
GANDHI MENARIK napas panjang sebelum menjelaskan bahwa musuh yang bertugas untuk menangkap permaisuri sebenarnya tidak berasal langsung dari para pengacau.
“Siapa pun itu, dia memiliki uang cukup sumber daya hingga mampu menyogok laskar khusus Taruma di rombongan terkuat sekalipun, “dua hari lalu mereka menyerang secara tiba-tiba. Beruntunglah para pendekar yang setia telah mengetahui gelagat mereka sehingga serangan itu dapat ditahan. Kendati demikian, seluruh pendekar setia gugur bersama seluruh pendekar penghianat waktu itu. Tiada pendekar yang tersisa di antara kami.”
Mantingan dan Gandhi sama-sama terdiam, betapapun saat ini tiada keputusan yang dapat dianggap paling baik. Mantingan tahu bahwa permaisuri adalah salah satu kunci perdamaian Tarumanagara, tidak mungkin membiarkannya pergi tanpa pengawalan dari pendekar. Sedangkan Gandhi pun mengetahui bahwa Bidadari Sungai Utara dapat menyebabkan peperangan lainnya jika sampai terbunuh di Yawadwipa.
“Biarkanlah kami mengikuti engkau sampai Perguruan Angin Putih, Pahlawan Man.”
Mantingan tercekat. Suara itu jelas bukan berasal dari Gandhi, sebab yang didengarnya ialah suara perempuan nan jernih! Dilihatnya sesosok wanita tengah berdiri anggun di samping tandu. Pakaian sutra serba putihnya berkibar diterpa angin. Senyum penuh kehangatan bagai mentari ketika fajar. Seluruh prajurit bertekuk lutut di sekitarnya. Dan tiba-tiba saja Gandhi jatuh berlutut.
Mantingan mengerti dan segera menjatuhkan lututnya. Menundukkan pandang. Begitukah tampang Sri Prameswari, sang permaisuri Negeri Taruma yang dipuji-puji selayaknya penjelmaan Dewi Laksmi?
“Mengapakah engkau tidak menjawab, wahai Pahlawan Man yang budiman?”
Gugup sekali. Mantingan segera menjawab, “Hamba tiada keberatan barang sedikitpun. Justru akan merasa amat sangat terhormat bila bisa mengantar Baginda hingga ke perguruan hamba.”
Permaisuri tersenyum cukup lebar, sayang sekali Mantingan tidak cukup berani untuk melihatnya. “Jikalau memang begitu adanya, segera jalankan.”
Gandhi buru-buru berucap. “Tetapi, Gusti! Apakah ini akan merubah seluruh rencana kita?”
“Benar itu, wahai Gandhi yang gagah perkasa.” Dengan suaranya yang demikian lembut dan jernih bagai sungai di pegunungan, Sri Prameswari berkata, “alangkah baiknya jikalau kita merubah arah perjalanan ke Perguruan Angin Utara ketimbang Tanjung Kalapa. Kudengar-dengar bahwa Pahlawan Man sedang dalam perjalanan mengantar Bidadari Sungai Utara ke Perguruan Angin Putih, yang nantinya akan diantar kembali sampai ke Tanjung Kalapa, bukan?”
Gandhi menjawab, “Alangakah benarnya, Gusti. Akan tetapi, Sri Maharaja masih belum mengetahui ini. Lebih tepatnya, Gusti, tidak satupun orang istana yang mengetahui hal ini.”
Prameswari tetap berkata dengan lembut, “Kuingat pengkhianatan yang dilakukan oleh pengawalku sendiri, bukankah itu merupakan sebuah tamparan keras bagi kita semua untuk tidak mudah mempercayai orang? Bukan tidak mungkin ada pengkhianat lain di Sundapura, Gandhi. Perubahan rencana secara mendadak seperti ini justru akan mengecoh musuh.”
__ADS_1
“Baiklah, Gusti Permaisuri! Hamba paham dan hamba laksanakan.” Tidak perlu bagi Gandhi untuk berlama-lama dalam menjawab.
Mantingan mendengar suara langkah kaki Prameswari yang menjauh. Diliriknya permaisuri itu yang kini memberi tanda kepada semuanya untuk bangkit berdiri. Mantingan mengembuskan napasnya panjang. Betapa punggung dan telapak tangannya telah diselimuti keringat dingin.
Prameswari terlihat bercakap-cakap dengan Bidadari Sungai Utara yang baru saja keluar dari tendanya. Sedangkan Kana dan Kina melirik dari dalam tenda dengan mimik penasaran. Mantingan merasa tidak perlu mengetahui apa yang sedang dibicarakan antara Bidadari Sungai Utara dengan Prameswari, maka dilanjutkanlah percakapannya dengan Gandhi guna menyusun rencana.
***
SIANG ITU rombongan berangkat. Meneruskan perjalanan. Seluruh prajurit merasa percaya diri setelah diberitahukan bahwa Pahlawan Man ada bersama mereka. Mantingan dikenal sebagai pendekar yang mampu menumpas ribuan pendekar Perkumpulan Pengemis Laut sendirian yang sama saja menghancurkan sebuah perkumpulan besar seorang diri sahaja!
Seluruh prajurit duduk di atas kudanya kecuali Gandhi yang memilih berjalan bersama Mantingan dan Jakawarman. Kuda miliknya berganti ditumpangi Kana dan Kina.
Mantingan tentu memanfaatkan kehadiran Gandhi untuk saling bertukar kabar mengenai gejolak di Tarumanagara.
“Dari Swarnabhumi? Apakah ini merupakan perintah dari raja mereka?” Kembali Mantingan bertanya.
“Tidak. Mereka yang datang untuk mengacau bukanlah berasal dari kerajaan yang ada di Swarnabhumi. Di negeri sana pun, mereka adalah pengacau. Kebanyakan dari mereka adalah penyamun laut, sebagian kecil lainnya adalah pernyamun gunung. Para perompak itu mendarat di Ujung Kulon sebelum akhirnya menyebar ke mana-mana, mereka sungguh memanfaatkan kekacauan ini untuk membentuk kerajaan baru di Yawabhumi.”
“Jadi, apa rencananya?”
“Sri Maharaja yang akan turun tangan dan menumpas mereka dengan tangannya sendiri. Sedangkan adiknya, Sri Cakrawarman, akan mengurus kekacauan di daratan Yawabumi sampai Sri Maharaja kembali.”
Mantingan bergumam sebentar. “Apakah ini adalah alasan mengapa permaisuri dipindahkan ke Tanjung Kalapa?”
“Itu benar, tetapi alasan ini masih dirahasiakan.”
__ADS_1
Mantingan paham. Secara tidak langsung, Gandhi memintanya untuk menjaga kerahasiaan ini.
“Diriku hendak bertanya lagi, Saudara.”
“Tidak perlu sungkan untuk bertanya, Saudara.” Gandhi tersenyum.
“Saudara, bagaimanakah prajuritmu dapat mengetahui tanda-tanda Perguruan Angin Putih? Berkat kemampuan itu, kami yang semulanya menyembunyikan diri akhirnya berani keluar.”
Gandhi tertawa pelan. “Saudara Man, Perguruan Angin Putih dan Tarumanagara telah membaik hubungannya. Bahkan dapat dikatakan amat mesra. Kami tentunya mengetahui tanda-tanda keberadaan anggota Perguruan Angin Putih.
“Malam itu Anaj bercerita kepadaku tentang bagaimana dirinya bisa menemukan kalian berdua. Dia merasakan angin yang berbeda dari lingkungan yang ia lewati sebelumnya. Dapat dilihatnya pula pepohonan di depannya bergoyang-goyang kecil diterpa angin sedang yang di belakangnya tidak begitu. Segera saja diketahuinya bahwa ini adalah tanda-tanda dari Perguruan Angin Putih.”
“Begitu mesranya hubungan ini.” Mantingan turut tertawa.
“Begitulah, Saudara. Tetapi hal seperti ini tetap tidak bisa menyingkirkan sejarah kelam antara Tarumanagara dengan Perguruan Angin Putih.”
Mantingan diam namun tetap mempertahankan senyumnya. Begitu pula Jakawarman yang tersenyum kecut.
“Maksudku, kalian tentu tidak bisa melupakan sejarah kelam itu. Tentang apa yang telah diperbuat Tarumanagara kepada perguruan kalian, itu adalah ingatan yang tidak bisa disingkirkan begitu saja. Tetapi betapapun itu hanyalah masa lalu. Tidak dapat diulang kembali sekalipun dapat diingat. Kini Sri Maharaja bijak untuk memperbaiki kesalahan dari raja sebelumnya. Perguruan Angin Putih adalah perguruan yang baik dan menjunjung tinggi kebenaran, kami semua tahu itu.”
Mantingan melebarkan senyumnya. “Jika memang begitu pandangan Saudara pada Perguruan Angin Putih, maka kami ucapkan terima kasih dan rasa hormat yang dalam kepadamu.”
“Akulah yang seharusnya berterimakasih pada kalian berdua dan seluruh anggota Perguruan Angin Putih karena masih mau menerima ajakan kerjasama dari Tarumanagara serta pula membantu memberantas pengacau-pengacau di negeri ini.”
Mereka melanjutkan dengan pembicaraan yang lebih ringan agar suasana tidak terlalu sunyi. Kendati demikian, kewaspadaan mereka selalu panas senantiasa waktu, tidak pernah dikurangi bahkan ditambah. Tidaklah sebuah pembicaraan dapat menurunkan kewaspadaan seorang Mantingan yang telah terbiasa menghadapi pertarungan mendadak.
__ADS_1