuh pendekar-pendekar yang seakan tiada habisnya, tetapi telinganya dapat mendengar suara kelebatan-kelebatan di luar lingkaran pertarungan. Mantingan menahan napasnya saat kelebatan-kelebatan itu justru bertambah, bukan berhenti. Ratusan pendekar lainnya, kembali datang.


Mantingan menambah kecepatan di setiap geraknya. Apa pun itu ia lakukan dengan sangat cepat. Berlari, mengambil napas, membabat. Tidak banyak waktu. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi atas diri Bidadari Sungai Utara.


“Jangan ... pernah ... menyentuhnya!!!”


Mantingan berteriak marah. Semarah-marahnya. Seakan tidak ada yang lebih marah ketimbang kemarahannya. Mengeluarkan semua kemarahan yang terpendam. Dan api amarahnya itu telah mematik semangat juangnya.


Mantingan tidak peduli lagi akan nasib musuh-musuhnya. Dirinya merobek tubuh mereka dengan pedangnya yang terasa tajam. Lembut sekali, bagaikan memotong tahu.


Mantingan tidak peduli lagi pakaiannya yang semakin kelam karena darah musuh. Tidak peduli wajahnya yang sudah tak tampak bagai wajah manusia. Dirinya datang dan terlihat sebagai dewa pencabut nyawa.


Dengan cepat, Mantingan melaju. Dirinya mulai memasuki hutan. Namun kemalangan agaknya tengah menghinggapinya, ratusan pendekar lainnya datang. Lautan manusia itu seakan tiada habisnya.


Sudah tidak terhitung berapa banyak pembunuhan yang Mantingan lakukan. Di dalam pikirannya, hanya ada Bidadari Sungai Utara. Dirinya sungguh tidak memikirkan bahwa musuh yang ia bunuh betapapun tetaplah manusia.


Mantingan terus merembak maju. Pendekar yang berusaha menghalanginya sudah barang tentu akan dibunuh. Namun, masih saja ratusan pendekar itu berbondong-bondong mendekati Mantingan.


Mereka tengah mencoba peruntungan. Jikalau salah satunya berhasil menghunjamkan senjata saat Mantingan lengah, dan membuat pemuda itu terbunuh, maka akan mendapatkan banyak uang untuk merubah nasib. Yang tadinya pengemis, menjadi hartawan yang menyewa banyak bunga raya, lalu dihisap habis sampai mereka kembali menjadi pengemis. Mereka sama sekali tidak bangga akan nasibnya, maka hendaknya mereka ingin mengubah nasib walaupun itu berarti kematian.


Tetapi, tidak satupun dari mereka yang menjumpai peruntungan itu. Setiap kali mereka ingin menyelipkan senjata ke dalam tubuh Mantingan, maka lengan mereka akan terpotong, atau pilihan yang lebih buruk adalah terbunuh.


Mantingan tidak melihat siapa lawannya. Baik itu muda ataupun lanjut usia. Jika mereka berniat menghalanginya, maka dirinya akan menganggap mereka telah siap menghadapi bilah tajam Pedang Kiai Kedai.


Tidak sekalipun Mantingan melangkah mundur. Dirinya selalu membuat pergerakan maju. Di belakangnya akan selalu dipenuhi jasad pendekar-pendekar. Tertimbun-timbun. Seolah menjadi pertanda ke mana kakinya melangkah. Bagaikan siput yang ketika merayap meninggalkan lendir di belakangnya.


Begitulah Mantingan terus melaju sambil membunuh. Pemaknaan di antara keduanya bisa berbeda. Mungkin saja, sekali lagi mungkin saja, Mantingan membunuh sambil terus melaju. Meskipun begitu, bukan berartinya ia menikmati segala pembunuhan tersebut. Hanya saja, dirinya sedang tidak sadar. Sekali lagi ditekankan bahwa pikiran Mantingan dipenuhi Bidadari Sungai Utara.


Mantingan merasa lawan-lawannya telah menyingkir. Tiada seorang pendekar pun yang menghalangi jalannya. Oleh karena itu, Mantingan segera berkelebat maju. Tanpa dirinya sadari, bahwa pendekar-pendekar itu bukannya menyingkir, melainkan telah habis.


____


catatan:

__ADS_1


Ini adalah dua episode yang digabung. Seluruh kata: 2091.


Follow IG penulis @westreversed


__ADS_2