
“Mungkin hanya ada satu jalan, Perwira. Jika ingin segel sihir yang kupasang tidak melukai prajurit, maka masing-masing prajurit harus menyumbang setidaknya setetes darah. Dengan begitu, segel sihir akan mengenali mereka sebagai kawan dan tidak akan menjebak mereka.”
PERWIRA menganggukkan kepalanya pelan.
“Soal itu aku tidak bisa memastikan seluruh prajurit menyumbang darah, bisa saja ada yang terlewat atau ada beberapa yang sedang menjalankan misi di luar tembok kota. Tetapi akan tetap aku usahakan yang terbaik, Mantingan.”
“Baiklah, Perwira. Jikalau begitu, lebih baik kita memulainya sekarang. Jika kita lihat kekuatan musuh yang ada di depan kita sekarang ini, maka mereka bisa menyerang kapan saja.”
Benar yang Mantingan katakan pada perwira. Pasukan musuh terlihat jauh dari tembok kota, tetapi mereka membangun tenda-tenda dan beberapa api unggun sebagai persiapan penyerangan. Perwira sedari dini hari sudah menyadari tanda-tanda musuh dan menyiagakan seluruh pasukannya untuk siap tempur.
Mantingan dan perwira masuk ke dalam kota. Gerbang kota kembali ditutup, bahkan dipalangi untuk menahan gempuran musuh.
Mantingan disediakan satu meja dan bangku sebagai tempatnya mengumpulkan darah prajurit. Pemuda itu mengeluarkan selembar lontar dengan aksara paling rumit. Itulah lontar yang mengatur Lontar Sihir lainnya, nantinya setetes darah dari masing-masing prajurit akan diresap oleh lontar pengatur itu.
Setelah perwira memberi pengumuman, banyak prajurit mulai berdatangan dan berbaris di depan meja Mantingan. Dengan sebatang jarum mereka menyumbang masing-masing setetes darah.
Barisan prajurit semakin lama semakin panjang. Bukannya berkurang. Mantingan bekerja semakin cepat dan keras menusukkan jarum ke telapak tangan prajurit-prajurit. Hingga akhirnya secara perlahan-lahan barisan mulai menyusut, dan orang terakhir adalah perwira yang tersenyum hangat pada Mantingan.
“Apakah sudah semua, Perwira?”
“Aku rasa belum, tetapi itu bukan masalah besar karena kemungkinannya tidak banyak prajurit yang akan masuk ke tempat perlindungan.” Perwira mengulurkan telapaknya.
Mantingan menusukkan jarum ke tengah telapak perwira, setetes darah jatuh di atas lontar pengatur. “Terima kasih, Perwira.”
“Ya.” Perwira tersenyum lebar dan mangut-mangut beberapa kali. “Mantingan ... aku memiliki seorang putri yang usianya bisa dikatakan sepantaran dengan dikau. Kurasa, kau tidak keberatan jika menerima perjodohan dengan dirinya.”
Mantingan sangat terkejut sampai-sampai tersedak ludahnya sendiri. Ia memandangi perwira di depannya itu dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
“Maafkanlah diri sahaya yang agaknya kurang pantas disandingkan dengan putri Perwira.”
Perwira itu menepuk punggung Mantingan dan tertawa. “Dikau janganlah merendah. Aku tahu kau masih tidak berniat menikah, katakan saja, itu tidak mengapa.”
Mantingan tertawa canggung. “Nah, Perwira. Sepertinya sudah waktunya aku pergi untuk memasang Lontar Sihir. Apakah prajurit-prajurit yang dipinjamkan Perwira sudah siap?”
“Ya, ya, mereka sudah berkumpul dan sudah siap. Aku akan memanggil mereka untukmu.”
***
Pemasangan Lontar Sihir dilaksanakan sesuai dengan rencana. Mantingan nyatanya membutuhkan lebih dari seratus prajurit untuk membantu tugasnya selesai dalam waktu satu hari.
Lontar-Lontar Sihir itu dipasang di pinggiran jalan, ditempel di tempat-tempat yang dianggap cukup tersembunyi. Beberapa lainnya dipasang di pintu-pintu bangunan yang kemungkinan disusupi musuh.
Tembok kota dan perbatasan tempat perlindungan kota adalah dua tempat yang paling banyak ditempeli Lontar Sihir. Terutamanya pada tembok kota, Mantingan memasang banyak Lontar Sihir berkualitas tinggi.
Bukankah aturan dalam peperangan adalah membunuh atau dibunuh? Maka Mantingan akan membunuh, jika diperlukan saja. Dapat dipastikan Mantingan akan jauh lebih banyak melumpuhkan lawan ketimbang membunuh lawan. Bahkan tidak membunuh sama sekali.
Pekerjaan memasang Lontar Sihir itu selesai saat matahari telah lama terbenam. Lontar-Lontar Sihir yang dipasang itu masih belum bekerja. Lontar itu akan bekerja setelah Mantingan memberikan perintah. Mantingan cukup menggores beberapa aksara di lontar pengaturnya sebelum lontar-lontar lainnya bekerja.
Malam itu semua prajurit disiagakan tepat di belakang tembok kota. Benar-benar sibuk suasana saat itu karena musuh terlihat melakukan pergerakan. Orang-orang di tempat perlindungan juga telah diberitahu bahwa serangan akan datang.
Beberapa pria kota yang selamat peperangan kemarin kini kembali mengangkat senjata. Apa pun bisa menjadi senjata bagi mereka. Entah itu cangkul, arit, golok kecil, tongkat, atau bahkan sapu sekalipun. Mereka berjaga-jaga tepat di belakang garis batas perlindungan kota, akan membela janda-janda dan anak-anak di dalamnya dengan nyawanya sendiri. Bahkan pria-pria sepuh pun terlihat berdiri di sana.
Kembali ke tembok kota. Panah dan busur disiagakan di belakang tembok pemanah akan menembakkan panahnya pada siapa pun yang meloncati tembok kota. Sedangkan tombak-tombak terpancang di bawahnya, siap-siap menerkam musuh yang jatuh akibat terjangan panah.
Prajurit-prajurit berpedang dan berperisai bertugas untuk melindungi para pemanah. Pemanah tidak memiliki perlindungan, hingga mereka bisa menjadi santapan empuk panah-panah musuh yang datang.
__ADS_1
Di belakang gerbang kota ada sebuah alat berukuran besar yang digunakan untuk menahan terjangan musuh dari luar.
Sedangkan 13 prajurit yang telah dilatih oleh Mantingan terlihat berdiri di atas tembok, menerawang musuh di antara kelamnya malam.
Obor-obor disiagakan untuk membakar panah-panah, sehingga serangan bisa berupa panah api. Tetapi dalam situasi malam seperti ini, panah tanpa api justru lebih mematikan ketimbang panah berapi.
Mantingan berdiri tegak tepat di atas gerbang kota. Dirinya bersanding dengan 13 prajurit terlatih lainnya. Di pinggangnya tersoren Pedang Kiai Kedai. Rambutnya gila-gilaan diterpa angin malam bersama jubah peraknya.
Meskipun orang-orang melihat Mantingan tegak dan diam saja, namun sebenarnya Mantingan tengah bercakap-cakap di dalam kepalanya. Pendekar muda itu bercakap ringan dengan gadis khayalannya. Ia dapat bernapas tenang sekarang akibat gadis khayalan itu.
“Apakah yang terjadi jika aku mati dalam pertempuran, Rara?”
“Kau mati, aku mati. Secara mudah bisa dikatakan seperti itu.”
“Kalau begitu, aku tidak akan mati. Biar engkau tidak mati.”
“Kau hanya bercakap-cakap pada dirimu sendiri, orang-orang yang tahu akan mengira dirimu sinting.”
“Aku rela jadi orang sinting bahkan gelandangan asal bisa membayangkan dirimu setiap saatnya.”
“Orang gila mana yang rela mengorbankan hidupnya demi gadis yang tidak terlalu dikenalnya?”
Percakapan itu terhenti oleh lengkingan keras sangkakala perang. Mantingan tersadar dan kembali ke dunia yang hakiki. Melihat betapa pasukan musuh telah bergerak maju. Ratusan obor membuat mereka seperti butiran kunang-kunang.
“Pasukan musuh sudah datang.” Mantingan bergumam pelan.
“Kalau begitu, tuntaskan mereka. Aku akan pergi, semoga suatu hari kita bertemu lagi.” Suara Rara perlahan menghilang.
__ADS_1
Mantingan mengangguk dan mengangkat senyumnya. “Itu pasti.”