
PUAN Kekelaman memang tidak pernah berharap banyak sebelumnya, tetapi mendapatkan jawaban yang sedemikian pedas itu maka tergores pula benaknya.
Dengan sedikit bergemetar, dia berkata, “Tentang perkara itu, daku memang harus memohon ampunan maaf pada dikau. Tetapi, cobalah dikau membayangkan meski sedikit saja berada pada kedudukanku waktu itu. Kekuatan kelompokku terlalu lemah, kami terpaksa meminjam kekuatan yang lebih besar dari pihak luar. Daku hanya bisa mengandalkan daya pikir yang kumiliki untuk mengatur siasat demi siasat licik, demi mencapai tujuan yang kuanggap mulia bagi bersama.”
Mantingan menggelengkan kepalanya sembari membuang napas sesal. “Tetapi betapa pun, mesti kuakui bahwa daku merasa beruntung telah dikau jebak. Bila bukan begitu, daku tidak akan pernah bisa membunuh raja yang pada saat itu berada dalam tekanan luar biasa. Boleh jadi pula, Sepasang Pedang Rembulan masih berada di tangannya saat ini. Daku juga menghargai dikau yang tidak berniat mengambil sepasang senjata mestika itu.”
Sambil tersenyum, Puan Kekelaman membalas, “Daku telah berjanji tidak akan keberatan pada segala apa yang hendak dikau pertanyakan. Bertanyalah sepuas hatimu.”
“Di manakah Chitra Anggini?”
Pertanyaan tersebut sempurna membuat Puan Kekelaman kembali terbisu. Mantingan tidak mengubah pertanyaan. Sekali pemuda itu kukuh, maka kukulah ia sebagai mana mestinya.
“Bukanlah daku yang mesti menjawab pertanyaan itu untukmu, Pahlawan Man.” Puan Kekelaman tersenyum. Senyuman yang mampu meruntuhkan kekerasan hati siapa pun. “Biarlah dia yang mengaku sebagai Raksabhuni menjelaskannya kepadamu. Tetapi alangkah baiknya bila dikau tidak menyambutnya di kamar ini.”
“Raksabhuni?” Mantingan tetiba teringat akan pria dari jazirah padang pasir itu. Bukankah dialah yang hendak menuliskan segala kisahnya? “Kiranya daku harus menemui dia di mana?”
***
RUANG minum teh milik istana sungguh luar biasa indahnya. Datuk menuju datuk yang pernah memimpin Koying pastinya telah memberi perhatian besar pada ruangan ini, sebab betapa juga mereka membutuhkannya sebagai tempat untuk berpikir atau sekadar beristirahat dari penatnya urusan pemerintahan.
__ADS_1
Ruangan itu terletak di pinggiran kolam ikan yang cukup luas. Teratai-teratai hijau segar mengambang dengan tenang-tenang saja di permukaan air, beberapa di antaranya bahkan ada yang telah bermekaran bunganya, bersanding dengan laba-laba air yang bagai sudah menguasai ilmu meringankan tubuh sehingga dapat mudah berkedudukan di atas air dengan kaki-kaki mereka.
Rashid, atau yang bernama samaran Raksabhuni, tampak duduk bersila di belakang salah satu meja kecil dengan beberapa cangkir dan sebuah teko di atasnya. Meskipun matanya memandang jauh ke arah kolam ikan, dia jelas mengetahui bahwa Mantingan telah datang kepadanya.
“Rasa-rasanya telah begitu lama kita tidak bertemu, Rashid.” Mantingan menyapa saat ia sudah berada cukup dekat dengan Rashid.
Menatap Mantingan, pria berjanggut lebat itu tertawa lebar. “Tidak terlalu lama sebenarnya, tetapi memang begitu lama rasanya. Duduklah di sini sembari menikmati secangkir teh, saudaraku.”
Mantingan duduk bersila tepat di hadapannya. Rashid segera menuangkan teh ke dalam salah satu cangkir. Udara dingin kotaraja membuat uap dari minuman hangat itu semakin menjadi-jadi.
“Engkau kemari untuk menanyai keberadaan teman wanitamu itu, bukan?” tanya Rashid yang tidak dibalas apa pun oleh Mantingan sebab perkara pertanyaan seperti itu memang tidak memerlukan jawaban. “Daku akan memberi keterangan tentangnya di akhir pembicaraan kita nanti, sebab betapa juga kenyataan tentang perempuan itu akan cukup mengejutkan dirimu. Terlebih dahulu harus kuceritakan beberapa hal penting lainnya sebelum kita benar-benar berpisah.”
Meskipun sangat ingin mendapatkan kabar tentang Chitra Anggini sesegera mungkin, tetapi Mantingan sadar bahwa Rashid mengetahui yang terbaik untuk dirinya. Tidaklah patut meragukan susunan penceritaan dari seorang juru hikayat ulung.
“Kini, Puan Kekelaman telah mengambil alih permukiman tersebut. Dengan sedikit bantuan dari kekuatan luar, jaringan-jaringan pendekar penjual obat-obatan memabukkan telah pergi dari tempat itu. Jika tindakannya terkesan terlalu mudah dan cepat, maka kita harus mempertimbangkan segala macam cara yang dilakukan Puan Kekelaman bersama jaringan rahasianya di dunia persilatan bawah tanah.
“Penduduk di sana telah bersepakat menjulukimu sebagai ‘Pahlawan Muda Kebangkitan’. Tentu mereka tidak mengetahui siapa namamu. Sebuah patung batu besar sedang dipahat di tempat itu. Lebih hebatnya lagi, mereka menaruh sesajen bebungaan dan sedikit makanan di tempat yang telah disepakati sebagai kuil penghormatan untuk dirimu. Ini akan menjadi hal yang sangat menarik untuk kutuliskan dalam kisah perjalananmu.”
Mantingan tidak mengalami perubahan apa pun pada raut wajahnya. Bukan sebab tidak senang, ia hanya tidak memiliki cukup kepedulian maupun perasaan untuk menanggapi hal tersebut. Setelah segala sesuatu yang dilaluinya tiga hari lalu, pikirannya seperti telah kebas, hampir-hampir mati rasa.
__ADS_1
“Hal selanjutnya, mengenai kisahmu itu sendiri, daku tidak mengubah susunan kalimatnya terlalu banyak. Dikau cukup berbakat menyusun kata-kata. Dan setelah kubaca tuntas kisahmu dalam lampiran lontar-lontar itu, telah kuusulkan sebuah judul yang menurutku amat cocok untuknya: Sang Musafir.”
Dahi Mantingan berkerut. “Musafir?”
“Itu adalah bahasa dari tanahku untuk menyebut orang-orang yang mengembara atau sekadar berziarah menuju tempat yang jauh dengan tujuan mencari pembermaknaan hidup. Kurasa segala perjalananmu tidak hanya tentang melewati pertarungan menuju pertarungan demi mencari kepuasan sahaja, tetapi dikau justru lebih mencari makna dan pelajaran dari setiap pertarungan yang dikau lewati. Saat membaca semua itu, mataku yang sempit ini terbuka lebar.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. “Jika inginmu memang seperti itu, maka buatlah saja.”
“Tetapi, naskah itu bukan tanpa permasalahannya sendiri.” Rashid melanjutkan ceriteranya dengan raut wajah tak bagus, “kabar tentang dikau yang berbuat makar tidak mampu ditutup-tutupi lagi, meskipun Puan Kekelaman telah berusaha keras untuk itu. Sebentar waktu, kabar tersebut akan sampai ke Javadvipa, dan dikau besar kemungkinan tidak akan mendapatkan nama harum lagi. Daku tidak bisa dengan sembarangan menyebarkan naskahmu begitu saja pada khayalak luas. Hal itu hanya akan berakibat buruk pada keaslian naskahmu. Berkemungkinan, daku akan menyerahkannya pada orang atau perguruan terpercaya di Javadvipa untuk menjaga keutuhan kisahmu, agar tidak sampai dicampuri tangan-tangan pemerintahan.”
“Bukan masalah. Lakukan saja yang hendak dikau perbuat.”
Mantingan tidak merasa sukar bilamana didengarnya bahwa namanya tidak akan harum lagi. Kesedihan seperti itu tidak pernah sebanding dengan kematian gurunya sekaligus Tapa Balian. Tidak akan pernah.
“Naskahmu akan kujaga dengan sungguh-sungguh, Mantingan. Jika saja kehidupan abadi adalah sesuatu yang memungkinkan, daku akan menyumbang seluruh hidup untuk menjaga naskah itu hingga setidaknya dua ribu tahun lagi dari masa ini.”
Mantingan tidak menjawab, hanya tersenyum. Meskipun terdengar berlebihan, ia tahu bahwa apa yang diucapkan Rashid itu bukanlah sekadar bualan kosong. Dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya, tetapi apakah kiranya kehidupan abadi benar-benar dapat diraih makhluk lemah seperti manusia?
“Kini tibalah daku harus menjawab pertanyaan dikau tentang kawan perempuanmu yang bernama Chitra Anggini itu. Dia hanya meninggalkan surat padaku tanpa berkata banyak. Daku ingin dikau membacanya sendiri, tetapi barang tentu setelah dikau merasa siap betul menerima segala pernyataannya di dalam surat itu.”
__ADS_1
Mantingan mengernyitkan dahinya sekali lagi. Mengapakah Rashid berkata seolah saja Chitra Anggini membawa kabar yang teramat buruk dalam suratnya?
Bagai mengetahui pertanyaan di dalam benak pemuda itu, segera saja Rashid menyerahkan kepadanya selembar lontar yang telah terisi penuh dengan tulisan.