Sang Musafir

Sang Musafir
Perundingan di Tepi Sungai


__ADS_3

Setelah beberapa saat berkeliling dengan berkelebat, Mantingan menemukan pedati berwarna merah di dekat pintu masuk ke Lembah Balian. Di antara semua pedati yang ada di rombongan penari wayang itu, pedati ini menjadi satu-satunya yang berwarna merah, dan agaknya memang sengaja diwarnai seperti itu agar seluruh penari wayang dapat dengan mudah menemukan Kartika.


Mantingan berdiri di hadapan pedati dengan pedang terbuka yang masih tergenggam erat di tangan kanannya. Di dalam bilik pedati itu, Kartika menoleh ke arahnya.


“Mantingan, adakah sesuatu yang dikau butuhkan?” Wanita itu bertanya tenang.


“Daku ingin meminta dikau dan seluruh rombongan untuk membatalkan niat kalian mencuri senjata pusaka di Lembah Balian.” Mantingan berkata tajam.


Kartika tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum melangkah keluar dari dalam pedati itu. Tepat ketika kakinya menginjak tanah, Kartika kembali berkata, “Kuharap dikau bersedia membicarakan ini secara damai. Ikutlah denganku.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. Memanglah perundingan damai yang diharapkannya, ketimbang mesti mengayunkan pedang yang selalu saja berujung pada pertumpahan darah.


***


“Seberapa banyak yang telah dikau ketahui?”


DI tepi sungai kecil penuh bebatuan, yang airnya selalu jernih dan mengalir kencang, dengan suara riak dan nyanyian serangga, Mantingan dan Kartika melangsungkan perundingan damai.


Mantingan tahu bahwa maksud Kartika mengajaknya ke sungai ini adalah agar pikiran tetap dingin selama perundingan berlangsung. Barang tentu, dalam keadaan di mana kedamaian benar-benar tersaji di depan mata, keduanya akan berpikir banyak kali sebelum mengambil keputusan yang dapat memicu pertumpahan darah. Hal ini sekaligus menandakan bahwa Kartika sedang amat bersungguh-sungguh.


“Itu tidak terlalu penting.” Mantingan berkata seraya menancapkan pedangnya di tanah. “Daku hanya ingin meminta kalian untuk membatalkan niat buruk itu.”


Kartika di hadapannya menggeleng pelan. “Kami tidak dapat membatalkannya ....”

__ADS_1


“Kalau begitu ....”


“Tetapi pusaka yang kami cari tidak ada di Lembah Balian.”


Mantingan mengernyitkan dahi.


“Pusaka itu dibawa oleh Tapa Balian saat dirinya pergi ke Koying.” Kartika meneruskan. “Kami tidak akan mencurinya di sini.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. Menghilangnya Tapa Balian di Lembah Balian yang digantikan oleh seribu prajurit Koying, rasa-rasanya memang tidak ada kemungkinan lain selain bahwa Tapa Balian pergi ke Koying. Tetapi, untuk apakah kakek yang sudah renta itu pergi meninggalkan Lembah Balian dengan begitu terburu-buru, sehingga tidak meninggalkan pesan semacam apa pun kepada Mantingan?


“Lalu, apakah kalian ingin mencari Tapa Balian di Koying?” Mantingan lanjut bertanya.


“Sebenarnya kami ingin melakukan hal itu, tetapi kami sadar bahwa dikau tidak akan membiarkan Tapa Balian berada dalam bahaya begitu saja.” Kartika melempar senyuman penuh arti.


“Dikau tahu itu.” Mantingan pula menunjukkan senyum lebar.


“Kesepakatan semacam apakah yang dikau inginkan?”


Mantingan tidak terlalu mengetahui tentang kesepakatan semacam apa yang diinginkan Kartika. Namun jika itu tetap saja berupa pencurian senjata pusaka milik Tapa Balian, maka Mantingan tidak akan setuju.


Bukan saja bahwa senjata pusaka yang hendak dicuri adalah kepunyaan Tapa Balian, tetapi juga menyangkut keselamatan orang banyak. Betapa pun, senjata pusaka memiliki kemampuan yang teramat sangat jauh lebih tinggi ketimbang senjata biasa. Jika dialirkan tenaga dalam, senjata pusaka tingkat dasar dapat memotong senjata biasa semudah memotong daun, dan senjata tingkat tinggi dapat memotong senjata pusaka tingkat rendah semudah memotong ranting.


Setiap senjata pusaka mampu melenyapkan banyak nyawa manusia sekaligus hanya dalam waktu teramat singkat. Dan terkadang, setiap senjata pusaka tidak akan pernah bisa hancur hingga kapanpun, dengan kemampuan yang pula masih bertahan. Untuk menghentikannya, tidak ada jalan lain selain membunuh pemiliknya.

__ADS_1


Seringkali senjata pusaka menciptakan kekacauan yang bukan main-main. Selayaknya sebuah cerita yang Mantingan dapatkan dari Kiai Guru Kedai tentang sebuah senjata pusaka yang menyebarkan teluh di kalangan dunia awam:


“Ini merupakan kisah yang teramat sangat memalukan bagi dunia persilatan baik yang hitam maupun yang putih, sehingga kemudian dijadikan hikayat agar menjadi pelajaran bagi pendekar-pendekar di masa mendatang. Kepadamu muridku, daku sebagai gurumu mesti menceritakan hikayat ini, sebab sungguhlah ini merupakan kewajiban setiap guru kepada muridnya.


“Kisah ini dimulai ketika seorang penempa besi secara tidak sengaja menemukan perpaduan luar biasa dalam senjatanya. Meski dia tahu bahwa perpaduan tersebut dapat membuat senjatanya menjadi tidak terkalahlah, yang sama saja berkemungkinan untuk menebar kekacauan, penempa besi itu tidak peduli dan tetap menempa senjatanya. Niat hati, kelak akan menyimpan senjata itu untuk dirinya sendiri, tanpa pernah digunakan dan tanpa pernah diwariskan.


“Namun suatu ketika, datanglah seorang pendekar aliran merdeka masyhur yang menyandang gelar sebagai Pendekar Pedang Lurus. Gelar itu tidak didapatkan dari pedangnya, sebab pedangnya ialah kelewang yang sudah tentu tidak lurus sama sekali. Tetapi dengan pedangnya, dia dianggap telah berbuat segala sesuatunya dengan lurus. Dia sering menumpas penyamun, membantu desa-desa kekeringan, menantang pendekar aliran hitam maupun putih yang dianggap telah berbuat kerusakan, dan masih banyak hal lain yang tiada dapat kusebutkan semuanya.


“Pendekar Pedang Lurus dapat merasakan aura senjata pusaka kuat yang tersimpan di penempaan itu. Dia lantas menanyakannya dan berkata dirinya bersedia membeli pusaka itu dengan harga tinggi.


“Betapa penempa itu menjadi bimbang. Dia merasa bahwa janjinya untuk menyimpan baik-baik pusaka tersebut tidaklah boleh sampai dilanggar. Namun di sisi lain, dia merasa bahwa Pendekar Pedang Lurus akan mempergunakan senjata pusaka itu untuk menebar kebaikan. Tak sampai terpikirkan olehnya jika di suatu saat nanti Pendekar Pedang Lurus justru akan menyebar kekacauan di dunia persilatan maupun dunia awam. Lagi pula, dirinya bukan berasal dari kalangan berada, tawaran Pendekar Pedang Lurus terlalu menggiurkan baginya, sayang untuk ditolak.


“Pada akhirnya dan untuk yang pertama kali, penempa itu menunjukkan senjata pusaka tempaannya itu kepada orang lain. Pendekar Pedang Lurus langsung terpana. Pusaka itu berupa sepasang pedang tipis bermata dua, dengan warna perak cermelang yang bahkan masih dapat mengilau di kegelapan. Sepasang pusaka itu dirasa teramat sangat cocok untuknya.


“'Dua pedang ini lurus, ciamik, dan sangat kuat, dikau menempanya dengan sepenuh jiwa,' begitulah katanya, ‘ini sangat cocok untukku.’


“Penempa itu tentunya menjadi teramat bangga mendengar pusaka ciptaannya dipuji oleh pendekar paling masyhur di waktu itu. Dia lantas bertanya, ‘Kiranya telah kutempa senjata ini dengan sebaik-baiknya dan berharap ada orang yang pantas untuk meminangnya. Hingga kini telah kutemukan dikau, wahai Pendekar Pedang Lurus, yang sungguh pantas untuk meminangnya. Tetapi apalah kata meminang tanpa memberi maha.’


“Pendekar Pedang Lurus tentunya mengetahui maksud dari perkataan penempa itu. Untuknya, dia menjawab, ‘Untuk memiliki sepasang pedang cantik ini, daku rela menyerahkan seluruh hartaku kepadamu. Katakanlah saja berapa banyak yang dikau butuhkan, wahai penempa handal yang sungguh tiada dapat terbandingi oleh penempa di negeri manapun.’


“‘Sebenarnyalah sungguh diriku merasa sangat tidak enak untuk meminta uang kepada dirimu, wahai pendekar sakti mandraguna yang tiada dapat terbandingi oleh pendekar manapun jua. Tetapi kurasa tidak mengenakan kalau pedang ini kulepas begitu saja kepada dikau, sebab dapat mencoreng nama besar dikau jika kabar itu sampai tersebar luas. Sungguh daku hanya tidak ingin mencoreng nama dikau.’


“‘Ya, daku tahu betul apa maksudmu. Saat ini, dikau hanya perlu mengatakan jumlah uang yang dikau kehendaki, wahai Bapak Penempa Besi!’

__ADS_1


“Maka begitulah si penempa besi menjawab dengan sedikit keraguan dalam benaknya, ‘Daku hanya menghendaki sepuluh ribu keping emas, wahai Pendekar Pedang Lurus yang teramat sangat terhormat! Janganlah sampai pedang ini tampak begitu murah untuk dapat bersanding denganmu.’


“Pendekar Pedang Lurus tertawa senang sekali, ‘Akan daku bayar! Dikau tunggulah di sini dan jaga pedang itu baik-baik. Esok hari, daku akan kembali dengan pedati penuh keping emas!’”


__ADS_2