
MANTINGAN TERDIAM cukup lama. Apakah benar tiada lagi penyesalan dalam dirinya?
Tidak. Bukan alang kepalang, banyak penyesalan dalam dirinya. Terlalu banyak sehingga ia tak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar dirinya tersenyum damai. Seolah semua itu bukanlah beban baginya.
Mungkin Kana, Kina, atau Wiranti akan merasa tenang melihat senyuman itu, tetapi tidak bagi Bidadari Sungai Utara. Kedekatannya dengan Mantingan telah sampai ke taraf di mana mereka bisa memahami satu sama lain tanpa ucapan. Dia cemas. Senyum Mantingan jelaslah bukan senyum damai.
“Daku akan memanggil Bapak Rama ke sini. Mungkin dengannya, Saudara bisa merasa lebih baik.” Tanpa menunggu balasan dari Mantingan, gadis itu lekas bergegas pergi ke lantai dasar.
Ruangan kembali sunyi. Tak peduli sekeras-kerasnya desir angin.
Mantingan terbuai ke dalam renungannya. Apakah mesti dirinya menyesal? Bukankah penyesalan tidak banyak gunanya? Bukankah pemuda itu telah berjanji pada Rara untuk tidak menyesal atas apa yang telah diperbuatnya? Lalu mengapakah kini kepalang menyesal?
Sampai terdengarlah suara lembut nan syahdu yang membuyarkan perenungannya. Suara syahdu yang telah lama Mantingan nantikan. Suara yang mampu mengusir segala kemarahan dan kebencian dalam benaknya.
“Mantingan ....”
Mantingan menoleh ke arah suara itu. Dilihatnya Rara berdiri di dekat daun jendela, matanya lembut memandangi Mantingan. Bibirnya menyunggingkan senyum hangat.
“Rara ....” Mantingan membalas dengan mata berkaca-kaca. Sungguh kedatangan Rara telah membuatnya mengharu-biru.
“Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk tidak menyesal?”
“Dua ribu manusia telah kubunuh, Rara.”
“Mereka adalah manusia yang memang seharusnya dibersihkan.”
__ADS_1
“Bagaimana jika anggapan itu tidak benar?”
“Kebenaran adalah sesuatu yang pasti, tetapi jarang manusia dapat mengetahuinya. Begitu pula dengan Kesesatan, sesuatu yang pasti tetapi tidak mudah manusia mengetahuinya.”
“Apakah aku bisa mengetahuinya, Rara?”
Rara melangkahkan kaki mendekati Mantingan, sambil berkata, “Jika kamu mau, maka segenap alam semesta akan bersatu-padu membantumu.”
Tangan Rara merangkul pundak pemuda itu. Mantingan merasakan kehangatannya. Meskipun ia mengetahui bahwa ini sama sekali tidak nyata. Tetapi Mantingan tetap memejamkan mata untuk menghayatinya.
“Selama pengembaraanmu masih terus berjalan, penyesalan demi penyesalan akan terus datang bagai angin—datang lalu pergi. Sampai akhirnya kamu memahami, penyesalan tidaklah banyak berguna, melainkan jika kamu ambil pelajaran di dalamnya.”
Bayangan Rara menghilang tak lama setelah pintu terbuka. Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam ruangan. Ketua Rama berjalan di belakangnya dengan wajah khawatir. Namun keduanya dapat bernapas lega setelah melihat Mantingan dalam keadaan baik-baik saja.
“Anakmas berbaringlah, tidak perlu terlalu baku terhadapku.” Ketua Rama mengibaskan tangannya sambil terus berjalan ke sisi ranjang. “Bagaimanakah perasaan Anakmas, sudah lebih baik?”
Bidadari Sungai Utara menahan langkahnya, menyediakan ruang lebih bagi mereka untuk bercakap-cakap. Hendaknya pula tidak ingin terlibat ke dalam percakapan.
“Terima kasih atas perhatian Ketua, diriku baik-baik saja.” Mantingan tersenyum hangat. “Diriku sangat senang dapat berjumpa kembali dengan Ketua.”
Ketua Rama pula tersenyum, dirinya merasa baik bila Mantingan merasa baik pula. Tanpa perlu diminta lagi, Ketua Rama menceritakan alasan kedatangan Perguruan Angin Putih, yang secara tidak sengaja menyelamatkan jiwa Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.
“Pemerintahan Taruma mengirim utusannya ke salah satu padepokan kita, meminta Perguruan Angin Putih mengulurkan bantuan untuk menumpas Perkumpulan Pengemis Laut di Desa Lonceng Angin. Dirinya juga membawa lontar bertanda resmi dari Punawarman. Sebelumnya, daku memang sudah menyimpan kegeraman pada Perkumpulan Pengemis Laut, perkumpulan itu telah membunuh seratus murid Perguruan Angin Putih. Sehingga kusiapkan balatentara yang cukup untuk bergerak ke Tanjung Kalapa.
“Tetapi siapakah yang menyangka bahwa sesaat sebelum penyerbuan, kami melihat Desa Lonceng Angin terang benderang oleh cahaya api? Kami mengira bahwa telah terjadi kebocoran rencana, sehingga pendekar-pendekar dari Perkumpulan Pengemis Laut memilih membakar desa ketimbang harus menyerahkannya pada kami utuh-utuh. Tetapi kami putuskan untuk tetap menyerbu.
__ADS_1
“Dan siapakah pula yang akan menyangka bahwa kami akan bertemu dengan engkau ketika penyerbuan tengah dilangsungkan? Beruntunglah kami tepat waktu menyerang pendekar-pendekar yang berniat buruk terhadapmu dan Bidadari Sungai Utara saat kalian tak berdaya.” Ketua Rama tersenyum lebar, lalu ia menceritakan bagian utamanya, “nyatanya kami tidak banyak berbuat, Anakmas. Kami hanya menumpas sekiranya lima puluh pendekar yang hendak menyerangmu, sedangkan kami mendapati dua ribu pendekar lainnya telah tewas. Usut punya usut, itu adalah tindakanmu yang luar biasa. Perbuatan Anakmas telah menghancurkan Perkumpulan Pengemis Laut, perkumpulan mereka hanya akan menjadi nama di catatan kelam Tarumanagara.”
Bidadari Sungai Utara menatap Mantingan dengan cemas. Ia belum memberitahu kepada Ketua Rama untuk tidak menyinggung soal pembunuhan 2.000 pendekar malam itu. Dan seakan tanpa dosa, Ketua Rama mengungkapkan semuanya. Tetapi kemudian dilihatnya Mantingan masih dapat tersenyum hangat.
“Ya, Ketua Rama. Memang itu adalah tindakanku yang sungguh tidak beradab.”
“Sungguh tidak beradab? Apa katamu, Anakmas?” Ketua Rama mengerutkan dahi.
Mantingan tertawa kecil sebelum berkata, “Apakah dapat dikatakan tindakan beradab jika diriku telah membunuh 2.000 pendekar tanpa pandang usia dan tanpa memandang bulu sama sekali?”
“Tentu saja itu sangat beradab, Anakmas,” kata Ketua Rama. “Anakmas boleh beranggapan telah membunuh 2.000 pendekar, tetapi Anakmas harus pula beranggapan telah menyelamatkan belasan ribu hidup nyawa manusia tak bersalah. Anakmas mengetahui seberapa banyak orang tak bersalah yang dibunuh Perkumpulan Pengemis Laut?”
Mantingan menggeleng pelan.
“Mereka telah menghanguskan dua puluh desa berisikan ratusan hingga ribuan penduduk. Salah satunya adalah Desa Lonceng Angin sendiri.” Ketua Rama merapatkan giginya. Geram. Tangannya lalu menepuk pundak Mantingan. “Dikau tidak perlu merasa bersalah, Anakmas. Engkau telah menyelamatkan hidup belasan ribu orang tak bersalah lainnya. Sedangkan yang engkau bunuh hanyalah pendekar-pendekar bejat yang haus darah, penuh dosa dan akan terus menambah dosa. Tindakanmu itu dapat dikatakan tepat dan benar. Bergembiralah dan janganlah bersedih lagi.”
Mantingan mengangguk. Sungguh merasa lebih baik setelah Ketua Rama berkata seperti itu. Tetapi ada suatu hal yang masih mengganjal di dalam benaknya. Bagaimanakah nasib penduduk Desa Lonceng Angin yang rumah-rumahnya dihanguskan?
“Ketua, soal desa ini ... bagaimanakah keadaan penduduk-penduduknya.”
Ketua Rama mengangguk pelan, lalu berkata dengan khidmat, “Hampir seluruh penduduk Desa Lonceng Angin selamat, saat ini mereka tenang di dalam pengungsian. Sekiranya dua puluh pemuda gugur guna memberi waktu-waktu yang berharga bagi penduduk untuk mengungsi.”
“Dua puluh pemuda ....” Mantingan bergumam pelan. “Itu berarti ... mereka adalah pendekar? Mereka jelas pendekar tingkat ahli jika mampu menahan kepungan ribuan pendekar musuh, daku tidak menyadari keberadaan mereka sebelumnya.”
Baru sesaat Mantingan mengatakan itu, suara isak tangis perempuan terdengar mengisi kamar itu.
__ADS_1