
“Ampun, Tuan, akan sahaya lakukan!”
Sudah jelas apa yang selanjutnya terdengar. Suara garukan di tanah. Mantingan melihat Bidadari Sungai Utara meringis. Memang jika dipikir-pikir kembali, maka suara itu merupakan suara kuku menggaruk tanah.
“Cepat! Jika kelamaan, daku tak akan segan menggantikan dan membunuhmu!”
“Ampun, Tuan! Sahaya akan berjuang secepat yang sahaya bisa!”
“Bagus! Ingatlah engkau betapa istrimu akan senang jika dimanjakan oleh kami. Dan betapa senang dirinya kalau aku membawakan kepalamu padanya!”
Bidadari Sungai Utara hampir membuat gerakan jika saja Mantingan tidak menahannya. Mantingan menggeleng. Tatapannya begitu tajam. Betapapun Bidadari Sungai Utara dapat berpikir bahwa tindakannya itu hanya akan membawa celaka. Sekalipun dirinya adalah perempuan yang lebih berperasaan, Bidadari Sungai Utara menahan amarahnya.
Mantingan telah menekannya berkali-kali sebelum berangkat. Bidadari Sungai Utara tidak boleh terpancing amarah. Gadis itu juga tidak boleh melakukan tindakan gegabah untuk menyelamatkan satu orang, jika menggugurkan lebih banyak orang tak bersalah.
Untuk mencegah hal itu, Bidadari Sungai Utara menjauhkan tangannya dari gagang kelewang. Meskipun seorang pendekar diwajibkan menaruh telapak tangan tak jauh dari senjatanya. Namun, itu lebih baik ketimbang dirinya menarik kelewang tanpa sadar.
“Kuyakin lubang yang dikau gali itu sudah cukup dalam, tetapi mengapakah masih belum berjumpa dengan peti harta karun itu?!”
“Ampun, Tuan! Ampunilah diri hamba yang sangat tidak berdaya ini. Biarlah hamba menggali di tempat lain!”
Tak ada balasan. Hanya terdengar suara desau udara. Mantingan hendak bergerak secepat kilat, tetapi ia tahu bahwa dirinya telah terlambat. Selanjutnya, terdengar suara gedebuk.
“Gila. Apa yang telah dikau lakukan?!”
“Apakah matamu rabun? Daku membunuhnya.”
__ADS_1
“Dia wakil kepala desa, Balu! Hanya dialah yang tahu di mana harta karun berisi kitab-kitab itu disembunyikan. Setelah kepala desa terbunuh, maka harta karun itu mustahil ditemukan!”
“Persetan wakil kepala desa! Dia hanya memperlama pekerjaan kita. Lihatlah bagaimana dirinya tidak mengingat letak bendera merah itu. Lebih baik, kita saja yang menyisirnya.”
“Daku tidak mau menyisir malam-malam seperti ini. Kita hanya berjumlah dua orang. Besok pagi kita datang lagi ke mari, bawa dua lusin anak buah.”
“Dua lusin? Itu terlalu banyak.”
“Tujuan kita semata-mata untuk menemukan harta karun itu sebelum orang lain mendapatkannya. Jangankan dua lusin, lima lusin pun harus dikerahkan.”
“Itu jumlah seluruh orang kita, Sanwa. Jangan asal bicara. Kalau terdengar, kau bisa dianggap pemberontak.”
“Balu temanku, diriku akan sangat bersedia jika disuruh memberontak ketua kita. Apakah engkau tidak menyadari bahwa ketuamu itu berhasrat menguasai Desa Lonceng Angin untuk waktu yang lama?”
“Jalan pikirmu yang malah daku tidak mengerti, Balu. Jika ketua menguasai desa ini begitu lama hingga mendapat perhatian dari Negeri Taruma, bukankah dirimu yang akan ditempatkan di baris terdepan sedangkan dirinya berlari bagai keledai?”
Percakapan itu terhenti untuk waktu yang cukup lama. Mantingan benar-benar menahan napasnya. Jangkrik malam mengisi kesunyian.
“Mau kita apakan jasad ini? Haruskah kita menggotongnya ke markas?”
“Tidak harus. Bawa saja kepalanya. Daku ingin sekali menunjukkan kepala orang ini di depan istri dan anaknya.”
“Jangan lama-lama. Engkau tuntun pula kuda itu. Daku akan berangkat lebih dulu.”
Terdengar suara ringkik kuda. Pula suara derap tapak kuda yang menjauh. Tak berselang lama kemudian, terdengar lagi ringkik dan derap tapak kuda yang menjauh. Mantingan mengangkat sedikit kepalanya tanpa rasa takut. Memandang ke sekitar. Ia mengangguk pelan setelah memastikan aman.
__ADS_1
Tiba-tiba Bidadari Sungai Utara menarik lengan pakaiannya. Mantingan menoleh, gadis itu hendak mengucapkan sesuatu.
“Sudah aman. Berkatalah.”
“Mengapa Saudara tidak menolong orang itu? Kukira engkau menahanku karena engkaulah yang ingin menyerang. Kini daku bertanya padamu, jawablah!”
Mantingan menyiaratkan Bidadari Sungai Utara untuk tidak menciptakan keributan. “Daku menahan Saudari bukan berarti daku ingin menyelamatkannya. Tetapi tadinya diriku sudah berniat menyelamatkan orang itu, sayang sekali aku terlambat.”
Bidadari Sungai Utara ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya tidak mau bergerak. Maka ia hanya bisa menelan kenyataan pahit itu dengan menghela napas panjang. Jikapun Mantingan menyelamatkannya, bukan berarti keadaan akan menjadi lebih baik.
Orang-orang itu datang dengan menunggang kuda. Sesuatu hal yang jarang dilakukan pendekar. Adalah hal mudah bagi Mantingan untuk membunuh mereka semua. Lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan. Namun, hal itu akan menciptakan urusan yang amat panjang dan membahayakan.
Jika dua orang perampok itu hilang, maka rekan-rekannya akan langsung curiga bahwa mereka hilang karena telah terbunuh. Dalam suatu jaringan rahasia di dunia kependekaran, kehilangan satu anggota secara misterius dapat menjadi masalah besar. Terutama jika anggota yang menghilang tengah melakukan ronda ke luar markas.
Jika kecurigaan mereka itu tidak menemui hasil, maka Mantingan akan menjadi sasaran kecurigaan yang berikutnya. Di Desa Lonceng Angin, telah diketahui bahwa Mantingan adalah seorang pendekar. Saat itu terjadi, maka ruang gerak Mantingan akan semakin terbatas. Usaha penyelamatan terancam gagal.
Pengorbanan satu orang sekiranya cukup ditukar ratusan jiwa di Desa Lonceng Angin. Mereka terancam. Mereka tercekik. Dan kematian bisa datang kapan saja.
“Marilah, Saudari,” bisik Mantingan tersenyum. “Marilah kita melanjutkan perjalanan. Hendaknya kita tidak boleh berdiam diri terlalu lama.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan. Mereka kembali melangkah. Ringan, senyap. Kali ini punggung mereka sedikit menunduk, menghindari kemungkinan adanya seseorang yang melihat. Mereka melintasi jalan setapak yang entah ke mana. Hanya melintasi saja, tidak berjalan di atasnya. Mereka adalah penyusup, tidak bijak untuk berjalan di atas jalan setapak. Selayaknya penyusup, mereka berjalan di tempat-tempat yang tak terduga.
Mantingan pernah mendapatkan keilmuan dari Kiai Kedai, mengenai tata cara menyusup. Lengkap dengan cara antisipasi di berbagai macam keadaan selama menyusup. Gurunya itu berkata, “Ilmu penyusupan bukan hanya digunakan untuk aliran hitam saja. Menyusup, jika itu memiliki tujuan yang baik, maka boleh dibenarkan.”
Kala itu, Kiai Guru Kedai memberikan Mantingan sebuah kitab tentang siasat menyusup. Mantingan diminta mempelajari kitab itu selama satu pekan. Setelah sepekan kemudian, Mantingan diperintahkan untuk menjauh dari tempat latihan. Yang harus dilakukan oleh Mantingan adalah menyusup tanpa diketahui oleh gurunya.
__ADS_1