
SAAT INI, banyak sekali dugaan yang muncul di kepalanya tentang penyebab hilangnya Jakawarman. Tak dapat terhitung jumlahnya. Hanya pakaian Jakawarman saja yang ditemukan. Selebihnya, ia menemukan jejak dari Kembangmas berupa kelopak bersinar dengan warna kencana.
Manakah kiranya yang jauh lebih penting untuk dilakukannya sekarang ini? Pencarian Kembangmas, ataukah pencarian Jakawarman?
Tetapi pada salah satu dugaannya mengatakan bahwa Kembangmas dan Jakawarman tidak perlu dicari secara terpisah. Sebab mungkin, sekali lagi mungkin, keduanya adalah satu kesatuan.
Bukan tanpa alasan, Mantingan pernah mendengar dari Paman Birawa, bahwasanya Kembangmas mampu mengubah wujudnya serupa dengan manusia.
Tetapi kemudian dengan cepat disadarinya bahwa dugaan itu benar-benar tidak masuk akal. Jelaslah bahwa Jakawarman merupakan murid dari Perguruan Angin Putih. Jakawarman pula dikirim dari Padepokan Angin Putih bersama beberapa kawannya untuk mengawal dirinya dan Bidadari Sungai Utara ke Perguruan Angin Putih. Tidak mungkin jika kawan-kawannya itu tak mengenal Jakawarman sebelumnya, bukan?
Kendati demikian dengan segala kemungkinan yang telah dipertimbangkan, agaknya pencarian Jakawarman tidak perlu dilanjutkan. Pencarian Kembangmas pun tidak perlu dilakukan sekarang ini.
Dengan penemuan pakaian Jakawarman, seharusnya sudah bisa diduga bahwa pria muda itu mendapatkan nasib yang malang; bertemu Kembangmas secara tidak sengaja, lalu terbunuh karena tanaman itu merasa sedemikian terancam.
Pencarian Kembangmas pun tidak dapat dilakukannya untuk sekarang ini. Mantingan merasa tidak memiliki kekuatan yang memumpuni untuk menghadapi Kembangmas. Ia tidak mau mati konyol di sini dan saat ini, setidaknya sampai Bidadari Sungai Utara meninggalkan Javadvipa.
Jika dirinya mati sekarang, maka nasib Bidadari Sungai Utara beserta Kana dan Kina tidak dapat dipastikan lagi.
Secara kecakapan, hanya Mantingan yang dapat melindungi Bidadari Sungai Utara. Hanya dirinya yang cukup kuat dan cukup tulus untuk mendampingi gadis itu. Sebab untuk melindungi Bidadari Sungai Utara, dibutuhkan kekuatan dan ketulusan yang sama besarnya. Kedua hal itu, tidak dapat dikurangi salah satunya.
Mantingan teringat perkataan Paman Birawa.
“Kembangmas hanya akan memperlihatkan dirinya pada orang-orang yang dipilihnya saja. Kemungkinan besar, hanya orang terpilih saja yang akan berhasil meminangnya,” katanya ketika sedang menunjukkan kitab-kitab catatannya tentang Kembangmas, “tanaman itu sangatlah menarik, dia memilih jodoh untuknya sendiri, jadi dapat dikata bahwa dirinyalah makhluk penentu takdir.”
Mantingan meremas pakaian Jakawarman di tangannya itu sambil merapatkan giginya.
***
“Pahlawan Man! Ke mana sajakah? Kami telah berbalik mencarimu. Dan apakah yang engkau bawa?”
__ADS_1
SALAH SEORANG pendekar Laskar Kerbau Taruma segera menghampiri Mantingan ketika melihatnya muncul di tepi jalan. Pendekar-pendekar lain pun turut berdatangan.
Mantingan menarik napas panjang sebelum berkata, “Ini pakaian Jakawarman. Hanya ini yang dapat kutemukan.”
Dua puluh sembilan pendekar melihat benda di tangan Mantingan bagai melihat akad permusuhan.
“BIADAB!” Seorang dari mereka memaki keras sambil menarik kelewang di pinggangnya. “Siapakah yang berani mengadakan permusuhan dengan kami, ha?!”
Mantingan mengangkat sebelah tangannya. Tampang wajahnya pun terlihat lebih sedih ketimbang pendekar-pendekar lainnya. “Bukan siapa-siapa ... agaknya ... ini perbuatan binatang buas. Lihatlah bekas cakaran ini.”
Mantingan lalu menunjukkan pakaian Cakrawarman yang telah sobek di mana-mana dan berlumuran noda merah. Mantingan memejamkan matanya untuk meresapi segala rasa bersalah.
Tentu ketika ia menemukan pakaian tersebut, keadaannya masihlah utuh dan tiada bernoda merah sama sekali. Dan penyebab mengapa pakaian itu menjadi sedemikian rupa adalah Mantingan, yang melakukan itu demi menjaga kerahasiaan bahwa Kembangmas ada di sekitar.
Tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa ini kehilangan Jakawarman disebabkan oleh kehadiran Kembangmas. Usaha pencariannya pun bisa saja terancam, sebab akan banyak pendekar ahli yang kembali bergerak mencari Kembangmas jika kabar ini sampai tersiar ke mana-mana. Mantingan betapa pun tidak ingin hal sampai itu terjadi.
Dengan sangat-sangat terpaksa, Mantingan melakukan penipuan yang hanya dilakukan seorang pengecut saja. Sungguh rasa setia kawannya terluka. Dibandingkan dengan pendekar lainnya di rombongan, ialah yang paling dekat dengan Jakawarman.
Mantingan hendak menutupi kebohongannya dengan kebohongan lainnya, tetapi pendekar lain lebih dahulu menyahuti.
“Sehebat apa pun pendekar tetapi tidak berwaspada, tetap saja mati. Sudahlah, Jakawarman hanyalah seorang dari banyaknya pendekar yang mati ketika sedang menjalankan tugas. Kita harus sesegera mungkin kembali ke rombongan.”
Kemarahan Mantingan naik begitu tajamnya tak lama setelah mendengar ucapan tersebut. Ditariknya Pedang Kiai Kedai keluar dari sangkarnya. Dalam waktu tak lebih dari sekedip mata, Mantingan telah berdiri di depan pendekar mengucapkan perkataan itu. Pedangnya pula telah sampai tepat di samping leher orang itu, jaraknya hanya sehelai rambut saja!
Di hadapan Mantingan dan Pedang Kiai Guru Kedai, tubuh pendekar itu bergetar hebat.
“JIKA AKU MEMBUNUHMU, BUKANKAH ITU TIDAK AKAN MENJADI MASALAH?”
“Saudara Man! Tenangkan dirimu! Dikau membawa nama perguruan!”
__ADS_1
Mantingan menatap orang di depannya itu tajam-tajam, seolah tidak ada yang mungkin menandingi ketajaman tatapan itu. Sebelum pada akhirnya menyarungkan kembali pedangnya dengan gerakan sedemikian cepat.
“Jangan pernah meremehkan hidup dan matinya seseorang jika tidak mau orang banyak berbahagia atas kematianmu.” Berkatalah Mantingan setajam tatapannya.
***
BIAR BAGAIMANAPUN, rombongan tetap harus melanjutkan perjalanan. Kematian Jakawarman seolah dianggap tidak pernah terjadi. Mantingan hanya bisa menahan kemarahan atas sikap rombongan permaisuri yang begitu tidak menghargai nyawa para prajurit.
Pemuda itu duduk di tempat kusir kuda. Tangannya terlipat di dada. Ujung capingnya sedikit diturunkan ke bawah untuk menutupi sebagian wajahnya yang terlihat amat suram. Sesuram benaknya.
Tidak ada Jakawarman yang mendengkur di sebelahnya. Atau berjalan di sisi kereta kuda tanpa kenal lelah hanya untuk melindunginya. Mantingan menghela napas panjang. Mengingat betapa segala kebaikan pemuda itu dibalas dengan kebusukan.
Sepanjang perjalanan, tangannya terus mengepal hingga bahkan kuku-kuku jarinya menembus kulit. Giginya bergemertak setiap kali mengingat Jakawarman.
Bukankah manusia diperhitungkan atas jasa yang diperbuat selama hidupnya? Dan kini, Mantingan telah mencoreng nama Jakawarman dengan dalih mati diterkam hewan buas. Bagi seorang pendekar, kejadian seperti itu sangatlah memalukan.
Kejahatan seperti ini seharusnya tidak bisa dimaafkan. Sungguh, Mantingan merasa sikapnya telah menyamai pendekar-pendekar di aliran hitam!
***
SETELAH TIGA hari berjalan tanpa henti, rombongan sampai pula di wilayah Gunung Kubang. Mereka tidak banyak berhenti sebab merasa Mantingan tidak dalam keadaan siap menghadapi pertarungan.
Selama tiga hari tiga malam itu, Mantingan lebih banyak terdiam dalam kemurungan. Perasaan bersalahnya sedemikian dalam hingga mustahil untuk dilupakan bahkan hingga ajalnya menjemput. Seringkali ia memutuskan untuk mengungkapkan saja yang sebenarnya terjadi pada malam itu, tetapi pada akhirnya menarik kembali keputusan itu sebelum benar-benar terlaksana.
Betapapun, kematian Kenanga akan jauh-jauh lebih mengerikan lagi jikalau Kembangmas gagal ditemukan. Gadis malang itu akan menjadi wanita tua yang malang, hingga kemudian mati termakan janji yang tak kunjung terwujud.
Meskipun begitu, Mantingan tetap tidak dapat melupakan dosanya pada Jakawarman. Sekalipun Kembangmas berhasil ditemukan, perasaan bersalahnya akan tetap melekat di dalam alam pikirnya. Tiada pernah musnah.
Dan jikalau saja Kembangmas gagal ditemukan sedangkan nama baik Jakawarman telah dikorbankan, perasaan bersalahnya telah lebih dari cukup untuk membunuh seorang Mantingan dalam kubangan penyesalan.
__ADS_1
“Kembangmas harus kutemukan,” geram Mantingan pada dirinya sendiri ketika kereta kudanya mulai memasuki kota perbatasan di wilayah Gunung Kubang.