
Aku memilih untuk tidak menahan napas, sebab hal itu hanya akan membuatku semakin tersiksa. Dan begitulah kubiarkan air menerobos masuk ke dalam mulut dan hidungku. Yang kupikirkan ialah kematian yang mudah dan cepat. Saat air-air itu masuk ke dalam paru-paruku, maka sudah barang tentu nyawaku melayang meninggalkan raga dalam sekejap mata.
Tetapi, apa yang kubayangkan itu nyata-nyatanya tidak nyata. Aku meronta-ronta karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat luar biasa. Belum pernah kurasakan betapa mulut dan hidungku menjadi begitu sesak seperti ini. Dadaku serasa hendak pecah saat itu pula. Namun aku tidak kunjung mati. Rasa sakit itu terus bertahan, tidak berkurang barang sedikitpun.
Aku mulai buncah. Segala ketenangan yang tadi kudapatkan telah menguap musnah tanpa sisa. Aku kembali takut, amat sangat takut, seolah ketakutan ini tidak akan bisa terbandingi oleh rasa takut macam apa pun.
***
KESADARAN Mantingan memang telah remang-remang, tetapi ia masih bisa merasakan ada tali yang mengikat kedua tangannya dengan kuat; ia masih bisa merasakan hawa panas menyengat wajahnya yang sudah barang tentu berasal dari kobaran api besar; ia masih dapat dengan jelas mencium bau anyir darah. Mantingan telah berusaha untuk membuka matanya, tetapi segala pandangannya telah begitu buram. Ia hampir tidak dapat melihat apa pun selain keburaman itu sendiri, yang jelas bahwa keburaman itu tidak dapat menampilkan apa pun!
“Letakkan di sana.” Sebuah suara muncul dengan nada memerintah, Mantingan mengenal suara itu berasal dari Pendekar Kelewang Berdarah. “Paksa dia bersimpuh.”
Tak perlu dipaksa sekalipun, pada dasarnya Mantingan memang tidak bisa berdiri. Justru dirinya dipaksa untuk terus berdiri dan berjalan. Untuk membuat Mantingan bersimpuh, maka dua orang yang semula memeganginya itu hanya perlu melepaskan pegangannya. Mantingan ambruk tanpa daya. Bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam.
Hening tercipta barang sesaat. Bahkan serangga malam pun merasa takut untuk mengeluarkan suara. Sebelum akhirnya, suara dari Pendekar Kelewang Berdarah itu kembali terdengar. “Dikau adalah Mantingan, pendekar yang disebut-sebut sebagai pahlawan besar bagi Tarumanagara di Javadvipa.”
Entah apakah itu adalah pertanyaan atau justru pernyataan. Mantingan tetap terdiam, sebab memang sulit baginya untuk membuka mulut dan mengeluarkan suara yang bahkan hanya sekadarnya saja. Namun sekalipun ia dapat membuka mulut lebar-lebar hingga mampu menelan kelapa utuh dalam sekali lahap, dan dapat pula berbicara panjang lebar mengisahkan Kitab Tak Bernama hingga tuntas yang bukan main panjangnya, Mantingan akan tetap memilih diam. Dalam keadaan ketidakberdayaan seperti ini dengan segala macam keterbatasannya, memang lebih baik jika seseorang diam sambil membaca keadaan di sekitar, berharap dapat memanfaatkan segala sesuatu untuk dapat selamat.
“Dikau adalah salah satu dari dua pendekar yang akan mendapatkan wibawa Pemangku Langit di seantero Dwipantara.” Kembali Pendekar Kelewang Berdarah berucap. “Dan ketahuilah, daku telah mengalahkanmu. Wibawa Pemangku Langit itu akan menjadi milikku, Pendekar Kelewang Berdarah!”
__ADS_1
Mantingan hanya dapat tersenyum di dalam benaknya. Ia tetap terdiam, dan memang sebaiknyalah terus terdiam. Namun dalam keterdiaman itu, kembali dibacanya Kitab Tak Bernama. Sekiranya untuk saat ini, hanya hal itu saja yang dapat dilakukannya.
***
AKU terus tenggelam dan air masih pula terus meninggi, memberikanku tekanan yang luar biasa hebatnya. Aku merasakan sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dan rasa sakit ini tidak berangsur mereda dengan seiring berjalannya waktu.
Sudah tiada lagi gelembung udara yang keluar dari mulut dan hidungku. Kurasa paru-paruku telah kehabisan udara, yang tentunya segera tergantikan oleh air yang masuk melalui mulut dan hidungku.
Aku terus berontak. Telah gugur segala kemampuan yang kudapatkan dari lamanya berlatih. Dengan keadaanku terjepit di antara kedua dinding celah yang teramat sangat sempit ini, ditambah dengan air yang telah melelapkanku, adalah hal yang teramat wajar jikalau aku merasa takut dan buncah. Terjepit sekaligus tenggelam, bukankah dapat dibayangkan betapa takutnya diriku?
Aku tersiksa secara batin dan badan. Ini teramat sangat menyakitkan, hingga tidak dapat lagi kuungkapkan dengan kata-kata.
Begitu diriku memejamkan mata dengan dahi mengerut akibat menahan rasa sakit yang luar biasa hebatnya, kurasakan semilir angin yang menerpa kulit wajahku. Maka segeralah kubuka mataku lebar-lebar.
Yang kurasakan itu jelaslah merupakan semilir angin, dan bukan air yang mengalir hingga menerpa wajahku. Antara angin dan air, aku dapat membedakannya dengan jelas. Bahkan kurasa, setiap orang juga dapat membedakannya dengan teramat sangat mudah!
Semilir angin seperti ini pernah kurasakan sebelumnya, ketika diriku pertama kali melangkah masuk ke celah ini. Angin yang kurasakan saat itu masuk dari ujung celah lain di seberang sana. Aku jelas tahu bahwa angin sedang bertiup dengan gila di luar sana, tetapi apakah masih cukup kuat untuk dapat menembus celah yang telah menjadi penuh oleh air ini?
Dan sekalipun angin itu cukup kuat, pastilah gelembung-gelembung udara yang menerpa wajahku. Tetapi, aku sama sekali tidak melihat gelembung udara semacam apa pun di sekitarku.
__ADS_1
Apakah mungkin sebenarnya diriku tidak sama sekali tenggelam maupun terjepit di celah ini? Bukankah yang terjadi sedari tadi ialah sama sekali tidak masuk di akal manusia? Mengapakah dua dinding celah yang merupakan dua bukit batu besar itu dapat bergeser hingga membuatku terjepit di tengahnya? Dan dari manakah pula datangnya air bah yang telah menenggelamkanku ini?
Aku kembali memejamkan mata. Dan hingga sekarang, diriku masih tetap hidup. Tidak perlu lagi kubahas mengenai kisahku di celah itu, sebab begitu aku keluar dari ketidaksadaran, yang kuhadapi adalah pertarungan penuh darah dengan segala kengeriannya. Celah yang kudatangi itu di kemudian hari dinamai sebagai Celah Tengkorak, disebabkan oleh begitu banyaknya tulang-belulang manusia yang memenuhi hingga menutupi celah itu, dan semua tulang-belulang itu merupakan korban dari keganasan Savrinadeya.
***
HANYA sampai di sanalah kisah Perempuan Tak Bernama menghadapi serangan aneh ketika sedang menjalankan misi di sebuah celah antara dua bukit berbatu. Meskipun Perempuan Tak Bernama sama sekali tiada menerangkan bagaimana dirinya mampu keluar dari keadaan yang teramat sangat menakutkan seperti itu, Mantingan telah mengetahui apa yang mesti dilakukannya.
Namun tidak seperti Perempuan Tak Bernama yang memejamkan mata untuk menghadapi rasa takutnya, Mantingan justru membuka mata lebar-lebar, tetapi tetap saja tidak dengan penglihatan yang jelas.
Buka pandanganmu! Buka pandanganmu! Buka pandanganmu! teriaknya keras di dalam benak yang jelas ditunjukkan untuk dirinya sendiri, ini semua tipuan mata! Sadarlah!
Penglihatan Mantingan perlahan-lahan kembali. Tidak lagi buram. Dapat ditatapnya Pendekar Kelewang Berdarah yang sedang duduk di atas tumpukan mayat penari wayang. Orang itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang telah menjadi merah pekat laksana darah segar.
“Jika dikau ingin merebut wibawa Pemangku Langit dariku, maka dikau sungguh tidak perlu repot-repot mengalahkanku.” Mantingan berucap dengan suara penuh tekanan, entah dari mana ia mendapatkan kekuatannya. “Daku tidak pernah menerima wibawa Pemangku Langit. Siapa pun bebas merebutnya dariku. Tetapi jika itu dilakukan dengan cara bertarung, terlebih-lebih hingga sampai membahayakan jiwaku dan jiwa-jiwa orang yang kusayangi, maka daku akan meladeni.”
Mantingan bangkit berdiri. Kali ini, Pendekar Kelewang Berdarah tidak dapat lagi mempertahankan senyumannya. “Bagaimana kau bisa ....”
Kini, justru Mantingan yang tersenyum lebar. “Perempuan Tak Bernama mengajarkan banyak hal kepadaku.”
__ADS_1
Mantingan berkelebat ke depan. Dengan sebuah bogem mentah, dirinya berhasil menghancurkan kepala Pendekar Kelewang Berdarah. Tepat setelah itu, segalanya menjadi buyar barang sementara, sampai akhirnya tergantikan oleh pemandangan baru.