
ROMBONGAN itu terdiri atas beberapa pedati kerbau yang benar-benar telah terisi penuh oleh barang bawaan, belasan kuda pengawal, dan yang terakhir adalah sebuah kereta bertenagakan dua ekor kuda.
Di dalam bilik kereta kuda itu, Mantingan dapat dengan jelas melihat rupa seseorang yang sangat tak asing baginya. Kemungkinan besarnya, tampang orang itulah yang membuat orang-orang di pelabuhan menyingkir memberi jalan untuknya tanpa diminta sama sekali.
Sebab betapa tidak jika yang datang adalah seseorang yang tersohor seantero Javadvipa dan Suvarnadvipa yang bernama Dara, sang pembawa lelang yang cantik jelita?
Kiranya nama dan rupa seorang Dara telah begitu terkenal hingga tidak satupun orang di pelabuhan yang tidak mengetahuinya.
Mantingan mengambil perkiraan bahwa gadis itu akan memberlangsungkan sebuah acara lelang di pelabuhan ini, dan pertemuannya dengan gadis itu bukanlah sesuatu yang disengaja.
Ketika rombongan Dara telah berlalu dari hadapannya, Mantingan memutuskan untuk tidak jadi mengunjungi Padepokan Angin Putih. Berdasarkan beberapa pertimbangan, hal itu dapat terlalu berbahaya untuk dilakukan.
Mengingat bagaimana angin selalu berembus kuat di dunia persilatan. Keterangan dan kabar apa pun yang telah diketahui akan tersiar ke segala penjuru dunia persilatan dengan sangat cepat. Mantingan tidak akan mengambil risiko besar dengan hasil yang mungkin saja akan sangat kecil.
Maka dirinya berkelebat dari dalam kerimbunan pohon itu ke arah timur pelabuhan. Biasanya jika hari masih pagi, ada beberapa pedagang yang menjual kain pakaian dan kudapan untuk sarapan di sana.
***
MANTINGAN kembali ke kamarnya dengan membawa beberapa pakaian yang berhasil dibelinya. Pakaian-pakaian yang ia beli itu biasanya dipakai oleh masyarakat di Bumi Sagandu. Dengan begitu, Mantingan dapat dengan mudah menyamar menjadi orang awam, jikalau dibutuhkan. Mantingan pula membelikan beberapa perangkat pakaian untuk Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina.
Ketika kembali, Mantingan melihat Kana masih membaca kitab di kamarnya. Tampak anak itu benar-benar berpusat pikiran pada kitab yang dibacanya hingga hampir-hampir tidak menyadari kehadiran Mantingan.
Mantingan lalu menyadari bahwa kitab yang dibaca Kana adalah Kitab Tapak Angin Darah. Melihat kitab itu, Mantingan jadi teringat bahwa itu adalah kitab persilatan pertama yang Mantingan dapatkan.
“Kakanda, apakah Kakanda telah menguasai Jurus Tapak Angin?” Kana bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kitab itu.
__ADS_1
“Ya.” Mantingan menjawab singkat.
“Ini termasuk jurus yang rumit, sepertinya begitu bagiku,” kata Kana kemudian. “Dapatkah Kakanda mengajariku jurus yang satu ini?”
Mantingan mengangguk, tentu saja ia tidak menolaknya. Kemudian Mantingan berkata pada Kana untuk membaca kitab itu sampai habis sebelum mulai mempraktikkannya.
“Baiklah, Kakanda. Bolehkah daku membawa kitab ini ke kamarku? Kurasa, kitab ini baru akan selesai kubaca esok sore.” Kana beralih pandang dari kitabnya kepada Mantingan.
“Bawa saja, tetapi pastikan tidak dilihat orang lain.” Mantingan lalu menjelaskan bahwa kitab itu merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki murid-murid di Perguruan Angin Putih, jarang sekali orang luar yang mendapatkannya.
Kana memasukkan kitab itu ke dalam keropak sebelum menyembunyikannya di balik pakaiannya. Sebelum pergi, ia berjanji akan memberikan hasil yang memuaskan pada Mantingan ketika esok hari. Mantingan hanya mengangguk dan menerima janji tersebut.
Mantingan bergerak ke arah jendela sebelum kemudian membukanya sedikit untuk melihat keadaan di luar penginapan. Mata Mantingan seketika melebar ketika melihat rombongan Dara berhenti di depan penginapan.
Ketika sosok wanita bernama Dara itu turun dari kereta kudanya, beberapa orang yang tengah bersantai di halaman penginapan pun sampai berdiri hanya untuk sekadar memberi salam penghormatan.
Seketika itu pula Mantingan menjadi sadar bahwa pertemuan mereka di pelabuhan ini bukan tanpa sengaja. Berdasarkan tanggapan yang diberikan Dara, jelas sekali gadis itu telah mengetahui keberadaan Mantingan di Pelabuhan Angin Putih sebelumnya, bahkan juga mengetahui bahwa Mantingan menyewa kamar di penginapan itu!
Dara masuk ke dalam penginapan setelah melepas pandang dari Mantingan. Jelas dia tidak cukup bodoh dengan menyapa Mantingan, sebab itu dapat saja memancing perhatian dari para pendekar mata-mata yang selalu bertebaran di mana-mana.
Kehadiran gadis itu menyisakan sebuah pertanyaan besar di dalam benak Mantingan. Bagaimanakah kiranya gadis itu mengetahui keberadaannya?
Mantingan menggeleng pelan dan tersenyum pahit. Terdapat banyak kemungkinan yang muncul di dalam kepalanya, dan tidak ada satupun dapat dipastikannya dengan benar-benar tepat. Ia merasa perlu untuk menemui Dara sesegera mungkin. Sebab jika Dara telah mengetahui keberadaannya, bukan tidak mungkin bahwa jaringan bawah dunia persilatan juga telah mengetahuinya!
***
__ADS_1
DI dini pagi berikutnya, Mantingan datang dan kembali memesan beberapa makanan di lantai pertama penginapan. Kini, ia sengaja datang jauh lebih dini sehingga hidangan benar-benar belum siap disajikan. Akibat itu, sebagai ganti waktu menunggunya Mantingan diberikan secangkir teh secara cuma-cuma.
Kesengajaannya berkepala pada kehadiran Dara di penginapan yang ternyata memiliki nama Behina Malam itu. Mungkin saja dengan duduk di bangku kedai itu, ia dapat menjumpai Dara.
Sebab betapa pun, kedai itu menyatu dengan lantai pertama penginapan. Jika Dara bergerak keluar atau masuk penginapan, sudah pasti Mantingan akan mengetahuinya.
Pagi itu, Mantingan telah merubah penampilannya hampir secara keseluruhan. Pakaiannya bukan lagi berwarna putih-putih; bajunya berwarna merah sedang celana panjangnya berwarna biru—itulah warna yang paling digemari masyarakat Bumi Sagandu saat ini. Rambut panjangnya digelung ke atas serta dibaluri lendir lidah buaya agar nampak hitam mengilat. Bahkan raut wajahnya pun sedikit diubah, dari yang hangat menjadi datar-datar saja.
Tentu saja Mantingan tidak melupakan pertarungannya kemarin hari yang memakan korban empat pendekar musuh di lantai pertama ini. Bahkan kerusakan akibat pertarungannya pun masih berada dalam masa perbaikan oleh pihak Penginapan Behina Malam.
Namun Mantingan merasa bahwa pertarungan antara pendekar dengan pendekar sudah sering terjadi di pelabuhan ini, sehingga memang bukan hal yang mengejutkan dan menghebohkan seisi pelabuhan. Ia lihat dengan matanya sendiri bahwa pertarungannya siang kemarin justru menjadi tontonan seru bagi orang-orang pelabuhan.
Saat masih juga menunggu hidangan matang, atau lebih tepatnya masih juga menunggu kehadiran Dara, pendengaran Mantingan kembali menangkap percakapan antara dua juru masak yang dilangsungkan dengan suara yang pelan.
“Jika dugaanku tidak salah, maka orang yang berhasil mengalahkan empat pendekar pembuat onar itu adalah pendekar tua bertampang muda yang kita layani beberapa hari yang lalu. Kurasa, dia orang tua yang baik hati.”
“Kuharap juga demikian, tetapi mengapakah dikau masih menyangka bahwa dia adalah pendekar tua bertampang muda? Tidak sedikit pendekar muda berbakat yang baru bermunculan di telaga persilatan pada masa kekacauan. Dan jika ‘pria tua’ itu adalah orang baik, dia tidak mungkin melakukan ilmu hitam dengan memindahkan jiwanya ke tubuh orang yang jauh lebih muda daripadanya.”
“Pendekar yang telah lama hidup di telaga persilatan memang suka bersikap aneh. Terkadang mereka baik, tapi terkadang mereka kejam. Seharusnya dikau sudah tidak heran lagi.”
Mantingan terus mendengarkan sambil menyeruput teh, percakapan itu menyangkut tentang dirinya.
“Tak peduli apakah dia pendekar tua atau muda, yang pasti dia telah berbuat kebaikan dengan menyelamatkan gadis wayang itu.”
“Gadis wayang? Atas dasar apakah engkau menyebutnya sebagai gadis wayang, Kawan?”
__ADS_1