
Mantingan melanjutkan perjalanannya di Jalur Utara menuju Agrabinta.
Agrabinta memiliki wilayah yang cukup besar, bahkan besar wilayahnya melebihi wilayah Sunda. Agrabinta berada di daerah pegunungan dan laut sekaligus. Agrabinta bersinggungan dengan Kerajaan Malabar dan Kerajaan Alengka di sisi timur. Tanjung Kidul, Kelapa Larang, dan Wangi di sisi barat. Utaranya adalah Purwakerta dan Pura Dalem. Agrabinta ini termasuk kerajaan kecil yang bergabung dengan kekuasaan Tarumanagara.
Jalur Utara ini terlihat sepi dan lengang. Selama berjalan di jalan ini, Mantingan hanya melihat beberapa kereta kuda atau gerobak kerbau yang lewat, itu saja dengan pacuan cepat-cepat. Semuanya membawa pendekar bayaran sebagai bentuk antisipasi serangan.
Dari yang Mantingan dengar baru-baru ini dari kedai makan, pekerjaan pendekar bayaran adalah pekerjaan yang sedang laris manis. Sebagian masyarakat berangsur-angsur menerima keberadaan pendekar, tidak lagi menganggapnya sebagai cerita dongeng belakang.
Tetapi tetap saja, mereka menerima keberadaan pendekar sebagai orang sakti yang minum ramuan tertentu atau pergi ke dukun, hingga tubuhnya bisa melenting-lenting dan tangkas dalam bertarung. Mereka masih menolak untuk percaya bahwa latihan adalah cara sesungguhnya untuk menjadi pendekar.
Mantingan bahkan pernah ditawari menjadi pendekar bayaran oleh orang—yang entah bagaimana—ditemuinya di jalan. Barang tentu Mantingan menolaknya, ia sama sekali tidak berpikiran menjadi pendekar bayaran semasa hidupnya.
Di jalanan yang lenggang ini, Mantingan merasa kesejukan dan kedamaian yang telah lama ia tidak rasakan. Memang perjalanan menuju Agrabinta dipenuhi oleh bukit-bukit tinggi yang menyejukkan. Kesejukan ini, terakhir kali ia rasakan di dalam goa tempatnya berlatih dulu.
Tetapi Mantingan sadar, bahwa sebenarnya ia berada dalam wilayah yang rawan terjadi peperangan, karena ini adalah wilayah perbatasan antarwilayah yang betapapun sering menjadi tempat persembunyian perampok. Mantingan terus-terusan memasang pendengarannya.
Bagi seorang pendekar, pendengaran terkadang lebih berguna ketimbang mata. Seorang pendekar bisa saja bertarung tanpa mata, tetapi akan sangat menyulitkan jika tanpa telinga walau memiliki mata tajam sekalipun.
Senjata-senjata rahasia seperti jarum beracun atau pisau terbang dapat diketahui keberadaannya dari desauannya yang ditangkap oleh telinga. Mata biasanya tidak cukup cepat mengikuti ke arah mana senjata rahasia itu bertuju. Hanya dengan desau suara dari senjata terbang, seorang pendekar bisa mengetahui di mana letak senjata itu, serta bisa memperkirakan ke mana ia harus bergerak menghindar.
__ADS_1
Tetapi memasang pendengaran tajam tanpa ilmu sangatlah menyakitkan telinga. Ilmu adalah kumpulan cara-cara untuk menggunakan atau memanfaatkan sesuatu dengan baik pada bagian tubuh tertentu.
Semisalnya telinga. Tanpa jurus ilmu, Mantingan tetap bisa memiliki pendengaran tajam, hanya memanfaatkan tenaga dalam saja. Namun jika tanpa jurus ilmu, tenaga dalamnya yang digunakan itu cenderung lebih banyak serta menyakitkan. Anggaplah ilmu sebagai sebuah perantara bagi telinga, tanpa perantara, tenaga dalam justru menyakitkan si pengguna.
Hal yang serupa juga terjadi dalam kehidupan manusia. Sebenarnya manusia dapat memanfaatkan alam di sekitarnya dengan baik, tetapi kurangnya ilmu malah akan merusak alam itu sendiri padahal hasil untung yang didapatkan hanyalah sedikit. Memanfaatkan sesuatu tanpa ilmu kerap kali menimbulkan perebutan, yang berujung pada keributan atau bahkan peperangan.
Langkah Mantingan tiba-tiba saja terhenti. Raut wajahnya berubah menjadi tidak enak. Sesuatu terdengar tidak bagus. Mantingan mendengarkan suara yang benar-benar tidak diharapkannya. Suara pertempuran.
Denting pedang. Jerit kesakitan. Makian. Desau panah. Semua itu tidak enak didengar oleh dirinya.
“Apakah aku benar-benar harus melewati jalan ini?” Mantingan bergumam pelan.
Benar-benar tidak memiliki pilihan lain, Mantingan kembali memasukkan petanya ke dalam bundelan sebelum melangkahkan kaki ke jalan. Jika memang benar sedang terjadi peperangan di depan sana, seharusnya ia dapat dengan mudah melewatinya. Kecepatan terbang Mantingan bisa mengimbangi kecepatan petir, hanya pendekar tingkat tinggi saja yang bisa melihat pergerakannya.
Jika seandainya nanti langkahnya dihentikan, Mantingan yakin bisa mengatasi itu tanpa pertumpahan darah. Saat ini ia bisa dikatakan sebagai pendekar tingkat tinggi. Walau Mantingan hanya menjalani masa latihan selama tiga tahun saja, tetapi bakatnya yang langka itu membuat Mantingan yang sekarang dapat menyandingi pendekar tingkat tinggi sekalipun.
Terlebih setelah Mantingan mempelajari kitab-kitab ilmu yang diberikan Rama padanya, pemahaman Mantingan meningkat pesat.
Dalam mempelajari sebuah kitab ilmu, Mantingan hanya membutuhkan satu kali membaca saja untuk menghapal semuanya. Mantingan biasanya membaca sebuah kitab sebanyak enam kali pembacaan, yang berarti pemahaman Mantingan terhadap sebuah kitab sangatlah mendalam ketimbang pendekar lainnya.
__ADS_1
Saat ini Mantingan tidak gentar lagi untuk maju ke gelanggang pertempuran. Toh dirinya sama sekali tidak memihak Tarumanagara ataupun aliran hitam. Mantingan bukan tentara milik seorang pun, ia adalah tentara Gusti yang tugasnya menyebar kebaikan dan kasih sayang.
Hiruk pikuk pertempuran semakin terdengar tatkala Mantingan mendekati wilayah pertempuran. Lambat laun Mantingan melihat sendiri rupa sebenarnya dari pertempuran yang terjadi.
Mantingan menghela napas sekali. Ia sangat tidak suka melihat pemandangan ini. Mayat-mayat tak berupa bergelimpangan. Panah-panah menyasar entah ke mana. Kuda-kuda berlari dan meringik tanpa penunggangnya. Sedangkan yang hidup masih terus memegang senjata atau sekadar tinjunya, menyerang secara tawur.
Pertempuran itu terjadi di jalanan, sampai keluar cukup jauh di dua sisi jalan. Semak-semak belukar dan pohon rubuh akibat pertempuran itu.
Mantingan tidak mau berdiri dan memandangi mereka lebih lama lagi.
Dengan satu tarikan napas, dirinya melesat cepat ke tengah pertempuran itu. Semuanya melambat di mata Mantingan, tetapi tubuhnya tetap melaju dengan cepat. Mantingan melihat orang-orang di bawahnya yang dalam tayangan lambat dapat dilihat bagaimana raut wajahnya.
Dari wajah mereka terpampang rasa amarah, takut, khawatir, dan putus asa, yang semuanya dicampur aduk menjadi sebuah raut wajah menakutkan.
Darah-darah berterbangan di udara dan Mantingan bisa dengan jelas melihat itu. Betapa dahsyatnya pertempuran terjadi, bagaikan mereka tidak menyadari bahwa mereka sama-sama manusia. Pertempuran yang terjadi kali ini bukanlah pertempuran manusia melawan hewan buas, ini adalah pertempuran melawan jenisnya sendiri. Perang saudara. Sungguh keji dan tidak berperasaan. Perebutan kekuasaan yang dilakukan beberapa orang dapat menghilangkan banyak nyawa orang.
Mantingan berhasil melewati gelanggang perang itu dengan mudah.
Beberapa pendekar yang menyadari pergerakan Mantingan segera mengejar pemuda itu. Tapi kecepatan Mantingan sungguh tidak bisa disusul oleh mereka. Jadilah pendekar-pendekar yang mengejar Mantingan itu kembali ke tempatnya semula untuk kembali ke urusan pertempurannya masing-masing.
__ADS_1
Sedangkan Mantingan telah jauh meninggalkan daerah pertempuran. Ia baru memperlambatkan diri setelah memastikan tidak ada lagi yang mengejarnya.