
KETIKA BILAH pisau yang dipegang sang pria sepuh sudah hampir menancap di perutnya sendiri, tangan Mantingan menyambar lengan orang tua itu sehingga gerakannya benar-benar terhenti.
Dipandanginya Mantingan dengan tatap penuh kebencian.
“Dikau telah menghinaku dengan tidak membunuhku, dan kini dikau kembali menghinaku dengan menghalangiku membunuh diri! Siapapun akan mengetahui bahwa seranganmu tadi sengaja tidak diarahkan tepat mengenai batok kepalaku, tetapi itu berarti penghinaan yang teramat sangat besar bagi seorang pendekar sejati! Apakah kiranya yang dikau kehendaki sekarang?!”
Mantingan masih tidak melepas cengkeramannya pada lengan sang sepuh itu. “Untuk apakah Bapak membuang nyawa?”
“Lebih baik daku membuang nyawa selagi masih ada kehormatan, ketimbang hidup dengan penuh rasa malu dan kehinaan! Minggirlah engkau pendekar muda!”
“Kehormatan adalah milik mereka yang terus melanjutkan hidup sampai kematian itu datang sendiri kepadanya. Bukan malah menghampiri kematiannya. Di sanalah Bapak Pendekar akan hidup dengan kehormatan yang tinggi.”
“Bagi seorang pendekar sejati, kehormatan didapatkan dari kekalahan dalam pertarungan!”
“Bapak tidak kalah dalam pertarungan, daku tidak mengalahkanmu. Bapak justru hendak mati konyol dengan membunuh diri sendiri!”
“Engkau telah menghina dan melecehkan pak tua ini, maka sudah sepantaslah itu diartikan sebagai kekalahan dari lawan yang tidak menghormati lawannya!”
“Sama sekali daku tidak bermaksud menghina atau melecehkan Bapak, daku melakukan itu agar pertarungan ini tidak perlu berlarut-larut lagi dan lantas berujung pada pertumpahan darah!”
Desiran angin semakin kuat saja meskipun mentari masih nyaman bersemayam di antara celah perbukitan. Burung-burung masih berkicau dengan indahnya, terbang kian kemari di atas ketiga puncak bukit tersebut, tanpa satupun menyadari bahwa maut menikam mereka jika dua manusia di salah satu puncak itu kembali bertempur habis-habisan.
“Bapak Pendekar, sungguh mulia sekali dirimu telah mengirimiku surat berisikan kata-kata indah namun berakhir pada tantangan bertarung. Daku tidak masalah untuk menghadapi Bapak, sebab daku percaya akan mendapatkan banyak pelajaran dalam sebuah pertarungan. Tetapi, daku sama sekali tidak berniat membunuh orang seperti Bapak.”
__ADS_1
“Tetapi engkau telah dengan menghinaku yang sama pula telah membunuhku, Anak ....”
“Yang daku bunuh bukanlah badan maupun jiwa Bapak, melainkan kepribadian pendekar Bapak. Anggaplah seperti itu sebab tak sedikitpun daku melukai badan maupun mencelakai nyawa Bapak. Oleh sebab itu, Bapak sama sekali tidak berhak membunuh Badan dan jiwa yang bersemayam di dalamnya. Yang terbunuh adalah kepribadian Bapak, sehingga kepribadian baru dapat muncul kapanpun jua.”
Orang tua itu melirik Mantingan yang berlutut di depannya. Hanya sebentar, tetapi memancarkan keraguan yang dapat ditangkap dengan sangat jelas oleh mata Mantingan. Karena itulah, ia kembali melanjutkan perkataannya.
“Dunia ini amat sangat luas daripada yang kita kira, Bapak. Jikalau saja kita bergerak terus ke utara, melewati Negeri Atap Langit, maka peraturan yang menyatakan bahwa kehormatan dan kesempurnaan seorang pendekar terletak setelah dirinya mati dalam pertarungan itu tidak berlaku dan akan sangat sulit untuk diterapkan. Maka dapat kita ketahui bersama, bahwa ukuran kesempurnaan tidak dapat ditentukan oleh manusia.”
Mantingan melepaskan cengkeramannya dari lengan pria sepuh itu. Lalu dirinya berbalik badan untuk kemudian melangkahkan kaki. Namun langkahnya terhenti tatkala sang pria sepuh itu memanggil namanya.
“Apa pun yang akan kulakukan seterusnya, kupastikan bahwa itu tidak akan melukai orang-orang yang engkau kasihi.”
Mantingan menganggukkan kepalanya sebelum kembali melangkahkan kaki. Meninggalkan bukit berpuncak tiga itu tatkala matahari beranjak naik ke atas. Langit bergemilang dengan semburat jingga. Kabut perlahan tersibak seiring dengan langkah pemuda itu. Dan kokok ayam hutan menggema, dipadukan dengan kicauan burung-burung hutan.
“Jadi, mengapakah Kakanda tidak membiarkannya saja melakukan itu?”
KANA BERTANYA sambil berjalan ketika Mantingan menceritakan jalannya pertempuran malam hingga fajar itu.
“Aku berkewajiban untuk mencegah pembunuhan dan menebar kasih sayang.”
“Itu berarti, Kakanda menyayanginya?”
“Kasih sayang.” Mantingan sengaja menekankan suaranya pada dua kata itu.
__ADS_1
“Bolehkah kulakukan itu jika nantinya daku berhadapan dengan musuh?”
“Jika keadaannya memungkinkan, maka kau wajib mencegah musuhmu membunuh orang, termasuk membunuh dirinya sendiri.”
“Tetapi daku tidak dilarang untuk membunuh, bukan?”
Mantingan menarik napas panjang sebelum berkata panjang dengan panjang pula, “Jika engkau diperangi dan dalam keadaan teraniaya, maka engkau berhak mempertahankan diri dengan memerangi mereka pula. Jika engkau dalam keadaan terbunuh atau membunuh, maka engkau berhak memilih pilihan yang kedua, yaitu membunuh. Akan tetapi, perlu selalu engkau ingat bahwa perdamaian jauh lebih berharga ketimbang apa pun, maka upayakanlah untuk berdamai dengan musuhmu untuk mencegah peperangan. Jangan terlalu naif, jika musuh menolak perdamaian, maka perangilah mereka agar tidak menimbulkan kekacauan lagi. Perdamaian hampir selalu menuntut peperangan.”
Kana mencerna perkataan Mantingan sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Untuk itu, segeralah melatihku untuk menjadi pendekar agar daku dapat mencipta perdamaian.”
Mantingan mengernyitkan dahi ketika menatap Kana. “Itu berarti, engkau ingin bertempur?”
“Ya! Kurasa akan sangat menyenangkan jika bertempur demi perdamaian!”
Mantingan menggelengkan kepalanya sambil berdecak beberapa kali. “Jika engkau terlalu menyukai pertempuran, maka mungkin saja kau akan gugur tanpa mengetahui akhir dari pertempuran yang kau jalani. Bukankah itu sangat mengerikan?”
“Bagiku itu adalah pengorbanan paling terpuji yang pernah dilakukan manusia. Daku masih terkagum-kagum dengan para prajurit yang tiada ragu mengorbankan nyawanya demi terwujudnya sebuah tujuan bersama, yang tidak akan mereka rasakan barang sedikitpun jika gugur di medan pertempuran. Ibarat kata, mereka seperti perisai dan pedang bernyawa, yang dalam kesehariannya tidak pernah merasakan keamanan dan kenyamanan.” Kana berkata dengan tangan terkepal kuat. Semangatnya meluap-luap.
Keduanya terus berjalan di tengah rimba raya tanpa melewati satupun jalanan. Memanglah hutan itu belum tersentuh peradaban sama sekali. Jangankan jalan besar yang dapat dilalui kuda-kuda dan pedati kerbau, jalan setapak pun tidak ada. Bahkan sekadar bekas potongan dahan pohon pun tiada ditemukan.
Tiada terkira tingginya semak belukar. Tetapi dengan Jurus Tapak Angin Darah yang telah jauh dikurangi takaran dayanya, Mantingan dengan sangat mudah menyibak lautan semak belukar itu tanpa mematikan mereka. Dan karena Jurus Tapak Angin Darah yang ia keluarkan tak seberapa besar daya kekuatannya, Mantingan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga dalam.
Melihat betapa hutan ini begitu terpelosok, sudah dirasa wajar jika Dara membayar mahal pada pengumpul kabar tentang keberadaan bukit berpuncak tiga itu, karena memang keberadaannya sangat jarang diketahui khayalak luas.
__ADS_1