Sang Musafir

Sang Musafir
Ada dan Ketiadaaan


__ADS_3

Saat ini, hanya tiga dari tujuh cakra Mantingan terisi oleh tenaga dalam. Pertempuran tadi telah benar-benar menguras tenaga dalamnya.


“Apakah bertarung di kala senja memang merupakan kemampuan dikau, wahai Cagak Kesatu?” Mantingan bertanya untuk memastikan.


“Perkiraanmu benar. Dan benar pula apa kata orang banyak bahwa dikau mampu membaca pertanda.”


“Kurasa tidak cukup sudah basa-basi ini, Cagak Kesatu.” Mantingan mengangkat Pedang Kiai Kedai setinggi dada. “Pertarungan ini harus segera kita rampungkan. Sehingga jelas siapakah yang kalah dan siapakah yang menang.”


***



CAGAK Kesatu membalikkan tubuhnya sambil tertawa pelan. Tampaklah wajahnya yang telah uzur.


Seharusnya amat memalukan jika dia sampai harus mengatur segala macam siasat hanya untuk mengalahkan seorang pendekar yang usianya jauh lebih muda daripadanya.


Mantingan masih berusia dua puluh saat ini, tetapi dirinya telah mampu menghindari serangan dari seorang pendekar yang mungkin saja berusia lebih dari enam puluh itu dengan sangat sempurna. Bukankah kenyataan itu bakal tambah memalukan lagi bagi Cagak Kesatu?


Maka Mantingan memasang kewaspadaannya penuh-penuh. Meski tampak amat sangat tenang di hadapan Cagak Kesatu yang berkeahlian tinggi itu, serta berada di tengah-tengah hamparan mayat manusia yang hampir tiada dapat dikenali lagi bentuknya, tetapi sebenarnyalah Mantingan tidak setenang yang kelihatannya.


Dilihatnya Cagak kesatu yang pula mulai mengangkat pedangnya setinggi dada. Lelaki tua itu sudah diduga akan menderita rasa malu yang luar biasa hebatnya jikalau sampai dikalahkan di tangan Mantingan, maka jalan satu-satunya baginya adalah melawan Mantingan berapa pun harga yang harus dibayarnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa pendekar tua itu akan menggunakan cara-cara gila untuk mengalahkan Mantingan.


Sedangkan Mantingan harus berwaspada penuh. Telah disebutkan sebelumnya bahwa hanya butuh kelengahan sebesar ibu jari saja untuk memisahkan nyawa dari tubuhnya.


Mantingan mulai dengan menjura kepada pendekar itu, yang dibalas pula dengan juraan. Mereka mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak sebelum memasang kuda-kuda.


Mantingan masih menyebarkan nafsu pembunuhnya ketika ia memikirkan jurus seperti apakah yang sekiranya mampu mengalahkan lawannya dalam keadaan remang-remang dia senjakala?

__ADS_1


Mantingan pula memperhitungkan bahwa Cagak Kesatu tidak akan mungkin berani menghadapinya tanpa memiliki keahlian khusus untuk menghadapi pertarungan dalam keadaan senjakala.


Maka dapat dianggap bahwa lawannya unggul satu langkah di depannya, atau bahkan lebih dari satu langkah itu; Mantingan tidak terlalu mengetahui, ia belum bertarung dengan Cagak Kesatu.


Hingga akhirnya diputuskanlah bahwa dirinya akan tetap menggunakan Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang.


Meskipun sebenarnyalah jurus tersebut dikhususkan untuk menghadapi banyak lawan. Namun untuk saat ini, Seribu Rembulan Melahap Bintang menjadi satu-satunya jurus pengecoh yang mampu Mantingan kuasai.


Cagak Kesatu mulai mengencangkan genggaman pada pedangnya. Seolah sengaja memberi isyarat pada Mantingan bahwa dirinya akan menyerang.


Mantingan mengambil waktu untuk memperkirakan maksud dari tindakan Cagak Kesatu yang mempererat genggaman pada pedangnya itu. Agak mustahil jika seorang pendekar tua yang ahli seperti Cagak Kesatu secara tidak sengaja memperlihatkan tanda-tanda bahwa dirinya akan menyerang.


Dan agak mustahil pula jika Cagak Kesatu sengaja memperlihatkan gerak-gerik seperti itu untuk menipu Mantingan. Sebab telah pasti dirinya mengetahui, bahwa seseorang yang mampu dengan mudah menghindari serangannya adalah seseorang yang sangat tidak mudah untuk ditipu.


Saling menatap satu sama lain. Dua pendekar itu masih mencari cara agar mampu mengalahkan lawannya dengan cepat dan ringkas.


Namun sesaat kemudian, dua pendekar itu sudah saling mengentak kakinya dan berkelebat maju. Dalam kecepatan yang melebihi kecepatan kilat, keduanya menyunggingkan senyum. Pendekar bukanlah orang pemalas, maka pendekar tidak akan berpikir bahwa pertarungan yang akan dihadapinya seharusnya berjalan dengan cepat dan ringkas.


Setelah bertukar saling bertukar serangan, Mantingan dan Cagak Kesatu terus melesat meninggalkan satu sama lain, dan seolah saja menghilang di balik keremangan senjakala.


Mereka berlentingan dari satu bangunan ke bangunan lain. Tidak saling mengejar, dan tidak pula salah satunya merasa dikejar. Hanya menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan.


Sedangkan itu, Pedang Kiai Kedai di tangan Mantingan masih bergetar setelah pertukaran serangan barusan.


Harus Mantingan akui bahwa pedang lawan sebenarnya dapat saja langsung merusak pedang miliknya dengan hanya sekali serang, namun beruntunglah bahwa Mantingan memiliki tenaga dalam yang cukup untuk membuat pedang di tangannya itu menjadi sekuat senjata pusaka.


Dan setelah pertukaran serangan itu, Mantingan mengetahui bahwa keunggulan lawannya terletak pada pedang mestikanya yang tembus pandang. Tentu saja hal tersebut amat sangat menipu, sebab pedang itu sebenarnya ada, namun tampak tiada!

__ADS_1


Berbeda dengan Pedang Kiai Kedai yang dilapisi mantra sihir bercahaya terang. Jelas-jelas menunjukkan keberadaannya. Namun tetap saja amat menipu, sebab yang kelihatannya ada sebenarnya tidak ada!


Begitulah senjakala, bukan? Ketika ada dan ketiadaan tidak mampu dibedakan dengan jelas. Sesuatu yang ada bisa saja terlihat tiada. Dan sesuatu yang tiada bisa saja terlihat ada.


Pertarungan masih terus berlangsung, antara ada dan ketiadaan. Mereka tidak bertarung di satu tempat saja, melainkan berpindah-pindah dari sudut ke sudut. Berkelebat di tengah pertempuran antara Pasukan Topeng Putih dengan Pasukan Macan Gunung yang semakin berkecamuk setelah Mantingan berhenti membantai pendekar-pendekar.


Pertarungan Mantingan dengan Cagak Kesatu dapat dikatakan berlangsung dengan seimbang. Tidak satupun dari mereka menderita luka, dan tidak juga satupun dari mereka berhasil mengenai lawan dengan pedangnya yang saling mengecoh.


Jika dilihat dari kejauhan, maka pertarungan mereka sebenarnya sangat indah. Mantingan menciptakan garis-garis cahaya dengan Pedang Kiai Kedai, sedangkan Cagak Kesatu dengan pedangnya yang tidak kelihatan itu menghentikan kilatan cahaya secara tiba-tiba. Lelatu api berkali-kali tercipta di udara, dan cepat sekali berpindah tempat ke sisi lain pelabuhan.


Sungguh keindahan memukau yang sebenarnya berasal dari pertarungan maut yang menuntut kematian.


Keremangan senjakala semakin menjadi-jadi. Mantingan mulai kesulitan menghadapi serangan mengecoh dari Cagak Kesatu. Pedang lawannya itu seolah-olah saja menyatu dengan langit jingga. Tiada bedanya.


Namun, Mantingan yakin bahwa lawannya pun kesulitan menghadapi serangan pedang bercahayanya.


Mereka tidak membuka mulut untuk berucap, sebab betapa pun hal seperti itu benar-benar mampu memecah perhatian menjadi dua; di sanalah kematian akan menjemput. Namun melalui tatapan, mereka sebenarnya saling berbicara.


Seolah tidak percaya, seolah menantang, dan seolah memuji kemampuan lawannya masing-masing. Begitulah tatapan mereka jika diartikan menjadi ucapan.


Matahari di ufuk berat telah benar-benar tenggelam. Bahkan semburat-semburat jingganya tidak tampak lagi. Menandakan bahwa malam telah menggantikannya.


Sedangkan itu pertarungan dan pertempuran masih terus berlangsung, bahkan semakin sengit saja. Hantaman pedang ditukar dengan hantaman pedang, jurus tapak ditukar dengan jurus tapak, tendangan ditukar dengan tendangan, bahkan tatapan ditukar pula dengan tatapan!


Pertarungan yang sebenarnya terlalu berlarut-larut ini akhirnya membuat Mantingan menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak sedang mengadu kemampuan atau ilmu silat, mereka sedang mengadu tenaga dalam.


Melihat dari gerakan lawannya yang hanya menangkis dan menyerang kecil, Mantingan mengetahui bahwa orang itu sengaja membuat pertarungan berlangsung lambat namun menguras tenaga dalam.

__ADS_1


Mantingan berpikir, apakah Cagak Kesatu telah mengetahui bahwa ketujuh cakranya telah terbuka dan mampu untuk menampung tenaga dalam? Atau justru lawannya itu mengetahui, tetapi dirinya sendiri memiliki cadangan tenaga dalam yang lebih besar daripada Mantingan?



__ADS_2