
“Wanita wayang?”
BIDADARI Sungai Utara mengangguk dengan semangat. “Ya, wanita wayang!”
“Engkau ingin diriku melihat wanita berpakaian amat sedikit dan tembus pandang itu menari-nari di depanku?”
“Kurasa iya dan kurasa tidak. Tetapi bukankah memang seperti itu cara lelaki meraih kesenangan?”
Mantingan tersenyum kaku. “Tidak semuanya berlaku seperti itu, Saudari.”
“Dikau tidak senang pada wanita wayang?” Bidadari Sungai Utara bertanya dengan nada memanjang, bagaikan merasa amat sangat heran dengan apa yang Mantingan katakan.
“Daku senang-senang saja,” jawab pemuda itu. “Tetapi daku hanya senang pada kesenian yang mereka sajikan, bukan pada hal-hal lain.”
“Hmm. Sangat jarang ada lelaki muda seperti dirimu, Mantingan. Itu mengartikan bahwa dikau tidak akan terhibur dengan wanita-wanita wayang, bukan?”
Namun Mantingan menggeleng. “Daku tidak tahu apakah akan terhibur atau tidak, sebab diriku tidak pernah menonton wanita wayang.”
“Kalau begitu, dikau harus coba menontonnya.”
“Di lain waktu saja.”
“Mengapa tidak sekarang?”
“Daku harus menjagamu dan anak-anak di sini.”
Bidadari Sungai Utara kembali bergumam sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sedang Mantingan masih saja tersenyum dengan kaku, karena merasakan betul perubahan sikap Bidadari Sungai Utara yang tidak diketahui sebab-musababnya.
“Lalu apakah yang mampu membuatmu terhibur, Saudara?”
Masih dengan senyum kakunya, Mantingan menjawab, “Pemandangan alam dapat membuatku terhibur.”
“Ya sudah! Pergilah keluar dan carilah pemandangan alam yang indah. Temukanlah tempat-tempat baru dan orang-orang baru.”
“Bukan sekarang waktunya.” Mantingan kembali menjawab dengan jawaban yang sama sambil menggeleng pelan.
Bidadari Sungai Utara memanyunkan bibirnya dengan tampang kecewa. Melihat raut wajah seperti itu, Mantingan benar-benar tidak bisa menahan pernyataannya.
“Saudari, kurasa ada yang aneh dari sikapmu ini ....”
“Tidaklah. Daku hanya ingin engkau merasa bahagia.” Bidadari Sungai Utara menjawab dengan memelas.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bidadari Sungai Utara yang hanya sekalimat itu telah mampu pula membuat Mantingan luluh.
“Tidaklah seseorang selalu merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.” Mantingan berkata sedemikian karena ia tidak bisa membohongi diri bahwa sekarang sedang bahagia. “Kadang kalanya sedih, kadang kalanya takut, kadang kalanya kecewa, kadang kalanya marah. Namun kendati demikian, semuanya patut dinikmati. Dan itulah yang membuat rasa bahagia terasa jauh lebih berkesan.”
***
MANTINGAN teringat bahwa ini adalah hari kelimanya di Penginapan Bunian Malam, maka dari itu, ia segera bergerak turun ke lantai bawah. Bukankah pedagang ikan sewajarnya datang ketika hari masih pagi?
Mantingan menunggu di bangku sudut kedai. Secangkir teh hangat bersanding dengan sebuah kudapan di mejanya. Terdapat pula sebuah kitab sastra untuk dibacanya sambil menunggu.
Penampilannya tidak banyak berubah dari siasat penyamaran. Rambutnya masih tergelung ke atas, diminyaki dengan daging lidah buaya agar nampak hitam mengilap. Segala macam bulu di wajahnya dicukur habis hingga nampak klimis sebagaimana penampilan anak muda kebanyakan.
Mantingan minum teh, membaca kitab karya sastra, dan sesekali menyuap kudapannya dalam rangka menunggu kehadiran penjual ikan yang akan menyampaikan pesan dari Padepokan Angin Putih di dalam perut ikan dagangannya.
Mantingan tidak ingat betul apakah pedagang ikan yang akan datang merupakan murid dari Padepokan Angin Putih atau justru merupakan penjual ikan yang sebenar-benarnya, hanya saja penjual ikan itu adalah orang suruhan yang pastinya dibayar mahal untuk menjamin kerahasiaan tugasnya.
Tak lama setelah Mantingan larut dalam pemikirannya, ia menyadari bahwa telah terjadi keributan di dekat pintu masuk penginapan.
“Tuan, sahaya hanya ingin menawarkan ikan pada tamu-tamu penginapan sahaja! Tidak lebih dan tidak kurang!” Seorang bertampang seperti pedagang lusuh yang memikul dua keranjang di pundaknya berkata dengan nada memohon pada penjaga penginapan yang menghalangi langkahnya.
“Maaf, Anak Muda! Aturan Penginapan Bunian Malam telah jelas, tidak ada orang luar yang boleh berdagang di dalam penginapan.”
“Hanya sekali ini saja, Tuan! Sahaya membutuhkan uang untuk naik kapal ke Suvarnadvipa!”
“Ayolah, Tuan, hanya sekali ini saja! Sahaya berjanji tidak akan berlama-lama.” Pedagang muda itu memohon-mohon sampai berlutut. Sedang Mantingan mulai bangkit dari bangkunya.
“Anak Muda! Daku masih memintamu dengan cara halus, jangan kaupaksa diriku untuk mengusirmu bagai memperlakukan binatang!”
“Tuan sungguh tega! Biarlah sahaya masuk, sahaya berjanji tidak akan memakan waktu hingga sepeminuman teh!”
“Ah! Dikau keras kepala betul!” Tangan kekar penjaga itu meraih lengan si penjual muda, dengan lantas menariknya kasar untuk menjauh dari pintu masuk penginapan.
Mantingan cepat-cepat menghentikannya dengan berteriak dari jauh. “Saudara, hentikan!”
Penjaga itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mantingan yang berjalan mendekat.
“Lepaskanlah dia, daku akan memastikannnya tidak masuk ke dalam penginapan.”
Mengetahui bahwa Mantingan merupakan salah satu dari tamu penginapan, dan pula melihat bahwa penampilan Mantingan yang tampak seperti orang terdidik, maka penjaga itu melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan si penjual ikan dan berterimakasih kepada Mantingan.
Sedangkan itu, Mantingan lekas mengajak si penjual ikan menuju ke salah bangku panjang yang terletak di halaman penginapan.
__ADS_1
Setelah duduk tenang di atas bangku, barulah penjual ikan itu berujar, “Terima kasih engkau telah menolongku, Saudara. Apakah engkau ingin membeli salah satu ikanku?”
“Ya.” Mantingan menjawab sambil tersenyum. “Pilihkanlah satu ekor yang paling baik.”
Dengan semangat, penjual ikan yang tampaknya masih berumur belasan tahun itu lekas mengambil seekor ikan mentah di atas keranjang dagangannya, yang kemudian dibungkusnya menggunakan sehelai daun talas lebar yang terlihat sama segarnya.
“Berapakah harganya, Saudara?”
“Harganya hanya lima keping perunggu sahaja, Saudaraku. Daku mendapatkan ikan-ikan ini dari sebuah telaga yang banyak anginnya.”
Mendengar itu, Mantingan melebarkan senyumnya. Tidak salah lagi jika yang dimaksudkan “telaga yang banyak anginnya” itu adalah Perguruan Angin Putih.
Mantingan mengeluarkan sekeping perak. Namun sebelum memberikannya, lebih dahulu ia bertanya, “Apakah engkau tinggal di telaga yang berangin itu, Saudara?”
“Tidak.” Pedagang muda itu menjawab santai. “Tetapi jika daku memiliki kesempatan, diriku ingin sekali tinggal di sana.”
“Dan benarkah bahwa engkau menginginkan belayar ke Suvarnabhumi?”
Anak muda itu mengangguk mantap. “Daku ingin mencari tanaman obat untuk ibuku yang sakit-sakitan.”
Setelah mendapat jawaban itu, Mantingan menyimpan kembali sekeping peraknya untuk kemudian ditukarkan dengan sekeping emas.
“Berapa harga sekali pelayaran?”
“Lima puluh keping emas,” jawab si pedagang muda masih tanpa keraguan.
“Datanglah lagi ke penginapan ini setiap lima hari sekali, bawalah ikan terbaik dari telaga berangin itu.”
“Daku mengerti!”
Mantingan kemudian mengulurkan sekeping uang emas itu kepadanya. “Ini tidak seberapa, tetapi terimalah semuanya.”
Pedagang muda itu tampak tidak menyangka. Baru saja dirinya ingin menyiapkan uang kembalian untuk Mantingan, tetapi ia tidak mengira bahwa seluruh uang itu diberikan kepadanya. Tetapi betapa pun, dia bukanlah jenis orang yang suka membuang-buang berkah.
“Terima kasih, Saudaraku!” katanya setelah menerima sekeping emas itu dari tangan Mantingan.
_____
catatan:
Tahu perbedaan orang awam dengan pembaca Sang Musafir tercinta ketika melihat kelebatan bayang-bayang?
__ADS_1
Jika orang awam akan menyangka bahwa itu hantu, dan berlari ketakutan. Maka pembaca Sang Musafir akan menganggapnya sebagai pendekar, dan dengan penasaran menunggu pertarungan tak kasat mata yang akan berlangsung sebentar lagi.