Sang Musafir

Sang Musafir
Latihan untuk Kana


__ADS_3

“Bila begitu, apakah diriku harus belajar sastra dan ilmu berpedang meskipun sedang dalam perjalanan?’


MANTINGAN MENGANGGUK pelan. “Jika engkau bisa, maka itu sangat bagus. Tetapi seringkali perjalanan memberikan kita pelajaran yang tidak ada di dalam kitab.”


Kana terdiam beberapa lama. “Katakanlah padaku salah satu pelajaran yang pernah Kaka Man dapatkan semasa di perjalanan.”


Mantingan tersenyum. Sedikit ia mengingat perjalanannya yang sungguh panjang dalam mencari keberadaan Kembangmas. “Daku mendapatkan pelajaran, bahwa harapan adalah alasan bagi seorang manusia untuk meneruskan hidup.” Kemudian dilihatnya wanita korban perang yang telah hilang harapan agak jauh di depannya. “Lihatlah orang itu, Kana. Dia bukan kehilangan suami maupun anaknya, tetapi ia kehilangan harapan. Dia tidak lagi memiliki alasan untuk meneruskan hidup.”


“Itulah putus asa, Kaka Man?”


Sekali lagi Mantingan mengangguk. “Selama engkau masih ingin hidup, Kana, engkau harus selalu memiliki harapan untuk diwujudkan suatu hari nanti.”


Betapa Mantingan kembali tersadarkan berkat ucapannya sendiri. Kenanga bukan saja memberinya tugas yang teramat sangat berat, tetapi pula harapan yang sangat besar. Andaikan saja kala itu perjumpaannya dengan Kenanga tidak pernah terjadi, atau ia menolak kehadiran Kenanga di atas bukit itu, maka Mantingan tidak bisa memastikan apakah dirinya masih bernyawa sampai saat ini atau tidak.


***


MENTARI MENYEMBUL di antara celah perbukitan sebelah timur. Sinar jingganya menerpa pepohonan, menciptakan bayangan panjang di atas tanah. Bersamaan dengan bangunnya matahari, burung-burung pun terbang dari sarangnya. Bangau sawah pergi ke arah daerah rawa, mencari air serta makanan yang tersisa. Gagak-gagak hitam hilir-mudik mencari bangkai yang dikabarkan oleh kawan mereka, tetapi kini mereka hanya menemukan bertumpuk-tumpuk abu sisa bakaran tanpa satupun bangkai terlihat.


Rombongan Mantingan telah melanjutkan perjalanan pagi ini. Meninggalkan desa yang hampir tiada berpenghuni itu. Bidadari Sungai Utara betapapun harus meninggalkan wanita itu. Dia telah berusaha yang terbaik dengan membujuknya sepanjang malam. Bahkan gadis itu menyuguhkan tawaran-tawaran yang menggiurkan meskipun pada akhirnya ditolak mentah-mentah.


Setelah melewati beberapa petak sawah, mereka kembali memasuki wilayah perhutanan. Meninggalkan segala tanda-tanda peradaban manusia kecuali jalan itu sendiri. Berapa banyakkah jalanan itu dijejaki kaki manusia, kereta kuda, gerobak kerbau, dan segala sesuatu yang menandakan sebuah peradaban manusia? Hanya jalan itulah yang membelah hutan-hutan perawan, seakan memamerkan kecerdasan manusia pada hewan-hewan di hutan.


Kana mendekatkan diri pada Mantingan sebelum berkata penuh semangat, “Kaka Man! Ajari daku ilmu berpedang sekarang juga!”


Mantingan mengangkat alisnya. “Engkau tidak bisa menelan mentah-mentah perkataanku tadi malam.”

__ADS_1


“Sungguhan, Kaka Man! Diriku sudah mengkaji beberapa kali, dan kuyakin akan menjadi hebat jika berlatih sepanjang waktu. Bukankah Kaka Man pernah berkata bahwa bakat dapat dikalahkan dengan kerja keras? Jikapun diriku tidak berbakat, daku bisa bekerja keras!”


“Baiklah, tetapi camkan kata-kataku, jangan mengeluh jika engkau sampai kelelahan.”


“Duhai, Kaka sungguh meragukan kekuatanku. Tetapi biarlah, daku berjanji tidak akan mengeluarkan keluhan apa pun selama Kaka Man bersedia melatihku.”


“Bagus! Keluarkan pedangmu sekarang!”


Kana menarik pedang kayu dan menghunuskannya sambil berjalan. Sudut bibirnya ditarik, menunjukkan raut wajah menantang. Mantingan tersenyum lebar.


“Ah!”


Begitu mudahnya pedang kayu itu dibenturkan ke dahi Kana. Menciptakan rasa sakit yang bukan kecil pada anak itu. Mantingan hanya perlu mengangkat kaki dan menendang pedang tersebut.


Kana telah berjanji tidak akan mengeluh, maka ia memegang janji itu. Diliriknya Bidadari Sungai Utara yang mengepalkan tinju. Memberi semangat. Maka bocah itu seakan tidak pernah merasakan sakit sebelumnya. Kembali ia mengangkat pedang, kali ini sedikit lebih tinggi daripada yang tadi.


Mantingan menunjukkan senyum lebar. Direntangkan sebelah kakinya ke samping hingga membentur kaki Kana yang tidak membentuk kuda-kuda sama sekali. Bocah itu terjungkal. Wajahnya mencium tanah kering.


“Dua kesalahan, Kana.” Mantingan berdecak beberapa kali. “Pertama, engkau tidak membentuk kuda-kuda. Kedua, engkau lengah pada bagian bawah tubuhmu.”


Mantingan meninggalkan Kana begitu saja yang masih tersungkur di atas tanah. Tidak ada seorangpun yang berniat membantunya. Tetapi bocah itu tidak menunggu atau mengharapkan bantuan, ia kembali bangkit. Tidak seperti sebelumnya, Kana menyerang Mantingan secara langsung, tidak pakai ancang-ancang sama sekali.


Mantingan tidak menghindar dari serangan bocah itu. Pedang kayu Kana berhasil membentur punggung Mantingan meski tidak terlalu keras. Tidak berdampak sama sekali pada pemuda itu.


“Tenaga seperti itu tidak akan bisa melukai siapa pun.” Kembali Mantingan berkata.

__ADS_1


Kana jelas tidak terima, ia berkata keras dengan nada memaki, “Ini hanyalah pedang kayu, Kaka Man! Jelas tidak menimbulkan rasa sakit. Yang terpenting, daku sudah berhasil mengenai punggungmu!”


“Jadi begitu menurutmu?” Mantingan menoleh ke belakang, tersenyum lebar. Kana menegak ludahnya, merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak baik. “Coba berikan pedangmu. Daku ingin memeriksa apakah kualitasnya menurun.”


Sebenarnya Kana agak ragu. Tetapi ia tak berhak menentang perintah Mantingan. Selama masih berada di bawah pelatihannya, Kana diwajibkan untuk menaati segala perintahnya. Maka diserahkannya pedang itu.


Mantingan memandangi pedang itu dari segala sisi. Kana terus memperhatikan. Tanpa terduga-duga, tangan Mantingan membuat gerakan cepat dengan membawa pedang tersebut. Itu berlangsung dengan sangat cepat, Mantingan kembali ke tempatnya semula, seolah barusan tidak melakukan sesuatupun.


Kana membeliakkan mata, butuh beberapa kejap mata sampai ia menyadari rasa panas di bagian pahanya. Rasa panas itu merambat sampai ke tulang-tulangnya, membuat Kana menjerit kesakitan sambil memegangi sebelah pahanya.


“Kaka Man! Apa yang telah engkau lakukan?!”


“Daku hanya memeriksa kualitas pedang ini yang nyatanya tidak berubah. Ini, kukembalikan.” Mantingan melempar pedang itu ke arah Kana di belakang. “Pedang kayu dapat menjadi alat pembunuh paling berbahaya jika engkau tahu cara menggunakannya, Kana. Jangan engkau beralasan bahwa pedang kayu tidak dapat digunakan untuk bertarung.”


Betapapun Mantingan tidak melihat wajah Kana yang tercengang. Bocah itu tahu bahwa Mantingan bukan memeriksa kualitas pedangnya, melainkan memberinya pelajaran.


“Selain cara bertarung, engkau juga harus meningkatkan kekuatanmu. Ototmu terlalu kecil untuk sekadar mengayunkan pedang kayu dengan benar, bagaimanakah kiranya jika harus mengangkat pedang logam?”


Bukan hanya paha Kana yang panas, tetapi pula telinganya.


___


catatan:


Seperti yang saya katakan kematin, kondisi kesehatan saya sedang menurun. Hanya inilah yang dapat saya berikan. Episode ini merupakan episode otentik, tiada edit, sehingga jika ditemukan kesalahan harap dilaporkan. Terima kasih untuk terus mendukung!

__ADS_1


__ADS_2