Sang Musafir

Sang Musafir
Bangsawan Muda dan Pengawalnya


__ADS_3

Petugas wanita itu juga mengatakan bahwa perpustakaan sudah tutup di malam hari. Mantingan mengangguk dan pergi dari meja itu setelah mendapat cukup penjelasan.


Apa pun yang ingin wanita itu katakan, pastilah sangat penting dan berbahaya jika didengar umum. Mantingan sebenarnya tidak suka terlalu banyak bicara pada manusia, setidaknya sampai dirinya kuat nantinya, tetapi Mantingan terpaksa melakukan ini untuk mendapat segala keterangan tentang Perguruan Angin Putih yang berguna baginya. Maka hal itu tidak mengapa, asalkan Mantingan tidak terlalu dekat dengan petugas wanita itu.


Mantingan tidak keluar perpustakaan, mustahil baginya untuk tidak tertarik pada segudang ilmu beserta segudang kitab di perpustakaan ini, sehingga Mantingan lebih memilih untuk membaca buku-buku di sini sebanyak mungkin sembari menunggu perpustakaan tutup.


Mantingan memulai petualangannya di perpustakaan dari lantai pertama, yang ternyata tidak banyak buku menarik di sini. Buku-buku di lantai pertama rerata adalah buku untuk dijual, atau cenderamata. Mantingan tidak ingin menambah beban buntelannnya dengan membeli buku-buku atau cenderamata yang tak diperlukan olehnya.


Maka dari itu Mantingan memutuskan untuk naik ke lantai dua. Di lantai dua ini suasana sedikit lebih bersisik ketimbang lantai pertama, karena di lantai dua inilah tempatnya kitab-kitab berharga sedang dilelang. Mantingan tidak terlalu melihat pelelangan itu, sebab lelang dilaksanakan di dalam ruangan. Pengunjung perpustakaan hanya bisa melihat lelang itu dari sebuah jendela kecil.


Mantingan tidak menemukan buku-buku di lantai ini, memang sepertinya lantai ini dikhususkan untuk melelang kitab-kitab berharga.


Kembali Mantingan menaiki tangga ke lantai ketiga. Suasana kembali sunyi, sebab di lantai ketiga inilah tempatnya banyak buku tentang kenegaraan berada. Terlihat hanya orang-orang tua saja yang mengkaji buku-buku itu dengan khidmat. Mantingan berpikir sejenak untuk memutuskan apakah dirinya harus berhenti di sini, tetapi kemudian Mantingan memutuskan untuk naik ke lantai selanjutnya.


Mantingan adalah seorang pengembara, buku-buku tentang kenegaraan tidak terlalu diperlukan olehnya.


Di lantai keempat ini berisi buku-buku tentang tetumbuhan dan hewan. Mantingan tersenyum tipis. Inilah buku-buku yang dibutuhkan olehnya. Di lantai ini, rerata diisi oleh anak-anak remaja yang sangat penasaran pada ilmu yang menyangkut tentang alam. Mereka terlihat seperti orang-orang bangsawan, terbukti dari pengawal yang berdiri tegap tak jauh dari masing-masing anak remaja itu.


Kedatangan Mantingan tidak terlalu disorot, sebagian dari mereka begitu tenggelam pada buku yang dibacanya.


Mantingan menemukan tempat duduk panjang yang tak terlalu diisi banyak orang, ia mengambil bagian pojok tempat duduk itu untuk meletakkan buntelan dan pundi-pundinya sebelum memulai penjelajahannya menemukan buku-buku tentang tetumbuhan.

__ADS_1


Di lantai keempat ini, hanya Mantingan yang penampilannya paling kotor. Wajah Mantingan benar-benar kusam oleh noda tanah, bau badannya begitu tidak bisa dibayangkan, bajunya berkerak oleh debu. Sangat buruk. Beberapa orang yang melihat Mantingan di dekatnya segera menjauh, menganggap Mantingan adalah rakyat jelata yang hanya penasaran dengan kemegahan perpustakaan tanpa berniat membaca sama sekali.


Tetapi siapa di sana yang menyangka, bahwa biar penampilan Mantingan seperti itu, tetapi Mantingan sangat pandai baca tulis? Mantingan tidak mempedulikan mereka yang menyingkir darinya, ia begitu tenggelam memilih buku yang hendak dibacanya.


Mantingan mengambil beberapa buku yang sekiranya ia butuhkan untuk dibaca di tempat duduk itu.b Sebagian orang hanya menatap Mantingan jijik, tetapi terdapat satu orang yang memberanikan diri menghadang Mantingan.


Orang itu adalah pria muda bertampang angkuh. Pakaiannya serba mewah. Memiliki satu pengawal. Jelaslah bangsawan.


Mantingan menatap orang di depannya itu dengan datar, lalu berbalik untuk keluar di jalan lain. Tetapi pemuda itu berbisik pada seseorang di sebelahnya, yang kemudian orang itu berlari mendekati dan menghalangi Mantingan.


“Berani engkau lari dariku!” Pemuda di belakang Mantingan berkata tinggi. Suaranya itu pastilah mengganggu orang-orang lain yang sedang membaca, tetapi tidak ada satupun yang ingin menghalangi pemuda itu. Mereka terlihat takut padanya, dengan alasan yang tidak diketahui Mantingan.


“Apa yang kalian inginkan?” kata Mantingan tenang pada orang suruhan pemuda itu.


Lalu pemuda bangsawan itu mendekat ke arah Mantingan, masih dengan mimik wajah congkak. Seolah, siapa pun di sini adalah budaknya.


“Dasar rakyat jelata tak tahu diri! Tidakkah engkau sadar di mana dirimu berada saat ini? Berani-beraninya engkau menginjakkan kaki kotormu di lantai perpustakaan yang suci!”


Mantingan hampir tertawa mendengar itu, seandainya ia tak mengingat kematian Rara yang selalu membuatnya hilang senyum atau ttawa.


Bagaimana bisa lantai perpustakaan dianggap suci jika orang-orang bebas menginjak lantai ini dengan alas kaki? Tahulah Mantingan bahwa pemuda bangsawan congkak di depannya ini suka mengada-ngada. Malas pula Mantingan meladeni orang ini, tetapi Mantingan tahu bahwa pemuda ini sangat berbahaya sebab memiliki latar belakang bangsawan.

__ADS_1


“Apa yang engkau mau?”


Pemuda itu mendecih. “Di hari ini daku berbaik hati padamu, wahai rakyat jelata yang hina! Sehingga daku sudi berbicara denganmu. Akan aku katakan padamu, bahwa buku-buku itu harus diberikan padaku.”


“Aku masih ingin membacanya, apakah ada peraturan di sini yang mengizinkan orang merebut buku yang sedang dibaca orang lain?”


Wajah pemuda itu merah padam, menatap Mantingan buas seolah hendak menelannya hidup atau mati.


“Memang tidak ada, tetapi daku adalah peraturan di sini. Apa pun kataku, maka itu adalah peraturan!”


“Apakah itu disebabkan oleh karena engkau adalah bangsawan? Jika itu benar, maka betapa engkau sebagai bangsawan adalah pembuat kebijakan-kebijakan tetapi melanggarnya sendiri.”


Bangsawan muda itu wajahnya semakin merah padam, tak menyangka Mantingan akan berkata seperti itu. Amarahnya tak dapat terbendung lagi.


Maka menggetarlah suaranya. "Lancang! Penggal kepalanya!”


Saat pemuda itu selesai berteriak, Mantingan merasakan ada pergerakan di belakangnya, di mana pengawal pemuda itu berada. Mantingan menarik kaki kanannya dengan cepat untuk memutar badannya. Saat badan Mantingan telah menghadap pengawal itu, Mantingan dapat melihat sebilah golok panjang menebas ke arah lehernya.


Pengawal itu bukanlah pendekar, sehingga Mantingan bisa menganggap ini seimbang. Mantingan entak kakinya ke belakang, tubuhnya terbang ke belakang. Golok melaju cepat, itu hanya menebas angin saja. Beruntung leher Mantingan tidak terpapas oleh tajamnya bilah golok! Gerakan Mantingan lebih cekatan dan cepat daripada sang pengawal, sehingga Mantingan bisa menghindari serangan di titik mematikan itu.


Bukan hanya menghindar, bahkan Mantingan menyerang balik dengan tendangannya yang berhasil membentur tengkuk sangpengawal. Tidak hanya itu, Mantingan juga menubruk tubuh bangsawan muda dan membuatnya mencium lantai.

__ADS_1


Mantingan, dengan masih memeluk buku-buku, mendaratkan diri dengan cara berguling-guling beberapa kali sebelum kembali berdiri tegap. Sedang dua orang yang berniat mencelakakannya malah tersungkur.


“Bangsawan yang budiman, akan daku berikan buku-buku ini setelah aku selesai membacanya.” Mantingan kemudian berlalu tanpa sedikitpun peduli dengan apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2