
MANTINGAN MEMAPAH Bidadari Sungai Utara. Sedangkan gadis itu tampak tidak percaya dengan apa yang Mantingan lakukan. Perbuatan Mantingan sungguh tidak biasa bagi dirinya. Pada hari biasa, Mantingan tidak mau menyentuh Bidadari Sungai Utara sama sekali jika tidak benar-benar diperlukan. Namun kini, Mantingan tanpa ragu memapah Bidadari Sungai Utara, yang kekasihnya sendiri pun jarang melakukan hal itu.
Namun meskipun begitu, alasan Mantingan dapat terbilang cukup jelas. Lebih baik ia memapah Bidadari Sungai Utara ketimbang gadis itu harus terus menerus terjatuh dan terluka. Jika saja Mantingan tidak bersikap seperti itu, maka dapat dikatakan sebagai tindakan yang tidak bijaksana.
Bahkan kini Mantingan mengubah pikirannya, dari hanya memapah menjadi menerbangkannya. “Lebih baik kita bergerak cepat, Saudari Sungai, pegang tanganku erat-erat.”
“Mantingan, kau tidak berniat melakukan ... AAHH!”
Tanpa menunggu jawaban dari bidadari rawa itu, Mantingan lebih dulu membawanya melesat dari tanah ke atas. Ia mencengkeram tangan Bidadari Sungai Utara dengan erat hingga gadis itu bisa ikut terbang bersamanya. Mantingan melesat di antara pepohonan, sesekali menapak pada dedaunan pohon untuk dapat kembali melaju.
Bidadari Sungai Utara mau tidak mau memasang kuda-kudanya. Setiap Mantingan hendak turun menapak, maka Bidadari Sungai Utara turut mempersiapkan dirinya. Mereka akan menapak bersamaan. Dan Bidadari Sungai Utara tidak perlu khawatir dirinya akan jatuh karena tergelincir, Mantingan akan selalu menariknya kembali sejajar dengan tubuh pemuda itu.
Mereka terus melaju membelah hujan, bergerak ringan sekali seolah tidak memiliki beban tubuh. Dari ketinggian seperti itu, mereka dapat melihat sebuah danau berukuran sedang dari kejauhan, dan kini arah pergerakan Mantingan membawa diri Bidadari Sungai Utara ke arah danau itu.
Tak berselang lama kemudian, Mantingan memperlambat kecepatan geraknya sebelum kembali mendarat di tanah. Mantingan memperbaiki posisi berdirinya lalu menggandeng Bidadari Sungai Utara menembus sedikit semak belukar dan beberapa pohon sampai terpampang pemandangan danau di depan mereka.
Bidadari Sungai Utara melihat ke sekeliling, kini baru ia sadari bahwa danau ini sepertinya sudah pernah terjamah oleh manusia lain. Buktinya terdapat pada gubuk terbuka kecil yang dibangun di pinggiran danau. Gubuk terbuka itu berdiri di atas air, sedikit ke tengah danau, tanpa jembatan penghubung sama sekali untuk mencapai gubuk tersebut. Manusia biasa akan kesulitan mencapai gubuk itu tanpa perahu, kecuali pendekar yang dapat mencapainya hanya dengan satu lompatan saja.
“Apa kita akan di menunggu hujan berhenti di gubuk itu?” Bidadari Sungai Utara bertanya sambil menunjuk ke arah gubuk.
__ADS_1
Mantingan mengangguk pelan sebagai balasan.
“Bukankah bangunan itu terlihat seperti kepunyaan pendekar? Apakah tidak berbahaya?”
Kini Mantingan menggeleng. “Aku sudah memeriksanya, gubuk itu telah lama ditinggalkan namun masih aman ditempati.”
Mereka kemudian berjalan ke arah gubuk tersebut. Sudah beberapa kali Bidadari Sungai Utara tergelincir dan hampir masuk ke dalam danau jika seandainya Mantingan tidak terus menggandeng tangannya, membuat gadis itu berjalan dengan penuh percaya diri, bahkan terkadang ia tidak ragu untuk melompat ringan. Toh dus jika mau jatuh, Mantingan akan semakin mempererat gandengannya.
Dalam sekali sentak, Mantingan membawa dirinya dan Bidadari Sungai Utara melayang di udara lalu mendarat tepat di permukaan lantai kayu gubuk di pinggiran danau tersebut. Sekali lagi kilat menyambar, memperjelas lubang yang ada di atap gubuk.
“Kita bisa duduk di bagian yang tidak bocor,” katanya, “aku akan membuatkan teh hangat.”
Tetapi kondisi Bidadari Sungai Utara tidak seberapa dibandingkan Mantingan yang basah kuyup secara keseluruhan, membuat pemuda itu sedikit menggigil kedinginan. Bidadari rawa-rawa itu melihati Mantingan dengan tatapan prihatin.
Mantingan mengeluarkan panci kecil yang tersimpan di dalam bundelan. Ia mengambil sedikit air di dalam wadah air yang dibawa ke dalam panci, hanya dengan menyentuhkan tangan pada permukaan panci maka air dapat mendidih dengan cepat.
Mantingan menabur daun teh kering di ke dalam panci dan sedikit pemanis, menunggu sebentar sampai semua bagian tercampur, maka jadilah paduan manis dengan rasa khas yang disebut sebagai teh.
Mantingan tidak berniat bersantai dengan teh yang ia buat ini. Setelah melewati hujan dan udara dingin, tubuh mereka membutuhkan penghangat dan gula sebagai tenaga. Itu semua terkandung pada secangkir teh hangat.
__ADS_1
Dengan menuangkan cairan teh pada dua cangkir logam, teh siap dinikmati. Mantingan mengangkat gelas, menyeruputnya pelan, sedikit menikmati pemandangan yang sungguh pas dengan teh manis yang hangat. Tetapi Bidadari Sungai Utara tidak bergerak, ia merasa tidak enak telah membuat Mantingan begitu kacau keadaannya.
“Ini untukmu, Saudari Sungai.” Mantingan berkata sambil menunjuk dengan lirikan mata pada secangkir teh yang tersisa.
Bidadari Sungai Utara langsung menjawab, namun dengan jawaban yang berbeda dari pertanyaan, “Mantingan, sepertinya kau terlalu baik kepadaku. Kau memberikan jubahmu yang ajaib ini, kau juga memberiku topi caping yang lebar. Andai saja kau yang mengenakan ini semua, pasti kondisimu tidak buruk seperti ini.”
Mantingan mengangkat alisnya, semakin membuat keningnya berkerut. “Kau lebih membutuhkannya daripada aku. Itu alasan sederhananya. Alasan lainnya adalah kau wanita bersifat lemah lembut, salahku membawamu ke dalam hutan yang mungkin bagimu sangat ganas. Dan jika dikatakan kondisiku buruk, tidak juga.”
Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.
Jari-jarinya bergerak dan melepaskan ikatan cadar di wajahnya, menunjukkan senyumnya pada Mantingan. Dengan penuh penghormatan atas jasa Mantingan, Bidadari Sungai Utara mengangkat cangkir teh, dengan perlahan menempelkan permukaan cangkir pada bibir merahnya. Hangat teh membasuh tenggorokannya yang kering-dingin.
Mantingan balas tersenyum sebelum mengalihkan kembali pandangannya pada hamparan danau luas.
Mantingan perhatikan danau yang tengah diguyur hujan. Gelombang kecil yang tingginya tak lebih dari setengah jengkal tercipta tatkala angin menyapu. Rintik-rintik air hujan membuat air danau penuh dengan riak. Beberapa ikan berwarna naik ke permukaan untuk sekadar menyapa udara. Dan sesekali kilatan kilat menyempurnakan pemandangan itu menjadi keindahan sejati.
Tetapi mengingat tujuan mereka adalah pelarian dari kejaran banyak pendekar, pikiran Mantingan berubah menjadi terganggu. Ia tidak cukup tenang agar dapat menikmati suasana sepenuhnya.
Berlainan dengan Bidadari Sungai Utara yang merasa sangat menikmati pemandangan dan suasana. Padahal dirinyalah yang menjadi buronan di sana. Namun keberadaan Mantingan membuatnya merasa sangat tenang bahkan nyaman. Tak ayal kondisi berbahaya pun akan dinikmatinya, asalkan Mantingan selalu di sisinya.
__ADS_1
Jika saja Mantingan tiba-tiba hilang saat ini, Bidadari Sungai Utara akan berteriak keras ketakutan, sebelum melompat dari gubuk dan berlarian seperti orang gila. Merasa tidak aman. Merasa terancam. Semua itu bermuara pada kematian. Namun bersama Mantingan, ia mampu menangkal semua itu.