
Makan malam telah usai. Benar dugaan Mantingan, makanan di meja tidak benar-benar habis. Makanan-makanan itu diambil oleh beberapa orang yang sepertinya merupakan pelayan, tak tahu akan mereka bawa ke mana makanan-makanan berharga tinggi itu.
Dan malam semakin larut, tetapi di situasi ini tentu Mantingan masih belum bisa tidur. Sedangkan Dara sepertinya akan memejamkan mata sebentar lagi, kini dirinya sudah berada di atas kasur, berselimut tebal. Biarpun jendela kamar ini tidak terbuka, tetapi lubang saluran udara sudah cukup membuat udara kamar sangat dingin. Tidak dapat terbayangkan bagaimana dinginnya jika di luar sana.
“Hei, Mantingan. Daku sudah sering melakukan itu ... sehingga engkau bisa datang ke sini jika memang itu kehendakmu, tidak akan engkau mendapat masalah.”
“Berhenti bicara.”
Mantingan saat ini sedang duduk di belakang meja dan masih terus mencoba menemukan makna sebenarnya dari Kitab Tapak Angin Darah itu. Mantingan baca kitab itu berulang-ulang, sampai ia menyadari sebaris tulisan yang kiranya bisa mengarah pada gerakan silat.
Tulisan itu seperti ini:
saat tangan telah lurus menghadap langit, mintalah keberkahan dari-Nya, karena segala berkah datang dari-Nya
rasakan setiap detak jantung, pusatkan sebagian pikiran pada tempat di antara dua mata, alirkan keberkahan itu pada telapak tangan
jangan pakai keberkahan-Nya untuk melanggar hukum-Nya
Ada banyak hal yang bisa disebut sebagai “keberkahan dari-Nya”, bisa saja berkah makanan, kebahagiaan, atau banyak lainnya. Tetapi di Kitab Tapak Angin Darah ini berisi tentang ilmu silat, maka kemungkinan terbesarnya yang dimaksud sebagai “keberkahan dari-Nya” merupakan tenaga dalam.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memusatkan pikiran pada tempat di antara dua mata. Mantingan pernah belajar sedikit mengenai ilmu cakra dari teman-teman sebayanya di desa, bahwa terdapat satu titik cakra di antara dua mata dan sedikit di bawah dahi, tetapi Mantingan tidak pernah mencoba memusatkan pikiran di tempat cakra itu. Teman-teman sebaya yang pernah mencobanya mengatakan bahwa tubuh seperti melayang-layang, karena perasaan itulah yang membuat Mantingan enggan mencobanya dulu. Tetapi kini ia tak ada keraguan lagi untuk mencobanya.
Mantingan mengangkat tangannya ke atas, memusatkan pikiran di antara dua kelopak matanya. Mantingan memejamkan mata. Terus berpusat pikiran. Tetapi perasaan itu tidak kunjung datang.
***
Entah sudah berapa lama Mantingan berdiam diri di atas bangku dengan memejam mata dan berpusat pikiran pada dahinya, perlahan tapi pasti tubuhnya terasa seperti melayang-layang. Tetapi Mantingan tidak juga bisa mengalirkan perasaan yang sama kepada tangannya, tidak juga bisa ia gunakan sebagai pukulan mematikan.
Pada akhirnya, Mantingan membuka matanya dan menghela napas kecewa. Sebenarnya bukan hanya kekecewaan yang didapatkannya, tetapi juga rasa pusing dan mual akibat terlalu lama memusatkan pikiran di cakra itu. Mantingan masih belum terbiasa dengan perasaan tubuhnya yang seperti melayang-layang.
“Sepertinya aku memang tidak memiliki bakat,” gumamnya.
__ADS_1
“Bukannya tidak memiliki bakat, tetapi engkau tidak memiliki tenaga dalam.”
Mantingan menoleh, rupanya Dara belum tertidur.
“Untuk menguasai jurus kanuragan, engkau harus memiliki tenaga dalam.”
Mantingan menepuk dahinya. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu? Tentu dirinya masih belum memiliki tenaga dalam, maka tidaklah mungkin bisa menguasai ilmu kanuragan yang terdapat di Kitab Tapak Angin Darah ini.
“Selain engkau tidak memiliki tenaga dalam, bisa jadi juga engkau salah mengartikan apa yang terkandung pada kitab itu.” Dara menguap sekali. “Bisakah engkau mematikan lentera itu? Daku tidak bisa tidur dalam kondisi terang-benderang seperti ini.”
Mantingan berdiri dari bangkunya, bergerak meniup api di dalam lentera, menjadikan kamar gelap-gulita tanpa pencahayaan kecuali keremangan dari lubang saluran udara. Mantingan kembali duduk di bangkunya, memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
Tetapi sebelum itu, Mantingan berucap pelan pada Dara, “Maaf telah mengganggu waktu tidurmu.”
“Tidak mengapa, daku sudah terbiasa teebangun hingga larut malam seperti ini,” kata Dara. “Tapi daku yakin engkau tidak terbiasa tidur di atas bangku seperti itu.”
Mantingan tidak menjawab, kantuknya mulai menguasainya.
***
Mantingan bersiap membenturkan dua sikutnya serentak ke belakang. Ia yakin di belakangnya itu adalah Dara, karena jelas ia melihat dalam keremangan bahwa Dara masih tertidur di atas ranjang.
“Kami datang untuk menjemputmu.”
Mantingan meringis, kepura-puraannya terbongkar juga.
“Tidak perlu kau takut, dan jangan buat gaduh. Kami dari Perguruan Angin Putih.”
Mata Mantingan membeliak, sedikit lagi terkejut. “Bagaimana kalian bisa tahu?”
“Kami tidak memiliki banyak waktu, tetapi kami membutuhkan izin darimu.”
__ADS_1
Kini Mantingan berpikir, jika orang itu mengatakan kata “kami”, maka orang itu tidak sendirian. Dan jika memang mereka berasal dari Perguruan Angin Putih, Mantingan tiada keberatan hati sedikitpun.
“Apa buktinya kalian berasal dari Perguruan Angin Putih?”
“Semoga kau memahami tanda kami ini.”
Mantingan merasakan semilir angin yang melintasi lehernya, lalu berputar pelan di sekitar tubuhnya. Itu merupakan bukti yang cukup, mereka bisa mengendalikan angin.
“Apa itu cukup?”
“Cukup.”
Mantingan berdiri perlahan, ia berniat tidak membangunkan Dara. Keberadaan Perguruan Angin Putih yang ketahuan boleh jadi akan berbahaya, maka Mantingan memutuskan untuk pergi diam-diam. Tetapi rencananya itu gagal.
Dara meloncat dari tempat tidurnya dengan tangkas, seolah dirinya memang sudah menyadari keberadaan orang-orang di kamarnya sedari tadi. Di dalam kegelapan itu dapat dilihat kemilau pedang yang terjulur dari tangan Dara, lalu yang kamar diguncang sesaat oleh percikan api dan desingan pedang!
“Siapa kalian?” Terdengar Dara bersuara.
Tidak ada jawaban untuk sesaat, baik Dara maupun orang dari Perguruan Angin Putih masih menahan diri untuk tidak menyerang.
“Katakan siapa kalian?!” Dara bertanya lagi.
“Kami yakin kau telah mendengar semuanya.” Terdengar suara lain. “Jika kau tidak ada masalah, biarkan kami membawa pemuda ini.”
“Jadi benar Perguruan Angin Putih masih hidup sampai sekarang?”
“Tidak perlu kami jelaskan lagi, itu juga sudah menjadi rahasia umum.”
“Tetapi kalian tidak boleh seenak jidat menculik Mantingan!”
Terdengar suara helaan napas. “Wahai pemuda, katakanlah keputusanmu.”
__ADS_1
Jantung Mantingan berdegup sedikit lebih keras. “Nyai, biarkan daku ikut bersama mereka, karena memang inilah kehendakku datang ke kota maupun datang ke acara lelang. Dan mohon dariku, Nyai, janganlah beritahukan ini pada khalayak luas.”
“Kau akan bergabung dengan perguruan sesat itu, Mantingan?” Suara Dara serak, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.