Sang Musafir

Sang Musafir
Kemunculan Penunggang Kuda


__ADS_3

PADA MALAM harinya, mereka kembali menjumpai kedai makan yang lengkap dengan penginapannya. Tetapi sekali lagi, Mantingan meminta rombongannya untuk terus berjalan. Bukannya ia terlalu pelit untuk mengeluarkan keping uang, tetapi memang keadaannya yang sedang tidak aman. Kana dan Kina pun mengerti dengan apa yang mereka hadapi kali ini.


Kembali mereka berkemah di atas tanah lapang, agak jauh dari jalanan. Jakawarman memiliki daya ingat yang bagus untuk menemukan tempat seperti ini. Tidak tanah lapang yang lalu, tanah lapang ini kelihatannya telah dipakai beberapa kali sebagai tempat berkemah. Mantingan dapat melihat tumpukan kayu hangus di beberapa tempat.


Jakawarman bergerak dan menyentuh abu kayu tersebut. Meraba dan menciumnya dengan seksama, lalu ia mengeluarkan suara gumaman, “Ini sekitar tiga hari yang lalu.”


Suara itu masih cukup besar untuk dapat didengar Mantingan. Pemuda itu menganggukkan kepalanya pelan sebelum tenggelam di alam pikirannya.


Kemungkinan terbesarnya, tempat ini telah diketahui banyak orang. Bukan tidak mungkin jika nantinya ada yang datang untuk beristirahat. Dan sesuai dengan aturan yang tidak tertulis, di mana ada tanah lapang tak berkepemilikan, di sanalah pelancong diperbolehkan membangun tenda sementara dan tidak ada yang diperkenankan untuk melarangnya kecuali untuk urusan tertentu. Sesama pelancong diharuskan membagi wilayah untuk membangun tenda jika memang tidak ada wilayah aman lainnya. Ini pula berlaku bagi para pengungsi atau korban perang.


Jika sampai tanah ini didatangi pelancong, maka sudah semestinya Mantingan membagi wilayah. Tetapi Mantingan tidak mengharapkan hal itu sampai terjadi, dan sekalipun harus terjadi maka Mantingan memilih untuk menyingkir dari wilayah tersebut.


Mempertimbangkan bahwa dirinya dan Bidadari Sungai Utara masih menjadi buronan paling dicari setanah Javadvipa.


***


TETAPI BETAPAPUN, takdir telah berjalan sesuai dengan garisnya. Malam itu, ketika Mantingan dan Jakawarman tengah berbincang-bincang santai di depan api unggun, sayup-sayup mereka mendengar suara derap langkah kaki kuda.


Jakawarman mengibaskan tangannya sekali, seketika itu pula api unggun mati. Mantingan tidak merasa keberatan, sebab ia akan melakukan hal tersebut jika saja Jakawarman tidak melakukannya lebih dahulu. Ia mempertajam pendengarannya.


“Bukankah ini terlalu terburu-buru jika disebut langkah kaki kuda biasa?” Jakawarman bertanya dengan bisikan.


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Ini terlalu cepat. Siapa pun yang akan datang, itu bukan gerobak pedagang atau semacamnya.”

__ADS_1


“Perlukah kita memasang kesiagaan tingkat tinggi, Pahlawan Man?”


“Ya,” balasnya, “kurasa itu diperlukan.”


Memasang kewaspadaan tingkat tinggi bukanlah dengan diam tak bergerak ke manapun. Memasang kewaspadaan tinggi berarti bertindak. Menyiagakan pedang. Berada di tempat yang menguntungkan. Dalam keadaan siap menyerang kapanpun itu.


Mantingan dan Jakawarman pergi membawa pedangnya. Mereka menembus semak belukar untuk mendekati sisi jalan. Di antara lautan semak belukar itulah mereka bersembunyi. Disebabkan keduanya berasal dari perguruan yang sama dengan ilmu yang sama pula, maka mereka dapat menyamarkan suara napas, suara detak jantung, dan bahkan aroma tubuh dengan Ilmu Mengendalikan Angin. Imbasnya, angin di tempat itu sedikit lebih banyak ketimbang tempat lain di sekitaran.


Baik Mantingan maupun Jakawarman menggenggam hulu pedangnya guna berwaspada. Ditatapnya lurus ke depan.


Sementara itu, suara derap langkah tapak kuda semakin terdengar, tanda bahwa kuda itu semakin mendekat. Semakin jelas pula bahwa derap langkah itu mengartikan ketergesaan!


Di bawah bayang-bayang suram dari rembulan yang tertutup awan tipis, Mantingan dapat melihat setitik bayangan yang bergerak di ujung jalan. Perlahan titik bayangan itu semakin mendekat dan membesar, hingga terpampanglah bahwa itu merupakan seekor kuda hitam beserta penunggangnya!


Tali kuda dikekang hingga hewan itu melambatkan langkah ketika hampir mendekati wilayah perkemahan. Terdengar ringkik panjang, disusul dengkusan cepat yang singkat-singkat.


Keadaan benar-benar menegang. Mantingan menunggu orang itu untuk menyerangnya terlebih dahulu. Betapapun, ia tidak mengetahui kekuatan lawan yang sebenarnya. Banyak pendekar yang menyamarkan kekuatannya dengan menunggangi kuda saat berpergian. Tentu lazimnya, pendekar tidaklah menggunakan kuda untuk berpergian, melainkan berkelebat cepat.


Namun di luar dugaan, penunggang itu tidak langsung menyerang Mantingan maupun Jakawarman. Dia terlihat sedang memeriksa kedua sisi jalan sambil terus menghunus pedangnya.


“WAHAI! Adakah di sini yang berasal dari Perguruan Angin Putih?! Keluarlah engkau semua, sahaya datang sebagai kawan yang meminta pertolongan!”


“Apakah yang harus diperbuat, Pahlawan?” Jakawarman mengirim bisikan angin kepada Mantingan.

__ADS_1


Mantingan membalas dengan bisikan angin pula, “Tunggu beberapa saat lagi, sesuai aba-aba dariku.”


Tercipta keheningan sejenak. Orang yang mengaku sebagai kawan itu memutar pandangan ke sekitar. Sungguh kegelapan dan semak belukar tinggi berhasil menyamarkan keberadaan perkemahan Mantingan. Tetapi apakah kiranya yang membuat penunggang itu mengetahui keberadaan orang dari Perguruan Angin Putih di sini sedang mereka tidak meninggalkan jejak apa pun?


“Jangan meragukan sahaya! Sahaya bukan orang jahat! Akan sahaya lepaskan pedang ini!” Orang itu melempar pedangnya ke atas tanah, lalu ia mengangkat tangan. “Sahaya bersih, sekarang kalian keluarlah!”


“Kita sambut dirinya, tetapi tetap pasang kesiagaan.” Mantingan berkata pada akhirnya.


Di malam yang gelap gulita itu, terpampanglah dua sosok berpakaian serba putih di antara semak belukar. Meskipun gelap, tetapi keberadaan dua sosok itu masih dapat dilihat oleh penunggang kuda hitam. Lekaslah dia bertanya, “Apakah kalian murid dari Perguruan Angin Putih?”


“Benar!” jawab Mantingan. “Jika engkau mengakui diri sebagai kawan, maka sebutkanlah dari mana engkau berasal!”


“Sahaya harus memastikan lebih dahulu bahwa kalian benar-benar dari Perguruan Angin Putih!”


“Apakah yang mampu membuat engkau merasa pasti?” Jakawarman yang membalas.


“Engkau berdua lakukanlah jurus yang hanya bisa dilakukan anggota Perguruan Angin Utara!”


Jakawarman melirik Mantingan, dibalas anggukan. Maka dipakailah Ilmu Membisik Angin olehnya, “Yang satu ini adalah Ilmu Membisik Angin. Apakah engkau sudah dapat percaya?”


Aneh sebenarnya. Merekalah yang seharusnya tidak mempercayai orang itu, tetapi mengapa dirinya yang justru menuntut kepercayaan?


“Rupanya benar!” kata orang itu setengah bersorak. “Sahaya adalah prajurit pengawal dari Taruma yang meminta pertolongan dari kalian berdua. Sahaya bernama Anaj, jika engkau berdua sudi mengetahui.”

__ADS_1


“Bantuan seperti apakah yang engkau harapkan?” Jakawarman membalasnya kembali.


“Sahaya meminta bantuan berupa perlindungan,” katanya, “sahaya tengah mengawal rombongan, tetapi banyak kawan yang berkhianat dan balik memerangi kami. Kini kami membutuhkan kekuatan untuk mengisi kekosongan.”


__ADS_2