Sang Musafir

Sang Musafir
Berlatih di Dalam Pikiran


__ADS_3

[UNEDITED VERSION]


GUA yang berhasil Mantingan temukan memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, tetapi tidak pula terlalu kecil. Meskipun gua ini ditemukan secara kebetulan, tetapi amat cocok dengan yang Mantingan inginkan.


“Engkau berjagalah di sini, Munding.” Mantingan berkat sambil menggosok leher kerbau itu. “Dan apa pun yang terjadi, kuulangi apa pun yang terjadi, jangan pernah masuk ke dalam. Bila dikau menghadapi bahaya yang tidak dapat ditanggung, maka pergilah dari tempat ini barang secepat mungkin, tidak perlu dikau hiraukan diriku.”


Munding Caraka tiada dapat tidak menatap Mantingan dengan pandangan bertanya-tanya. Mantingan hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dari beragam macam ancaman bahaya.


Setelah berkata begitu, Mantingan masuk ke dalam gua. Menyisakan punggungnya untuk ditatap Munding Caraka dari kejauhan. Perlahan-lahan tubuhnya ditelan kegelapan hingga tidak dapat dilihat apa pun darinya.


Mantingan segera memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk menjelajahi seluk-beluk gua tanpa perlu melihatnya. Kemampuan menerjemahkan bunyi menjadi bentuk miliknya memberi penglihatan yang bahkan jauh lebih jelas ketimbang mata.


Pada beberapa sisi dinding gua, Mantingan menempelkan lusinan Lontar Sihir Penjebak dan Lontar Sihir Pelindung. Ini adalah alasan mengapa dirinya melarang Munding Caraka masuk ke dalam, mantra sihir yang dipasangnya akan mengenai siapa pun tanpa pandang bulu.


Setelah beberapa saat kemudian, Mantingan memutuskan untuk berhenti. Ia telah berjalan cukup jauh ke perut gua, sehingga bahaya semacam apa pun yang datang nantinya akan memerlukan banyak waktu untuk mencapai dirinya.


Mantingan mulai duduk bersila. Perlahan memejamkan matanya. Menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya lamat-lamat. Dipusatkan segala daya pikirannya untuk memikirkan segala apa yang menyangkut pikiran, maka boleh dikata bahwa dirinya sedang berpikir tentang pikiran itu sendiri.


Dan memanglah benar bahwa saat ini Mantingan sedang berupaya untuk masuk ke dalam keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu!

__ADS_1


Adalah hal yang teramat sulit untuk menjaga pikiran agar tidak terpecah maupun terbagi. Mantingan harus menemui beberapa kegagalan sebelum akhirnya berhasil memasuki Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu.


Mantingan segera menelusuri lautan ingatannya yang bagai tidak memiliki batas, yang mesti diwaspadai betul-betul agar tidak sampai membuka ingatan tentang Bidadari Sungai Utara tanpa sengaja! Bukankah tidak akan lucu jadinya jika Mantingan keluar dari keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu dengan air mata yang beruraian?


Sungguh betapa pun, dirinya masih belum bisa berdamai dengan kenangan bersama Bidadari Sungai Utara.


Mantingan terus saja menyusuri lautan ingatan di kepalanya hingga ia menemukan ingatan yang mencangkup semua isi Kitab Ilmu Menyambung Ruang.


Memanglah pada malam kemarin Mantingan berhasil membaca kitab itu sampai tuntas, tetapi buka berarti Mantingan mempelajarinya betul-betul. Dirinya hanya sekadar membaca kitab itu, sebab ia tahu bahwa ingatan tentang bacaannya itu akan tersimpan di dalam pikirannya meski untuk membukanya diperlukan keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu.


Dengan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu, Mantingan memiliki daya pikir yang belasan kali lipat lebih besar ketimbang biasanya. Hal itu membuatnya bukan hanya dapat mempelajari kitab apa pun dalam waktu singkat, tetapi pula dengan pemahaman yang sangat mendalam.


Lagi pula, bukankah dengan memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu, ia seolah berpisah dengan kehakikatan ruang dan waktu yang ada di dunia, sehingga bahkan perpuluh-puluh abad di dalam Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu hanya akan memakan waktu tak lebih dari sekedip mata pada kehakikatan waktu dunia?


Patut diingat bahwa keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu akan membuat Mantingan tenggelam di dalam alam pikirannya sendiri. Semakin lama berada di sana, maka dirinya akan semakin dibawa tenggelam. Dan bagaikan sebuah lautan, semakin dalam dirinya tenggelam maka akan semakin sulit dirinya berenang kembali ke permukaan.


Bila tidak berhati-hati, Mantingan akan terjebak di dalam pikirannya sendiri tanpa pernah bisa keluar. Ia akan menjadi abadi buat selama-lamanya, tetapi dengan amat sangat tersiksa!


Maka boleh dikata bahwa memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu sama saja dengan mengambil tanggungan yang jauh lebih mengerikan ketimbang kematian. Namun, apalah arti tanggungan itu bila Mantingan menganggap dirinya telah mati sehingga seolah saja seluruh rasa takut telah hengkang dari jiwanya?

__ADS_1


Mantingan mulai mempelajari, meresapi, dan menghayati Kitab Ilmu Menyambung Ruang dengan begitu khidmat.


Untuk menjaga agar dirinya tidak tenggelam sampai akhirnya tenggelam, Mantingan akan keluar dari keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu secara berkala. Ia akan mengambil waktu sekitar satu peminuman teh sebelum kembali menyelam.


Waktu bergulir begitu saja. Tepat ketika Mantingan selesai mempelajari Kitab Ilmu Menyambung Ruang, matahari telah tiba tepat di ufuk tengah. Setitik cahaya kecil yang ada di ujung lorong gua tampak semakin terang, meski tidak terlalu kentara dampaknya sebab betapa pun juga gua ini tetap saja gelap gulita.


Mantingan berdiri sambil meluruskan punggung. Dari wajahnya, ia tampak amat sangat lelah. Betapakah tidak begitu bila Mantingan telah berdiam di keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu selama lebih dari dua bulan?


Lantas mengapakah kehakikatan waktu di dunia justru mengatakan bahwa Mantingan hanya bersamadhi selama setengah hari saja?


Hal itu dapat terjadi karena Mantingan hanya menjalani waktu di dunia ketika dirinya beristirahat saja. Itu dapat sekitar sepuluh hari di keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu. Setiap kali beristirahat, Mantingan akan mengambil waktu selama sepeminuman teh.


Meski tubuh Mantingan hanya mengalami waktu selama setengah hari saja, tetapi tidak begitu dengan kejiwaan Mantingan yang telah mengalami waktu selama dua bulan lebih. Sebab itulah tetiba saja ia sangat merindukan Munding.


Adapun dengan Kitab Ilmu Menyambung Ruang, Mantingan telah betul-betul memahaminya. Sungguh ia akui bahwa tingkat kesulitan untuk memahami kitab tersebut hanya sedikit di bawah Kitab Teratai.


Inti ilmu kitab tersebut adalah perpindahan ruang menggunakan mantra sihir, memungkinkan seseorang memindahkan barang dari suatu tempat ke tempatnya berada. Mantra sihir tersebut sangat rumit, teramat rumit, hingga tidak dapat lagi dijelaskan bagaimana kerumitannya.


Pendekar-pendekar yang menyerang Mantingan pada malam itu juga menguasai ilmu yang serupa, meski Mantingan tahu betul bahwa dengan segala kerumitan di dalam kitab itu mereka menghabiskan hidup hanya untuk mempelajari ilmu tersebut. Namun sebagai hasilnya, mereka dapat mengeluarkan banyak senjata dalam satu waktu sekaligus, yang bahkan dengan kemampuan seperti itu telah mampu membunuh seorang Pemangku Langit seperti Mantingan. Bukankah itu adalah harga yang setimpal?

__ADS_1


Akan tetapi bila dibandingkan dengan Mantingan yang hanya memerlukan waktu dua bulan—atau secara kehakikatan waktu dunia adalah setengah hari, bukankah itu terkesan tidak adil sama sekali?


Mantingan tersenyum canggung sambil mengingat pepatah yang mengatakan bahwa seringkali kehidupan berjalan dengan tidak adil.


__ADS_2