
Mereka kemudian duduk berhadap-hadapan. Berdeham beberapa kali sebab merasakan kecanggungan. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin keduanya bahaskan, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengawalinya. Terlebih lagi dengan suasana yang telah menjadi begitu kaku seperti sekarang ini!
“Mungkin, kita dapat memulai dengan pembahasan-pembahasan kecil terlebih dahulu, sebelum masuk pada pembahasan-pembahasan yang lebih besar. Dan anggaplah aku sebagai sebenar-benarnya teman. Jangan biarkan suasana canggung seperti ini bertahan lebih lama lagi.” Mantingan mengungkapkan segalanya secara terang-terangan. Berharap dapat memancing rasa kepercayaan diri Chitra Anggini untuk berbicara santai dengannya.
“Aku sudah pernah ke kotaraja lima kali banyaknya,” kata Chitra Anggini kemudian. “Setiap kali pergi ke sana, aku selalu membawa kepentingan. Sehingga boleh dikata, aku cukup banyak mengerti seluk-beluk kotaraja. Jadi tanyakanlah apa saja yang ingin kau tanyakan.”
***
MANTINGAN memulai dengan pertanyaan, “Seberapa luasnya kotaraja itu?”
Chitra Anggini terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab, “Daku tidak pernah mengetahui ukuranya secara pasti, tetapi sekiranya memiliki ukuran sebelas-duabelas daripada Sundapura di Tarumanagara.”
Mantingan tersenyum canggung. Menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Lantas mengatakan, “Aku tidak pernah ke Sundapura.”
Chitra Anggini menggeleng pelan sambil berdecak miris. “Aku mulai ragu apakah kau benar-benar pengembara atau tidak. Lebih-lebih lagi, kau adalah Pemangku Langit yang berasal dari Tarumanagara, orang-orang tidak akan pernah percaya ketika kabar tentang dirimu yang belum pernah mengunjungi Sundapura sampai tersebar. Ya ampun, bukankah Sundapura adalah kotaraja Tarumanagara yang pula menjadi satu-satunya kota terluas dan termaju di Javadvipa?”
Mantingan mengibaskan lengannya. “Itu bukanlah hal yang patut dipermasalahkan. Lagi pula, kurasa besaran kota tidak akan terlalu banyak berpengaruh pada tugas kita. Nanti setelah sampai di sana, aku akan dapat melihatnya sendiri.”
Chitra Anggini lantas menganggukkan kepala. Mengerti. Berhenti memberi tatapan yang seolah saja memperolok Mantingan sebab belum pernah mengunjungi Sundapura.
“Lalu, apa lagi yang ingin dikau tanyakan soal kotaraja?”
“Perkara rakyat-rakyatnya.” Mantingan menarik punggungnya dari sandaran bangku. Mulai bersungguh-sungguh. “Apa saja pekerjaan mereka? Bahasa apa yang mereka pakai? Bagaimana kehidupan di sana, makmur atau serba kekurangan?”
“Kamu bertanya seperti hendak mengambil alih pemerintahan raja saja.” Chitra Anggini tertawa pelan. Berbeda dengan Mantingan yang tampak bersungguh-sungguh, perempuan itu mencoba untuk lebih santai. “Tetapi betapa pun, aku akan menjelaskannya untukmu ….”
Kotaraja Koying adalah ibukota terbesar yang ada di Dwipantara. Hanya berbanding sedikit dengan Chang’an, kotaraja Wangsa Jin di Negeri Atap Langit sana.
Mantingan bertanya, bukankah berlebihan jika menyebut Kotaraja Koying hanya berbanding sedikit dari Kotaraja Chang’an—yang merupakan pusat peradaban dunia saat ini?
Namun untuk itu, Chitra Anggini menggeleng dan menjelaskan bahwa peradaban Dwipantara sebenarnya lebih maju ketimbang peradaban Negeri Atap Langit dalam beberapa bidang. Termasuknya ialah ilmu sihir, yang teramat sangat kental di Kotaraja Koying.
__ADS_1
“Saat kamu tiba di kotaraja nanti, kamu akan menjumpai banyak anak-anak yang bermain sihir di jalanan. Tertawa riang, bagai tenaga yang sedang mereka mainkan itu bukan tidak pernah membunuh ribuan pendekar di telaga persilatan. Membentuk beraneka macam hewan dengan mantra-mantra bercahaya. Pokoknya, sangat luar biasa.”
Jikalau anak-anaknya saja sudah seperti itu, bagaimanakah dengan orang dewasa di Koying?
Untuk itulah Chitra Anggini kembali memberi jawaban, “Orang-orang Koying telah lama menganggap sihir sebagai suatu yang remeh-temeh. Hanya mainan semasa kanak-kanak. Akan tetapi, tidak sedikit orang-orang dewasa yang tetap berkutat dengan sihir dan menjadi ahli di dalamnya. Ini sama seperti dunia perdongengan, di mana suatu dongeng dianggap sebatas kisah murah untuk anak-anak semata, tetapi orang dewasa masih bisa memilih pekerjaan menjadi juru hikayat atau bahkan pembuat hikayat, sebab seluruh dongeng itu sebenarnyalah dikarang oleh orang dewasa.”
Mantingan menganggukkan kepalan sebelum meminta Chitra Anggini melanjutkan penjelasannya tentang kehidupan rakyat di kotaraja.
Ada banyak orang bijak di kotaraja. Mereka adalah harta pemerintahan yang teramat berharga. Kerja mereka di kotaraja adalah menjadi penasihat maupun peneliti. Intinya, cendekiawan. Orang-orang bijak inilah yang telah mengembara hingga ke negerinya orang-orang berambut pirang hanya untuk belajar ilmu pengetahuan, dan segala keperluan dalam perjalanan mereka telah ditanggung oleh pemerintahan Koying.
Orang bijak teramat sangat dihormati oleh rakyat kotaraja, bahkan raja sekalipun menghormati mereka.
“Mereka sering berbicara tentang sesuatu yang teramat sangat rumit,” kata Chitra Anggini sambil mengerutkan alisnya. “Itulah filsafat.”
Raja menganggap bahwa dalam pemerintahan, keagamaan, perdagangan, kebudayaan, dan kehidupan kemasyarakatan, ilmu filsafat menjadi sesuatu yang teramat sangat penting.
“Mereka banyak belajar filsafat dari Negeri Atap Langit, dan Yunani—negeri orang-orang berambut pirang.”
“Koying menguasai Jalur Sutra, ibukotanya juga tidak terletak jauh dari pesisir, sehingga memang banyak pedagang asing yang singgah di sana sebelum kembali belayar ke timur maupun barat.”
Amat mustahil jika kekuasaan yang menjaga Jalur Sutra tertinggal kemajuannya. Kotaraja Koying megah dan canggih, hampir menyamai Kotaraja Chang’an di Negeri Atap Langit.
“Ada banyak gedung-gedung tinggi dengan atap berbentuk kerucut. Dibangun pula menara-menara tinggi di sejumlah tempat, disebut pagoda, sebagai pengingat waktu.”
“Pengingat waktu?” Kali ini, Mantingan terpaksa memotong. Takut Chitra Anggini menjelaskan hal lain yang tidak kalah mengejutkan lagi.
“Ya. Karena kotaraja sangat sibuk dengan berbagai macam urusan, maka kesadaran akan waktu amatlah sangat dibutuhkan. Pagoda-pagoda itu diisi oleh sejumlah pengawas dan orang bijak, untuk memperhitungkan waktu dengan memperhatikan letak matahari, perilaku binatang, dan bahkan jam pasir. Pagoda-pagoda itu akan memancarkan warna yang berbeda-beda pada setiap waktunya, dan suara canang akan menyertainya di setiap pergantian waktu.
“Ketika terang tanah, cahaya akan berwarna jingga dan canang dipukul sebanyak tiga kali. Ketika siang hari, cahaya akan berwarna merah dan canang dipukul sebanyak enam kali. Ketika malam hari di mana segala kegiatan kota akan dikurangi dan pengawasan dilipatgandakan, cahaya akan berwarna biru dan canang dipukul sebanyak sembilan kali. Dan ketika tengah malam di mana segala kegiatan akan mendapat pengawasan ketat, cahaya akan berwarna hijau dan canang dipukul sebanyak dua belas kali. Semua itu dinamakan Kala Bangun, Kala Terang, Kala Gelap, dan Kala Gulita.”
Saat mendengarkan itu, Mantingan sungguh terperangah. Tidak menyangka kecanggihan semacam itu ada di salah satu peradaban Dwipantara. Semegah dan secanggih apa Koying sebenarnya?
__ADS_1
“Kau sangat norak, Mantingan. Penanda waktu seperti ini juga ada di Sundapura, bahkan dengan kecanggihan yang melampaui Kotaraja Koying. Sayang sekali, kamu belum melihatnya.”
Mantingan sama sekali tidak tersinggung, apalagi sampai marah. Hanya meminta Chitra Anggini untuk meneruskan penjabarannya.
Banyak pula tabib-tabib ahli yang menetap di Koying. Mereka adalah harta berharga yang dimiliki pemerintahan selain para cendekiawan. Kesehatan di Koying merupakan sesuatu yang tergolong penting pula, sebab pendatang-pendatang baru dari negeri seberang bukan tidak mungkin membawa wabah penyakit.
“Setiap pendatang dari negeri asing, tak peduli jika itu hanya sekadar pedagang biasa maupun pejabat kenegaraan, harus menjalani karantina selama dua hari. Selama itu pula, tabib-tabib akan terus memeriksa dan memantau kesehatan mereka.”
Dan demi terjaganya kesehatan, maka kebersihan di dalam kotaraja diperketat pula. Janganlah sampai wabah penyakit justru datang dari dalam kota itu sendiri.
“Di pasar-pasar, sayuran yang telah busuk ataupun hanya sekadar ingin dibuang tidaklah boleh dibiarkan begitu saja di atas tanah. Semuanya harus masuk ke dalam keranjang sampah. Tidak boleh malas. Dendanya cukup besar bagi yang melanggarnya.
“Sedangkan rumah-rumah tidak boleh membuang limbah kamar mandi sembarangan. Ada saluran bawah tanah yang terhubung dengan setiap kamar mandi di kota. Limbah-limbah itu akan dialirkan menuju lautan.”
__
catatan:
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]
Favorit 1400\= +3 episode
Vote 950\= 2 episode [TERPENUHI]
Vote 1000\= +3 episode
Bonus episode untuk 950 vote: 1/2
Terima kasih. Ada dua challenge yang belum terpenuhi, bonus episode masih memungkinkan!
__ADS_1