Sang Musafir

Sang Musafir
Keterdiaman Sebelum Pertarungan


__ADS_3

NAMUN, ALANGKAH cepatnya Elang Putih menarik diri sebelum bilah pedang berapi itu benar-benar menyentuh lehernya. Dilontarkanlah tubuhnya ke depan, menghindari serangan Mantingan di belakangnya. Elang Putih menggunakan segenap kemampuannya untuk bergerak cepat, sebab nyawanya bukan main sedang terancam!


Mantingan tidak berhenti meski serangan pertamanya tidak membuahkan hasil. Ia melesat mengejar Elang Putih yang pula melesat.


Begitulah mereka berkelebatan dari pucuk pohon ke pucuk pohon manakala hujan sedang lebat-lebatnya. Diayunkan pedangnya dengan sangat cepat, sehingga Elang Putih akan melihatnya bagai puluhan serangan meski diketahuinya bahwa hanya ada satu serangan saja!


Sebab bilah Pedang Kiai Kedai masih memancarkan api yang tetap menyala sekalipun diguyur hujan lebat, sinar api dari bilahnya akan mencipta bayangan berlipat ganda dalam sekali ayun. Bahkan bagi pendekar berpengalaman selayaknya Elang Putih masih sulit membedakan mana serangan asli dengan serangan bayangan.


Mantingan juga memanfaatkan gulita malam untuk mengecoh penglihatan lawannya. Mantingan menyembunyikan pedang hitamnya di balik kegelapan dan menciptakan beberapa garis berapi yang akan tampak seperti bilah pedang.


Pertarungan terus berlangsung. Elang Putih benar-benar kewalahan seiring berjalannya waktu. Menghadapi belasan serangan dari Mantingan akan terasa seperti menghadapi ratusan serangan sekaligus.


Maka setelah dirasa takmampu menahan serangan pemuda itu lagi, Elang Putih memutuskan untuk melesat secepat mungkin ke arah kawannya, Elang Hitam, yang masih bertarung dengan Bidadari Sungai Utara.


Secepat kilat Mantingan menyusulnya, khawatir Elang Putih akan membantu Elang Hitam untuk mengalahkan Bidadari Sungai Utara. Tentu gadis itu tidak akan sanggup menghadapi dua pendekar tingkat tinggi sekaligus.


Benar seperti yang diduganya, Elang Putih meluncur dan menghunuskan pedangnya ke arah Bidadari Sungai Utara yang sama sekali taksadar sedang diserang dari belakang. Ketika pedang Elang Putih hampir mencapai leher gadis itu, Mantingan lebih dahulu hadir untuk menangkis bahkan membalas serangan tersebut. Mantingan membuat sebuah tusukan ke arah jantung Elang Putih yang sama sekali tidak terlindungi.


Melihat bahwa Elang Putih akan mati jika terkena serangan itu, Elang Hitam lekas menarik serangannya yang semula terarahkan kepada Bidadari Sungai Utara menjadi ke arah Mantingan. Pada akhirnya, Mantingan pun menarik serangannya untuk menangkis serangan Elang Hitam.


Elang Putih dan Elang Hitam melontarkan diri jauh ke belakang. Mengambil jarak yang cukup jauh dari Mantingan. Di waktu yang hampir bersamaan, Bidadari Sungai Utara berkelebat ke samping Mantingan. Alangkah senangnya gadis itu dapat melihat Mantingan kembali ke sisinya.


Hujan semakin lebat. Petir menyambar kian kemari. Pula dengan desir angin yang seolah hendak mengalahkan gemuruh guntur. Beberapa pohon mulai bertumbangan, tak sanggup menghadapi badai.


Di tengah kekacauan itu semua, Elang Hitam memunculkan suara disertai tenaga dalam. “Wahai Pahlawan Man dan Bidadari Sungai Utara, mengapakah kalian berdua memerangi kami sedang tiada secuil pun permusuhan di antara kita?”

__ADS_1


Mantingan tersenyum. Bukannya menjawab, ia justru berbicara pada Bidadari Sungai Utara, “Hendak mencoba bersilat lidah dengan mereka? Kuserahkan ini padamu.”


Bibir manis Bidadari Sungai Utara tersenyum di balik cadarnya, gadis itu membuka suaranya lantang-lantang, “Apakah kalian masih juga tidak menyadari bahwa kami sedang melindungi permaisuri dari Negeri Taruma?”


“Tetapi itu tidak akan banyak memberi keuntungan pada kalian berdua, justru memberi kerugian yang teramat besar. Ketahuilah bahwasanya dikau, Bidadari Sungai Utara, masih sangat dicari oleh pendekar-pendekar terkuat di dunia persilatan! Bayaran untuk menangkapmu hidup-hidup sangatlah tinggi. Kami bisa saja melepaskanmu dan melupakan bahwa kami pernah berjumpa denganmu, tetapi itu akan kami lakukan jika engkau melepas tangan dari segala urusan kami. Bagaimanakah keputusanmu?”


Bidadari Sungai Utara melirik Mantingan, meminta persetujuan. Dengan senyum yang masih mengembang, Mantingan menganggukkan kepalanya.


Gadis itu menarik napas panjang sebelum berkata, “Baiklah, kami telah bersepakat ....” Bidadari Sungai Utara sengaja menahan perkataannya, membuat Kembaran dari Gomati menunggu dengan benak dipenuhi rasa penasaran. “Kami tidak setuju. Sama sekali tidak setuju.”


Tentu saja Elang Putih dan Elang Hitam tidak senang dengan jawaban itu. Bidadari Sungai Utara pun dirasa telah mempermainkan keduanya. “Tidakkah kalian berdua takut akan kematian?”


Dengan cepat Bidadari Sungai Utara membalas, “Biar bagaimanapun, setiap manusia akan mati pada akhirnya. Tidak peduli seberapa pendek atau panjang umurnya, manusia akan diperhitungkan dari apa yang diperbuat semasa hidupnya.”


Mantingan tersenyum lebar. Ia sering mengatakan itu pada Bidadari Sungai Utara jika gadis itu terlalu takut menghadapi kematian. Gadis itu tidak takut lagi akan kematian. Perkataannya mengandung keyakinan dan tekad yang amat tinggi.


“Ini berarti permusuhan bagi Kembaran dari Gomati,” kata Elang Putih sebentar kemudian. “Disebabkan oleh perbuatan kalian sendiri, maka di antara kita telah tercipta permusuhan yang dalam. Kami berdua akan menempur kalian dengan sungguh-sungguh.”


Bidadari Sungai Utara kembali membalas, kali ini dengan nada sinis, “Jika memang itu kemauan kalian sejak awal, mengapakah kalian banyak bicara? Tuntaskan segera pertarungan ini tanpa perlu banyak bicara.”


Elang Putih dan Elang Hitam menggeram. Menahan kemarahan yang akan merugikan jika dibiarkan keluar. Mereka segera merapatkan diri satu sama lain dengan pedang terhunus ke depan sedangkan sebelah kanannya diarahkan ke atas seolah menadah air hujan. Mantingan segera menyadari jurus yang akan mereka gunakan.


“Rasakanlah Jurus Rajawali Melantak Awan!” Berkata Elang Putih dan Elang Hitam bersamaan.


“Itu merupakan jurus kesepasangan, Saudari.” Mantingan mendekatkan diri pada Bidadari Sungai Utara. “Mari kita mainkan Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara lekas mengerti. Segera keduanya saling memunggungi. Setelah itu mengangkat kaki kirinya masing-masing. Inilah permulaan dari Jurus Bangau Menyambar Ikan.


“Tunggu mereka menyerang lebih dulu, Saudari.” Mantingan memberi bisikan angin pada Bidadari Sungai Utara. Dari punggungnya, ia merasakan Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepala.


Akan tetapi, Kembaran dari Gomati agaknya berpikir sedemikian pula. Mereka tidak pula melancarkan serangan. Sama diamnya dengan Bidadari Sungai Utara dan Mantingan. Tiada membuat gerakan meski diterpa angin kencang.


Memanglah sudah menjadi rahasia umum yang telah diketahui oleh pendekar-pendekar di sungai telaga persilatan bahwa membuka serangan pertama untuk musuh yang batas kekuatannya tidak diketahui bukanlah tanpa tanggungan yang besar. Meskipun Elang Putih telah bertarung dengan Mantingan, dan Elang Hitam telah bertarung dengan Bidadari Sungai Utara, mereka masih belum mengetahui batas kekuatan keduanya jika digabungkan dalam satu jurus berkesepasangan.


Kembaran dari Gomati juga tidak mengetahui apakah keduanya menyembunyikan kekuatan selama pertarungan singkat tadinya. Selalu dapat diketahui bahwa pendekar yang menyembunyikan kekuatan sesungguhnya merupakan pendekar paling berbahaya untuk ditempuri.


Yang dialami Mantingan dan Bidadari Sungai Utara adalah sama. Itulah alasan mengapa keduanya masih belum membuka serangan.


Dalam riuhnya badai, kedua pihak masih terus terpaku. Ketika pepohonan bagai diempas ombak besar, bergoyang-goyang tiada terkira, mereka berempat masih kokoh tanpa bergeser barang sejengkal saja.


Menunggu adalah hal terbaik yang dapat dilakukan. Dalam pertarungan ini, ketidaksabaran akan berbuah kematian.


___


catatan:


Saya lupa mengabarkan. Hanya nama fiksi yang saya ambil dari pikiran sendiri atau browser. Selebihnya, seperti nama tokoh sejarah, saya ambil dari catatan sejarah yang ada. Selayaknya Punawarman dan Prameswari, saya ambil dari catatan sejarah.


Lalu, mengapa kemarin malam saya update hanya sedikit saja? Saya hanya merilis ±1.000 kata dari yang seharusnya 2.000 kata.


Saat itu, saya sedang mendapat inspirasi berlebih. Saya putuskan untuk lebih banyak menulis, dan hanya rilis satu episode saja.

__ADS_1


Terus dukung Sang Musafir dengan one like, one comment, one share.



__ADS_2