Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan di Atas Air


__ADS_3

Mantingan tersedak ludahnya sendiri. Ia sama sekali tidak pernah menyangka akan bertarung dengan Rama. Bagaimana pun, Rama adalah ketua Perguruan Angin Putih, ilmunya tidaklah cetek.


“Anggaplah ini sebagai latihan, kita tidam perlu terlalu serius.”


Mantingan tersenyum kaku dan mengangguk. Mereka lalu sama-sama berdiri, menghadap satu sama lain dan menghaturkan hormat. Rama mengentak kakinya lebih dahulu, tubuhnya melayang cepat menuju danau. Mantingan menyusulnya.


Di udara mereka bertukar dua serangan pedang, lalu turun ke permukaan danau dan memijak air sekali sebelum kembali melayang.


Bagi Mantingan, ini adalah pertarungan keduanya di atas air. Yang pertama kalinya adalah saat latihan bersama Kiai Guru Kedai. Tetapi pertarungan kedua ini sangat mengasyikkan. Berbeda dengan air terjun sempit tempatnya latihan, danau ini jauh lebih luas dan leluasa jika digunakan untuk bertarung. Mantingan bisa melayang-layang sesuka hati, menapak air sesuka hati, menyerang juga sesuka hati.


Mereka menapak sekali lagi di atas air, meluncur dan saling menghantamkan pedangnya masing-masing, sebelum menapak lagi di atas air. Gerakan seperti itulah yang berlangsung hingga mencapai akhirnya. Murid-murid di tepi danau terpukau dengan pertarungan yang disajikan Mantingan dan Rama. Bagi mereka, itu lebih dari sekadar pertarungan mempertahankan diri, itu adalah pertunjukan seni.


Mantingan dan Rama kembali melayang menuju kedai saat dirasa telah cukup. Kembali mereka duduk bersila dan menyesap teh hangat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa barusan.


“Kekuatanmu meningkat sangat pesat dari yang terakhir aku lihat, Anak Man.” Berkata Rama diiringi tawa.


Mantingan menepisnya, “Ketua tetap berada jauh di atasku.”


“Tapi kau akan segera melampaui diriku. Kau sangat bersemangat meningkatkan kemampuan, sedang diriku lebih suka bermalas-malasan.”


“Ketua terlalu merendah. Perguruan Angin Putih seindah ini pastilah disebabkan oleh kinerja Ketua yang bagus.”


Rama tertawa kecil, matanya mengarah pada murid-murid yang mulai memberlangsungkan latihan. “Ini semua adalah berkat Gusti.”


Mantingan tersenyum dan turut memandangi murid-murid yang berlatih. Latihan yang mereka jalani tentunya tidak langsung pada Ilmu Menapak Air, mereka tidak bisa langsung mencapai ilmu tersebut tanpa dasaran yang kuat. Sehingga yang pertama-tama dilakukan untuk menguasai Ilmu Menapak Air adalah dengan berenang.

__ADS_1


Murid-murid berlatih dengan semangat setelah melihat sendiri betapa menakjubkannya pertarungan di atas air.


“Ketua, jika aku boleh tahu, untuk apakah Perguruan Angin Putih tetap melatih murid-murid dengan ilmu persilatan?”


Pertanyaan dan maksud sebenarnya dari Mantingan dapat ditangkap dengan jelas oleh Rama. Rama mengangguk takzim. Perguruan Angin Putih tidak berniat menyerang atau menghadapi perang, guna apakah murid-murid dilatih untuk menghadapi pertarungan bahkan pertempuran? Mengapa tidak melatih ilmu batin saja?


Itulah yang dibingungkan dan dipertanyakan Mantingan.


Rama menjawabnya. “Anak Man, ilmu Kebenaran akan mati jika orang yang menjaganya juga mati. Perguruan Angin Putih selalu mengajarkan ilmu Kebenaran dan kebatinan pada murid-muridnya, sekaligus ilmu persilatan agar mereka dapat melindungi ilmu Kebenaran di kepalanya.”


Mantingan mengangguk dan mengerti. Jika seseorang mati, maka ia akan mati bersama ilmu-ilmu yang terkandung di kepalanya. Jika itu tidak cepat-cepat disampaikan pada orang lain, maka ilmu di kepalanya akan sia-sia saja. Mantingan sadar bahwa selain menyampaikan ilmu pada orang lain, ilmu itu perlu ditulis pula.


Tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Murid-murid sudah berpindah tempat latihan, tetapi Mantingan dan Rama masih ada di sana. Teh mereka masih terus mengepulkan asap, keduanya meminjam kekuatan tenaga dalam untuk membuat teh tetap hangat. Biarpun begitu, teh di gelas tersisa sedikit.


“Untuk apa buru-buru? Ini masih siang, mengapa kau seakan dikejar malam?”


Mantingan menghela napas panjang. Sebenarnya ia tidak khawatir pada keadaan perkemahannya, tentang ayam yang harus diberi makan atau Bunga Sari Ungu yang harus tetap dirawat. Akan tetapi, Mantingan teringat dengan janjinya meladeni tantangan pendekar dari Padepokan Getih Asin. Pemuda itu tidak mau mencoreng kependekarannya, lagi pula orang-orang dari Padepokan Getih Asin sepertinya harus dikurangi ....


“Aku harus menanggapi tantangan bertarung, Ketua.”


Ekspresi Rama berubah mendengar itu. “Di manakah dan siapakah pendekar yang menantangmu, Anak Man?”


“Di salah satu jalan dekat perbatasan wilayah. Aku tidak tahu siapakah pendekar yang menantangku. Tapi sepertinya, dia adalah pria setengah baya. Dari percakapannya, ia menyebut-nyebut nama Padepokan Getih Asin.”


Rama berdecak kesal. “Bagaimana kau bisa menerima tantangan bertarung darinya?”

__ADS_1


Mantingan menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang terjadi malam itu. Rama mendengarkannya dengan seksama, sesekali mengangguk pelan.


“Padepokan Getih Asin ....” Rama menggeram. “Mereka tiada bosannya membikin ulah di mana-mana. Anak Man, kau jangan maju sendirian ke sana. Aku akan memerintahkan dua lusin Pendekar Topeng Putih untuk menyertaimu.”


Mantingan menolaknya, “Ketua, bukankah itu melanggar peraturan kependekaran?”


Rama menggeleng. “Anak Man, Padepokan Getih Asin mempunyai cara licik dalam menyelesaikan pertarungan. Mereka tidak hanya menyertakan satu pendekar dalam pertarungan satu lawan satu, beberapa pendekar akan bersembunyi dan menunggu lawannya terdesak sampai akhirnya mereka muncul.”


Mantingan menahan napasnya, betapa itu terdengar sangat mengerikan. Bagaimana jika Rama tidak mengatakan hal demikian padanya? Bukankah pertarungan nanti malam sama saja dengan pertarungan bunuh diri?


“Ketua, aku tidak mau merepotkan perguruan, biar aku tolak saja tantangan itu.”


“Kau sudah memutuskan menjadi pendekar, Anak Man. Tidak baik melakukan itu.” Rama berkata tegas, “kau akan tetap melayani tantangan itu sedang dua lusin Pendekar Topeng Putih akan menjagamu.”


Mantingan tidak lagi bisa menolak, hanya bisa memperlihatkan senyum lebar. “Ketua, terima kasih.”


“Tidak perlu sungkan, kau adalah bagian dari kami, sudah menjadi kewajiban kami semua untuk saling melindungi.” Rama tertawa dan menepuk punggung Mantingan sekali. “Sayang sekali aku tidak bisa ikut bersamamu nanti malam, aku harus menghadiri pesta perayaan lima puluh tahun berdirinya Perguruan Angin Putih. Kau harus tetap menghadiri perayaan itu barang sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.”


Mantingan mengangguk paham.


Setelah selesai minum teh, Mantingan diantar menuju kediamannya. Di sana Rama meninggalkan pemuda itu, masih banyak urusan yang perlu ia lakukan. Mantingan dipersilakan untuk istirahat, ia juga diberikan baju bagus untuk menghadiri perayaan nanti malam.


Di sana Mantingan menunggu sambil memasak makanan dari bahan-bahan yang telah tersedia di sana. Masakan yang ia masak memang tidak seenak punya Dara, tetapi masakan Mantingan masih layak dinikmati.


Waktu bagaikan panah yang melesat. Begitu cepat berlalu, dalam sekejap saja sudah jadi malam. Mantingan telah mandi dan memakai pakaian bagus serba putih yang diberikan Rama padanya. Di luar terdengar keramaian, tanda perayaan akan segera dimulai.

__ADS_1


__ADS_2