Sang Musafir

Sang Musafir
Rencana Kepindahan Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

KANA MENGANGGUK pelan. “Dirinya masih punya banyak di rumah. Dan dia ... telah berjanji akan meminjamkan daku sepuluh kitab cinta lainnya.”


Bidadari Sungai Utara melirik Mantingan. Berniat menenangkan pemuda itu jika marah. Namun sungguh, tidak terlihat sedikitpun kemarahan yang terukir di wajah Mantingan. Dilihatnya, pemuda itu tetap lembut dan hangat.


“Jangan lagi berteman dengannya.” Mantingan berkata tegas. “Dirinya membawa pengaruh buruk untukmu. Bertemanlah


Kana terdiam.


“Kitab syair cinta bukanlah bacaan untuk anak-anak. Bahkan untuk orang dewasa bagiku, bacaan ini tiada gunanya.” Mantingan berkata dengan lembut, tetapi pula tegas. “Apakah yang bisa engkau dapat dari kitab-kitab ini selain bisa merayu wanita?”


Kana tetap membisu. Namun ia mengangguk, sebagai tanda bahwa dirinya mendengar dan paham.


“Jika engkau menganggap bahwa wanita adalah urusan remeh temeh, maka kau jelas salah. Wanita tetaplah manusia berperasaan. Jika engkau hanya bisa merayu-rayu saja dan memainkan perasaannya, maka tindakanmu itu sama sekali tidak jantan. Ingatlah bahwa seorang jantan berbuat lebih banyak ketimbang ucapannya.”


“Daku mengerti, Kaka.” Kana menganggukkan kepalanya pelan dengan pandangan masih menunduk.


Mantingan kemudian mempersilakan Kana kembali ke kamarnya. Tentu saja dapat terlihat kelegaan di wajah anak itu. Setelah Kana benar-benar pergi, barulah Mantingan mengumpulkan ketiga keropak di hadapannya itu.


“Saudara berniat apakan kitab-kitab itu?” Bertanyalah Bidadari Sungai Utara.


“Lebih baik dibakar saja, Saudari.” Mantingan membuka salah satu keropak lontar. Menarik seikat lontar gulung di dalamnya. “Wah, wah, wah. Pantas saja Kana pandai merayu.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara menggeser kursinya semakin mendekat ke arah Mantingan. Berniat membaca kitab cinta yang dibentangkannya. Namun alih-alih mempersilakan, Mantingan justru menutup kitab tersebut. Cepat-cepat ia kembalikan ke dalam keropak.


Tanpa ragu lagi, gadis itu berkata sedikit tersinggung, “Jika Saudara tidak keberatan, daku ingin membaca kitab itu.”


Mantingan menggeleng cepat. “Saudari, jagalah kesucian matamu. Kitab ini sangat tidak baik.”


“Lalu mengapakah dikau membacanya?”


“Tidak sengaja, dan takkan daku ulangi lagi.”


Bidadari Sungai Utara hanya bisa tersenyum kecut. Menelan seluruh rasa penasarannya.


***


“Anak Man, diriku tidak bisa berlama-lama di rumahmu. Maafkanlah jika aku tidak menghargai jamuan teh ini.”


“Sama sekali tidak masalah bagiku, Ibu Wira. Dan bicara-bicara, mengapakah Ibu Wira terburu-buru?”


“Sebelum itu, diriku perlu menyampaikan maksud kedatanganku ke sini.”


“Ya, silakan saja, Ibu Wira.” Mantingan tersenyum hangat sambil memberi isyarat pada Bidadari Sungai Utara untuk menuangkan teh.

__ADS_1


“Kedatanganku pagi-pagi buta ini sebenarnya cukup penting dan mendesak. Semoga saja dirimu tidak merasa terganggu dengan kehadiranku.” Wiranti berdeham beberapa kali sebelum melanjutkan, “harus kukatakan bahwa waktumu tidak banyak, Anak Man. Jika tidak segera ditemukan obat penawarnya, maka daku khawatir ... dirimu tidak terselamatkan.”


Mantingan tetap mempertahankan senyumannya. Tidak ada raut kekecewaan sama sekali di wajahnya. “Jika memang itu yang harus terjadi, maka daku tidak bisa berbuat banyak, Ibu Wira.”


“Tidak. Maksudku datang ke sini bukan untuk menyampaikan kabar buruk kepadamu, Anak Man. Diriku datang ke rumahmu membawa pemecahan masalah. Namun, agaknya pemecahan masalah ini akan sedikit merepotkan Anak.”


“Katakan saja, Ibu Wira. Diriku akan berjuang penuh untuk mempertahankan nyawa.” Memanglah Mantingan tidak mengapa jika dirinya harus mati bersama Racun Tidak Bernama, namun itu bukan berarti ia akan menyerah.


Wiranti menarik napasnya panjang-panjang sebelum mulai berkata, “Mulai malam nanti, Sasmita akan tinggal di rumahmu. Daku memohon kepada Anak untuk tidak keberatan menerimanya ....”


Mantingan menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Diriku sama sekali tidak keberatan, Ibu Wira. Tetapi jika boleh daku tahu, untuk apakah Saudari Sasmita tinggal di sini?”


“Dirinya tinggal di tempat ini agar bisa memantau keadaanmu setiap saat, Anak Man. Dia juga membutuhkan tanaman-tanaman obat yang ada di kebunmu untuk menciptakan penawar Racun Tidak Bernama. Ruang kerjanya akan dipindah ke sini.” Ibu Wira menghela napas panjang. “Bukannya diriku tidak lagi membutuhkannya dan melempar Sasmita kepadamu. Sungguh Toko Obat Wira akan kehilangan pamornya tanpa Sasmita. Tetapi kulihat dirimu lebih membutuhkannya, maka akan kurelakan Sasmita bekerja di sini. Merawatmu, Anak Man. Daku tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada Kana dan Kina jika dirimu mati terlalu cepat. Dan engkau adalah pria yang sangat murah hati dari semua pria yang kukenal, alam semesta akan menangis jika harus kehilanganmu.”


Mantingan hanya bisa tersenyum canggung menanggapi segala pujian yang mengarah kepadanya. “Sasmita selalu kuterima dengan tangan terbuka, Ibu Wira. Ibu Wira tidak perlu khawatir, sudah pasti daku akan menjaga dan merawat Sasmita baik-baik. Tetapi, diriku merasa perlu membayar semua kerugian yang didapatkan Ibu Wira akibat kepergian Sasmita—”


“Jika engkau berniat membayarku dengan keping uang, maka daku akan menolaknya. Cukuplah membayarnya dengan engkau hidup di dunia dan terus menebar kebajikan. Bahkan, itu lebih dari cukup.”


Mantingan menepis penolakan itu, “Tetapi, Ibu Wira telah banyak merugi disebabkan oleh diriku. Daku tidak bisa tenang jika tidak membayar Ibu Wira dengan harga yang pantas.”


“Bukankah tadi sudah daku katakan, cukuplah dengan engkau hidup di dunia, terus menebar kebajikan. Daku yang sudah tua renta ini tidak perlu banyak-banyak uang untuk dapat bahagia. Kana dan Kina bermain ke rumah sudah dapat membuatku berbahagia. Akan tetapi, hatiku ini seringkali merasa sakit melihat Javadvipa semakin kacau kian bertambahnya hari. Kupercaya jika engkau terus hidup dan menebar kebajikan, kekacauan ini akan segera padam. Musuh-musuh akan gentar sekali melihatmu. Berebut siapa yang lebih dulu bersujud di depan ujung kaki engkau.”

__ADS_1


“Ah, Ibu Wira. Pujian Ibu terlalu berlebihan. Diriku bukanlah biksu yang menyebar kebajikan. Diriku hanya pengembara biasa. Yang tujuan dan arah jalannya masih samar-samar.”


“Tidak. Engkau merendahkan dirimu sendiri, serendah-rendahnya merendah. Sungguh engkau mengetahui bahwa dikau sang penyebar kebajikan. Tetapi karena engkau adalah kebajikan, maka tiadalah engkau bersombong, Anak Man. Lupakah engkau dengan sepak terjangmu di Kota Angin Nyiur kala itu? Sungguh, daku merasa sangat terhormat bisa berkenalan denganmu, wahai Mantingan!”


__ADS_2