
SEBAGAI LANGKAH awal, Paman Bala melempar lima Lontar Sihir Senyap ke langit-langit dan dinding ruangan. Garis-garis cahaya merambat cepat ke seluruh ruangan sebelum pudar dan menghilang, tanda bahwa mantra telah bekerja.
“Mari bangun kawan-kawan, goyangkan pinggulmu dan marilah bersenang-senang.” Sesaat setelah salah satu dari orang bertopeng mengatakan hal itu, dua orang bertopeng lainnya turut bangkit berdiri.
Setelah berhasil bangkit, salah seorang dari mereka berkata, “Pakai senjata ataukah tidak?”
“Kalau kau mau bersenang-senang, janganlah pakai senjata." Yang lain menjawab.
Tanpa saling membalas sekalipun, mereka sudah bersepakat untuk tidak menggunakan senjata.
Entah seperti apakah raut wajah tiga orang gila itu, tidaklah Mantingan dapat melihatnya. Mereka mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajah, kecuali pada bagian mata dan ada lubang kecil di dekat hidung. Hanya topeng aneh mereka saja yang seakan menyiaratkan kegilaan mereka.
Mantingan dan Paman Bala saling bertatapan untuk beberapa kejap mata sampai akhirnya mereka sepakat untuk tidak membuka serangan terlebih dahulu. Jika mereka menyerang terlebih dahulu sedangkan lawannya adalah orang yang lebih kuat dari mereka, maka itu bisa dianggap sebagai tindakan yang sangat gegabah.
Mantingan dan Paman Bala harus menunggu lawan menyerang lebih dulu agar bisa mengenali jurus yang lawan pakai, dengan begitu mereka bisa menyiapkan pertahanan yang cocok untuk mengatasi serangan.
Mantingan juga melihat bahwa lawan-lawan yang ia hadapi saat ini bukanlah orang-orang yang menghargai aturan di dunia persilatan. Tujuan lawan adalah untuk bersenang-senang meskipun itu berarti bertindak gila, mereka tidak perlu peduli aturan apa yang harus mereka langgar asalkan bisa bersenang-senang.
Namun kesenangan mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sebab kebahagiaan yang mereka ingin raih telah pasti akan merusak kebahagiaan orang lain. Orang-orang seperti itulah yang semestinya Mantingan musnahkan.
Mantingan tiba-tiba berbisik pada Paman Bala dengan Ilmu Bisikan Angin, “Paman Bala, mereka memiliki celah pertahanan. Itu terletak pada cara mereka dalam berpikir. Jika mereka ingin bersenang-senang dengan kita, maka buatlah mereka tidak mendapat itu. Mungkin saja, kita lebih mudah mengalahkan mereka.”
Paman Bala tidak menjawab namun mengangguk setuju. Paman Bala juga paham siasat yang diajukan oleh Mantingan. Jika kelengahan merupakan hal yang sangat mematikan pada setiap jurus persilatan, maka seranglah lawan saat mereka dalam kondisi lengah.
__ADS_1
“Mantingan, tindakanmu itu bukan berarti tidak riskan. Kau ingin memancing mereka untuk mendekat padamu, bukan?” Rara terdengar menghela napas di sebelah Mantingan. “Mereka akan menyerang dengan sangat beringas, jika kamu atau Paman Bala tidak berhasil menahannya, maka ....”
“Aku tahu,” kata Mantingan tanpa bersuara. “Terima kasih sudah mengingatkan, aku tahu apa yang aku hadapi.”
Rara tersenyum dan mengangguk. “Gunakan racun yang tadi Paman Bala beli. Meskipun harganya sangat murah, namun racun itu tetap akan memberikan imbas yang tidak kecil pada musuh-musuhmu.”
Sementara itu, antara Mantingan dan Paman Bala dengan ketiga lawannya yang bertopeng masih diam seribu bahasa. Menatap tajam satu sama lain, seolah-olah mereka tidak akan melakukan sesuatupun selain hanya bertatapan.
Dan sementara di lain sisi, Mantingan masih terus melakukan percakapan batin dengan Rara.
“Apakah kau masih memiliki jarum Cap Capung yang kau beli di Pasar Ayam Jago waktu silam itu?”
“Aku tidak sedang membawanya, itu tertinggal di dalam bundelan.”
Mantingan mengangguk paham dalam benaknya. Seandainya saja ia mengangguk tidak di dalam benak, maka barang tentu tindakan itu akan dianggap lawan sebagai persetujuan untuk menyerang, padahal belum tentu saat itu dirinya dan Paman Bala berada dalam keadaan siap menerima serangan. Maka percakapan dan segala hubungan bersama Rara dilakukan di dalam benak.
“Pertama-tama, aku harus memancing mereka agar mendekat terlebih dahulu.”
“Aku sarankan, kau jangan lakukan itu. Menguasai ilmu sihir memberimu keuntungan jika menyerang dari jarak jauh, tetapi akan merugikan jika menyerang dari jarak yang dekat.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Apakah itu berarti, aku tidak perlu memancing mereka?”
“Sebenarnya itu bisa saja dilakukan, asalkan salah satu di antara kau dan Paman Bala ada yang bertugas memancing sedangkan satu lainnya bertugas untuk menyerang dari belakang.”
__ADS_1
Dahi Mantingan semakin mengernyit. “Bukankah itu melanggar hukum kependekaran?”
“Selama pertarungan sudah terbuka, maka pendekar bisa mengupayakan segala cara agar dapat menang. Ini bukan perkataan dariku, melainkan dari Kiai Guru Kedai. Lagi pula saat ini kau sedang berada dalam situasi yang benar-benar berbahaya, salah langkah sedikit saja dapat mengantar nyawamu ke alam baka.”
Mantingan mengangguk paham. “Apakah aman jikalau aku membisikkan hal ini pada Paman Bala melalui Ilmu Bisikan Angin? Apakah mereka-mereka bisa mendengarku?”
Rara terlihat menggelengkan kepalanya. “Ilmu Bisikan Angin bukanlah ilmu yang disebar sembarangan. Hanya pada Pasukan Topeng Putih dan kau adalah satu-satunya orang yang diberikan pengajaran Ilmu Bisikan Angin padahal tidak berbakti pada perguruan.”
Mantingan tidak bisa tertawa atau sekadar tersenyum saja. Ia tahu bahwa ini bukan waktunya untuk bercanda, namun perkataan Rara itu cukup banyak menghibur dan menenangkan dirinya.
Tangan Rara terangkat, menunjuk salah satu orang bertopeng yang jaraknya sekitar dua depa di depannya. “Lihatlah, mereka menunjukkan gelagat akan segera menyerang. Lebih baik bersiap-siap. Apakah kau ingin aku tetap ada di sini atau pergi saja biar tidak mengganggu?”
“Tetaplah di sini dan jangan pernah jauh-jauh dariku, aku selalu membutuhkan saran-saran cermelang darimu.”
Rara tersenyum riang. “Berjuanglah, Mantingan!”
TAK!
Tiga orang lawan Mantingan mengentak kaki secara bersamaan. Lantas saja tubuh mereka menghilang dari tempatnya semula, menjadi bayang kabur yang tak kasat mata.
Mantingan dan Paman Bala yang boleh dikata adalah pendekar tinggi bisa dengan cukup jelas melihat gerakan tiga lawannya. Sungguh katanya ingin bersenang-senang, namun segera diragukan kembali setelah mereka bertindak seolah-olah tidak ingin mengampuni mangsanya.
Dalam waktu yang sangat singkat pula, Paman Bala dan Mantingan melompat ke arah yang berlawanan setelah Mantingan memberi isyarat. Tiga orang bertopeng aneh itu dengan cepat pula saling berpencar.
__ADS_1
Namun karena jumlah mereka adalah tiga orang sedangkan mangsanya hanyalah dua orang, maka akan ada dua orang yang mengincar satu mangsa. Mangsa itulah Mantingan.