Sang Musafir

Sang Musafir
Percumbuan dengan Terpaksa


__ADS_3

[AREA TERLARANG, 17+. Yang belum cukup umur, mohon longkap ke episode selanjutnya]


*


*


*


*


*


*


*


*


*


***

__ADS_1


MANTINGAN sungguh tidak siap ketika bibirnya dikunci oleh bibir Chitra Anggini!


Segala ingatan tentang nasihat serta peringatan keras dari gurunya memenuhi benaknya dengan begitu cepat. Datang bagaikan banjir bandang. Tumpah ruah. Ia ingin segera menghentikan percumbuan ini dengan mendorong Chitra Anggini, tetapi kemudian diingatnya kembali bahwa tindakan gadis itu sebenarnya dapat dikatakan tepat!


Jika memang lima pendekar penyoren pedang yang mengendap di atap-atap rumah itu mendatangkan sirep untuk melihat apakah mereka berdua bereaksi sebagaimana layaknya sepasang kekasih atau tidak, maka sungguh Mantingan harus merelakan Chitra Anggini melakukan hal ini agar penyamaran mereka tidak terbongkar!


Kini ingatan tentang nasihat serta peringatan Kiai Guru Kedai menguap sirna, digantikan dengan bayangan-bayangan buruk bila Sepasang Pedang Rembulan yang maha dahsyat itu sampai jatuh ke tangan Koying!


Tidak boleh ada satupun kerajaan yang memilikinya, sebab mereka akan selalu memiliki kekuatan besar untuk menaklukkan negeri-negeri lain yang sebenarnyalah tidak terlalu penting jika ditaklukkan. Pertumpahan darah akan terjadi besar-besaran, dan tiada yang memiliki cukup kekuatan untuk menghentikan mereka.


Senjata mestika itu harus kembali ke telaga persilatan, dengan salah satu pendekar terkuat memegangnya untuk memastikan kesetimbangan dunia persilatan sekaligus pula dunia awam. Bukankah itu adalah tugas para Pemangku Langit? Dan bukankah pula Mantingan adalah Pemangku Langit yang sungguh diwajibkan kepadanya untuk menjaga keseimbangan dunia persilatan?


Pada akhirnya, Mantingan urung melawan. Dibiarkan saja Chitra Anggini menelusup masuk. Tetapi tidaklah sampai dibalasnya, meski sungguh ia telah diberi pengetahuan tentang Kama Sutra oleh gurunya. Pertarungan lidah semacam ini disebut Jibvayudha dalam kitab tersebut.


Namun, Mantingan tetap tidak membalas. Diam saja, sekalipun ia tahu betul tentang Jibvayudha dan cara memainkannya. Tetapi bagaimanakah kiranya pemuda itu dapat mengkhianati cintanya di Champa sana, Bidadari Sungai Utara?


Chitra Anggini mulai melebarkan matanya kepada Mantingan. Sungguh-sungguh dia mengatakan, ‘Balaslah atau rencana yang susah payah kita bangun selama ini lebur semua!’


Maka begitulah kemudian Mantingan mengetahui apa yang harus dilakukannya. Dengan mata terpejam, membalas tanpa sedikitpun perasaan. Segenap permintaan maaf dilontarkannya menuju Bidadari Sungai Utara, meski tidak terucapkan apalagi tersampaikan. Ia melakukan hal penuh dosa ini demi kepentingan serta kebaikan bersama yang lebih jauh-jauh besar, dan sungguh dirinya tak mengapa bila dosa-dosa ini dibebankan kepadanya.


Dalam keterpejaman itu, Mantingan masih memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun, sehingga dapat ia lihat seorang penyoren pedang yang mengintip ke dalam melalui lubang udara. Meskipun keadaan kamarnya saat ini sungguh remang-remang hingga dapat saja dikatakan gelap gulita, tetapi pendekar yang sedang mengintip itu pastilah mengetahui bahwa telah terjadi hubungan asmara layaknya sepasang kekasih di dalamnya!

__ADS_1


Kemudian Mantingan merasakan Chitra Anggini semakin mengganas. Agaknya telah terbuai oleh sirep yang dipasang oleh pendekar-pendekar di atas atap itu. Bahkan dirinya juga merasakan suatu perasaan yang jarang dirasakan sebelumnya. Bukankah hal ini dapat saja jadi berbahaya bila diteruskan?


Mantingan lekas membuka matanya untuk dapat memperingatkan Chitra Anggini agar tidak berlebihan, tetapi yang dilihatnya adalah justru mata perempuan itu yang terpejam. Betapa Chitra Anggini telah begitu terbuai!


Mantingan sungguh tidak mengetahui apa yang mesti dilakukannya. Bila ia menunjukkan gelagat yang tidak wajar untuk menghentikan keganasan perempuan itu, maka pendekar yang sedang memantaunya saat ini pastilah dapat menyadari hal tersebut!


Sungguhlah bukan hal sulit bagi Mantingan untuk mengalahkan lima penyoren pedang di atap rumahnya itu, tetapi akan mustahil baginya untuk mencegah jaringan istana agar sampai tak mengetahui penyamarannya!


Maka dibiarkanlah Chitra Anggini seperti itu, bahkan mulai mengimbanginya dengan perasaan enggan sama sekali. Dan sungguh-sungguh, ia menjaga pikirannya untuk tetap jernih guna tidak termakan sirep semacam apa pun!


Dapat dirasakannya napas Chitra Anggini dalam jarak yang sungguh teramat dekat itu. Tercium begitu harum, serasi dengan rupanya yang jelita, teramat serasi, hingga seolah tidak ada yang dapat mengalahkan keserasian itu. Aroma yang akan membuat pria mana pun menjadi terbuai, bahkan Mantingan pun hampir kehilangan kesadarannya saat tiba-tiba didengarnya derap langkah kaki memijak tanah tepat di belakang jendela kamarnya yang tertutup rapat. Kesadaran pemuda itu kembali seutuhnya, tidak jadi terbuai.


Ditancapkannya kembali Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang tadinya sempat terlepas beberapa saat. Terkejutlah ia ketika mengetahui bahwa kelima pendekar itu telah berdiri di belakang jendela kamarnya dengan pedang masing-masing terhunus!


Tak perlu banyak pertimbangan, Mantingan sudah mengetahui betul bahwa kelimanya hendak masuk dan menyerang, meski ia tidak dapat mengetahui untuk alasan apakah mereka harus melakukan itu.


Dirinya tidak menunggu lebih lama lagi, segera tangannya menepuk pundak Chitra Anggini dengan sangat perlahan, begitu perlahan, sehingga bahkan tidak menimbulkan suara sama sekali. Maka lepas sudah perempuan itu dari keterbuaian, segera menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang sangat genting!


‘Mereka ada di sana,’ kata Mantingan dalam pandangan mata sambil menunjuk ke arah jendela. ‘Bersiaplah menghadapi serangan.’


Chitra Anggini tampak enggan, tetapi tetap bangkit dari atas tubuh Mantingan. Memanglah sedari tadi dirinya menindih pemuda itu agar tidak dapat mengelak dari serbuannya. Namun saat ini, meski dengan perasaan yang teramat tanggung tak terselesaikan, Chitra Anggini benar-benar tahu apa yang harus dilakukannya.

__ADS_1


Dengan ilmu meringankan tubuh yang teramat tinggi, keduanya beranjak dari ranjang dengan hampir tidak menimbulkan suara sama sekali. Akan mustahil bagi siapa pun dapat mendengar langkah kaki mereka tanpa ilmu pendengaran setingkat Ilmu Mendengar Tetesan Embun.


Tanpa membawa senjata, keduanya berdiri berseberangan di kedua sisi jendela, bersiap menanti lawan. Dalam keheningan seperti itu, yang bahkan suara jangkrik malam pun tidak terdengar, betapa maut sedang mengintai dan dapat menghampiri siapa pun dan kapan pun juga!


__ADS_2