
PEDATI yang ditumpangi Mantingan dan Chitra Anggini kembali bergerak. Munding menariknya perlahan memasuki kotaraja. Mantingan menyandarkan punggung di pinggiran pedati, tepat di sebelah Chitra Anggini yang kini mulai bangkit duduk.
“Chitra, sekarang jawab pertanyaanku.” Langsung saja raut wajah Mantingan terlihat bersungguh-sungguh. Ditatapnya Chitra Anggini lamat-lamat. “Katakan kepadaku yang sebenar-benarnya. Sejujur-jujurnua. Apa pun jawabanmu, aku tidak akan marah.”
“Pertanyaan apa?” Chitra Anggini memotong, dirinya tidak pernah melihat kesungguhan Mantingan seperti ini hanya untuk sebuah pertanyaan. Perempuan itu khawatir jika salah satu rahasia besarnya terbongkar. Tetapi setelah dia pikirkan kembali, rahasia besar semacam apakah yang mampu membuat Mantingan seserius itu?
Di sisi lain, Chitra Anggini juga tidak mau kehilangan pemandangan kotaraja—yang mungkin saja telah berubah banyak semenjak terakhir kali dia datang.
“Apakah kau adalah wanita jadi-jadian? Maksudku, apakah kau ini sebenarnyalah lelaki, tetapi kemudian berubah menjadi wanita?”
Chitra Anggini tenganga, begitu lebarnya hingga seolah saja dagunya itu akan menyentuh tanah!
Melihat keterkejutan Chitra Anggini, Mantingan segera menyadari bahwa terdapat sesuatu yang aneh dari pertanyaannya. Namun sungguh, ia tidak mengetahui keanehan macam apakah itu!
“Tadi kau mengatakan sedang menjadi wanita. Secara jujur, dengan sebenar-benarnya jujur, aku tidak mengerti itu berarti apa. Tolong jelaskanlah.”
Chitra Anggini mengubah raut wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Tangan perempuan itu meremas bahu Mantingan, lantas menggeleng perlahan. “Aku sangat mengasihanimu, Mantingan. Dan aku sama sekali tidak menyangka bahwa dalam beberapa perkara, terutamanya perkara wanita, pengetahuanmu teramat sedikit. Nanti akan kujelaskan panjang lebar setelah kita tiba di pusat penampungan. Untuk saat ini, aku hanya akan mengatakan kepadamu bahwa aku adalah wanita yang sebenar-benarnya wanita. Aku bukan wanita jadi-jadian atau apa pun itu. Kau mengerti?”
Mantingan menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak terasa gatal. “Aku sudah meninggalkan rumah saat masih berusia belasan. Tentang perkara wanita, orangtuaku belum banyak mengajarinya kepadaku.”
Chitra Anggini kembali menggeleng iba. “Baiklah, aku akan mengajarimu banyak hal tentang wanita nantinya, termasuk cara memperlakukannya dengan sebaik-baiknya pula. Tetapi untuk sekarang ini, aku sama sekali tidak mau melewati pemandangan kotaraja dari dalam, dan kurasa kamu juga tidak mau melewatkannya.”
...***************...
MANTINGAN segera menyadari bahwa dirinya telah memasuki wilayah Kotaraja Koying, sebuah kota yang dikatakan bahwa besaran dan kecanggihannya tidak berbanding jauh dari Kotaraja Chang’an milik Wangsa Jin di Negeri Atap Langit.
__ADS_1
Segera ia mengalihkan pandang, menatap keluar pedati, dan seketika itulah pula dirinya terperangah!
Mantingan sungguh tidak mampu berkata-kata lagi. Apa yang terlihat di hadapannya sekarang ini bagai sebuah mimpi, penuh dengan keajaiban!
Jalanan memiliki lebar sekitar sepuluh pedati yang dijajarkan, namun meskipun telah selebar itu, masih saja sesak oleh lalu-lalang yang bukan main banyaknya. Jalanan dilapisi bata kelabu dengan tiada cacat barang sedikitpun, halus bagaikan pualam.
Yang mengisi jalanan itu adalah pedati-pedati kerbau milik pedagang, kereta-kereta kuda milik bangsawan, dan orang-orang kota yang semuanya memiliki kesibukan serta urusan mereka masing-masing. Beberapa orang tampak berpenampilan asing, berwajah putih bagai kapas, bermata sedikit sipit, dan mengenakan pakaian yang sungguh lain dari orang-orang kota di sekelilingnya. Mereka itulah pedagang-pedagang dari Negeri Atap Langit yang singgah untuk menjual kain sutra serta obat-obatan, dan pergi dengan membawa rempah-rempah.
Sedangkan di kedua sisi jalan itu, berdirilah bangunan-bangunan besar yang menjulang tinggi, sehingga untuk melihat puncaknya mestilah mendongakkan kepala terlebih dahulu. Sebagian besar bangunan itu terbuat dari bata putih atau kelabu, sedangkan sebagian kecil lainnya berbahan kayu mengilap yang kualitasnya tiadalah perlu diragukan lagi.
Namun, ada satu hal yang tak Mantingan dapati meski sejauh mata memandang. Tidak ada anak-anak yang bermain sihir sambil berlarian bersama kawannya. Meski tidak dipungkiri bahwa Mantingan merasakan hawa sihir yang begitu kental semenjak ia memasuki kotaraja, tetapi di manakah anak-anak yang bermain sihir?
Di antara bangunan-bangunan tinggi itu, terdapat beberapa menara yang jauh lebih tinggi lagi. Itukah pagoda-pagoda yang disebut sebagai penanda waktu? Mantingan melihat cahaya berwarna jingga berpijar di pucuk menara, menandakan bahwa hari masihlah terbilang pagi; Kala Bangun.
“Kita baru sampai di gerbang kota, jadi kamu jangan berharap bisa melihat anak-anak kecil yang bermain dengan mantra-mantra sihir. Mereka ada di sudut-sudut kota, daerah pemukiman,” jelas Chitra Anggini.
“Belok kanan, Munding!” Chitra Anggini berteriak keras saat mereka telah tiba di sebuah persimpangan. Mengalahkan suara ramai kota. Jari telunjuknya terarah ke salah satu jalan di persimpangan itu.
“Ongng!” Munding Caraka membalas dengan suara keras, arah kakinya berubah sedikit ke kanan. Betapa cerdasnya kerbau itu, mampu mengerti bahwa manusia yang seharusnyalah tidak dimengerti kerbau dekil bagai tiada berkecerdasan seperti dirinya!
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini,” kata Chitra Anggini dengan nada yang tidak bagus. “Seharusnya pengunjung baru yang masih berasal dari Suvarnadvipa tidak mesti menjalani karantina, kecuali jika terlihat tanda-tanda bahwa pengunjung itu mengidap penyakit luar biasa yang bisa menular.”
Mantingan mengangkat bahunya. “Mungkin prajurit di pintu masuk itu melihat bahwa kita berdua merupakan orang Javadvipa.”
“Siapakah yang berkata padamu bahwa aku adalah orang Javadvipa?” Chitra Anggini mengerutkan kening saat menatapnya. “Ibuku, bapakku, nenekku, kakekku, nenek buyutku, kakek buyutku, dan seterus-terusnya merupakan orang Suvarnadvipa sejati.”
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Tampangmu tidak jauh berbeda dari perempuan-perempuan Javadvipa kebanyakan.”
“Tidak jauh berbeda dari perempuan-perempuan Javadvipa kebanyakan katamu?” Chitra Anggini menatap Mantingan dengan setajam-tajamnya. “Apakah wajahku yang teramat cantik ini terlihat seperti perempuan kebanyakan?!”
Mantingan tertawa pelan sambil jahil menjentik hidung mancung perempuan itu. “Baiklah, baiklah! Kau memang tidak terlihat seperti perempuan kebanyakan, sebab perempuan manakah yang bisa mengalahkanmu ketika mengumpat?”
“Aku mengumpat seperti itu juga ada alasannya.” Chitra Anggini menepis tangan Mantingan dari batang hidungnya. “Dan aku juga tidak suka jika kau menyentuhku lagi.”
Mantingan kembali mengedarkan pandang ke luar pedati. Pemandangan kotaraja sungguh terlalu berharga untuk dilewatkan. Tersenyum lebar. Sungguh luar biasa.
“Pusat penampungan terletak di sebelah utara, sengaja dibangun dekat dengan pelabuhan. Betapa pun, karantina lebih dimaksudkan pada pendatang asing yang kebanyakan dari mereka datang menggunakan kapal layar.” Chitra Anggini menyandarkan punggungnya di pinggiran pedati. Dengan khidmat memandangi segala kegiatan di jalanan kotaraja. “Dengan kecepatan kita sekarang, seharusnya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di sana.”
Mantingan mengepalkan tangannya. Betapa dirinya telah teramat dekat dengan Tapa Balian, tetapi masih tetap diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk menyelamatkannya.
Chitra Anggini bisa melihat kegelisahan Mantingan, sehingga dirinya berkata, “Bersabarlah, Mantingan. Kita telah benar-benar dekat dengan tujuan, jadi janganlah kita merusak segala-galanya hanya karena tidak sabar.”
Mantingan mengangguk pasti. “Perjuangan kita baru saja akan dimulai. Ini semua belum apa-apa.”
***
MANTINGAN, Chitra Anggini, dan Munding Caraka sampai di pusat penampungan sementara pagi pendatang luar. Namun sebelum masuk ke dalamnya, mereka mesti berbanjar terlebih dahulu di luar gerbang utama bersama puluhan pedati lain, menunggu petugas-petugas mencatat riwayat mereka, di sanalah mereka akan mendapatkan lencana pengenal.
Mereka telah cukup lama menunggu di sana, membuat siapa pun akan merasa bosan serta letih, dan mungkin rasa bosan itulah yang membuat Chitra Anggini kedapatan sedang menguap panjang beberapa kali.
“Ini juga akan memakan waktu yang lumayan. Barisannya tidak pernah sepanjang sekarang, dan petugas-petugas itu sepertinya mengerjakan tugas mereka dengan bermalas-malasan.” Chitra Anggini berkata malas. Sama seperti para petugas pencatat riwayat pendatang baru yang dikatainya sedang bermalas-malasan. Menopang dagunya dengan punggung tangan. “Lihatlah di pinggir jalan itu. Banyak kedai minum tuak, untuk juragan-juragan yang bosan menunggu di dalam pedati. Mereka enak saja, tinggal menitipkan pedati dan kerbau pada budaknya, lantas bermabuk-mabukan bersama wanita-wanita penghibur itu.”
__ADS_1