
IBU WIRA menerima dua kantung berisi ratusan keping emas itu dengan tidak enak hati. Namun dalam benaknya, ia berjanji untuk melimpahkan sebagian besar keuntungan kepada Bidadari Sungai Utara.
Dan memang sebenarnyalah Mantingan bermaksud sedemikian rupa. Ia ingin memberi Bidadari Sungai Utara banyak uang, namun tidak mungkin memberikannya secara langsung. Sudah pasti Bidadari Sungai Utara akan menolaknya, atau bahkan tersinggung karena Mantingan terkesan mengasihaninya.
Dengan Mantingan membayar pengobatan begitu tinggi, sudah pasti Bidadari Sungai Utara akan mendapatkan banyak uang pula. Dan seandainya dirinya tahu bahwa Bidadari Sungai Utara sudah berkorban begitu banyak demi dirinya, maka Mantingan akan memberi 1.000 keping emas!
“Sekali lagi daku berterimakasih padamu, Ibu Wira. Pula kusampaikan rasa terima kasih yang terdalam pada Saudari Sasmita. Sesungguhnyalah uang dan ucapan terima kasihku tidak cukup membayar jasa kalian berdua.” Mantingan tersenyum hangat.
“Kuucapkan terima kasih kembali, Anak Man.”
Setelah itu, Bidadari Sungai Utara terlihat mengangguk sambil menghaturkan senyumnya.
“Sepertinya, ini sudah saatnya untuk pamit mengundurkan diri. Apakah ada sesuatu hal lain lain yang perlu disampaikan kepadaku?”
“Ada. Engkau datanglah setiap dua hari sekali kemari untuk menerima Ramuan Maman. Itu berarti, engkau datanglah besok, lalu datanglah lusa setelah esok hari.”
Mantingan mengangguk paham. “Jikalau begitu, daku mohon diri. Namun sebelum diriku pulang, izinkanlah daku untuk pergi ke belakang, memanggil Kana dan Kina.”
“Biarkanlah malam nanti daku yang mengantar mereka ke rumah Saudara.” Bidadari Sungai Utara berkata lembut.
“Jangan seperti itu, nanti Saudari pulang terlalu malam.”
“Daku akan menginap di rumah Saudara jika diizinkan.”
__ADS_1
Mantingan terdiam beberapa saat. Ingin ia menolak permintaan Bidadari Sungai Utara, namun ia tidak memiliki alasan untuk itu. Maka tiada pilihan lain baginya selain menerima.
“Datanglah sesuka hati dikau, Saudari. Kana dan Kina pasti akan senang atas kehadiranmu di sana.”
Bidadari Sungai Utara melebarkan senyumnya. “Terima kasih, daku akan datang nanti malam. Siapkanlah jamuan.”
***
WALAUPUN SEBENARNYA Mantingan tahu Bidadari Sungai Utara tidak sungguh-sungguh meminta jamuan, tetapi Mantingan tetap menyiapkannya. Meskipun itu berarti hanyalah jamuan kecil yang sederhana.
Di atas meja ruang utama itu, Mantingan menempatkan beberapa jenis manisan serta minuman segar untuk menyambut kedatangan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina.
Setelah memastikan tidak ada yang kurang di atas meja perjamuan, Mantingan kembali ke kamarnya di lantai dua. Ia duduk di belakang meja, berhadapan dengan Kitab Teratai.
Maka dari itu, Mantingan berpikir bahwa dirinya memang harus meluangkan waktu khusus untuk mempelajari Kitab Teratai. Walaupun tentu saja ia tidak bisa memahami semua isi kitab dalam satu waktu saja.
***
SAAT BIDADARI Sungai Utara datang membawa Kana dan Kina, Mantingan masih berada di dalam kamarnya. Saat Kana ingin mengabari Mantingan bahwa mereka telah tiba, Bidadari Sungai Utara melarangnya melakukan hal itu.
“Kakak Man pasti sedang mempelajari kitab di dalam kamarnya, alangkah tidak baiknya jika kita mengganggu.”
Kana segera mengerti duduk perkaranya, langsung saja mengurungkan minat untuk mengabari Mantingan. Dia mengerti bagaimana seorang pendekar membutuhkan ketenangan saat mempelajari isi kitab. Tidak baik mengganggu Mantingan. Tak peduli apakah nantinya Mantingan marah atau tidak marah, tetap saja perbuatan itu tidak sopan jika dilakukan.
__ADS_1
“Lihatlah ini.” Bidadari Sungai Utara menunjukkan beragam kudapan di atas meja. Memanglah benar mereka sedang berada di ruang tengah, hingga kini ketiganya dapat melihat bergama kudapan yang telah disiapkan oleh Mantingan. Namun ketiga orang itu sepakat, suasana makan akan teras hambar tanpa kehadiran Mantingan.
Namun, mau buat macam mana lagi?
Sedangkan itu, Mantingan masih berkutat dengan Kitab Teratai. Saat ini, ia sedang mempelajari bagian pertama dari kitab tersebut. Dan percayalah, bahwa pada bagian pertama saja, sudah sangat banyak pelajaran hidup yang Mantingan dapatkan. Ayat demi ayat tercantum di kitab itu, bahasanya mengalir begitu saja bagaikan sedang menceritakan sebuah dongeng. Namun alangkah mengejutkan, jika dalam sebuah ayat mengandung lebih dari satu pelajaran kehidupan.
Jelas dapat dipahaminya, bahwa Kitab Teratai tidak berisi dongeng. Bukan omong kosong. Sejarah yang terkandung di dalamnya bukan sejarah yang dibual-bualkan. Kitab Teratai adalah salah satu kitab terpadat yang pernah Mantingan pelajari. Bahkan jika dipelajari lebih teliti, kitab ini akan semakin padat saja.
Pemahaman Mantingan bertambah pesat. Seolah Kiai Guru Kedai tengah mendidiknya saat ini juga. Kitab Teratai bukanlah kitab yang suka menasihati orang. Kitab itu berisi seruan yang tegas. Jika ingin menerapkan ajarannya, maka lakukanlah dengan beesungguh-sungguh. Dan jika tidak ingin menerapkannya, maka akan dianggaplah orang itu sebagai musuh. Sudah membaca kitab, namun hanya lintas lalu saja, tanpa mau mengambil pelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Apakah yang dibacanya itu adalah kitab suci? Dengan kata lain, apakah Kitab Teratai adalah kitab suci? Jika benar, lalu apakah ia lebih suci ketimbang ratusan kitab suci lainnya?
Tidakkah ada seseorang datang kepada ahli kitab dan bertanya, “Kitab suci manakah yang lebih suci?”
Sudah pasti yang menjadi jawaban ahli kitab itu adalah kitab panutannya. Atau setidak-tidaknya, kitab yang dianggap paling suci. Padahal, pendapat setiap orang bisa berbeda.
Sebenar-benarnyalah dari Kitab Teratai, Mantingan memahami bahwa kitab suci memang cukup banyak, tetapi tidak turun berbarengan. Kitab suci baru akan turun saat dunia berada dalam kegelapan. Namun, bukan berarti setiap kitab yang tercipta waktu itu adalah kitab suci.
Tentu yang dimaksud kegelapan bukanlah kegelapan malam, namun kegelapan zaman. Kitab-kitab suci tidak turun berbarengan, melainkan turun pada masing-masing zamannya. Zaman kegelapan. Namun meski tidak diturunkan berbarengan, ajaran di dalam kitab suci tetaplah sama. Tetap asli dan akan terus asli. Meluruskan ajaran kitab suci yang telah turun sebelumnya.
Namun yang di tangan Mantingan sekarang ini adalah kitab suci ataukah bukan? Dan jika memang benar merupakan kitab suci, kapankah kitab ini diturunkan? Apakah pada masa terang atau gelap?
Begitu larutnya Mantingan menyelami lautan ilmu yang terkandung di dalam Kitab Teratai. Seakan-akan menemukan harta karun tersembunyi, yang baru bisa didapatkan jika memanfaatkan akal pikiran dengan penuh. Banyak pertanyaan yang semulanya tak terjawab, kini dapat terjawab. Memahami Kitab Teratai benar-benar membuka pikirannya.
__ADS_1
Seolah menemukan sebatang obor untuk menuntunnya berjalan di tengah malam. Gelap gulita. Mengungkap banyaknya tabir yang ditutup-tutupi kegelapan pekat. Menemukan semut hitam di atas batu hitam, di tengah gelapnya malam tak berbintang atau berbulan.