
Siang itu Mantingan sampai di sebuah kedai di wilayah Karang Sindulan. Itu adalah sebuah kedai besar yang memberanikan diri membuka gerai di tengah kecamuk perang, penjagaan di kedai ini begitu ketat. Mantingan menempati meja ujung di lantai kedua, hanya ada beberapa orang di sana.
Seseorang datang dan menanyakan pesanan pada Mantingan. “Selamat siang, Tuan. Hendak pesan apakah siang ini?”
“Ah, jangan panggil saya seperti itu. Saya ingin pesan nasi, sayur rebus, dan beberapa lauk. Tolong jangan bawakan terlalu banyak.”
Pelayan itu menatap Mantingan dengan pandangan aneh. Melihat dari penampilannya saja, Mantingan nampak seperti gelandangan—walau wajahnya tampan sekalipun. Sebenarnya pelayan itu memiliki niat mengusir Mantingan dengan mengubah harga pesanannya menjadi lebih mahal, kini ia semakin yakin setelah mendengar jawaban aneh dari Mantingan. Dalam prasangkanya, Mantingan adalah orang gila.
“Sepiring nasi, bayam rebus, dan ikan bakar. Bagaimana, Saudara?”
Mantingan mengangguk sebagai jawaban.
“Harganya dua puluh keping emas.”
Mantingan mengernyitkan dahinya, baru kali ini ia menemukan makanan dengan harga yang sangat mahal seperti itu. Tetapi kemudian Mantingan menyadari bahwa kedai besar ini pastinya menyewa penjagaan yang tidak murah demi keamanan pelanggannya. Maka kembali Mantingan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Pelayan itu nyatanya cukup terkejut melihat Mantingan dengan mudah menganggukkan kepala. Harga makanan sebenarnya adalah dua keping emas saja, itu sudah termasuk penjagaan, tetapi ia melebih-lebihkannya dengan harapan bisa mengusir Mantingan.
“Saya minta bayaran di muka, Saudara.” Si pelayan mencoba cara lainnya, ia juga khawatir Mantingan tidak mau bayar setelah makan.
Mantingan tanpa keberatan mengeluarkan dua puluh keping emas dan diberikannya pada pelayan itu. Lagi pula, isi bundelan Mantingan saat ini dipenuhi keping emas, ia tidak berat hati mengeluarkan uang jika itu demi kebaikan.
Pelayan itu tambah tidak menyangka, tapi segera mengambil sikap seperti biasanya. Selama pelanggan memiliki uang yang cukup, ia akan tetap melayani. “Saudara mohon tunggu, hidangan akan sampai sebentar lagi.”
__ADS_1
Pelayan itu pergi dengan harapan Mantingan tidak menyadari kesalahannya. Tetapi Mantingan sudah lebih awal menyadari sikap pelayan seperti itu, ia hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum.
Beberapa saat yang berlalu dihabiskan Mantingan untuk bersandar dan meluruskan kaki. Beberapa pelanggan kedai menatapnya dengan tidak suka, sebagian lainnya memilih untuk acuh. Mantingan tersenyum canggung, ia memang mengenakan pakaian yang telah dekil. Bukannya pemuda itu tidak mau mengganti pakaiannya, tetapi jika pun ia menggantinya akan percuma saja, seluruh pakaiannya telah dekil. Mantingan tidak tahu harus mencuci pakaian-pakaiannya itu di mana.
Sesaat kemudian hidangan yang Mantingan pesan didatangkan. Sepiring nasi, sayur bayam rebus, dan ikan bakar. Bukan hanya hidangan yang diterimanya, tapi juga menerima delapan belas keping emas yang dimaksudkan sebagai kembalian. Mantingan tidak ambil pusing soal itu, ia memilih untuk menyantap hidangannya saja.
Sampai terlihat seorang penjaga bersoren pedang yang naik ke lantai dua. Ia mengedarkan pandang ke seluruh ruangan, lalu pandangannya itu terkunci di meja makan Mantingan. Kakinya bergerak ke arah sorot pandangnya menuju.
Mantingan menyadari hal itu, tetapi memilih untuk diam sampai penjaga itu datang sendiri padanya.
“Saudara, bisa Anda segera tinggalkan kedai ini?” Tanpa banyak basa-basi, penjaga itu berkata.
Mantingan mengangkat pandangnya lalu mengernyitkan dahi. “Untuk apakah, Saudara?”
“Saudara tidak perlu berpura-pura lagi. Saya tahu Saudara adalah pendekar yang tidak mau cari ribut di sini. Tapi sebagai pendekar golongan hitam, Saudara tetap terlarang di sini.”
“Saudara, kami masih menghormatimu karena Anda lebih kuat ketimbang kami semua, mohon untuk berbelas kasihan pada kami.”
“Saya tidak akan mengganggu kalian. Sungguh isi pikiran saya tidak sama dengan pendekar-pendekar aliran hitam kebanyakan. Di sini hanya untuk makan, Saudara.”
Pendekar itu terlihat bingung harus membalas apa, ia sendiri tidak mau menyinggung Mantingan, tapi di sisi lain ia harus menjaga kedai ini dari segala macam ancaman berbahaya.
Mantingan pula tidak tahu harus bagaimana. Makanannya baru setengah habis, dan ia tidak suka jika ini harus dibungkus dan dimakan nanti.
__ADS_1
“Saudara, bagaimana saya bisa menjamin dikau tidak akan buat keributan?”
“Saya sendiri tidak mengetahuinya, Saudara. Tapi sungguhan saya tidak akan buat kedai ini jadi celaka selama saya di sini.”
Bukan sembarang kata yang Mantingan ucapkan itu. Dirinya telah mengatakan tidak akan membuat kedai jadi celaka selama dirinya berada di sana, yang sama saja melindungi kedai itu sampai makannya selesai.
Pendekar itu menyadari kata-kata yang Mantingan ucapkan itu bukan sembarang kata, ia juga melihat bagaimana ketulusan yang dipancarkan mata Mantingan. Sehangat mentari, yang bersinar tanpa minta imbalan. Sehingga dirinya, mau tidak mau menaruh kepercayaannya pada Mantingan.
“Saudara, saya pernah mendengar bahwa sebuah aliran tidak bisa menjamin sikap dari seorang pendekar. Pendekar aliran putih bisa saja berhati jahat, dan pendekar aliran hitam bisa saja berhati baik. Mohon jangan ingkari kepercayaan saya pada Saudara.”
Mantingan mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, Saudara."
Penjaga itu akhirnya melangkahkan kakinya turun dari lantai dua. Meskipun penjaga tadi telah mempercayai Mantingan, tetapi tidak begitu dengan pelanggan-pelanggan yang ada di lantai dua. Mereka sama sekali tidak menatap Mantingan lagi, barang selirik pun tidak. Sudah terkenal kalau pendekar golongan hitam mudah sekali tersinggung, mudah sekali terbakar amarahnya. Selirik mata saja sudah bisa menyinggung pendekar aliran hitam, bisa juga membuat pedangnya memisahkan kepala dari leher.
Ada juga yang dalam hatinya sangat membenci Mantingan. Menurutnya, pendekar aliran hitam adalah sumber kekacauan yang terjadi hari ini. Namun, orang-orang itu tidak berani menunjukkannya pada Mantingan.
Mantingan memilih untuk tidak memusingkan hal tersebut. Sejak awal latihan, Mantingan sudah menebak hal seperti ini akan terjadi suatu hari nanti. Dirinya telah bersiap dan lapang dada menerima itu. Kembali Mantingan melanjutkan santapannya.
Di akhir-akhir waktu makan Mantingan, sebuah suara teriakan berhasil mengagetkan seluruh orang di kedai tersebut, tidak terkecuali di lantai dua. Mantingan menghentikan gerak makannya, mencermati apa yang terjadi melalui pendengaran tajamnya.
Suara teriakan tadi sulit dibedakan apakah asalnya dari pria ataukah wanita, karena pria jika sudah menjerit suaranya hampir menyamai suara wanita. Tapi hal berikutnya yang Mantingan dengar segera memberi terang atas apa yang terjadi.
“Ampunilah kami, ampunilah kami! Akan kami berikan seluruh uang yang ada di sini, tapi mohon jangan apa-apakan kami!”
__ADS_1
“Bang*at! Apakah mayat temanmu ini tidak cukup menakuti dirimu?!”
Mantingan menghela napas panjang, sepertinya ia akan sedikit direpotkan siang ini.