Sang Musafir

Sang Musafir
Pertemuan dengan Chitra Anggini


__ADS_3

“Hihihihi. Dasar siluman tua bangka, apakah engkau akan meninggalkan benda itu di sini untuk pamer? Hihihihi!” Sang nenek tertawa lepas sambil tangannya menunjuk sebuah benda tipis berwarna keemasan yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan depan tokonya.


Si wanita muda berbalik, mendengus tajam, sebelum akhirnya bergerak memungut benda yang ditunjuk oleh sang nenek.


“Berhati-hatilah! Pemuda itu pasti akan menemukanmu! HIHIHIHIHI!”


“Aku akan lihat perjuangannya, wahai tua bangka yang hanya bisa mengarang cerita!” Si wanita muda berjalan menjauh sambil melambaikan tangan.


Tiada satupun orang di antara keramaian memperhatikan mereka. Atau lebih tepatnya, orang-orang itu tidak bisa melihat mereka.


***


MESKIPUN Kina telah membeli sekeropak dongeng yang jalan ceritanya sungguh mirip dengan riwayat pengembaraannya, Mantingan meminta semuanya untuk tetap berkeliling barang sejenak.


Barangkali masih ada hal lain yang diinginkan Kina. Lagi pula, Mantingan cukup menikmati keramaian seperti ini. Setelah melewati pertempuran berdarah dalam peristiwa penyerangan tujuh hari yang lalu, pemuda itu dapat lebih merasakan arti dari rasa pertemanan dan kedamaian.


Mantingan merasakan hal itu saat ini. Bahwa lebih banyak orang yang ingin berteman dengannya ketimbang memusuhinya. Canda dan gelak tawa yang terdengar tiada hentinya mengisyaratkan bahwa keadaan sedang baik-baik saja.


Lebih-lebih lagi, ia merasakan kedamaian bersama Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina. Ketika mereka semua lengkap, Mantingan merasa telah menemukan suatu keluarga baru. Perasaan damai yang serasa begitu berbeda.


Amat disayangkan sekali jika pada akhirnya mereka akan tetap pergi meninggalkan Mantingan. Tiga hari dari sekarang, Mantingan akan kehilangan sesuatu yang dapat ia sebut sebagai keluarga itu. Namun, bukankah memang seperti itu jalan persilatan yang mesti ditempuh seluruh pendekar tanpa terkecuali barang sedikitpun?


Memang bukan hal jarang jika rasa kekeluargaan muncul di dalam dunia persilatan, tetapi biasanya perasaan itu tidak bertahan cukup lama.


Bahkan di dalam perguruan silat sekalipun, jarang sekali ada rasa kekeluargaan. Rasa persaingan yang terlalu kental membuat mereka melupakan seperti apakah rasa kekeluargaan yang sebenar-benarnya.


Tetapi Perguruan Angin Putih masuk ke dalam pengecualian. Perguruan silat ini memiliki tatanan aturan yang begitu berbeda.

__ADS_1


Mirip dengan jaringan bawah tanah, setiap pendekar yang berada di dalam naungannya akan terikat janji hidup-mati untuk selamanya, kecuali jika mereka memutuskan hubungan tersebut. Sangat berbeda dengan perguruan silat lain, yang murid-muridnya boleh berlepas diri dari perguruan setelah masa pelatihan selesai.


Perguruan Angin Putih bukan pula sekadar mengajarkan tentang ilmu silat, melainkan juga ilmu-ilmu kebatinan, tatanan hidup antara sesama manusia, tatanan hidup antara alam semesta, dan kasih sayang. Secara serta merta, membuat murid-murid di dalamnya memiliki rasa kekeluargaan yang sangat erat satu sama lain.


Mungkin hal itulah yang menjadi daya tarik besar bagi perguruan-perguruan kecil untuk bergabung dengan Perguruan Angin Putih, meskipun itu akan mengubah segala aturan dan tatanan anggota di dalam perguruan mereka.


“Wahai, Pahlawan Man!”


Perenungan Mantingan seketika terpecah ketika didengarnya suara itu. Ia melirik ke sekitar dan menemukan bahwa suara itu berasal dari sesosok wanita di antara keramaian.


Wanita yang tampaknya masih berusia muda itu berjalan mendekatinya dengan senyum berseri-seri. Mantingan berusaha mengingat wajahnya, tetapi tidak pula ia mengenali wanita itu.


“Saudara, masih ingatkah dirimu pada Chitra Anggini yang pernah memalakimu di jalanan menuju Agrabinta?”


Mantingan mengingat sebentar sebelum akhirnya mengenali siapa wanita muda di depannya itu. “Ah, Chitra Anggini rupanya. Daku mendengar bahwa engkau turut membantu pertempuran tujuh hari yang lalu. Atas itu, daku ucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya.”


“Daku tidak membantu pertempuran secara langsung, hanya sekadar menumpas pendekar-pendekar keparat yang hendak menyerang pengungsi tiada berdosa dengan racunku. Dan daku hanya membalas budi Saudara saja, sebab engkaulah yang telah membuatku berlatih sangat giat satu tahun belakangan ini, hingga diriku sekarang telah menguasai ilmu racun.”


Terdengar Bidadari Sungai Utara berdeham beberapa kali. Ketika Mantingan melirik padanya, tampak gadis itu sedang menatapnya dengan sangat tajam.


“Jika diriku tidak salah, maka dikau adalah Bidadari Sungai Utara, bukan?” Chitra Anggini berkata sebelum menjura kepada Bidadari Sungai Utara.


Mau tidak mau, Bidadari Sungai Utara pun menjura kepadanya, serta membalas, “Dikau tidak salah, daku adalah orang yang biasanya disebut Bidadari Sungai Utara.”


“Kata banyak orang, kecantikanmu melebihi kecantikan para bidadari. Tetapi sayang sekali diriku tidak bisa melihatnya secara penuh sekarang.”


Bidadari Sungai Utara menganggukpelan. Cadar yang menutupi wajahnya tentu telah menghalangi sebagian besar kecantikannya. “Maafkan daku, Saudari Chitra Anggini, tetapi cadar ini takkan aman jika dibuka di depan umum seperti sekarang.”

__ADS_1


“Ah, dikau sama sekali tidak perlu melakukan hal itu hanya untuk diriku.” Chitra Anggini mengibaskan tangannya sambil tersenyum gugup. “Tetapi berdasarkan cerita orang-orang, daku sudah cukup bisa membayangkan rupa wajahmu yang amat sangat cantik.”


“Janganlah terlalu memuji, dikau lebih cantik ketimbang diriku.” Bidadari Sungai Utara turut mengibaskan tangannya.


“Mana ada. Diriku dibandingkan dengan bidadari secantik dikau, sama sekali tidak berarti apa-apanya.”


“Tidak sama sekali. Menurutku, engkaulah yang tercantik. Kulitmu sewarna dengan kuning langsat, rambutmu hitam gemulai, dan wajahmu sangat manis.”


“Daku lebih suka segalanya tentang dikau. Kulitmu bagaikan pualam, rambutmu pun hitam tergerai, dan andaikan saja daku dapat melihat wajahmu yang sudah pasti akan membuatku terpesona ....”


Kali ini Mantingan yang berdeham untuk menghentikan perbincangan mereka. Meski ia sendiri masih sangat sulit memahami wanita. Jika tidak dipuji, mereka akan merajuk; jika dipuji, mereka akan menolaknya.


Mantingan yang telah lama bersama Bidadari Sungai Utara pun kalah memuji dibandingkan dengan Chitra Anggini yang baru beberapa saat saling bertemu.


“Maaf jika harus memotong, tetapi agaknya malam sudah sedemikian larut. Kami harus segera kembali ke penginapan.”


Chitra Anggini menganggukkan kepalanya sambil terus tersenyum. “Berilah diriku sedikit maaf karena telah membuang-buang waktu berharga kalian.”


“Tidak sama sekali.” Bidadari Sungai Utara yang buru-buru menjawab, bahkan sebelum Mantingan sempat membuka mulutnya. “Pembicaraan kita sangat menyenangkan. Kuharap esok engkau bisa menemuiku lagi.”


“Oh, tentu saja. Diriku berencana menyewa kamar di Penginapan Bunian Malam untuk beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau Borneo. Kudengar, di sana ada kerajaan yang berdiri baru-baru ini.”


Mantingan membiarkan Bidadari Sungai Utara dan Chitra Anggini berbasa-basi barang sejenak sebelum akhirnya pergi menuju penginapan.


Namun, suatu perkataan Chitra Anggini telah berhasil menyisakan sedikit rasa penasaran di dalam benaknya. Perempuan muda itu berkata bahwa telah ada sebuah kerajaan yang baru berdiri di pulau Borneo. Apakah kiranya kerajaan itu?


Mantingan berniat mencari tahunya esok hari, jika keadaan masih memungkinkan. Dalam waktu dua malam lagi, Bidadari Sungai Utara akan meninggalkan Javadvipa, pastilah akan ada banyak hal yang harus diurusnya.

__ADS_1


“Daku pernah membaca tentang Chitra Anggini di dalam kitab perjalananmu.” Bidadari Sungai Utara membuka suara. “Engkau menceritakan seolah hubunganmu dengan Chitra Anggini hanya sebatas tidak sengaja bertemu di jalanan. Namun sepertinya, hubungan kalian lebih dalam daripada itu ....”



__ADS_2