Sang Musafir

Sang Musafir
Cara Memilih Bunga Aroma Kematian yang Bagus


__ADS_3

Di pagi itu. Mantingan membuka sebelah kelopak matanya. Di depannya adalah api unggun, yang telah lama padam. Dan di sekitarnya pula telah lumayan terang untuk disebut pagi. Dara berada di sampingnya, memandangi Mantingan yang masih duduk bersila dengan bersemangat. Agaknya ia telah bangun sejak tadi, atau malahan tidak tertidur semalaman.


“Mantingan bangunlah, aku ingin sekali melihat wujud Bunga Aroma Kematian itu.” Dara berkata.


Mantingan mengangguk. Agar Dara bisa pulang tepat waktu, kegiatan memang harus dimulai pagi-pagi. Segera Mantingan bangkit dari tempat duduknya, menebah celana dan bajunya dari tanah.


Bincang-bincang soal pakaian, pakaian yang Mantingan pakai saat sebenarnya ini memiliki kualitas bahan yang bagus. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan kualitas bahan pakaian pemberian Kenanga, maka kualitas baju ini jauh lebih rendah darinya. Walau begitu, baju ini jauh lebih baik ketimbang baju pemberian Kenanga yang sempit itu. Baik celana maupun bajunya, berwarna abu-abu. Dara berkata, bahwa baju berwarna abu-abu akan sangat pantas bagi Mantingan.


Setelah bangkit, Mantingan meminta Dara menunggunya sebentar, sedang dirinya bergerak ke dalam ruang penyimpanan. Di sana Mantingan mengambil beberapa perkakasnya, tidak semua perkakas ia bawa, karena untuk hari ini seharusnya adalah waktu panen.


Mantingan tidak akan terkejut jika nantinya telah tumbuh beberapa Bunga Aroma Kematian hasil kembang-biaknya. Bunga Aroma Kematian hanya membutuhkan satu hari untuk tumbuh menjadi bunga dewasa. Tetapi, tidak semua bunga itu kemudian dapat hidup atau kualitasnya bagus. Sebagian besar, atau—bahkan seluruhnya—mati.


Itu adalah salah satu penyebab mengapa Bunga Aroma Kematian berharga mahal, selain permintaan pelanggan yang memang tinggi.


“Dara, apakah kau telah terbiasa dengan aroma dari bunga itu?” tanya Mantingan setelah ia kembali.


Dara mengangkat bahunya sejenak. “Aku tidak pernah mencium aroma itu, yang katanya berbau seribu bangkai. Tetapi diriku akan terbiasa dengan sendirinya nanti.” Dara penuh keyakinan saat mengatakan itu.


Mantingan mengangguk sekali. Kemudian ia memberikan Dara sebuah kapak. Ia menjelaskan tanpa berniat menakut-nakuti, bahwa banyak bahaya tidak terduga di jantung hutan. Dara harus mempersenjatai diri. Kapak adalah senjata paling ringan dan mutakhir bagi Dara.

__ADS_1


Akan tetapi saat Dara menerima kapak itu dari tangan Mantingan, kapak tersebut terlepas dari genggamannya dan jatuh hampir meniban kaki.


“Ini sangat berat, dan kau mengangkatnya hanya dengan tangan satu?” Dara mengatakan dengan nada sebal.


“Aku kira ini cukup ringan bagimu ....” Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Dasar sombong. Berikan aku senjata yang lainnya.”


“Hanya kapak yang paling ringan di antara semuanya.” Mantingan berkata sedikit menyesal. “Baiklah, bawa saja pedang ini.”


Dara menolaknya. “Pedang ini telah aku berikan padamu, tidak baik aku ambil lagi.”


Mantingan tersenyum masam. Ia lupa, bahwa sikap Dara tidaklah sama dengan manusia pada umumnya. Bukan berarti Dara adalah orang gila, akan tetapi Dara adalah orang yang harus mempertahankan gengsinya. Jika ia telah memberikan pedang itu pada Mantingan, maka berdasarkan gengsinya, ia enggan memakai pedang itu kembali.


Mantingan tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana bisa ia mempercayai kata-kata itu diucapkan oleh Dara? Bagaimana jika orang banyak mendengar bahwa Dara telah merendahkan dirinya sendiri dengan meminta orang melindunginya? Jika orang banyak telah mendengarnya, maka Mantingan akan jadi sasaran kebencian mereka.


Akan tetapi, bagi Mantingan sendiri, untuk melindungi Dara bukanlah suatu hal yang memberatkan. Tidak karena dirinya menaruh hati pada wanita itu, melainkan lebih kepada rasa kemanusiaan dan persahabatan. Mantingan juga tidak memusingkan Dara yang merendah diri. Tidak pula beranggapan bahwa melindungi orang seperti Dara adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya.


“Kalau begitu, berjalanlah tidak jauh-jauh dari belakangku. Pasang telinga dan mata baik-baik.” Mantingan berkata dengan tegas, tapi dapat didengar bahwa perkataannya itu mengandung rasa kepedulian dan kasih sayang, bukan kemarahan.

__ADS_1


Mendengar itu, Dara mengangguk.


***


Berjalanlah mereka di bawah pohon-pohon besar yang rindang. Sungguh indah suasana pada pagi hari di sini. Seperti biasanya. Hutan bernyanyi saat angin bertiup. Kicau burung menambah iramanya. Embun pagi bagai datang dari surga. Dan sungguh Mantingan selalu merindukan suasana pagi seperti ini. Di jantung hutan yang bagi orang sangat menyeramkan, telah tersimpan surga tersembunyi.


Lihatlah Dara. Sebagai orang kota yang jarang sekali bertemu hutan, ia sama sekali terperangah merasakan suasana di sekitarnya. Baginya, ini lebih dari sekadar surga tersembunyi. Di dalam benaknya, ia sangat berharap bisa terus seperti ini. Bukan hanya karena pemandangannya. Ia sangat tidak suka semua pemandangan ini jika tidak ada Mantingan. Tidak ada Mantingan yang melindunginya. Tidak ada Mantingan yang membuatnya merasa aman senantiasa waktu. Tidak ada Mantingan yang memacu semangat, juga harapannya.


Kini Dara memandangi Mantingan yang masih terus berjalan di depannya. Dapatkah ia mengharapkan yang lebih dari Mantingan? Dara lekas menyadarkan dirinya sendiri, bahwa ia tak pantas untuk Mantingan. Biarpun orang-orang merasa tidak pantas Dara bersanding dengan Mantingan, tetapi Dara akan selalu menganggap dirinya yang tidak pantas untuk Mantingan.


Tidak ada salahnya jika Dara merasa tidak pantas seperti itu. Berapa banyak pria yang telah tidur bersamanya? Walau Dara tidak pernah merasakan cinta pada orang-orang itu, tetapi ia menikmatinya. Memang jika ditelaah lebih jauh, Dara tidak pantas untuk Mantingan.


Pandangan Dara pada Mantingan berbeda. Baginya, Mantingan adalah pria yang berbeda dari pria-pria kebanyakan—yang selalu memuja dan mengejarnya. Mantingan adalah air tempat bagi Dara untuk bercermin, hingga ia tahu mana saja kesalahan pada dirinya sendiri. Tetapi, Dara tidak mau berharap lebih. Ia beranggapan, keberadaan dirinya tidak akan baik untuk Mantingan.


***


Mantingan tidak akan terkejut dengan pemandangan ratusan Bunga Aroma Kematian di depannya. Aroma busuk sungguh menyengat dan menyesakkan di sana. Mantingan berdiri sendirian di sini, Dara berada jauh di belakangnya, menutupi hidung karena bau busuk itu menyebar sampai jarak yang sangat jauh.


“Ini akan jadi pekerjaan yang berat.” Mantingan bergumam pelan sebelum maju mendekat.

__ADS_1


Pekerjaan yang dikatakan sebagai pekerjaan berat itu adalah memilih Bunga Aroma Kematian yang kualitasnya bagus. Mantingan mengetahui cara memilih Bunga Aroma Kematian yang bagus setelah membaca salah satu buku di perpustakaan kota. Ingatannya kental mengingat setiap kata yang tertoreh pada buku itu.


Mantingan meringis ngeri. Cara yang harus Mantingan lakukan tergolong cukup menjijikkan. Mantingan perlu mencium satu per satu dari ratusan Bunga Aroma Kematian di depannya. Aroma yang paling pekat dan paling busuk itulah yang kualitasnya baik, layak untuk dijual dan dijadikan obat.


__ADS_2