Sang Musafir

Sang Musafir
Akad Perdagangan


__ADS_3

DARA merasa terkejut dengan kebenaran itu, akan tetapi ia bisa menahan keterkejutannya itu dan menjaga sikap.


“Bisakah kuambil seratus lontar itu sekarang?” Dara bertanya selang beberapa saat kemudian.


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Akan kuambil di kamarku. Kuharap Nyai Dara dan Saudara-Saudara sekalian bersedia menunggu di sini barang sekejap.”


Mereka kembali menganggukkan kepalanya bersamaan. Namun si pria bercambang menambahkan dengan perkataan yang terasa cukup pedas di telinga Mantingan, “Pastikan bahwa dikau tidak berniat menipu perserikatan dagang kami, karena itu akan berakibat sangat buruk bagimu.”


Mantingan menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia kemudian melangkah pergi tanpa memberi tanggapan lainnya. Seolah menjadi orang awam, ia memang tidak sepatutnya menantang si pria bercambang lebih lanjut, sekalipun memiliki kekuatan yang boleh dikata sanggup menghancurkan perserikatan dagang milik mereka seorang diri.


***


MANTINGAN kembali tak lama setelahnya dengan membawa seratus lembar Lontar Sihir Cahaya yang dijanjikan. Semua lontar itu ditempatkan ke dalam sebuah wadah keropak berukuran sedang.


Dara menerimanya dari tangan Mantingan. “Terima kasih, Saudara. Akan kusiapkan pembayarannya.”


Akan tetapi lagi-lagi, si pria bercambang mengirim perkataan pedas. Agaknya dia memang gatal jika tidak melontarkan perkataan yang menyakiti benak. “Nyai Dara, mohon berikan satu lembar lontar itu kepadaku. Tidak ada jaminan bahwa yang dia berikan benar-benar berdaya.”


Untuk sebuah alasan, Dara melirik Mantingan dalam arti meminta persetujuan darinya. Mantingan membalas dengan senyum dan anggukan kepala, maka oleh Dara dikeluarkanlah selembar Lontar Sihir Cahaya dari dalam keropak yang kemudian langsung diberikannya kepada pria bercambang itu.


“Bagaimana cara memakainya?” tanya orang itu sambil menimang-nimang lontar di tangannya.


“Cukup tekuk batang lontar itu, Saudara.” Mantingan membalas, masih dengan nada ramah.


“Tidak perlu dialirkan tenaga dalam?”


“Tidak perlu. Dengan sendirinya, mantra akan menyerap tenaga dalam di sekitarnya, dan yang diperlukan hanya sedikit.”

__ADS_1


Pria itu mengangguk-angguk beberapa kali sebelum menekuk lembar lontar sesuai dengan arahan Mantingan. Dalam seketika, halaman penginapan yang semulanya berada dalam keremangan senjakala itu menjadi terang-benderang oleh sinar putih dari Lontar Sihir Cahaya.


Dengan perasaan takjub, mereka—kecuali Mantingan—memandangi Lontar Sihir Cahaya yang tengah berpijar. Bahkan tidak sedikit orang-orang pelabuhan yang memandangi sekumpulan aksara-aksara bercahaya yang berputar di sekitar lontar itu dari kejauhan.


“Akan kusimpan lontar ini,” kata pria bercambang setelah bergumam pelan, “jika ternyata tidak bertahan hingga tiga hari, maka kerjasama kita batal.”


“Saudara, mengapakah dikau selalu bertindak seolah menjadi pemimpin di sini?” Dara bertanya setengah memotong. Dari yang Mantingan lihat, air wajahnya tampak tidak senang. “Ketahuilah bahwa Perserikatan Dagang Dara Sejahtera berada di bawah kepemimpinanku. Daku tidak segan-segan mengeluarkan orang yang tidak menaruh rasa hormat pada orang lain seperti dirimu.”


Mantingan menyadari bahwa suasana mulai tidak sedap setelah Dara berkata seperti itu.


“Siapakah kiranya yang tidak daku beri rasa hormat, Nyai?” Tidak mau kalah, si pria bercambang memberi tatapan tajam.


Sebelum segalanya sukar direlai, Mantingan terpaksa memotong. “Memang alangkah baiknya lontar itu disimpan dan dipastikan tetap menyala hingga tiga hari lamanya, sebab betapa pun diriku sudah menjanjikan daya tahan untuk setiap Lontar Sihir Cahaya yang kubuat. Jika ternyata habis sebelum tiga hari, maka segalanya dapat kupertanggungjawabkan.”


Melihat Mantingan tidak mempermasalahkan perkataan si pria bercambang yang seharusnya amat sangat menyinggung perasaannya itu, Dara pun memilih untuk tidak memperpanjang urusan. Sedang pria dengan cambang itu kembali lagi menganggukkan kepalanya.


Mantingan mengerutkan dahinya, ia tidak menerima kantung pundi-pundi itu sebelum jelas mengapa Dara memberikannya sekeping Batu senilai 1.000 keping emas dari yang seharusnya hanya 8.000 keping emas.


Dara yang mengerti kebingungan Mantingan itu segera menjelaskan. “Dalam akad perdagangan, sudah sangat wajar jika perserikatan dagang memberikan uang tambahan pada rekan barunya. Engkau bisa menganggap 200 keping emas itu sebagai uang pengisi perut.”


Mantingan tidak terlalu mengerti soal langkah-langkah apa saja yang ada dalam akad perdagangan, namun penjelasan Dara cukup masuk akal. Mantingan pun menerima kantung pundi-pundi berisi satu Batu yang nilainya telah setara dengan seribu keping emas itu.


Dara kemudian mengeluarkan dua lembar lontar, dan tentu saja bersama dengan sebatang jarum tipis. Mantingan menarik napas dingin, ia tidak bisa menghindari hal ini sekarang.


“Saudara-Saudara harap menjadi saksi.” Dara menusukkan jarum pada jari telunjuknya. Darah segar menyeruak setelah jarum tersebut di tarik, menetes tepat di atas permukaan dua lembar lontar itu.


Mantingan mengambil jarum itu setelah Dara menjulurkannya. Tanpa banyak bicara lagi, Mantingan menusukkan jarum itu pada jari telunjuknya. Tetesan darah melayang turun. Mendarat tepat di atas kedua lembar lontar yang sama.

__ADS_1


“Kerjasama kita telah terikat dengan janji sedarah, Saudara. Jika salah satu mengkhianati janji ini, maka biarlah langit yang menghakimi.”


Mantingan menganggukkan kepalanya, meski ia tahu betul bahwa langit tidak mungkin menghakimi seseorang yang melanggar janji kecuali dari orang yang dikhianati itu sendirilah yang akan menghakimi. Ia kemudian menerima salah satu lembar lontar itu sebagai tanda selesainya akad perdagangan.


Dara kemudian menjelaskan bahwa lelang akan diberlangsungkan dalam waktu lima hari lagi, dia berharap banyak Mantingan mampu menyelesaikan seribu Lontar Sihir Cahaya dalam waktu itu. Mantingan tidak menjanjikan mampu mencapai jumlah sebanyak itu, tetapi ia berjanji untuk memberikan yang terbaik.


Ketika senjakala benar-benar berakhir, Mantingan dan Dara berpisah.


***


TELAH begitu lama Mantingan duduk di belakang mejanya untuk memantrai Lontar Sihir. Tiada dirinya merasa lapar, makanan yang diantarkan Bidadari Sungai Utara pun dibiarkan begitu saja di pinggiran mejanya. Dalam keadaan seperti itu, Mantingan sungguh tidak merasakan kelaparan sama sekali.


Tengah malam baru saja berlalu. Udara dingin berembus masuk melewati jendela yang terbuka daunnya, memainkan tirai putih yang bagaikan terempas-empas ombak lautan.


Samar namun dapat ditangkap telinga, terdengarlah suara ketukan pintu. Mantingan menoleh sebelum mengerutkan dahinya.


“Apakah kiranya yang Kana lakukan di waktu selarut ini?” Mantingan bergumam pelan, lalu beranjaklah dirinya dari tempat duduknya ke arah pintu.


Mantingan melepas kunci sebelum membuka pintunya perlahan-lahan. Benar saja, dilihatnya Kana terpaku di balik pintu kamarnya.


“Adakah keperluanmu, Kana?” Mantingan bertanya dengan suara pelan, namun dalam keadaan sesunyi itu tetap saja membuat suara menggema di lorong penginapan. “Masuklah.”


Begitu Kana melangkah masuk, Mantingan segera menutup dan mengunci pintu kamarnya kembali.


“Daku baru saja menyelesaikan kitab ini, Kakanda.” Kana mengeluarkan sekeropak lontar yang sedari tadi ia sembunyikan di balik pakaiannya.


“Bagus, engkau menyelesaikannya lebih cepat dari janjimu,” kata Mantingan memuji. “Tetapi apakah engkau sudah dapat menguasai jurusnya?”

__ADS_1



__ADS_2