Sang Musafir

Sang Musafir
Rindu yang Terbayar


__ADS_3

MANTINGAN tepat berdiri di hadapan pintu yang dahulu amat dikenalinya. Itulah pintu kamar sewaan Bidadari Sungai Utara yang terletak di lantai paling atas Penginapan Cakar Merah. Harapan sekaligus pula rasa cemas membuatnya tetap terpaku dan diam bagai patung arca di tempat itu. Bergeming sama sekali, tidak bergerak meski sedikit saja.


Suasana di dalam lorong itu pun tetap sunyi, tiada lalu-lalang dari tamu penginapan lain. Mantingan bahkan dapat mendengar deru napasnya sendiri yang sedikit terburu-buru.


Apakah yang harus ia katakan untuk pertama kali jika Bidadari Sungai Utara benar-benar berada di dalam kamar itu?


Mestikah ia katakan saja seluruh perasaannya yang tak terucap ketika mereka berpisah di laut utara Javadvipa berbulan-bulan lalu? Mantingan mendesah pelan. Ternyata baru sampai hitungan bulan perpisahan mereka, meski rasa-rasanya telah puluhan tahun terlampaui.


Namun, jika orang di dalam kamar itu bukanlah Bidadari Sungai Utara, siapkah kiranya ia menanggung kekecewaan? Mantingan semakin panjang mengembuskan napas resah. Semestinya ia telah terbiasa menanggung kekecewaan, jadi mengapakah dirinya harus takut menanggung harapan saat ini?


Mantingan mulai mengangkat lengan kanannya yang terbuat dari kayu itu. Bersiap mengetuk pintu. Namun, gerakannya benar-benar tertahan sampai di sana saja. Ketika baru hendak pintu itu diketuk sebab harapan melonjak-lonjak, tetiba saja rasa cemas memaksanya menarik kembali kepalan tangan itu. Harapan dan rasa cemasnya masih terus berseteru dengan kekuatan berimbang, ketika tiba-tiba saja daun pintu di hadapannya itu mengeluarkan suara berkerit sambil terbuka perlahan-lahan.


Sepasang mata indah mengintip dari balik pintu itu. Sorot pandangannya amat tajam, begitu tajam, seolah-olah hendak menandingi ketajaman segala senjata mestika yang dapat menembus benda semacam apa pun, tetapi demi melihat sosok pemuda yang berdiri di hadapan pintu, seketika saja segala ketajaman matanya itu sirna tiada berbekas.


Lantas saja pintu itu dibuka lebar-lebar, tanpa sedikitpun keraguan. Terlihatlah sesosok gadis bagai bidadari alam surga dengan kecantikan tak terperi berdiri mematung dengan raut wajah tak percaya. Bergemetar seluruh tubuhnya.


Hilanglah pula seluruh rasa cemas dalam diri Mantingan ketika dilihatnya gadis itu. Bilamana seluruh harapannya telah terpenuhi, lantas hal apakah lagi yang perlu dikhawatirkannya?


Maka dengan demikian, tanpa dikehendaki dan bagai hanya digerakkan oleh naluri saja, dirinya melesat mendekap gadis itu dalam pelukan yang teramat erat, sungguh erat, teramat erat, bahkan boleh jadi terlalu erat. Meski sungguh ia tahu benar bahwa Bidadari Sungai Utara telah bersuamikan orang lain yang pastilah bukan dirinya, tetapi tubuh dan pikirannya seolah memiliki kehendak yang terpisah.


Bidadari Sungai Utara tidak pula menahan dirinya lagi. Telah sekian lama dirinya merindukan Mantingan, siang dan malam tanpa henti, biar matahari dan bulan jadi bersaksi kalau boleh. Meski hanya terhitung beberapa purnama saja mereka berpisah, tetapi perempuan itu merasakannya bagai beratus-ratus tahun lamanya. Dibalaslah pelukan Mantingan, pula dengan teramat erat, sangat erat, begitu erat, bagai tiada lagi pelukan lain yang dapat seerat itu!


“Sasmita!”


“Mantingan!”


Begitulah mereka saling berpelukan tanpa sedikitpun memerhatikan apa pun selain pelukan itu sendiri, sehingga begitulah saja mereka tidak sengaja terjatuh di atas ranjang.

__ADS_1


Tangan Bidadari Sungai Utara dengan lembut menyingkirkan caping yang menutupi wajah Mantingan dengan dirinya berada tepat di atas tubuh pemuda itu. Dijumpainya suatu rupa wajah yang selalu dirindukannya, yang tentu bukan wajah pangeran Fu-nan suaminya, melainkan wajah Mantingan kecintaannya.


Debur jantung Mantingan bertambah kuat. Rambut panjang Bidadari Sungai Utara tergerai meniban wajahnya bagai air terjun yang tumpah ruah, sehingga remang-remang saja dirinya dapat melihat rupa wajah perempuan yang memiliki kecantikan tiada bandingan itu.


“Jangan, Sasmita. Dikau bukan kepunyaan daku.” Mantingan berusaha mengelak ketika wajah itu semakin mendekat.


Namun, memanglah kerinduan yang telah sampai di ubun-ubun itu tiada dapat ditawar lagi. Bidadari Sungai Utara tak mengindahkan peringatan pemuda itu sama sekali, bahkan semakin mengganas jua. Mantingan pun akhirnya membiarkan saja dirinya menjadi benar-benar terbuai, tidak seperti saat dirinya bersama Chitra Anggini di istana waktu itu, sebab kini ia melakukannya bersama perempuan yang sungguh-sungguh dicintainya!


Maka terjadilah sebagaimana yang sewajarnya terjadi, hasrat tak tertahankan, puncaknya ialah ketika Mantingan mengirim lambaian tapak angin untuk menutup pintu.


***


SENJAKALA itu. Mantingan membalik tubuhnya dan mendapati Bidadari Sungai Utara terpejam tepat di sampingnya. Ia kemudian mengulas senyum ringan, bagai seluruh beban yang ditanggungnya menguap musnah begitu saja. Disampirkannya helai-helai rambut yang menutupi wajah bersih gadis itu. Semakin ringan lagi senyumnya.


Bidadari Sungai Utara menggeliat sebentar sebelum membuka matanya perlahan-lahan. Demi menyadari betapa Mantingan sedang memandanginya, dia tersenyum hangat dan menggenggam erat tangan pemuda di pipinya.


“Terima kasih,” kata gadis itu kemudian.


“Untuk segala-galanya.” Bidadari Sungai Utara menatap tepat di mata pemuda itu. “Terutama untuk kehadiranmu di sini.”


“Dikau harus segera kembali, Sasmita.” Mantingan enggan merusak suasana, tetapi ia merasa tidak ada baiknya bila mereka terus terbuai seperti ini. Dunia persilatan bukanlah tempat di mana seseorang dapat membiarkan dirinya terbuai dalam kelengahan.


“Daku tidak ingin.” Bidadari Sungai Utara menjawab, masih terdengar amat lembut suaranya. “Tetapi daku tahu betapa keinginanku itu sebaiknya tidak terpenuhi.”


Mantingan menarik napas panjang-panjang. Dirinya pun tidak pernah menghendaki perpisahan dengan Bidadari Sungai Utara, Sasmita-nya itu, kecintaannya itu, tetapi apatah segala keinginannya dapat terpenuhi begitu saja?


“Bagaimana kabar Kana dan Kina?” tanya Mantingan kemudian, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Kuyakin mereka baik-baik saja saat ini. Kana pergi ke Ibukota Kekaisaran Jin, Jiankang, untuk mempelajari seni sastra. Sebentar lagi, anak itu pasti akan menjadi sarjana terkemuka. Sedangkan Kina lebih senang menghabiskan waktunya untuk belajar memanah dan menunggangi kuda.”


Mantingan melebarkan senyuman, meski dirinya sempat keliru bila menyangka bahwa ibukota dari Wangsa Jin di Negeri Atap Langit adalah Chang An, sebab ia mendapat keterangan seperti itu dari sebuah kitab yang telah dibuat hampir satu abad yang lalu, sehingga mungkin saja saat ini ibukota Wangsa Jin telah dipindahkan menuju kota yang disebut Jiankang itu.


“Dikau menjaga mereka dengan sangat baik, Sasmita.”


“Tetapi tidak akan pernah menjadi yang terbaik tanpa kehadiran dikau,” lirih Bidadari Sungai Utara. “Kapankah kita dapat kembali bersama?”


“Dikau tahu hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi lagi.” Mantingan tidak tahu harus mengatakan hal apa lagi selain itu.


Bidadari Sungai Utara menghela napas panjang. “Satu-satunya yang kuinginkan sekarang hanyalah tinggal bersama dirimu, Kana, dan Kina di Desa Lonceng Angin. Istana Fun-an yang teramat besar itu justru menjadi penjara paling sesak bagiku. Daku terkekang pada segala macam peraturan-peraturan gila di sana, sehingga seringkali tidak kurasakan lagi diriku sebagai seorang manusia. Hanya pada saat bersama Kana dan Kina itulah daku dapat kembali merasakan kehangatan sekaligus pula sedikit mengobati rasa rindu padamu.”


Perempuan itu pula menambahkan bahwa mereka telah menulis banyak surat untuk Mantingan, tetapi tidak tahu mesti dikirimkan melalui apa dan ke manakah. Tentulah pertimbangannya adalah bahwa Mantingan selalu mengembara, bergerak dari satu tempat ke tempat lain senantiasa. Lagi pula, angin timur belum juga berakhir, mereka harus menunggu angin barat untuk dapat membawa kapal pengirim surat menuju Javadvipa maupun Suvarnadvipa.


“Mantingan, perkara Kiai Kedai ....” Bidadari Sungai Utara tampak seperti ini menceritakan sesuatu tentang orang tua itu, tetapi khawatir bila hal itu hanya akan membawa Mantingan kembali pada kesedihannya.


“Ceritakanlah segala-galanya, Sasmita.” Mantingan menatap gadis itu dengan mantap. Ia telah berlepas diri dari keterpurukan akibat kematian Kiai Kedai, sebab gurunya itu pun sering berkata bahwa bukan tidak mungkin dirinya mati terbunuh di kemudian hari, dan jika hal itu terjadi maka sedapat mungkin Mantingan tidak jatuh dalam keterpurukan.


Bukankah dalam dunia persilatan, kematian merupakan sesuatu yang bahkan tidak perlu dibahas?


“Kedai Kedai sebenarnya telah menemuiku di Fun-an. Dia berkata bahwa terdapat sesuatu yang amat mengancam diriku dan dirinya, sehingga Kiai Kedai memutuskan untuk pergi ke Fun-an untuk melarikan diri sekaligus menjaga diriku. Namun, pertemuan kami tidak berlangsung terlalu lama, dirinya segera pergi setelah mengatakan apa yang perlu dikatakannya saja, tiada basa-basi. Daku merasa dirinya sedang terancam pula saat itu.”


Mantingan segera memahami bahwa sangat mungkin Kiai Kedai sedang berada dalam pengejaran pendekar-pendekar utusan Koying pada saat itu, sehingga dirinya lekas melarikan diri dari Javadvipa. Fun-an menjadi pilihan terbaik yang dia miliki, sebab hanya di sanalah dia bisa bersembunyi sekaligus melindungi Bidadari Sungai Utara.


“Tetapi pada akhirnya, kami tetap tertangkap. Kekuatan musuh terlalu besar, dan siasat mereka amatlah licik. Orang-orang itu memperlakukanku dengan baik, tetapi tidaklah begitu dengan Kiai Kedai. Mantingan, kurasa untuk ini daku tidak berani menceritakannya ....”


___

__ADS_1


catatan:


Para Pembaca yang Budiman, harap jangan meragukan kepolosan saya.


__ADS_2