Sang Musafir

Sang Musafir
Segala Sesuatu Tentang Kitab Teratai


__ADS_3

KINA JUGA berkata hal yang sama. “Tidak apalah, biarkan Kak Maman mengetahuinya. Mungkin Kak Maman juga akan tertawa.”


Mantingan menatap Bidadari Sungai Utara penuh selidik. Gadis itu tampak jengah, namun Mantingan tidak mau melepas pandang sampai Bidadari Sungai Utara mau menjawab pertanyaannya.


Bidadari Sungai Utara menarik napas panjang. Menatap Mantingan dengan tatapan bersalah. “Dakulah yang telah memukul kepala Saudara hingga Saudara tak sadarkan diri. Tapi itu bukan tanpa alasan, daku mengira engkaulah musuh. Maafkanlah, daku tidak melihat Saudara dalam kegelapan.”


Kana dan Kina tertawa lepas, Bidadari Sungai Utara kembali tersenyum canggung. Namun tidak dengan Mantingan yang hanya memasang wajah datar. Harus ia akui bahwa pukulan Bidadari Sungai Utara masih terasa sakit sampai sekarang. Tentu saja Mantingan tidak bisa tertawa.


“Lalu apakah yang terjadi setelah itu, Saudari? Bagaimanakah kabar musuh yang mengincar kita tadi malam?”


Bidadari Sungai Utara berdeham sekal. “Lebih baik kita tidak membahasnya di sini. Ini tidak pantas untuk anak-anak.”


“Tidak perlu pindah, Kakak Sasmita, biar kami saja yang pergi.” Kana berdiri, mengajak Kina untuk turut pergi bersamanya. “Mari kita jalan-jalan keliling desa, mumpung hari masih pagi.”


“Baiklah, Kanda!” Kina dengan gembira menerima tawaran kakaknya itu. Jadilah mereka berlalu dari ruangan tengah.


Sehingga tersisalah Mantingan yang berdiri di dekat anak tangga, dan Bidadari Sungai Utara yang terduduk di belakang meja. Gadis itu memberi tanda kepada Mantingan untuk mendekat dan duduk berhadapan dengannya.


Mantingan berjalan mendekat lalu menarik salah satu kursi di belakang meja itu. Pemuda itu mengetukkan jari-jemarinya pada permukaan meja, menunggu jawaban yang lebih lengkap dari Bidadari Sungai Utara.


“Apakah Saudara masih marah padaku?”


“Tidak, namun ini masih terasa sedikit sakit.” Mantingan menopang dagunya dengan kedua tangan. “Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi setelah aku tak sadarkan diri tadi malam.”


Bidadari Sungai Utara memasang tampangnya yang bersungguh-sungguh. “Mereka menyerang kita dengan cara menjebol dinding, melancarkan serangan tapak yang teramat kuat. Semua lawan sudah kubunuh, dan juga dirimu jika saja capingmu tidak menyadarkanku. Lalu aku membawamu pulang dengan kecepatan kilat. Kuyakin tidak banyak yang melihat kita.”


“Bukankah ada satu pendekar yang kulumpuhkan?”


“Dan dia bangkit lagi untuk membunuhmu.”


Kemudian Mantingan menghela napas panjang. “Berapa banyak yang Saudari bunuh tadi malam?”

__ADS_1


“Sembilan penyerang.”


Raut wajah Mantingan segera berubah. “Haruskah membunuh semua mereka?”


“Aku tidak bisa melumpuhkan semua musuh, mereka menyerang bersamaan, jadilah kubunuh semuanya dengan rasa terpaksa.”


Mantingan sebenarnya masih tidak bisa percaya. Begitu mudahnya Bidadari Sungai Utara membunuh sembilan nyawa manusia—tanpa banyak merasa bersalah.


Bidadari Sungai Utara melihat perubahan di wajah Mantingan, ia hanya bisa menghela napas panjang dan menjelaskan, “Inilah dunia persilatan, Saudara Man. Musuh tidak akan segan membunuhmu meskipun engkau segan membunuh mereka.”


“Dunia pendekar mestinya diubah, Saudari Sasmita.” Mantingan berkata lembut. “Kitab Teratai, apakah Saudari berhasil menyelamatkannya?”


“Tentu saja, daku meletakkannya di rak kitab kamarmu. Barang itulah yang telah membuat kita diserang tadi malam.”


“Maafkan aku,” kata Mantingan penuh penyesalan. “Aku akan mengambilnya, tolong tunggu di sini.”


***


“Apakah Saudari mengetahui segala sesuatu tentang kitab ini?”


Bidadari Sungai Utara menggeleng pelan. “Diriku tidak terlalu banyak mengetahui tentang Kitab Teratai, tetapi bagiku tidak masalah untuk menuturkan segala yang kutahu tentang kitab ini.”


“Tolong jelaskan padaku.” Mantingan tersenyum hangat.


Bidadari Sungai Utara membalas senyuman Mantingan sebelum menjelaskan segala yang ia tahu tentang Kitab Teratai.


Seperti yang telah disebutkan oleh Trika kemarin malam, Kitab Teratai berasal dari daratan utara yang bukan Negeri Atap Langit. Bidadari Sungai Utara juga menjelaskan seperti apa yang kemarin Trika sudah jelaskan, namun ada beberapa tambahan yang bisa Mantingan tangkap.


Kitab Teratai berisi pedoman hidup. Bukanlah kitab persilatan, namun ada sebuah aliran putih yang memakainya sebagai kitab persilatan. Bahkan ada yang menyebut bahwa Kitab Teratai adalah kitab suci. Tidak sembarang orang bisa memahami Kitab Teratai.


Kitab Teratai mendapatkan nama sedemikian rupa karena tanaman teratai mencerminkan keseimbangan dan ketenangan. Penerjemah Kitab Teratai ke dalam bahasa Sanskerta tidak banyak diketahui bahkan sampai sekarang, namun cukup banyak yang meyakini bahwa sang penerjemah adalah orang yang suka memingit diri.

__ADS_1


Semua ayat di dalam Kitab Teratai memiliki pelajaran hidup yang patut diteladani dan dijadikan jalan hidup, walau bahasa yang terkandung terkesan seperti dongeng semata.


Kitab Teratai menjadikan Gusti, Sang Pencipta, sebagai satu-satunya tuan yang berhak diabdi dan ditaati perintahnya. Tidak ada tuan lain selain Dia. Setelah mendengar ini, wajah Mantingan lekas bersinar.


Namun tak sedikit orang yang meragukan keaslian Kitab Teratai. Bahkan banyak pula yang mengatakan Kitab Teratai adalah salah satu kitab aliran hitam. Namun tidak sedikit pula yang meyakininya sebagai kitab aliran putih. Sehingga bertentanganlah dua kubu itu.


“Jikalau Saudara mencoba mencari kedamaian, maka bacalah kitab ini. Namun di sisi lain, kitab ini juga mengajarkan seni perang. Itu yang pasti.” Bidadari Sungai Utara menyudahi penjelasannya.


“Dan apakah anggapan Saudari sendiri tentang kitab ini?” Sekali lagi Mantingan bertanya dengan lembut.


“Aku menganggap kitab ini sebagai kitab yang mahal.”


Mantingan tertawa pelan. “Harga untuk sebuah pengetahuan memanglah tidak murah, Saudari.”


“Itu bagi Saudara yang memilih banyak uang.” Bidadari Sungai Utara tampak tersenyum tipis.


Sedangkan itu, Mantingan justru menggeleng. Tampak ia tak setuju dengan pendapat Bidadari Sungai Utara.


“Jika Saudari memiliki keinginan yang kuat, maka segenap alam semesta akan bersatu padu membantu Saudari mencapai keinginan itu, dengan atau tanpa uang.”


“Aku memang tidak memiliki keinginan yang kuat untuk mendapatkan ini, Saudara Man,” katanya kemudian. “Berbeda denganmu yang sangat menginginkan kitab ini.”


“Siapa bilang aku menginginkan kitab ini?” Dahi Mantingan berkerut saat ia mengatakan hal itu. “Aku tidak menginginkan Kitab Teratai. Bahkan aku tidak tahu-menahu mengenai kitab ini. Namun, aku mencari kedamaian dan keseimbangan dalam kehidupan maupun dalam pertarungan sekalipun. Jadi kurasa, aku berjodoh dengan Kitab Teratai.”


Bidadari Sungai Utara hanya mengangguk, selebihnya ia terdiam.


“Kitab ini tidak akan kupelajari sendirian, Saudari juga bisa mempelajari kitab ini. Jangan sungkan untuk meminjamnya dariku.”


“Kitab itu seharga lima Batu, setara 5.000 keping emas.” Dijawabnya dengan singkat.


“Sasmita.” Mantingan kembali berujar lembut, “tanpa dirimu, kitab ini sudah beralih ke tangan orang lain.”

__ADS_1


__ADS_2