
MANTINGAN MENGANGGUK tanda paham. Kembali berucap melalui Ilmu Bisikan Angin, “Berapa banyak lontar yang Paman bawa saat ini?”
“Saat ini aku membawa 30 lembar, itu bisa kurang dan bisa lebih. Terakhir kali aku pergi ke Pasar Layar Malaya Bawah Tanah adalah tiga tahun yang lalu. Mungkin telah terjadi banyak perbuahan pada bentuknya.”
Mantingan mengangguk pelan. “Setidaknya, Paman sudah masuk ke dalam. Untuk permulaan, mungkin akan mudah.”
Paman Bala juga mengangguk. “Apakah ada pertanyaan lain?”
Di antara riuh suara antara penjual dan pembeli yang sedang menawar atau antara kelompok pendekar yang saling bercakap-cakap saja sambil tertawa, keberadaan Mantingan dan Paman Bala tidak menjadi pusat perhatian. Sekalipun ada orang yang melihatnya, mereka Paman Bala sedang menceramahi murid perempuannya, tidak ada yang perlu dirisaukan. Masih banyak yang harus menjadi barang perhatian mereka.
“Aku rasa tidak ada.”
“Jika begitu, kita masuk sekarang.”
***
DI DALAM bangunan tua itu setelah dimasuki nyatanya penuh oleh mantra penyamar dan mantra penjebak. Mantingan dan Paman Bala bekerjasama untuk membuka mantra satu demi satu agar dapat memasuki pasar bawah tanah tersebut.
Saat mereka bekerjasama, secara tak sengaja saling mengetahui batas kemampuan masing-masing. Hasilnya, dapat diketahui bahwa kemampuan Mantingan dan Paman Bala hampir berimbang. Mantingan berada sedikit di bawahnya, kekurangan pengalaman. Berbeda dengan Paman Bala yang sudah tiga tahun berpengalaman menangani Lontar Sihir.
Setelah lebih dari 50 mantra dipatahkan bersama, mereka menemukan sebuah pintu di dalam sebuah ruangan. Yang mana di dalam pintu itu terdapat tangga, sisanya gelap gulita mengambil tempat.
“Perlukah Lontar Sihir Cahaya, Paman?” Mantingan kembali membisik dengan Ilmu Bisikan Angin.
__ADS_1
Paman Bala menggeleng. “Tidak perlu. Dari luar memang terlihat gelap, tetapi setelah melewati ambang pintu, akan nampak wujud yang sebenar-benarnya.”
Mantingan kembali mengangguk. “Baiklah Paman, aku telah akan tetap menyiagakan pedangku, tetapi tidak mungkin aku menggunakannya untuk masalah kecil.”
Paman Bala mengerti. Jika nanti tercipta sebuah masalah kecil, Mantingan memang tidak disarankan terburu-buru menarik pedangnya. Hal yang sama berlaku pada Paman Bala. Penyamaran Mantingan bisa terbongkar hanya karena menarik pedang.
Seorang pendekar ahli dapat melihat kemampuan seorang pendekar hanya dari caranya memegang pedang. Bagaimana mungkin perempuan seperti Mantingan dapat dengan kokoh memegang pedang selayaknya laki-laki? Bahkan Mantingan sengaja membeli jubah yang panjangnya melebihi tangan untuk menyembunyikan otot-ototnya.
“Kalau begitu, usahakan untuk tidak membuat masalah walau itu masalah kecil sekalipun.”
Mantingan mengangguk.
Mereka kemudian sepakat untuk melangkah maju. Selangkah demi selangkah mendekati ambang pintu ruangan yang di dalamnya tampak sangat gelap pekat. Boleh diakui jantung Mantingan semakin berdebar seiring dengan langkah yang dibuatnya, sebuah kenyataan bahwa ia masuk ke dalam kandang penuh buaya kelaparan.
Ruang yang tadinya suram dan memiliki tangga, sekarang berganti dengan lorong panjang yang terang oleh cahaya obor. Pemandangan tembok tua yang penuh lumut dan kusam kini berganti dengan bata-bata kuat dan kokoh.
Jauh di depan mereka, terlihat persimpangan serta beberapa orang tua yang berlalu-lalang di sana tanpa mempedulikan keberadaan keduanya.
Paman Bala menelan ludah. “Inilah Pasar Layar Bawah Tanah, Pahlawan Man, di mana yang tidak wajar dianggap wajar.”
***
MANTINGAN MENGERTI apa yang harus ia lakukan di pasar yang penuh kesesatan itu. Diam dan diam. Untuk saat ini ia memang harus diam. Walau harus menanggung rasa geram tatkala melihat semua yang dapat ia lihat di bawah tanah itu.
__ADS_1
Pasar Layar Malaya boleh dikata tempat paling buruk yang pernah Mantingan lihat. Bangunan yang terstruktur kokoh tidak menjadikan pasar lebih bagus walau dilihat dari mana saja. Hampir tidak ada yang bagus di sini, segala-galanya tampak buruk. Lebih buruk ketimbang lorong panjang yang pernah Mantingan dan Bidadari Sungai Utara lewati.
Mayat-mayat manusia digantung bagai ayam potong. Diperdagangkan untuk ilmu hitam. Organ dalam manusia dipajang di meja-meja, untuk ilmu hitam pula. Senjata-senjata seperti tombak yang dibuat dari tulang manusia. Benda pajangan yang dijual merupakan tengkorak manusia. Apa pun itu yang dilihat, tampak sangat menyeramkan.
Itu hanya yang terlihat oleh mata, belum lagi yang tercium oleh hidung dan terdengar oleh telinga.
Mantingan sungguh geram sampai hampir-hampir menyentuh gagang Pedang Kiai Kedai, akan tetapi isyarat dari Paman Bala menyadarkan Mantingan untuk tidak berbuat hal semacam itu.
Lagi pula, apa yang bisa Mantingan selamatkan? Semua adalah pendekar di sini, bukan manusia biasa, dan manusia biasa yang ada di sini adalah mayat. Apakah yang bisa Mantingan harapkan dari orang mati? Tidak ada manusia biasa yang hidup, semuanya dalam keadaan mati. Bahkan mati pun dalam keadaan yang mengenaskan.
Saat ini Mantingan melihat banyak sekali pendekar ahli yang berlalu-lalang di lorong-lorong pasar. Mereka tampak tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran tubuh-tubuh mengenaskan yang terpajang, seakan perasaan mereka telah mati.
Banyak pula pendekar ahli yang melihat Mantingan dan Paman Bala. Tetapi hanya berupa lirikan yang tak kurang dari satu kejapan mata. Sungguh terlatih mata mereka untuk dapat bergerak cepat.
Dalam keadaan seperti ini, Mantingan tidak berani untuk berbicara pada Paman Bala bahkan dengan Ilmu Bisikan Angin sekalipun. Terlalu banyak pendekar ahli di sini, dan bukan tidak mungkin salah satu dari mereka ada yang memiliki kemampuan mendengar bisikan angin Mantingan. Risiko yang terlalu besar itu tidak Mantingan ambil jika tidak benar-benar penting dan genting.
Mantingan melirik wajah Paman Bala yang tampaknya sangat-sangat cemas. Bagaimana bisa dirinya tidak cemas jika melihat tubuh-tubuh manusia yang mungkin saja salah satunya adalah putrinya?
Walau Paman Bala sudah berusaha menepis pikiran seperti itu, tentu saja tidak akan pernah mudah melakukannya. Pikiran buruk terkadang memang datang tanpa diharapkan sama sekali.
Sesekali dalam beberapa kesempatan, Paman Bala terlihat tidak sengaja bersentuhan dengan tembok atau melakukan gerakan seperti menggaruk kakinya. Padahal sebenarnyalah ia sedang memasang lontar yang dimaksud untuk mencari keberadaan putrinya.
Lontar Paman Bala telah dilengkapi oleh mantra penyamar pula, sehingga keberadaannya bagaikan menyatu dengan benda yang ditempelinya. Cara kerjanya seperti bunglon yang mampu menyamarkan badannya pada batang kayu yang dihinggapi. Hanya pendekar yang benar-benar dapat mengenali lontar Paman Bala. Sehingga, amanlah mereka.
__ADS_1