
PAGI ITU masih sangat indah. Malahan, keindahannya bertambah. Burung-burung masih berkicauan. Burung ****** terbang berkelompok, menciptakan pemandangan indah di atas langit, hendaknya mereka mencari pesawahan atau rawa-rawa terdekat. Matahari bagi semakin menunjukkan kehangatannya. Kabut turun dari lereng perbukitan perlahan namun pasti.
Tetapi teramat disayangkan jika pagi yang indah itu harus dilalui dengan pertarungan yang menuntut pertumpahan darah. Mengharuskan setiap yang terlibat mati-matian mempertahankan hidup. Seolah tiada kedamaian yang dapat mereka raih lagi, sehingga kekacauan tampak lebih baik untuk dipilih. Padahal hutan sedang menunjukkan salah satu contoh kedamaian semesta.
Pendekar-pendekar musuh mulai berkelebat keluar dari dalam kegelapan hutan, melaju menuju Mantingan beserta pendekar-pendekar yang bersamanya.
Mantingan dapat melihat musuh cukup jelas. Mereka benar-benar berasal dari Perkumpulan Pengemis Laut yang pakaiannya selalu compang-camping, serta merupakan pendekar berkeahlian teramat rendah. Ratusan pendekar melaju sekaligus, dan akan terus bertambah dari dalam hutan.
“Saudari, kekuatan kita cukup besar untuk melumpuhkan musuh.” Mantingan berkata sesaat sebelum bentrokan terjadi, “sebisa mungkin, jangan bunuh mereka.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk. Paham betul sifat Mantingan.
Setelah itu keduanya berbalik badan, menghadap ke arah yang saling berbeda. Pedang mereka terhunus walau sarungnya tidak terlepas. Maka dengan ini, tidaklah satu musuh pun yang bisa menyerang mereka dari belakang maupun samping, karena Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saling melindungi.
Ketika bentrokan akhirnya terjadi, muda-mudi itu mulai maju menyerang. Punggung mereka tetap bertempelan ketika memainkan Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan. Langkah kaki sepasang pendekar itu teramat ringan. Dalam banyak kesempatan, mereka lebih sering menggunakan sebelah kaki ketimbang menggunakan dua kedua kakinya.
Selayaknya burung bangau, mereka melayang-layang. Turun ke bawah hanya untuk menyambar lawan sebelum melenting kembali ke atas, selayaknya menyambar ikan saja. Pendekar-pendekar musuh dilumpuhkan dengan cara dipukul atau ditotok pada titik-titik tertentu. Mereka akan lumpuh untuk selama-lamanya.
Mantingan merasa bahwa para pengemis gila uang seperti mereka tidak dapat diceramahi atau ditaruh kepercayaan.
Tidak seperti cerita-cerita kepahlawanan seorang pendekar aliran putih yang mampu meluruskan banyak pendekar aliran hitam, padahal sebelumnya pendekar-pendekar itu telah terjerumus pada kesesatan duniawi—kesesatan yang sangat nyata.
Kenyataannya, pendekar-pendekar yang sudah terlanjur menikmati kelamnya hidup, dan yang telah diberi peringatan tetapi justru mengindahkannya, maka sulit bagi mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka akan terus menikmati kesesatan sampai ajal menjemput. Sekalipun kembali ke jalan Kebenaran, seringkali mereka menjelma menjadi manusia berwajah dua, berlaku khianat.
__ADS_1
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara terus berlentingan. Saling memunggungi. Bersatu-padu, mereka melumpuhkan musuh tanpa membunuhnya sama sekali. Kekuatan gabungan itu telah membuat mereka hampir tak terkalahkan. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saling melindungi dari segala sisi. Pula dapat menyerang ke segala arah.
Jelasnya, mereka menguasai hampir seluruh jalannya pertempuran. Sedangkan pendekar lain di pihak kawan, terkesan hanya membantu saja.
Setelah tidak ada lagi pendekar yang keluar dari dalam hutan, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara mendaratkan diri tanpa berlentingan lagi. Keduanya tersenyum di atas rintih kesakitan dari lawan-lawan yang berhasil mereka lumpuhkan.
“Bunuh saja kami!”
“Sempurnakanlah hidup kami sebagai pendekar terhormat!”
“Kalian orang-orang berduit, seenaknya melumpuhkan pendekar tanpa bertanggungjawab atasnya!”
“Heh, dikau yang bernama Mantingan? Sempurnakanlah hidupku dengan pedangmu, agar daku bisa mati sebagai pendekar sejati!”
Akan tetapi, hal itu tidak terjadi pada dua pendekar dari laskar khusus Taruma. Sebagai prajurit yang mengabdi kepada negara, mereka telah dilatih untuk memusnahkan pengacau-pengacau di dalam negara. Tiadalah belas kasihan sekalipun pada pengemis-pengemis haus harta yang membuat Taruma berada dalam kekacauan. Dengan tombak dan kelewang di masing-masing tangan, mereka berlentingan mencabuti nyawa musuh.
“Saudari, pertempuran telah usai. Engkau tidak akan menempel di punggungku seharian, bukan?” Mantingan berkata dengan nada canggung pada Bidadari Sungai Utara.
Gadis itu berdeham beberapa kali setelah menyadari letak kesalahannya. Segera ia memisahkan diri beberapa langkah dari Mantingan. Menanggung malu.
Dua pendekar dari Taruma menghampiri Mantingan setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Tiga murid Perguruan Sungai Utara pun ikut berkumpul. Pakaian mereka penuh bercak merah, kecuali Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, tentu saja setelah mereka menyarungkan bilah pedang untuk menyerang lawan.
Orang berjanggut yang semula menentang Mantingan kini bersimpuh lutut di depannya. Begitu pula dengan kawannya. “Telah kami lihat kehebatan dua pendekar yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Ini telah meyakinkan kami berdua, bahwa Saudara adalah Pahlawan Man yang selama ini kami junjung tinggi-tinggi. Maafkanlah atas tindakan kami yang tidak sopan ini, kami berhak menerima hukuman!”
__ADS_1
Orang itu menghaturkan kelewangnya yang yang telah dibersihkan dari noda darah kepada Mantingan. Pandangannya tetap menunduk. Berputus asa, tetapi tetap siap menerima segala macam hukuman.
Mantingan menggeleng. “Daku memang Mantingan, tetapi daku tetaplah manusia biasa seperti kalian, dan dengan kedudukanku saat ini, daku tidak mungkin untuk menjatuhkan hukuman pada kalian. Sekarang bangkitlah, pasanglah kewaspadaan Saudara berdua.”
Dua prajurit itu berdiri dengan senyum mengembang di bibir mereka. Sungguh Mantingan memenuhi harapan mereka. Dan benar apa kata khayalak luas tentang diri Mantingan.
Mantingan mengadah ke langit. Sungguh sangat cerah dan syahdu pemandangan langit yang bersih dari awan. Sayang sekali, pemandangan di darat tidak se-syahdu langit. Mayat-mayat bergelimpangan. Tanah basah, dan itu bukan disebabkan oleh air hujan atau tetesan embun pagi dari daun talas yang segar.
“Jadi, Saudara-Saudara dari Perguruan Angin Putih. Bisakah daku mengutus salah satu dari kalian untuk pergi ke Desa Lonceng Angin guna menyampaikan kabar ini ke padepokan? Mereka harus menyiagakan diri untuk menghadapi segala macam ancaman serangan.”
“Kami semua bersedia, Saudara. Pilihlah siapapun dari kami.” Mereka berkata hampir bersamaan.
Mantingan tidak mau menghabiskan waktu terlalu banyak untuk mempertimbangkannya, maka ia pilih salah satu dari pengawal kereta kuda. Sedangkan satu pengawal yang tersisa, ia tugaskan untuk menyampaikan kabar ini ke Perguruan Angin Utara.
“Ambil salah satu kuda untuk pergi ke perguruan pusat. Saudara akan kabarkanlah apa yang perlu dikabarkan. Mungkin saja perguruan pusat bisa mengirimkan sedikit pendekar Pasukan Topeng Putih untuk memastikan keamanan desa. Jangan sampai rencana ini bocor.
“Dan Saudara, engkau akan pergi ke Desa Lonceng Angin untuk mengabarkan apa yang perlu dikabarkan. Saudara lebih aman bergerak tanpa kuda.”
Mantingan telah berpikir masak-masak. Bagi para pendekar, kuda adalah pisau bermata dua. Dapat menguntungkan, dan dapat pula merugikan. Kuda dapat menempuh perjalanan jauh dengan laju yang cukup cepat, tetapi menunggangi kuda berarti memperlihatkan diri kepada musuh maupun teman.
Sedangkan seorang pendekar, meskipun dapat melesat berkali-kali lipat kecepatan kuda, tetap saja tidak mampu menempuh perjalanan jarak jauh dengan kecepatan seperti itu.
Mengingat kereta kuda telah hangus terbakar tanpa bisa terselamatkan, Mantingan memilih untuk memanfaatkan dua kuda yang tadinya bertugas menarik kereta. Tetapi ia harus membaginya.
__ADS_1
“Sedangkan satu kuda yang tersisa akan kupakai untuk membawa muatan. Kami akan tetap melanjutkan perjalanan ke Perguruan Angin Putih.” Selanjutnya ia berbicara pada kusir kuda. “Saudara, engkau ikut bersamaku.”