
Mantingan tidak menoleh ataupun menjawab, tidak ada niatnya untuk makan malam. Bukankah makan malam tidak ada dalam perjanjian? Lagi pula, Mantingan tiba-tiba merasa harus membaca Kitab Tapak Angin darah lebih teliti lagi, ada sedikit kemungkinan bahwa kitab itu bukanlah kitab sejati.
Dara kembali memanggil Mantingan, bahkan kini ia menghampirinya.
“Mengapa engkau tidak menjawab?”
“Aku tidak lapar.”
“Tetapi tahukah dirimu bahwa itu sangat melecehkanku. Ayolah hargai aku sedikit saja. juga seharusnya engkau tahu bahwa nyawamu masih berada dalam bayang-bayang kematian."
Mantingan mengalihkan pandang ke arah Dara. Terlihat gadis itu tersenyum. Mantingan menghela napas panjang sebelum berdiri dari bangkunya, sepertinya ia tidak memiliki banyak pilihan lagi.
“Tapi sebelum itu, aku hendak bertanya,” kata Mantingan.
Dara mengernyitkan dahi. “Apakah itu? Katakan saja.”
Mantingan mengambil Kitab Tapak Angin Darah dan mengangkatnya tepat di depan wajah Dara. “Apakah kitab ini benar-benar kitab sejati?”
“Tentu saja, memangnya apa yang salah?”
“Aku tidak menemukan ilmu silat apa pun di sini.”
Dara memandang Mantingan seolah Mantingan adalah orang bodoh. “Hal itu tentu wajar. Kitab itu hanya dipahami jika engkau memiliki guru dari Perguruan Angin Putih, maka dari itu harga kitab ini sangatlah murah, karena tidak ada seorang pun yang bisa memahami isi kitab itu.”
“Lalu mengapa engkau jual kitab ini?”
Jika kitab ini tidak bisa dipahami oleh siapa pun, lalu untuk apa dijual sebagai kitab ilmu silat? Tentu sekiranya kitab ini tidak ada yang bisa memahaminya, sebab anggota Perguruan Angin Putih telah ditumpas habis oleh kerajaan Taruma. Mantingan tentu merasa ditipu, ia membeli kitab ini dengan hampir seluruh uangnya.
__ADS_1
Jika saja di lelang tadi Dara mengatakan bahwa Kitab Tapak Angin Darah adalah kitab untuk pajangan saja, maka dapat dipastikan Mantingan tidak akan membelinya. Jika sudah seperti ini, apa yang harus Mantingan lakukan dengan Kitab Tapak Angin Darah?
Dara tersenyum canggung. “Daku tahu bahwa daku salah, maka dari itu daku ajak engkau untuk makan malam.”
“Nyai, saya tidak mau ilmu silat ditukar dengan makan malam.” Mantingan berkata dingin. “Apakah cara Nyai mencari uang memang seperti ini?”
“Aku sudah pesan makan malam untukmu sebagai tanda permintaan maaf, apakah itu kurang cukup?”
Mantingan tidak habis pikir dengan cara pikir Dara ini. Yang Mantingan butuhkan adalah ilmu silat, bukan makan malam.
Tidak peduli seberapa mewah dan mahal makanan itu, Mantingan tetap tidak mau jika itu ditukarkan dengan ilmu silat. Uangnya juga tersisa sedikit setelah membeli Kitab Tapak Angin Darah itu, sedangkan Perguruan Angin Putih hampir tidak bisa diharapkan. Lalu, bagaimanakah cara Mantingan menguasai ilmu silat? Bagaimanakah Mantingan bisa membalaskan kematian Rara, Arkawidya, serta Birawa?
Namun pada akhirnya, Mantingan mengembuskan napas panjang, telah ia relakan 70 keping emas itu. Tidak mungkin Mantingan menuntut kitab ini dikembalikan, itu bukanlah perbuatan yang bijak. Mantingan mengangguk pelan, membuat Dara kembali tersenyum.
“Kalau begitu, ayo lekas ke meja makan, telah daku pesankan banyak makanan enak dari penjuru kota untukmu.”
Mantingan langsung terpikir akan nasib anak-anak yang mati di musim kemarau akibat tidak ada makanan, sedangkan di sini makanan seperti disia-siakan.
“Apa yang engkau tunggu lagi? Jangan sungkan, ayo makan!”
Mantingan terlebih dahulu mencuci tangannya pada sebuah mangkuk yang berisi air bersih, lalu mulai menyuap daging ikan bakar. Rasa ikan ini dapat Mantingan akui sangatlah lezat, entah berapa harganya jika tampilannya saja sudah sangat mewah seperti ini. Terdapat pula beberapa lalapan dan sambal, selebihnya adalah sayuran.
“Kita sudah cukup banyak bercakap-cakap,” kata Dara lalu. “Siapa namamu?”
“Mantingan.” Mantingan menjawab singkat.
“Hanya ‘Mantingan’ saja?”
__ADS_1
“Panggil saja begitu.”
Dara tersenyum tipis sebelum menyuap makanan. “Dan jika boleh daku ketahui, pekerjaan apakah yang tengah engkau geluti sekarang?”
Mantingan berpikir sejenak sebelum menggeleng.
“Kalau tidak ada pekerjaan, dari mana engkau dapat uang?”
Mantingan menghentikan gerakannya dan menatap Dara sejurus. “Daku merasa itu tidak perlu engkau ketahui.”
“Baiklah, aku hanya ingin memastikan dirimu tidak mencuri saja.”
“Caraku memperoleh uang bukanlah mencuri secara terang-terangan seperti perampok, bukan pula mencuri diam-diam.”
“Daku tahu engkau menyindirku.” Dara tertawa pelan. “Tetapi percayalah, Mantingan, daku tidak mencuri secara diam-diam ataupun secara terang-terangan. Biar daku katakan pada engkau, bahwa sangatlah wajar aku menaikkan harga barang. Mengapa itu dikatakan wajar? Tentu saja karena para tamu-tamu lelang sebagiannya datang hanya untuk melihat diriku. Pihak lelang yang menyewaku tidak mempermasalahkan itu, bahkan para tamu itu sendiri merasa senang.”
Sejujurnya Dara merasa heran pada Mantingan. Mantingan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya pada Dara, bahkan Mantingan cenderung mengacuhkannya. Dan sampai sekarang ini, hanya Mantingan yang tidak senang harga barangnya dinaikkan oleh Dara, padahal itu merupakan suatu kehormatan bagi tamu-tamu lelang yang lainnya.
Tetapi hal itu bertentangan dengan prinsip Mantingan, bahwa keindahan fisik bukanlah segala-galanya. Keindahan fisik akan luntur seiring berjalannya waktu, keindahan fisik juga seringkali membuat banyak masalah yang serius. Tetapi jika keindahan itu terdapat di dalam pikiran seseorang, dan kecantikannya terletak di dalam, maka itu akan bertambah matang seiring berjalannya waktu.
Kini Mantingan berpikir, apakah Punawarman bisa dikatakan sebagai raja yang gagal karena tak berhasil menjernihkan budi luhur rakyat-rakyatnya? Jika raja besar itu hendak menggali sungai dengan tangannya yang perkasa, bukankah raja itu juga harus menggali sungai yang mengalirkan budi luhur nan jernih untuk diminum rakyat-rakyatnya? Bukankah raja itu kabarnya sedang membangun sungai untuk pengairan sawah?
Bagi Mantingan, kegemilangan suatu kerajaan bukan hanya terletak pada seberapa gigihnya di medan tempur atau seberapa canggih peralatannya, melainkan terletak pada seberapa tinggi dan jernih budi luhur rakyatnya. Jika saja rakyat sudah jernih budi luhurnya, maka dapat dipastikan orang-orang yang berada dalam pemerintahannya pun sama jernihnya. Kalau saja semua itu dapat tercapai, maka di sanalah letak kegemilangan suatu kerajaan.
Orang-orang seperti tamu lelang itu tentu saja bukan orang yang memiliki budi luhur jernih, sedangkan mereka adalah orang dari Taruma. Dara juga merupakan salah satu orang yang tidak terlalu jernih budi luhurnya, terlihat gadis itu memanfaatkan kecantikannya untuk mencari uang.
Mantingan masih berharap Punawarman sadar bahwa dirinya bukan hanya perlu menggali sungai untuk pertanian, ia juga perlu menggali sungai yang mengalirkan budi luhur jernih untuk rakyatnya, budi luhur yang hanya memiliki satu sumber. Harapan itu masih bisa dipertahankan, mengingat Punawarman baru dua tahun menduduki tahta Tarumanagara.
__ADS_1