Sang Musafir

Sang Musafir
Gaung Seribu Tetes Air


__ADS_3

MANTINGAN kemudian lanjut bergumam, “Dan perempuan itu membiarkanku masuk ke tempat ini?”


Melalui lembaran lontar yang diberikan Perempuan Tak Bernama pada Mantingan sesaat sebelum kematiannya, memanglah benar bahwa Perempuan Tak Bernama memintanya untuk pergi ke Gaung Seribu Tetes Air, yang tidak lain dan tidak bukan adalah tempat yang di mana Mantingan berdiri saat ini.


Dan jawaban yang Mantingan dapatkan melalui samadhinya sewaktu masih berada di rumah Tapa Balian adalah untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan sementara waktu. Bukanlah tanpa sebab, kehilangan lengan kanan membuatnya harus membiasakan diri untuk memainkan pedang dengan lengan kiri. Hal itu tidak akan pernah tercapai dalam waktu singkat tanpa adanya latihan.


Mantingan menyampaikan niatannya itu pada Tapa Balian, dan orang tua itu sependapat dengannya pula, bahkan bersedia untuk membantu. Tapa Balian kemudian menyarankannya untuk berlatih di dalam goa tersembunyi yang sekiranya jauh dari jamahan para pendekar di rimba persilatan.


“Selama dikau berlatih, daku yang akan mengurus perkara perbekalan dan kebutuhan-kebutuhanmu yang lain. Dikau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun selama bersamadhi bersama para kalong,” kata Tapa Balian dengan sedikit candaan waktu itu, “anggaplah itu sebagai bayaran karena dikau telah menyelamatkan nyawa cucuku dari tangan perampok-perampok bejat.”


Tapa Balian kemudian pergi untuk mencari goa yang cocok untuk Mantingan, dirinya kembali dua hari kemudian setelah berhasil menemukan sebuah goa di dekat rawa-rawa.


Namun sehari sebelum keberangkatannya, Mantingan teringat bahwa dirinya masih belum membaca lontar yang diberikan oleh Perempuan Tak Bernama yang mungkin saja berisi petunjuk-petunjuk. Maka setelah selesai membacanya, Mantingan merasa telah menemukan sebuah tempat latihan yang mungkin sangat cocok untuknya.


Tapa Balian sama sekali tidak panas hati ketika Mantingan menyampaikan hal tersebut.


“Apa pun untuk penyelamat cucuku,” katanya waktu itu yang berhasil membuat Mantingan menjadi tidak enak.


Mereka berangkat pada hari itu pula, dengan cucunya yang bernama Delima turut diajak serta berkelebatan kesana-kemari mencari tempat yang dimaksudkan. Setelah lima hari berkelana di wilayah Pasemah, mereka baru menemukan tempat itu.


Meski membutuhkan lima hari untuk menemukan Gaung Seribu Tetes Air, sebenarnyalah hanya dibutuhkan setengah hari berkelebat dari Gaung Seribu Tetes Air di Pasemah ke Lembah Balian di Tulang Bawang. Kedua wilayah itu memang bersebelahan.


Mantingan diberikan seekor merpati pengantar pesan bernama Si Putih. Jika membutuhkan sesuatu yang benar-benar mendadak, Mantingan hanya perlu menerbangkan surat di kaki burung itu.


Tapa Balian akan berkunjung secara berkala setiap satu bulan, tentunya dengan membawa perbekalan.


Kini Mantingan merasakan kehangatan dalam dadanya. Meski Gaung Seribu Tetes Air adalah tempat yang teramat sangat sepi, yang sama sepinya dengan dunia persilatan, setidak-tidaknya masih terdapat beberapa orang baik yang mau berdiri bersamanya.

__ADS_1


Mantingan kemudian berjalan maju menuju bangunan terbesar. Seluruh bangunan akan diperiksanya secara perlahan, tetapi itu baru akan dilakukannya setelah memeriksa bangunan terbesar dengan teliti.


Mantingan tak dapat menjamin bahwa di tempat ini bebas dari jebakan-jebakan yang dipasang Perempuan Tak Bernama.


Meski perempuan itu sendiri yang memintanya untuk datang ke tempat ini, tetap terdapat kemungkinan bahwa dirinya memasang jebakan-jebakan yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk Mantingan. Tempat seperti ini tentunya perlu dilindungi dari para pendekar telaga persilatan yang berniat mencuri kitab-kitabnya.


Kiranya sudah barang tentu bahwa sebelum memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri, Perempuan Tak Bernama tidak akan sempat melepas semua jebakan yang ada di dalam Gaung Seribu Tetes Air, yang jaraknya amat sangat jauh dari Javadvipa!


***


DI dalam goa yang tidak tersentuh matahari, Mantingan sungguh tiada dapat memperkirakan waktu sama sekali. Bahkan kantuk baru datang setelah dirinya benar-benar kelelahan, bukan setelah matahari terbenam.


Selama satu pekan terakhir, Mantingan tidak pernah keluar dari Gaung Seribu Tetes Air. Lain kata, telah sepekan lamanya ia tidak melihat matahari. Mantingan terus mempelajari kitab-kitab persilatan, tanpa sadar bahwa waktu telah berlalu.


Namun meskipun begitu, dirinya masih dapat mengetahui kapan matahari terbit dan tenggelam. Permata-permata di dalam Gaung Seribu Tetes Air akan redup jika matahari sudah tenggelam, dan akan kembali cerah jika matahari kembali bersinar. Dari sanalah Mantingan mulai memperhitungkan hari dengan menggoreskan pedang pada dinding batu, membentuk garis-garis. Satu garis adalah satu hari.


Dalam sepekan ini, dirinya membaktikan hampir seluruh waktunya dalam pembelajaran Kitab Teratai. Kini kitab yang bukan merupakan kitab persilatan itu masih belum rampung dipelajarinya, memanglah bukan perkara singkat untuk dapat mempelajari Kitab Teratai hingga tuntas. Mantingan merasa bahwa kitab itu tidak akan pernah berhenti dipelajarinya sampai ajal menjemput.


“Tentu ilmu mengendalikan Golek Jiwa sangat kubutuhkan saat ini, Putih.” Mantingan berkata pada Si Putih yang bertengger di atas sangkarnya—dengan segala kesunyian di dalam Gaung Seribu Tetes Air, Si Putih lambat laun menjadi teman baiknya. “Hanya dengan memainkan jari-jari sebelah tangan saja, daku bisa mengendalikan banyak golek. Bukankah itu akan sangat berguna bagiku yang telah kehilangan sebelah tangan?”


Si Putih terdiam saja sambil memandangi Mantingan dengan tatap keheranan. Sedang Mantingan hanya tersenyum kecut, dirinya tidak pernah berharap burung merpati itu dapat membalasnya.


***


“Jalannya masih aman, Rama.”


KIAI Kedai meletakkan cangkir tehnya sebelum memandangi danau luas tepat di sebelah kedai minum teh itu.

__ADS_1


“Kedai, Mantingan kehilangan tangan kanannya, bagaimanakah dia bisa disebut masih aman-aman saja?” Rama berkata dengan gusar sambil menatap orang sepuh di depannya sungguh-sungguh.


“Tangan kanannya tidak akan pernah bisa menghentikannya.” Kiai Kedai membalas tanpa memalingkan pandang. “Dia pasti akan berlatih untuk mengatasi kekurangannya itu. Lagi pula Mantingan adalah muridku, bukan muridmu. Seharusnya daku yang merisaukannya, bukan dirimu Rama.”


“Bagaimanakah kiranya daku tidak merisaukan orang yang telah begitu berjasa bagi Perguruan Angin Putih, Kedai?”


Kiai Kedai mengibas tangannya. “Tidak, tidak. Itu adalah bayaran yang pantas setelah perguruan ini memberikannya banyak ilmu.”


“Dikau yang mengajarkannya ilmu-ilmu, Kedai.” Rama membantah pula. “Perguruan Angin Putih tidak memberikannya hal-hal yang pantas diterima seorang murid.”


“Dia tidak membutuhkan itu semua.” Kiai Kedai kembali mengangkat cangkir tehnya sebelum mengulas senyum lebar. “Mantingan sudah cukup berbakat.”


“Kedai, sekarang dikau senang pamer.” Rama tersenyum kecut. “Meski Mantingan adalah pendekar berbakat, sudah pasti ada pendekar yang lebih berbakat lagi. Ingatlah pepatah Negeri Atap Langit, bahwa di atas langit masih ada langit. Daku mewaspadai langit yang ada di atas Mantingan.”


“Lalu apa yang telah dikau lakukan?” Kiai Kedai bertanya dengan sungguh-sungguh. “Dikau mengirim seseorang untuk menjaga Mantingan, Rama?”


Melihat raut wajah Kiai Kedai yang bersungguh-sungguh, Rama pun menyesuaikan sikap. Dirinya khawatir telah melakukan kesalahan atas tindakannya.


“Adakah tindakanku itu ternyata salah, Kiai Kedai?”


“Tentu saja salah besar!” Kiai Kedai menggebuk meja dengan mata melotot. “Dikau mengirim seseorang untuk menjaga pendekar terkuat setanah Javadvipa! Orang itu justru akan menjadi beban untuknya!”


Kiai Kedai tertawa keras, begitu kerasnya hingga bergema di danau itu. Sedangkan Rama hanya bisa tersenyum pahit sambil mengecap tehnya yang pahit pekat pula.


___


catatan:

__ADS_1


Jangan lupa vote Sang Musafir untuk membantu kepopularitasan karya ini!



__ADS_2