
“Ah!” Mantingan mendesah tertahan ketika seujung pedang berhasil membuat robekan panjang di punggungnya. Mantingan menggigit bibirnya menahan kesakitan dan kemarahan, tetapi sungguh ia tidak dapat membalas perbuatan orang yang telah menyerangnya itu sebab yang dapat dilakukannya saat ini hanya menangkis dan menangkis saja, tiada lebih dan tiada kurang.
Mantingan mengalirkan tenaga prana dalam jumlah besar ke punggungnya. Ia tahu, bahwa pedang yang telah menyebabkan luka panjang itu telah dibubuhi racun. Semoga saja, semoga saja. Mantingan terus mengingat naskah kitab milik Perempuan Tak Bernama dengan mengesampingkan rasa sakit yang dideritanya.
***
“Dikau hendak menyampaikan surat kepada kami, sedangkan pengirim surat yang sebenar-benarnya telah datang kepada kami sedari pagi tadi?”
SETELAH bergetar hebat, kurasakan celah itu semakin menyempit hingga tubuhku tergencet di tengahnya. Sedapat mungkin, aku berusaha untuk bergerak. Tetapi sia-sia saja, aku benar-benar tidak bisa bergerak barang sedikitpun!
Kutahan diriku agar tidak merasa takut. Apakah diriku telah dijebak dengan cara yang amat sangat tidak masuk akal? Bagaimana mungkin celah yang membelah kedua bukit batu besar seperti ini dapat menyempit sedemikian rupa dengan begitu singkatnya? Pendekar semacam apakah yang berhasil menggeser dua bukit besar tanpa kesulitan sama sekali, sehingga seolah saja mengerjai diriku di sini?
Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan terhadapku. Kuyakin jika mereka mau, maka diriku bisa langsung dibunuh dengan menekan kedua sisi celah ini hingga tubuhku pecah bagaikan semangka busuk. Tetapi, mereka tidak pula membunuhku. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
“Tiada dikau akan mengetahui apa yang telah kulakukan terhadap dikau!” Suara keras itu kembali muncul, kali ini aku tidak bisa menggerakkan kepala untuk sekadar mencari asal-usul suara itu. Betapa pun, saat ini diriku telah benar-benar terjepit. “Dikau tahu bahwa mudah bagiku untuk memisahkan nyawa dikau dari badan. Dan dikau tentu mengetahui apa tujuanku melakukan ini.”
Ah! Sekarang aku tahu apa maksudnya. Dia ingin menguras keterangan dariku.
“Segala permintaanmu, apa pun itu, tidak akan pernah kuturuti!” Aku balas berteriak di tengah keterhimpitan yang semakin lama semakin menekan tubuhku. “Aku tidak pernah takut mati!”
Aku memang tidak pernah takut mati, tetapi aku akan mati-matian mempertahankan hidupku.
“Masihkah dikau mempertahankan pendirianmu itu wahai pendekar perempuan yang membuatku terkesan akan keberaniannya?”
__ADS_1
Aku jawab ucapan dari suara tak dikenal itu, “Daku akan mempertahankannya hingga akhir hayat!”
“Hahaha!” Kudengar suara itu tertawa keras. “Lantas bagaimanakah jika dikau tidak akan pernah menjemput akhir hayat, tetapi mengalami siksaan paling memedihkan buat selama-lamanya?”
Telah kusebutkan sebelumnya bahwa diriku rela mati demi perkumpulan rahasiaku, tetapi yang dikatakan oleh suara tak berwujud itu sangat bertentangan dengan keberanianku. Kuakui bahwa hidup abadi mungkin saja akan menyenangkan, tetapi bagaimanakah kiranya jika hidup abadi hanya untuk merasakan siksaan saja?
Tentunya aku tidak langsung mempercayai perkataan itu. Tetapi, terhimpitnya diriku di celah ini tanpa alasan yang jelas seolah saja telah menjadi bukti betapa dia bisa saja melakukan hal yang jauh lebih buruk kepadaku. Tetap kutahan diriku agar tidak merasa takut.
“Buktikanlah jika dikau memang bisa melakukan itu!”
***
MANTINGAN kembali menerima serangan di tubuhnya, meski tidak benar-benar telak untuk dapat membahayakan nyawanya secara langsung. Bahu kanannya tersabet ujung kelewang yang berkemilau hijau dipantul sinar api unggun, menandakan betapa kelewang itu telah dibubuhi racun tebal! Betapa pun, racun yang digunakan oleh pendekar-pendekar dunia persilatan bawah tanah adalah jauh lebih mematikan ketimbang racun yang digunakan di dunia persilatan hitam.
Mantingan takut mati. Kembangmas masih belum didapatkannya. Kenanga akan terus menunggu di dalam kurungannya, di mana langit hampir tidak pernah mengalami malam, hingga mati termakan usia, atau mati termakan keputusasaannya sendiri! Mantingan tidak mau mati, ia masih belum menepati janjinya!
Satu-satunya harapannya adalah dengan terus membaca naskah Kitab Tak Bernama. Siapa pun yang mengetahui tindakan Mantingan ini, pasti akan menganggapnya sudah putus asa sehingga kehilangan akal sehat!
***
AKU takut! Biarpun aku mengatakan itu dengan suara lantang dan penuh keberanian, tetapi tetap saja tidak dapat kubohongi diriku sendiri. Aku takut, dan memang kuakui bahwa diriku sangat takut saat ini!
Aku bukan takut pada kematian, aku takut pada siksaannya yang akan berlangsung tanpa pernah mengenal akhir. Aku takut diriku mengalami siksaan luar biasa tanpa bisa mati!
__ADS_1
Perlahan kurasakan dua dinding yang telah menghimpitku ini semakin menekan. Aku meringis kesakitan. Kepalaku serasa ingin pecah. Napasku tersengal-sengal. Kurasa, aku tidak dapat berbicara lagi nantinya!
“Dikau masih dapat berubah pikiran. Jika dikau setuju, daku akan sedikit melonggarkan celah ini agar dikau bisa berbicara mengenai segala rahasia yang dikau simpan tentang kelompokmu. Dan setelah dikau mengatakannya tanpa kebohongan, daku akan membebaskan dikau.”
Aku memutuskan untuk diam saja. Di jaringan bawah tanah tempatku bernaung, seluruh anggotanya dilarang membuka mulut ketika keadaan telah benar-benar mendesak mereka tanpa memberikan harapan untuk dapat keluar dari keterdesakan tersebut. Maka saat ini, yang sebaiknya kulakukan adalah tetap diam. Lagi pula, aku kesulitan untuk berbicara.
“Diamnya dikau kuanggap sebagai penolakan.” Suara itu kembali muncul. Kali ini dengan nada yang lebih berat. Tak ayal, bulu kudukku meremang. “Akan kuberikan dikau siksaan-siksaan yang tiada pernah dikau sangka sebelumnya.”
Aku telah mengenal beragam macam penyiksaan yang biasanya diterapkan pada para pendekar jaringan bawah tanah yang bersikukuh untuk menyimpan rahasia kelompoknya hingga akhir hayat. Kukira semua penyiksaan itu telah diketahui oleh seluruh pendekar jaringan bawah tanah, sebab persoalan ini telah menjadi persoalan yang mendasar bagi mereka. Dan kuyakin bahwa kerajaan telah mengetahui bahwa jaringan bawah tanah mengetahui siksaan apa yang akan mereka terapkan.
Namun, mengapakah suara tanpa wujud itu mengatakan bahwa diriku akan menerima siksaan-siksaan yang tiada pernah kusangka sebelumnya? Siksaan semacam apa itu?
Aku merasakan tetesan air menimpa kepalaku. Tidak hanya satu atau dua kali. Bahkan tetesan-tetesan air itu tidak hanya menimpa kepalaku, melainkan pula dinding celah batu yang ada di kedua sisi tubuhku. Tetesan air itu semakin deras.
Apakah sedang terjadi hujan, sedangkan matahari tengah berpijar dengan seterang-terangnya? Apakah ini termasuk ke dalam penyiksaan yang akan kuterima?
Aku tentu menjadi penasaran, tetapi aku tidak bisa menengadahkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi. Kedua sisi celah ini telah benar-benar menghimpitku. Aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Tetesan-tetesan air itu berubah menjadi guyuran air yang teramat sangat deras bagai air terjun di tepi sungai besar. Tubuhku basah kuyup. Air dengan cepat mengisi celah ini, terus menanjak merambati kakiku.
Aku mengatur pernapasan di tengah guyuran air yang semakin deras. Sungguh aku sangat amat takut. Apakah tubuhku akan ditenggelamkan dengan keadaan terjepit antara dua dinding batu raksasa ini? Jika itu dapat membuatku langsung mati tanpa merasakan penyiksaan mengerikan, maka sungguh diriku tidak mengapa. Tetapi bagaimanakah jika pada kenyataannya, diriku akan mengalami siksaan-siksaan mengerikan lain yang tidak pernah dan tidak akan pernah kubayangkan?
__ADS_1