
“Bahasa Melayu orang-orang di Javadvipa tentunya telah bercampur dengan bahasa ibu yang ada di sana. Bukankah Javadvipa bagian barat dengan bagian timur memiliki bahasa ibu yang berbeda?”
MANTINGAN mengangguk satu kali. “Memanglah terdapat bahasa barat dan bahasa timur, Bapak. Tetapi bahasa dari timur jarang digunakan di Tarumanagara.”
“Ya, tentu saja. Taruma termasuk ke dalam Javadvipa bagian barat, bukan? Dan setahu diriku, hampir tidak ada peradaban di wilayah timur Javadvipa.”
Keduanya memasuki hutan rimbun, sedang pembicaraan terus berlanjut.
“Maka dengan ketiadaan peradaban itulah, wilayah timur Javadvipa menjadi sebuah tempat aman bagi para pemberontak yang kalah perang untuk mengungsi.” Tapa Balian lalu menarik napas panjang. Sungguh segar udara ketika mereka berada di dalam hutan. “Tetapi dari yang kudengar, Punawarman akan memburu para pemberontak meski sampai ke lubang cacing sekalipun. Raja bertangan besi itu tentunya tidak menginginkan kekacauan kembali terjadi di negerinya, sehingga para pemberontak harus dimusnahkan sampai akar-akarnya agar tidak tumbuh kembali di masa mendatang.”
Mantingan kemudian larut dalam perenungannya. Sudah berapa lamakah dirinya terombang-ambing di tengah lautan? Mengapa kabar tentang Punawarman yang akan membasmi sisa-sisa pemberontakan sudah terdengar hingga ke tempat ini?
“Bapak, jikalau daku boleh tahu, di manakah kita sekarang ini?”
“Ah, iya! Daku lupa memberitahumu.” Tapa Balian menepuk dahinya sendiri sambil terkekeh pelan. “Saat ini kita berada dalam wilayah kerajaan Tulang Bawang. Yang lebih tepatnya, kita berada di dekat Lembah Balian. Rumah dan tempat penempaanku ada di dekat sini.”
“Kerajaan Tulang Bawang, ya ....”
Mantingan pernah mendengar nama Kerajaan Tulang Bawang. Namun, pengetahuannya hanyalah sebatas pada letak kerajaan itu yang berada di sebelah timur Suvarnabhumi.
“Sebenarnya lebih pada Kedatuan Adat ketimbang kerajaan, Anak,” sergah Tapa Balian. “Sebab memang tiada memiliki dan dipimpin raja, melainkan oleh datuk.”
__ADS_1
Mantingan kembali menganggukkan kepalanya pelan. “Tempat ini mirip dengan nama Bapak, apakah memang terdapat sangkut pautnya dengan Bapak?”
“Ya, boleh dikatakan begitu.” Tapak Balian tertawa hambar. “Tetapi janganlah Anak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Tulang Bawang sangat berbeda dengan Tarumanagara, nama sebuah wilayah dapat diambil dari sesuatu yang terkenal di wilayah itu. Sepanjang pesisir utara ini, daku adalah orang yang paling terkenal sebagai penempa besi handal.”
“Menurut segala penjelasan Bapak ini, daku jadi beranggapan bahwa peradaban di Suvarnadvipa cukup tertinggal jauh di belakang peradaban Javadvipa. Apakah anggapanku inibbenar, Bapak? Sebab daku pernah mendengar bahwa anak-anak di Suvarnadvipa menganggap sihir sebagai mainan mereka, bukankah itu menandai sebuah kemajuan peradaban?”
“Agaknya dikau salah menangkap maksudku, Anak.” Tapa Balian mengibas tangannya. “Suvarnadvipa memang berbeda dengan Javadvipa, tetapi bukan berarti tertinggal. Tidakkah suatu perbedaan selalu dimaknai sebagai kesalahan?”
“Ah, Bapak, maafkanlah daku yang asal bicara.” Mantingan berhenti menunduk, setengah bersoja. “Daku hanyalah seorang pengembara muda bodoh yang sedang dan akan terus menuntut ilmu, sehingga maafkanlah jika pertanyaan-pertanyaanku menyinggung Bapak.”
“Tidak. Daku sama sekali tidak tersinggung, justru senang dengan pertanyaanmu yang berani itu.” Tapa Balian tertawa lepas sebelum meminta Mantingan untuk kembali berjalan. “Sering kutemui pengembara-pengembara yang berkata sedang mencari ilmu, tetapi sama sekali sungkan bertanya kepada orang-orang yang lebih pandai, sehingga pengembaraannya itu hanya untuk bersenang-senang belaka. Namun, jarang sekali daku bertemu dengan orang seperti dirimu, yang betul-betul penasaran akan segala sesuatu yang mengandung ilmu.”
“Anak terlalu merendah. Dari cara Anak bertutur, daku tahu betul betapa dirimu bukanlah termasuk orang-orang yang hidupnya hanya mencari kesenangan semata.” Tapa Balian berhenti ketika tiba di sebuah padang rumput luas. Jari telunjuknya menunjuk dua bukit yang tampak di kejauhan. “Banyak sekali yang ingin daku bincangkan denganmu, Anak Mantingan, tetapi lebih baik kita bincangkan setelah sampai di kediamanku. Mulai dari sini, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kita akan bersinggungan dengan jalur perlintasan harimau.”
Mantingan menganggukkan kepalanya sebelum memasang raut wajah keras seolah berwaspada. Walau sebenarnyalah bagi seorang pendekar seperti dirinya, harimau bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sebagai ancaman. Namun, saat ini dirinya tengah menyamar menjadi seorang awam, yang betapa pun menganggap seekor harimau sebagai sebuah ancaman besar yang patut benar-benar diwaspadai!
“Anak jaga belakang dan samping kanan; daku akan jaga depan dan samping kiri. Siagakan pula pedang dikau, kita tidak tahu kapan itu dibutuhkan.”
Mantingan menarik Pedang Savrinadeya dari sabuknya. Perintah menyiagakan pedang sama dengan menarik pedang dari sangkarnya!
Mereka berjalan mengikuti jalan setapak yang menembus padang rumput itu. Mantingan berpura-pura memperhatikan sekitarnya, meski hal itu sama sekali tidak perlu dilakukan sebab dirinya telah menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang mampu melihat rupa benda-benda di sekitarnya tanpa perlu membuka mata.
__ADS_1
Perhatiannya beralih pada Tapa Balian di depannya. Pria tua itu masih memasang kewaspadaannya, meski tampak betul bahwa dirinya telah terbiasa melewati jalan setapak ini.
Dalam benaknya, Mantingan berdecak kagum. Tapa Balian jelaslah bukan termasuk orang dari rimba persilatan, jika melihat dari cara bertarungnya ketika menyerang enam penyamun pantai barusan. Namun, tingkat kewaspadaannya telah menyamai kewaspadaan seorang pendekar, yang selalu berwaspada penuh sejenuh apa pun keadaannya.
Hingga sampailah Mantingan mendengar suara gersak semak belukar dari kejauhan. Gersak yang terlalu lembut dan bahkan hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali, sudah jelas bahwa siapa pun atau apa pun yang membuat suara itu sedang mengendap-endap.
Namun, Mantingan tidak melaporkan hal tersebut kepada Tapa Balian, sebab betapa pun juga suara itu masihlah sangat jauh dan kecil. Jika ia melaporkan temuannya, orang secerdas Tapa Balian tentunya akan menemukan keanehan pada diri Mantingan, yang akan selalu berujung pada kecurigaan yang meskipun kecil tetap saja akan berbahaya di masa mendatang.
Suara gersak itu semakin terdengar jelas di telinga Mantingan, yang menandakan bahwa siapa pun atau apa pun yang membuat suara itu sedang bergerak mendekat. Dirinya terus saja berjalan, sambil menunggu suara tersebut semakin mendekat dan mendekat.
Hingga tibalah suara gersak itu sekiranya telah berada dalam jarak sebelas tombak, sehingga masuk ke dalam pembacaan dari suara menjadi wujud oleh Ilmu Mendengar Tetesan Embun, dan begitulah Mantingan menemukan seekor harimau bahkan saat dirinya belum menoleh.
“Bapak, ada pergerakan di belakang!” Mantingan berbisik dengan penekanan, yang barang tentu mampu ditangkap Tapa Balian sebagai suatu tanda bahaya.
___
catatan:
Terima kasih bagi yang sudah membantu saya promosi!
__ADS_1