Sang Musafir

Sang Musafir
Terbunuh oleh Ketakutannya Sendiri


__ADS_3

“Jika dikau ingin merebut wibawa Pemangku Langit dariku, maka dikau sungguh tidak perlu repot-repot mengalahkanku.” Mantingan berucap dengan suara penuh tekanan, entah dari mana ia mendapatkan kekuatannya. “Daku tidak pernah menerima wibawa Pemangku Langit. Siapa pun bebas merebutnya dariku. Tetapi jika itu dilakukan dengan cara bertarung, terlebih-lebih hingga sampai membahayakan jiwaku dan jiwa-jiwa orang yang kusayangi, maka daku akan meladeni.”


Mantingan bangkit berdiri. Kali ini, Pendekar Kelewang Berdarah tidak dapat lagi mempertahankan senyumannya. “Bagaimana kau bisa ....”


Kini, justru Mantingan yang tersenyum lebar. “Perempuan Tak Bernama mengajarkan banyak hal kepadaku.”


Mantingan berkelebat ke depan. Dengan sebuah bogem mentah, dirinya berhasil menghancurkan kepala Pendekar Kelewang Berdarah. Tepat setelah itu, segalanya menjadi buyar barang sementara, sampai akhirnya tergantikan oleh pemandangan baru.


***


LANGIT malam bertabur bintang-gemintang. Rembulan tergantung di langit, menyebarkan kecermelangannya. Sedikit banyak kelelawar malang melintang dengan terus mengeluarkan suara yang tiada mampu ditangkap oleh pendengaran manusia biasa.


Itulah yang Mantingan lihat ketika dirinya pertama kali membuka mata. Dirinya memang sedang dalam keadaan merebah setelah lepas dari ketidaksadarannya. Beralaskan rerumputan liar yang mulai terasa menggelitik kulitnya.


Mantingan menggapai Pedang Savrinadeya yang tergeletak di sampingnya. Sadar tak sadar, ia mampu mengetahui letak pedang itu tanpa perlu susah payah mencarinya. Mantingan lalu bangkit berdiri, sebab masih segar ingatannya tentang apa yang baru saja terjadi!


Mantingan menebar pandang ke sekitar. Ditemukannya seluruh pemain wayang merebah di atas rerumputan dalam keadaan mengerikan. Sebagian besar berguling-guling dengan mulut terbuka lebar tetapi sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sebagian kecil lainnya telah terkapar tanpa lagi bergerak dengan busa putih di mulut mereka, jelas sudah tidak bernyawa. Chitra Anggini masih berguling-guling di atas rerumputan, dan bukannya terkapar dengan busa membumbung tinggi di atas mulutnya. Melihat hal itu, Mantingan diam-diam menaruh rasa syukur.


Betapa Mantingan mengetahui bahwa seluruh pemain wayang itu mengalami hal yang sama dengannya. Mereka terjebak dalam khayalan menakutkan yang dibuat oleh suatu ilmu sihir. Otak mereka mampu menciptakan rasa sakit yang sebenarnya tidak pernah ada, berdasarkan apa yang terjadi pada khayalan mereka. Hal inilah pula yang dialami oleh Perempuan Tak Bernama.

__ADS_1


Nyata-nyatanya, sihir yang menciptakan khayalan mengerikan itu bukan tidak berbahaya. Jika khayalan yang dialami seseorang telah mencapai taraf yang begitu mengerikan, maka orang itu akan mati, seperti apa yang terjadi dengan beberapa pemain wayang yang terkapar tak bernyawa dengan busa di mulut mereka. Sedangkan pemain wayang yang masih tersisa hanya perlu menunggu waktu sampai kematian menghampiri mereka.


Mantingan dapat berlepas diri dari sihir penuh tipu daya itu, sebab betapa pun dirinya memiliki kesadaran tinggi setelah membaca Kitab Tak Bernama. Memanglah sihir semacam itu sebenarnya sangat mudah dipatahkan, meskipun teramat sangat mematikan. Seseorang yang terkena sihir itu hanya perlu menyadarkan diri bahwa semua hal mengerikan yang dialaminya itu sama sekali tidak nyata.


Akan tetapi, seringkali hal-hal mengerikan membuat seseorang tidak dapat berpikir jernih. Terlebih lagi jika kedudukannya telah begitu terdesak. Tidak akan sempat mereka berpikir bahwa segala sesuatu yang mereka alami itu tidaklah nyata.


Yang hendak Mantingan lakukan saat ini dengan sesegera mungkin adalah menyadarkan seluruh pemain wayang yang ada di sekitarnya. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Saat ini, waktu dapat berarti nyawa!


Namun saat dirinya hendak melaksanakan hal itu, dilihatnya Kartika yang sedang terdesak oleh Pendekar Kelewang Berdarah di sudut lapangan. Betapa wanita itu sedang dalam kuncian mematikan. Pendekar Kelewang Berdarah menindihnya dari atas, dengan kelewang yang berusaha menusuk dada Kartika. Namun, wanita cantik tersebut berhasil menahan laju bilah kelewang itu dengan kedua tangannya!


Mantingan mengetahui bahwa Kartika memiliki sebuah ilmu tangan kosong bernama Ilmu Tangan Besi, yang mampu membuat tangan menjadi sekuat dan sekeras besi. Namun betapa pun, kelewang yang dimiliki oleh lawan tandingnya saat ini bukanlah senjata semenjana, melainkan senjata pusaka tingkat tinggi. Alhasil, tangan Kartika berlumuran darah. Bilah tajam kelewang itu berhasil melukai tangannya, dan kini terus melaju perlahan tetapi pasti. Dari raut wajahnya yang mengerut, Mantingan dapat tahu bahwa Kartika sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.


“Bukan jantan sikapmu jika hanya berani menyerangku dari belakang, Pahlawan Man!” Pendekar Kelewang Berdarah berteriak keras. Dari tampang wajahnya, jelas sekali bahwa dirinya ketakutan setengah mati!


Mata sayu Kartika melirik Mantingan dengan sejuta makna. Namun, Mantingan tahu bahwa perempuan itu memintanya untuk mengacuhkan perkataan Pendekar Kelewang Berdarah. Dalam artian lain, perempuan itu meminta Mantingan untuk membantunya sesegera mungkin.


“Mungkin sudah tiada terhitung lagi berapa nyawa yang engkau cabut dengan cara mengerikan seperti ini, wahai Pendekar Kelewang Berdarah yang sama sekali tidak gagah.” Mantingan mulai melangkah maju dengan pedang yang diangkat sampai setinggi dada. “Daku sebenarnya sangat ingin membuatmu merasakan ketakutan yang teramat sangat sebelum menemui kematian, tetapi itu hanya akan membuatku sama terhinanya seperti dirimu.”


Pendekar Kelewang Berdarah menjadi sangat buncah. Sesegera mungkind ditarik gagang kelewangnya sebagai persiapan untuk menghadapi Mantingan, tetapi kedua tangan Kartika menahan kelewang itu! Pendekar Kelewang berdarah menjadi takut bukan main.

__ADS_1


“Lepaskan atau kubunuh dikau!” Pria dengan otot kekar itu mulai menginjak-injak perut Kartika.


Tindakan Pendekar Kelewang Berdarah itu justru dimanfaatkan oleh Kartika. Perempuan yang tampak langsing dan tiada bertenaga itu bergerak cepat menyampingkan tubuhnya, sehingga kedua kaki Pendekar Kelewang Berdarah yang ada di perutnya menjadi hilang pijakan. Tubuh pendekar itu tak ayal menjadi oleng hingga meluncur jatuh. Kartika segera membelit tubuh Pendekar Kelewang Berdarah dengan kedua kakinya, bahkan sebelum pendekar itu jatuh berdebum di atas tanah.


Keadaan berbalik dengan teramat sangat cepat. Hanya berlangsung satu kedipan mata saja. Kartika menindih tubuh Pendekar Kelewang Berdarah dengan sebilah belati di tangannya, maka pembunuhan tiada lagi dapat terelakan.


Perempuan yang merupakan pimpinan pemain wayang itu menatap Mantingan setelah berhasil menggorok leher lawannya hingga putus. Menghadapi tatapan itu, Mantingan hanya bisa tersenyum canggung.


“Dia mati oleh ketakutannya sendiri.” Berkatalah perempuan itu sambil membersihkan darah di belatinya dengan selendangnya. “Pahlawan Man, daku hendak bicara denganmu setelah kita membangunkan seluruh anak asuhku dari sihir kutukan ini.”


Rupa-rupanya, sihir yang menjangkiti mereka semua adalah sihir kutukan. Mantingan sedikit banyak mengetahui tentang sihir dari kitab-kitab yang ia baca di Gaung Seribu Tetes Air. Seperti namanya, sihir kutukan berasal dari mantra-mantra bertuah yang dilafaskan. Sihir tersebut cukup mengerikan, karena biasanya tidak memiliki satupun mantra penawar. Untuk dapat mengendalikan sihir kutukan pun tidak dapat dilakukan dengan sembarangan, sebab hanya dibutuhkan sedikit kesalahan untuk dapat membuat perapal mantra terkena kutukan dari sihirnya sendiri.


Kecuali itu, tentu masih terdapat banyak hal yang Mantingan ketahui tentang sihir kutukan. Namun, Mantingan tidak akan mengingatnya untuk saat ini. Dirinya mesti berwaspada penuh terhadap Kartika. Dini malam tadi, Chitra Anggini memberi isyarat bahwa rombongan penari wayang ini turut serta memburu keberadaan Pahlawan Man, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya.


Seolah melihat sepercik kewaspadaan di mata Mantingan, Kartika kembali berkata, “Kami memang telah lama mencarimu, Pahlawan Man. Tentu dikau tahu bahwa sebagai perkumpulan bawah tanah, kami jarang memburu orang tanpa bermaksud membunuhnya.”


“Jika begitu, tidak usah dikau meminta bantuanku lebih jauh lagi.” Mantingan mengubah raut wajahnya. “Jika dikau hendak menyelesaikan urusan itu sekarang, maka daku bersedia.”


“Daku berubah pikiran.” Kartika tersenyum. Wajahnya mendadak pucat pasi. “Kutahu bahwa sekalipun diriku bersama seluruh anak buahku menyerang, kami tidak akan pernah bisa mengalahkanmu tanpa kerugian yang besar. Lagi pula, Pahlawan Man, daku membutuhkan bantuanmu sekarang ... racun dari Pendekar Kelewang Berdarah telah menyebar ke seluruh tubuhku.”

__ADS_1


__ADS_2