Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan Melawan Raja Kalajengking


__ADS_3

“Mantingan, kau sedang dalam bahaya besar!”


“Rara?”


BENAR YANG Mantingan dengar itu adalah suara Rara. Yang sudah sekian lama tidak muncul. Yang sudah sekian lama Mantingan ingin lupakan. Kini suara itu muncul kembali. Seolah menguak rindu lama yang hampir tertutup.


“Mantingan, aku akan mengingatkanmu, Kiai Guru Kedai pernah memperingatimu jika bertemu dengan kalajengking sebanyak ini. Mantingan, seharusnya kau sudah menyadari sejak kalajengking-kalajengking itu tidak ragu menyerang kalian."


Mantingan terdiam beberapa saat sambil terus melangkah mundur. Lalu sesaat kemudian ia menyadari bahwa dirinya tengah berhadapan dengan bahaya yang sangat besar. Mantingan menoleh pada Bidadari Sungai Utara di belakangnya.


“Lari sejauh mungkin ke belakang.” Mantingan berkata pelan, setengah berbisik. Ia menyerahkan Lontar Sihir Cahaya di tangannya pada bidadari rawa-rawa itu.


“Aku tidak bisa, aku tidak bisa.” Bidadari Sungai Utara menggeleng kuat. “Bagaimana jika di belakang ada kalajengking lain yang menyerangku?”


Mantingan menatapnya tajam untuk beberapa saat, lalu kembali ia berkata, “Hampir tidak ada kalajengking di belakang. Jikapun ada, itu hanya sedikit. Gunakan pedangmu untuk melawan mereka.”


“Mantingan, kau mau meninggalkanku sendirian di goa yang menyeramkan ini?”


“Saudari Sungai Utara, dengan segala hormat aku tidak berniat mencelakakanmu atau meninggalkanmu. Pergilah ke belakang, maka kau akan selamat. Jika kau di sini, bersamaku, kau akan celaka. Mengerti?”


“Mantingan, aku tetap takut!” Bidadari Sungai Utara sudah tidak dapat dibendung rasa cemas dan ketakutannya.


Betapa bayangannya jika berlari sendirian sama saja seperti mengantar nyawa. Tetapi ia juga mengetahui bahwa apa yang akan Mantingan hadapi bukanlah bahaya kecil, yang ia sendiri belum tentu bisa mengatasinya. Maka dari itu, Bidadari Sungai Utara berada dalam kebimbangan. Nyata betul ketakutannya saat ini.


Mantingan mengeluarkan selembar lagi Lontar Sihir Cahaya. Menekuknya, lalu bercahayalah. Mantingan sekali lagi melirik Bidadari Sungai Utara dengan lirikan yang tajam.


“Pergi sekarang, atau tidak untuk selamanya.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara merasakan keseriusan Mantingan sudah mencapai tingkat tertingginya. Mantingan tidak main-main. Bahaya yang datang sungguh besar. Pergi sekarang atau tidak selamanya bukanlah perkataan main-main. Gadis itu menegup ludahnya, berbalik dan berlari sambil menutup setengah matanya.


Setelah merasa Bidadari Sungai Utara sudah cukup jauh, Mantingan kembali menghadapkan kepalanya ke depan. Tatapannya saat ini lebih tajam ketimbang tatapannya pada Bidadari Sungai Utara tadi.


“Mantingan, ingat, hadapi dengan kepala dingin. Racun dari raja kalajengking bisa membunuhmu dalam waktu singkat. Kau harus berhati-hati.” Di dalam kepala Mantingan, Rara berkata cemas.


Mantingan menyunggingkan senyum walau keadaannya saat ini tidak bisa dikatakan baik. Senyum untuk Rara. Menunjukkan betapa ia tetap mencintai Rara apa pun situasinya.


Mantingan masih terus melangkah mundur perlahan-lahan. Kalajengking yang datang semakin bertambah, berlipat ganda. Tetapi tidak ada yang cukup dekat untuk menyerangnya. Mantingan pula masih meraba gagang pedang. Siap mengeluarkannya untuk menghadapi musuh yang sesungguhnya.


Samar-samar dari kejauhan, Mantingan melihat dua bulatan cahaya merah berkilauan. Merah dan mengancam. Mantingan tahu apa yang ia hadapi saat ini. Maka Mantingan memutuskan untuk menghentikan langkahnya.


Sesaat setelah Mantingan berhenti, terdengar suara desisan yang luar biasa keras. Memenuhi lorong goa yang sunyi. Menusuk telinga hingga dalam-dalamnya. Mantingan tidak gentar. Ratusan kalajengking yang semula mengejar Mantingan, kini berhenti, bahkan perlahan-lahan mulai mundur.


Sedangkan dua bulatan berkilauan merah itu semakin maju mendekat. Perlahan-lahan Mantingan bisa melihat wujudnya. Mantingan mendengus pelan. Di depannya adalah makhluk yang disebut-sebut sebagai raja kalajengking. Jaran sekali dijumpai, tetapi sekalinya ditemui selalu di bagian terdalam goa. Panjang raja kalajengking ini hampir menyamai manusia, sekiranya satu depa. Tingginya kurang dari setengah depa. Ekor racunnya melengkung, panjangnya melebihi panjang tubuhnya sendiri.


Mantingan tidak mengerti bahasa binatang, terutama bahasa kalajengking. Maka kemungkinan perdamaian yang bisa ia dapatkan sangatlah kecil, sedangkan kemungkinan bertarung yang ia dapatkan sangatlah besar. Makhluk besar di depannya juga terlihat tidak ingin berdamai.


Mantingan mundur selangkah dan menyelipkan Lontar Sihir Cahaya pada dinding lorong yang retak, sebelum dua tangannya menggenggam gagang pedang dengan posisi kuda-kuda yang mantap.


Mantingan ingat perkataan Kiai Guru Kedai tentang cara menghadapi pemimpin kalajengking. Yang tercepat adalah pemenangnya. Biasanya, raja kalajengking akan menyerang menggunakan ekornya dengan kecepatan melebihi kecepatan kilat. Itu cukup untuk langsung membunuh mangsanya dengan racun juga dengan luka.


Sedangkan setelah pemimpin kalajengking dikalahkan, kalajengking-kalajengking lain yang berada di bawah kepemimpinannya akan menyerang secara brutal. Tak peduli mati, untuk apalah mereka hidup jika pemimpinnya telah tiada.


Mantingan merasa raja kalajengking ini sudah sangat berbahaya, tidak ada jaminan dapat mengalahkannya. Bahkan jika berhasil dikalahkan sekalipun, Mantingan tetap harus menghadapi ratusan bahkan ribuan kalajengking gila yang menyerangnya.


Pertarungan akan terjadi dengan sangat cepat. Tak kasat mata. Mengantar nyawa ke alam baka dalam waktu yang singkat pula.

__ADS_1


“Rara, jika aku mati nanti, aku tidak akan menyesal. Setidaknya aku akan menyusulmu.” Mantingan berkata pelan sambil tertawa kecil.


“Jika kau mati, gadis cantik yang menjadi tanggungjawabmu itu akan mati.” Rara berkata dengan suara datar.


“Jadi kaucemburu?”


“Jelas saja.”


“Itu artinya kau masih mencintaiku."


“Aku mencintaimu. Selamanya.”


Raja kalajengking membuat pergerakan. Mantingan sudah siap sedari tadi. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, Mantingan mengentak kaki ke depan. Kalimat Rara berhasil membuatnya semangat bertempur.


Seluruh pergerakan seakan tampak lambat di mata Mantingan. Ia dapat melihat secara perlahan ekor kalajengking besar itu bergerak mendekatinya dan ia juga dapat merasakan betapa dirinya melayang dengan kecepatan luar biasa tetapi tetap tampak lambat.


Dalam kecepatan melebihi kecepatan kilat ini, tubuh Mantingan tidak dapat dilihat lagi sebagai bayangan yang jelas. Ia menjadi tak kasat mata. Hal yang sama terjadi pada raja kalajengking itu, ekornya tak tampak lagi, menjadi bayang-bayang pecah.


Mantingan semakin mendekati tubuh si kalajengking, tetapi itu sebenarnya bukan perkara yang baik. Sebab semakin ia mendekati tubuh raja kalajengking itu, sama saja Mantingan mendekati ekor beracun itu.


Memang ini pertarungan soal kecepatan. Yang paling cepat adalah pemenangnya.


Mantingan berada di atas tubuh raja kalajengking. Ujung ekor berbisa kalajengking itu tepat berada di depan wajahnya, kurang dari seperempat depa. Sekuat tenaga Mantingan mengayunkan pedangnya ke atas. Bukan perkara mudah melakukan segalanya dalam kecepatan tinggi, terkadang tubuh sulit digerakkan sesuai dengan kehendak pikiran. Sedangkan ujung ekor berbisa itu semakin mendekati wajah. Siap menghancurkan kepala Mantingan berkeping-keping.


___


catatan penulis:

__ADS_1


I'm back!


__ADS_2